Gara-gara Drama Korea

Beberapa kali saya baca berita tentang seorang wanita yang merasa kecewa setelah menikah dengan pria Korea dan menyesal karena hidupnya tak seindah drama Korea. Ada lagi berita himbauan para suami untuk melarang istrinya menonton drama Korea karena nanti dibanding-bandingkan dengan lelaki Korea. Pernah juga baca diskusi di media sosial yang menuduh wanita yang sudah menikah dan menonton drama Korea itu tanda tidak bahagia dengan pilihannya.

Saya baca berita-berita seperti itu pingin ketawa. Menertawakan pintarnya wartawan mendramatisir isi berita dengan meminjam ketenaran drama Korea. Ketawa karena kalau ada wanita menikah dan berharap hidup ini seperti dalam dongeng atau dalam drama Korea itu tandanya wanita tersebut belum siap nikah. Ketawa kalau sampai ada suami yang merasa insecure banget kalau istrinya nonton drama Korea dan saya pun jadi semi menuduh dalam hati, “pantas saja istrinya tidak bahagia, segitu gak percaya dirinya jadi lelaki.”

Lupakan semua berita-berita yang kemungkinan ditulis oleh orang yang mungkin saja tidak menonton drama Korea. Terlepas dari pandangan negatif terhadap drama Korea dari yang tidak menonton, masih banyak kok hal yang bisa diambil sebagai manfaat nonton drama Korea. Tentunya manfaat ini tidak jauh berbeda dengan manfaat dari kegiatan hobi lainnya dan hanya bermanfaat kalau memandangnya sebagai manfaat.

Setiap drama ada pelajaran yang bisa diambil atau dibuang

Berikut ini contoh-contoh manfaat yang bisa diambil dari menonton drama Korea. Beberapa manfaat yang sama bisa diambil secara umum dari hobi menonton, dengan catatan ada seleksi sebelum menonton dan tidak semua asal ditonton saja. Makanya walaupun sudah banyak yang saya tonton, masih lebih banyak jenis drama yang tidak saya tonton.

Menambah Kemesraan dengan Pasangan

Mau nikah dengan suku bangsa manapun, kehidupan menikah itu plotnya tidak bisa digambarkan seperti salah satu drama manapun, mau drama Korea atau sinetron Indonesia. Kalau istri tidak urus anak dan tugas utama gara-gara drakor, boleh deh dilarang.

Kalau pingin tahu istri nonton apa sih kok demen banget nonton drama Korea, ya temenin saja nonton, kalau ceritanya pas dengan selera bisa menambah kemesraan dengan istri juga loh karena bisa jadi waktu berkualitas bersama dengan pasangan.

Kalau ceritanya bertema keluarga, bisa juga untuk bahan diskusi dengan pasangan. Kalau ceritanya mirip dengan kisah cinta masa muda, bisa buat nostalgia masa masih pacaran. Kalau temanya terlalu fantasi, bisa juga untuk bahan celaan kalau fantasinya keterlaluan tidak masuk akal.

Joe tidak ikut menonton drakor dengan saya, tapi dia mau mendengarkan cerita drakor yang saya tonton. Tulisan review seputar drama Korea saya juga dia baca semuanya. Karena memang, banyak hal yang bisa diceritakan dari sebuah tontonan.

Kadang ada beberapa scene drakor yang mengingatkan saya dengan masa di mana kami belum punya anak. Ingat scene ikat rambut ala CLOY? ah itu sih lewat, sebelom Capt. Ri mengikat rambut Se ri, saya udah bantu disisirin sama Joe terutama kalau abis lepasin sanggul bekas sasak rambut, hehehe.

Menambah Wawasan

Banyak berjalan banyak dilihat, banyak ditonton banyak dilihat juga. Nonton drama Korea itu bukan hanya untuk hiburan memanjakan mata doang, tapi juga menambah wawasan. Beberapa hal baru saya pelajari sejak nonton drama Korea mulai dari bahasanya sampai situasi politik Korea Utara dan Korea Selatan.

