Tidak Semua Drakor itu Sama

Seperti halnya film/drama produksi manapun, tidak semua saya suka untuk ditonton. Ini salah satu penyebab terkadang kelamaan browsing Netflix, dan akhirnya berjam-jam berlalu dan tidak jadi nonton. Untuk memilih yang ingin ditonton itu perlu lama, tapi memutuskan tidak menonton itu cepat karena sudah ada garis besarnya dan alasan kenapa tidak mau menontonya.

Setiap bulan ada entah berapa judul baru yang ditayangkan, belum lagi kumpulan semua serial yang sudah ada di Netflix sejak dulu, tapi ya tetap saja walaupun sudah menonton banyak, masih banyak yang belum dan tidak akan saya tonton.

Kalau yang belum ditonton artinya sudah masuk rencana ditonton, tapi masih nanti-nantilah atau mungkin ga jadi-jadi juga ya ga masalah. Kalau yang tidak akan nonton ini ya memang tidak pengen nonton walaupun kabarnya keren banget, bagus banget dan semua orang membicarakannya. Nah drama itu masuk kategori ga akan ditonton tentu karena ada alasannya.

Melodrama

Hidup ini sudah susah, jangan ditambah lagi dengan kesedihan dari tontonan. Nonton itu yang akhirnya bahagia saja. Cerita melodrama juga umumnya berjalan sangat lambat, udah lambat banyakan nangisnya pula, aduh mana tahan nonton 16 episode penuh tangisan.

Saya hanya menonton melodrama kalau saya tidak sengaja menontonnya alias sudah terjebak dan ceritanya memang bagus. Tapi kalau udah tahu dan masih sengaja nonton itu tidak akan terjadi.

Kalau melodrama yang dimainkan aktor favorit gimana? Lihat dulu semelodrama apa ceritanya, apakah ceritanya cukup cepat dan menarik atau tidak. Apa ada faktor lain yang menarik untuk ditonton selain fakta melodramanya. Nah kalau dilihat dari daftar drakor yang sudah saya tonton sebelumnya, bisa lihat gak mana yang masuk kategori melodrama?

Setting kerajaan jaman dahulu (Saeguk)

Alasan saya tidak suka melihatnya karena aktornya jadi terlihat aneh. Yang cewe sih biasanya cantik tetap cantik, pakai baju tradisional dan hiasan kepala malah makin cantiklah, tapi cowonya jadi terlihat sangat berbeda dan jadi jelek hahaha.

Drama-drama ini contoh yang tidak akan saya tonton

Mereka umumnya pakai rambut palsu, baik itu dibiarkan gondrong dan kotor seperti tidak pernah keramas, atau disanggul diatas. Aneh sekali kan melihat lelaki sanggulan. 

Selain masalah rambut yang jadi aneh, kadang-kadang juga yang cowo-cowo bisa terlihat jadi kayak perempuan kalau rambutnya panjang dan diikat setengah ke belakang. Terus ada juga usaha menambah macho dengan menambahkan kumis dan brewok. Tapi ya bukan tambah macho, malah keliatan palsu dan mengganggu . Jadi ya tetep aja mau bagaimanapun jalan ceritanya, keburu malas menontonnya.

Mungkin karena saya tidak terlalu suka pelajaran sejarah, atau buat saya sejarah itu cukup dibaca saja bukan ditonton. Lagipula sejarah dalam drama Korea itu tidak 100 persen benar dan dari pada jadi salah pelajaran sejarahnya, lebih baik ga usah deh.

Eh tapi jangan salah, saya dulu penggemar sandiwara radio Tutur Tinular yang menceritakan kisah kerajaan Madangkara loh. Tapi itu memang bukan cerita sejarah Indonesia. Saya juga pernah suka melihat sinetron Wiro Sableng. Dulu rasanya pernah baca bukunya juga waktu jaman kuliah.

