Mempertanyakan Pelonggaran PSBB di Indonesia

Sejak beberapa waktu lalu, Indonesia mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB). Selain kegiatan bekerja kembali ke kantor, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat wisata juga mulai dibuka.

Alasan pelonggaran ini beragam, mulai dari kurva yang katanya mulai melandai dan kita perlu mulai berdamai dengan pandemi Covid-19. Berbagai protokol mulai pemakaian masker, cuci tangan sampai ganti baju dan mandi setiap pulang ke rumah dihimbau untuk dilakukan untuk menjaga tertular dari infeksi.

Di banyak pasar yang merupakan tempat pertemuan banyak orang dilakukan rapid tes massal. Walaupun, di beberapa tempat pedagangnya kabur sebelum dites karena khawatir dengan keharusan isolasi ditempat yang kabarnya kurang layak. Hasilnya, dengan semakin banyak dilakukan tes, semakin banyak ditemukan pasien positif baru setiap harinya.

Sejak ditetapkan pelonggaran PSBB, banyak orang mulai merasa aman dengan mengikuti protokol yang dianjurkan. Tapi sebagian juga mulai lengah dan mengabaikan protokol. Padahal, protokol yang ada sekarang ini bukanlah obat ataupun anti virus. Semua protokol itu hanya langkah pencegahan.

Peluang untuk terkena infeksi Covid-19, jelas semakin besar dibandingkan ketika masa di rumah saja. Apalagi dengan semakin banyaknya orang di luar rumah dan semakin banyaknya yang tertular tanpa gejala, keluar rumah artinya sama dengan mengundang resiko tertular berbagai penyakit.

Jalur Puncak Bogor sering macet oleh wisatawan sejak pelonggaran PSBB ( Sumber: KOMPAS.COM/ AFDHALUL IKHSAN )

Saya mengerti, kita tidak bisa di rumah saja selamanya. Saya mengerti perasaan bosan karena harus di rumah saja. Saya mengerti ada yang memilih lebih baik mati karena Covid-19 daripada mati kelaparan karena tidak ada duit beli makanan kalau tidak bekerja. Saya mengerti kalau ada yang harus keluar rumah karena harus bekerja. Saya mengerti kalau hidup tidak bisa berhenti dan kita harus move-on. Saya mengerti ada hal-hal yang memang harus dilakukan di luar rumah.

Tetapi, yang saya tidak mengerti adalah ketika membaca berita tempat-tempat wisata ramai dikunjungi orang dan ketika dilakukan rapid tes massal, ditemukan beberapa orang reaktif – yang kemungkinan merupakan orang tanpa gejala. Saya baca di Kompas, dari rapid test massal hari Sabtu kemarin di 4 tempat wisata di Puncak Bogor ditemukan 32 orang reaktif. Entah berapa orang yang kemungkinan tertular dari 32 orang tersebut.

Sudah banyak yang ketahuan begitu, tetap saja ada banyak yang ingin jalan-jalan karena bosan kalau di rumah saja. Bosan loh ya, bukan karena terpaksa bekerja atau keterpaksaan lainnya. Padahal, di mana ada orang banyak berkumpul, di situ ada peluang terjadi penularan penyakit.

Memang penyakit bukan cuma Covid-19 saja, tapi saat ini Covid-19 merupakan penyakit yang belum ada obatnya dan lama sembuhnya. Apakah penting untuk jalan-jalan ke Puncak atau ke Lembang atau ajak anak main ke mall atas nama bosan? Walaupun sudah ada pelonggaran, coba dipikirkan lagi apakah memang sudah aman untuk keluar rumah jalan-jalan ke tempat wisata dan bertemu banyak orang?

Tapi memang, logikanya, kalau tempat wisata dan pusat perbelanjaan buka dan setiap orang masih di rumah saja karena takut Covid-19, ya sama saja, tidak ada roda ekonomi yang bergerak. Harus ada transaksi jual beli supaya ada pergerakan roda ekonomi. Akhirnya, selain yang terpaksa bekerja di pusat perbelanjaan dan tempat wisata, harus ada yang dengan senang hati pergi ke sana menghabiskan duitnya supaya roda ekonomi bergerak.

Pemahaman saya, pandemi ini terjadi mulai dari 1 orang. Berjuta-juta orang yang tertular di seluruh dunia ini dimulai dari 1 orang. Berbulan-bulan banyak orang terpisah dari keluarganya karena berbagai kota dan negara ditutup perbatasannya karena penyakit ini, bahkan resesi ekonomi yang membayangi seluruh dunia ini terjadi karena 1 orang yang terinfeksi Covid-19. Banyaknya juga pasien yang tidak sembuh dan akhirnya meninggal selain tenaga kesehatan jadi korban juga berawal dari 1 orang. Dan ini semua tidak akan berakhir sebelum ada vaksin, ditemukan obatnya atau terjadinya herd immunity.

Saya perhatikan sejak Indonesia berdamai dengan pandemi Covid-19, rata-rata setiap harinya penambahan kasus positif diatas 1000 orang, padahal sebelumnya hanya 600 orang. Penambahan itu bahkan bukan hasil dari pelonggaran, tapi kira-kira dari 2 minggu sebelumnya. Logikanya kita merasa aman kalau yang tertular semakin sedikit, bukan semakin banyak, langkah pelonggaran di saat pasien bertambah banyak ini sangat berbeda dengan yang pendekatan yang dilakukan di banyak negara.

Di Cina setelah lebih dari sebulan tidak ada transmisi lokal, kembali lagi ditemukan pasien baru dan mengalami ancaman gelombang ke-2. Reaksi Cina? Tentu saja segera melakukan tes massal, menutup kota dan melarang orang-orang keluar kota dengan segera untuk mengisolasi penyebaran infeksi. Menurut Global Times  Cina, dalam waktu 2 minggu, 2 juta orang lebih di Beijing sudah diambil sampelnya untuk diperiksa, sekolah kembali ditutup dan orang-orang kembali bekerja di rumah, padahal total yang terinfeksi antara 11 -20 Juni 2020 tidak lebih dari 300 orang.

Kesimpulannya? Saya berharap dengan adanya pelonggaran, setiap orang tetap waspada dan jangan merasa aman. Memang, roda ekonomi perlu berjalan, tapi jalan-jalan ke mall atau ke tempat wisata karena bosan itu tidak lebih penting dari kesehatan kita.

Harapan saya, semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu. Saya juga sudah ingin bisa mengunjungi keluarga yang ada di Indonesia, saya juga ingin bisa berlibur tanpa merasa khawatir tertular penyakit seperti Covid-19.

2 thoughts on “Mempertanyakan Pelonggaran PSBB di Indonesia”

  1. Aku kemarin ajak anak2 ngemall, krn mereka butuh ke toko buku. Dan, aku butuh waktu 20 menit buat dapat parkiran mobil.

    Mall rame saudara, meski pada pake masker dan face shield

    1. aku sampai sekarang belum ke mall di sini, pada dasarnya pandemi atau tidak, aku males sih ke mall, males parkirnya, hehehe..

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.