Belajar Bahasa Korea

Dulu saya belajar bahasa Inggris sejak kelas 1 SMP. Saya baru menggunakan bahasa Inggris sejak tinggal di Chiang Mai. Dulu, saya menonton serial Amerika dengan subtitle bahasa Indonesia, belakangan saya menonton dengan subtitle bahasa Inggris. Sejak itu kosakata saya meningkat dan saya mulai bisa membaca buku bacaan bahasa Inggris juga. Sebelumnya saya paling tidak bisa baca buku bahasa Inggris, karena banyak kata yang saya belum mengerti.

Ketika belajar bahasa Thai, saya juga mencoba untuk menonton serial Thai, tapi tidak ada serial Thai dengan subtitle Thai, tapi kegiatan itu cukup juga untuk menambah kosakata bahasa Thai saya. Untuk menonton film berbahasa Inggris dengan subtitle Thai, saya tidak berhasil membacanya, karena kemampuan membaca tulisan bahasa Thai saya masih sangat lambat dan kalah cepat dengan pergantian teks yang ada dilayar. Pernah juga mencoba menonton serial Amerika yang disulihsuara dengan bahasa Thai tapi kok jadi aneh ya kedengarannya.

Setelah setahun menonton drama Korea, saya mulai menangkap beberapa kata yang sering diucapkan dalam drama. Lalu saya mulai terpikir untuk belajar baca tulis bahasa Korea. Ternyata tulisan Korea tidak sesulit bahasa Thai. Tapi karena di sini saya tidak ada teman berlatih berbicara, ya kosakata saya tidak maju-maju walau sudah mendapat sertifikat dari Coursera dan belajar bahasa Korea menggunakan Duolingo dan Memrise.

Kenalan dengan Makanan Korea

Dulu, sebelum menjadi pemirsa drakor, saya pernah diajak teman makan di restoran Korea. Saya bingung dong dengan semua nama makanannya. Lalu, setelah menjadi penonton drakor, saya jadi mengerti dan sesekali mencari makanan Korea juga. Untung di dekat rumah ada restoran Korea yang dibuka oleh orang Korea asli. Saya ingat, pertama kali ke sana, saya kaget dengan ukuran porsi makanan yang sangat besar. Pemilik restoran juga mengajarkan cara makan-makanan Korea itu seperti apa.

Cerita seputar makanan Korea sebenarnya sudah pernah saya tuliskan di posting ini. Tapi itu semua masih sebagian kecil dari yang pernah saya coba. Kalau melihat drama Korea Chocolate, walaupu judulnya Chocolate, di sana ada banyak ditunjukkan cara memasak berbagai jenis makanan Korea yang tidak sering disebut di drama lainnya.

Korea Utara dan Korea Selatan

Salah satu hal yang juga menjadi pengetahuan baru buat saya adalah mengenai konflik antara negara Korea Utara dan Korea Selatan. Walaupun drama Korea ini produksi Korea Selatan, sesekali mereka akan memasukkan cerita fantasi yang menyebut-nyebut negara Korea Utara. Tentunya, namanya fantasi bukan fakta. Tapi karena ada banyak pemberitaan tentang drama tersebut, saya pun jadi tertarik untuk mencari tahu fakta sebenarnya.

Dari dulu, saya tidak terlalu mengikuti berita politik kecuali yang ada dalam buku pelajaran. Sebagian hal juga waktu dulu hanya dijadikan hapalan semata menjelang ujian. Nah dengan adanya tema di drakor, sekarang saya jadi lebih paham kenapa Korea sampai sekarang tidak bersatu juga.

Mengenal Berbagai Cara Bercerita

Dari dulu saya menyukai menonton film, tapi tidak pernah terpikir untuk membuat garis besar dari tontonan yang saya lihat. Setelah menjadi penonton drama Korea, saya bisa melihat ada pola yang berulang terjadi dalam 16 atau 24 episodenya. Mungkin juga karena genre yang saya tonton sekarang ini saya batasi.