Tapi ya lain dulu lain sekarang, melihat setting kerajaan dan penuh orang-orang dengan baju setting jaman dulu itu memang ga menarik saja buat saya. Kalau ceritanya diselipkan dengan cerita jaman modern seperti Goblin dan Legend of The Blue Sea, masih akan saya tonton. Tapi dulu nonton Goblin hampir drop di episode pertama karena cerita depannya kebanyakan setting jaman dahulu kala dan lambat buat saya.

Cerita Perselingkuhan

Kalau saya sudah tahu kisahnya tentang perselingkuhan seperti drama yang baru-baru ini hits sekali, saya sudah pasti tidak akan menontonnya. Penasaran aja nggak. Mungkin akan ada yang argumen: “Ini kan cuma drama, fiktif, sekedar cerita”. Ya, drama atau tidak, saya tidak bisa merasa terhibur melihat cerita perselingkuhan.

Di dunia ini nyata ada banyak kisah sedih rumahtangga rusak karena perselingkuhan. Setiap kali ada kejadian, selalu ada yang tersakiti, entah itu pasangannya ataupun anak-anak yang jadi korban. Jadi ya sudahlah, ngapain sih menonton kisah yang sudah jelas akhirnya tidak membahagiakan. Kayaknya tidak ada kisah perselingkuhan berakhir bahagia, akan selalu ada yang bersedih dan menderita di dalam kisah itu.

Cerita yang Gelap

Cerita yang gelap ini agak luas, mulai dari setting yang gelap, cerita yang terlalu banyak kekerasan seperti bunuh-bunuhan atau orang yang sakit jiwa. Kalau cerita berantem doang terus berdarah karena membela kebenaran sih gak apa-apa. Tapi kalau ceritanya rada-rada psikopat kayaknya nggak deh. Udah banyak nonton film serial Amerika yang begini, cukup sudah hehehe.

Kemaren sempat salah milih drama “Come and Hug Me” (2018), saya tidak baca sebelumnya kisahnya apa, ditonton juga karena muncul di rekomendasi Netflix. Depannya masih cukup menarik sih, seorang anak remaja suka anak tetangga yang satu sekolah dan bertemu lagi setelah dewasa. Satu jadi artis, satu jadi Polisi. Ternyata ada cerita gelapnya. Kepalang tanggung, diterusin juga nontonnya, tapi sungguh tak bisa menikmati ceritanya.

Cerita gelap lain yang gak ditonton itu misalnya cerita orang yang udah mati bangkit lagi seperti “Abyss”, (2019). Cerita hantu masih oke asal genrenya komedi romantis seperti “Oh My Ghost” (2015), tapi kalau cerita komedi romantis berbalut kriminalitas, aduh udah males nontonnya.

Cerita fantasi yang gak masuk akal juga udah pasti ga akan ditonton walaupun fantasinya berbalut romantisme yang kabarnya oke banget. Tidak suka nontonnya, karena biasanya endingnya ketebak sih soalnya. “Angel’s Last Mission: Love”, (2019) salah satu contoh yang saya tidak tonton walaupun kabarnya romantis dan bagus. Apalagi waktu lihat genrenya romantis fantasy, ah ini sih bakalan mengarah ke melodrama. Skip deh pokoknya yang begitu.

Cerita gelap lain yang tidak juga saya tonton walau sekeren apapun itu Kingdom. Selain karena Kingdom ini jenisnya cerita jaman kerjaan dahulu kala, saya sudah kebanyakan nonton cerita vampire dan zombi dari serial Amerika. Sudah tidak tertarik lagi dengan kekejaman ala zombi.

Eh tapi saya pernah juga nonton “Train to Busan” (2016) karena itu film yang cuma 2 jam dan saya pingin tahu bagaimana sih fim zombie ala Korea dan film ini settingnya dunia jaman sekarang. Film ini cukup seru sih walau endingnya diluar ekspektasi saya, tapi sangat masuk akal, jadi diterima dengan ikhlas hahaha.

Selain itu saya juga pernah menonton film “Rampant” (2018) untuk mencoba apakah saya betah melihat film dengan setting kerajaan jaman dulu dan bertema zombi. Kesimpulannya, ya pemerannya jadi aneh, HyunBin ga cocok pake sanggul! Dan karena ini maka saya semakin tidak ingin menonton Kingdom yang sudah 2 season dan menuju season ke-3.