Berbagai cara bercerita yang sudah didapatkan dari tontonan, teorinya sih bekal kalau mau bikin tulisan fiksi sendiri, tapi sampai sekarang belum berhasil bikin fiksi juga, hehehe. Sekarang ini paling dipakai untuk jadi bahan tulisan saja deh.

Semakin Pemilih dalam Menonton

Sejak menonton drama Korea, tontonan serial Amerika saya jauh berkurang. Segala tontonan yang mengandung kekerasan sudah tidak lagi menarik buat saya. Unsur-unsur yang sekarang ini menjamur di serial Amerika, semakin tidak menarik buat saya.

Saya ingat, dulu saya menonton Dark Knight rasanya menegangkan dan keren sekali, lalu ada komentar yang bilang kalau film itu membuatnya merasa terganggu karena sangat gelap jalan ceritanya. Sekarang saya menyadari kalau memang cerita Dark Knight itu sungguh gelap. Dengan alasan ini saya tidak tertarik menonton film “Joker”, (2019).

Bahan Tulisan

Tulisan ini salah satu contoh hasil menonton drama Korea. Karena sama-sama suka menulis dan suka menonton drama Korea, saya dan teman-teman saya merumuskan topik-topik untuk tulisan selama 3 bulan ke depan. Tulisan ini merupakan topik ke 7 dari 30. Masing-masing orang bisa merasakan manfaat yang berbeda dari kegiatan yang sama. Kalau pengen tahu ada topik apa saja nantinya, bisa dilihat di sini.

Bahan tulisan yang juga paling sering adalah review dari drama atau film yang sudah ditonton. Menulis review bareng-bareng ini bahkan lebih seru dari kegiatan nonton bareng.

Peringatan

Hobi menonton ini, tidak berbeda dengan main game, bisa menimbulkan ketagihan. Kita harus punya kendali dan mengenali diri sendiri untuk bisa berhenti. Drama Korea ini hanya drama, boleh saja digunakan untuk melupakan kerumitan hidup yang terkadang bikin sakit kepala, tapi tetap harus bisa membedakan mana khayal dan realita.

Ada banyak budaya Korea di dalam drama yang mungkin tidak cocok juga dengan kita, misalnya budaya tentang jimat dan kepercayaan kepada peramal, ada juga budaya minum-minum sampai mabuk dan tak sadarkan diri. Budaya lainnya juga yang tidak perlu ditiru ada kecenderungan pacaran bertahun-tahun tapi tidak menikah, hal-hal seperti ini harus bisa diidentifikasi dan jangan malah ditiru.

Jangan jadi orang bodoh yang menggunakan khayalan drama jadi patokan di dunia nyata. Semoga tidak ada lagi kejadian wanita menyesal menikah dengan pria Korea karena tak seindah dalam drama!

Kalau menurut saya, hidup ini sesungguhnya lebih indah dari drama Korea. Tinggal bagaimana kita memaknainya saja.

Kalau mau tahu bagaimana teman-teman saya merasakan manfaat dan efek dari menonton drama Korea, bisa dikunjungi ke tulisan mereka ya: Gita, Alienda, Dwi, Rian, dan Ima.

7 thoughts on “Gara-gara Drama Korea”

    1. aku juga dulu ngikutin gotham dan banyak serial dark mbak, skrg aja berhenti setelah ntn drakor hehe

      1. @Rhin saya merekomendasikan “It’s Okay to Not Be Okay”. Drama baru “Kim Soo” akan membuat Anda menangis. Mereka mengatakan itu tidak sedramatis yang kita duga, Meskipun beberapa air mata lain yang terjamin.

        1. depannya agak ‘dark’ ya, tapi selanjutnya ga dark banget. lumayan sih menarik karena membahas buku anak-anak dan tentang psikologi manusia. Semoga ga berakhir sedih nih.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.