Cerita yang di ranah psikologi dan bikin depresi juga masuk kategori drama yang gelap. Eh tapi ada juga satu drama yang super lambat berhasil aku selesaikan, drama My Mister (2019). Waktu itu lagi penasaran aja kenapa drama ini bisa dapat Baeksang Award, lagi bosan juga dengan cerita klise yang begitu-begitu saja (iya kadang-kadang bosan juga klo cerita terlalu standard). Ceritanya lambat, tapi ide ceritanya menarik dan endingnya menurut saya pas dan tidak dipaksakan untuk terlalu happy ending.

Cerita yang berakhir bahagia tapi dipaksakan

Prinsip saya menonton drakor memang kdrama harus berakhir bahagia. Tapi kalau akhir bahagia yang dipaksakan sepertinya mending nggak ditonton juga. Beberapa cerita memang lebih baik berakhir apa-adanya, walaupun beberapa penonton mungkin akan kecewa.

Contoh drama berakhir bahagia yang dipaksakan ini misalnya The King Eternal Monarch (2020) yang baru berakhir kemarin. Dari kemarin mau nulis tentang menyesal menonton drama ini, tapi belum sempat juga euy. Tunggu ya, pasti akan dituliskan supaya tidak banyak yang terjebak menontonnya seperti saya. Ini tapi kemarin ditonton waktu masih belum ketauan akan berakhir begini, kalau saja kutau begini akhirnya huhuhu.

Drama remake dari negara lain

Orang Korea ternyata hobi juga bikin ulang serial dari negara lain. Khusus untuk remake dari Amerika sudah pasti tidak akan saya tonton, seperti The Suits dan Designated Survivor yang tentunya dimodifikasi supaya hanya 1 season dan 16 episode saja.

Kalau remake serial dari negara Asia lain, masih mungkin ditonton, seperti serial Boys Over Flowers yang merupakan remake dari serial Jepang dan saya sudah nonton versi Taiwannya Meteor Garden.

Kesimpulan

Dari segini banyak kriteria drama yang tidak ditonton saja ada banyak drama yang sudah ditonton. Berarti drama Korea memang ada banyak banget ya? (eh ini nanya atau ngasih tau sih, hehehhe). Iya drama Korea itu memang ada banyak banget, makanya tidak perlu semua ditonton.

Pilih aja yang bisa menghibur hati. Emosi diaduk-aduk dikit sih tidak apa asal emosi penuh kasih sayang, bukan emosi pengen lempar barang ke TV, nanti sayang TV nya kalau rusak hahahaha.

Namanya selera ya beda-beda. Nah teman-teman saya juga punya berbagai cerita tentang drama yang mereka tidak suka, coba kunjungi siapa tau bisa menambah referensi sebelum kecemplung di Kdrama: Alienda, Ima, Rijo, Gita, Deya, Asri, Lala, Lendyagasshi, Dwi, Dian K, dan Lithaetr.

10 thoughts on “Tidak Semua Drakor itu Sama”

  1. Oh iyaa…
    Angel’s Last Mission ini juga masuk kategori drama mangkrak versiku.
    Entah kenapa liat L ngejar-ngejar Shin Hye-Sun ini terasa plain.
    Karena aku duluan nonton Shin Hye-Sun di drama My Golden Life siih…

      1. Aku bahkan ga memulainya, agak terpapar spoiler juga waktu itu dan makin mantap klo itu not on my bucketlist

    1. My Golden Life yang 50 eps itu ya? wah kayaknya aku dah tobat nonton drakor yang lebih dari 24 eps hihihi, cukup Lee Shoon Shin aja deh yg banyak jumlah episodenya

  2. Oke, happy ending yg dipaksakan itu jenis genre drama yg emang g patut ditonton, tapi wes terlanjur kemarin..
    Hehe

    1. iyaaaa, namanya terjebak drama ongoing, hahaha. Tapi kalau nunggu selesai dulu kemungkinan kebanyakan drama masuk daftar ga akan ditonton, hehehe..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.