Belajar Bahasa itu Sepaket Sama Tulisannya

Sebelum belajar bahasa Korea, bahasa Thailand merupakan bahasa pertama yang saya pelajari yang tidak menggunakan huruf latin. Awal belajar bahasa Thai, rasanya sangat frustasi dengan sejumlah huruf meliuk-liuk dan bunyi yang sama digambarkan dengan lambang yang berbeda. Saya berusaha memetakan huruf Thai dan padanannya dengan alfabet A-Z. Agak kaget ketika mengetahui nama saya tidak bisa dituliskan huruf demi huruf ke dalam bahasa Thai.

Setelah beberapa lama kenalan dengan bahasa Thai, saya tidak menjadi orang buta huruf Thai lagi dan akhirnya bisa juga baca bahasa Thailand sedikit demi sedikit. Saya juga mulai menerima, penulisan nama dalam huruf non latin itu ya mengikuti aturan bahasa tersebut dan hanya bisa menuliskannya sampai terdengar sama walaupun bukan dipetakan huruf demi huruf.

halo, nama saya Risna

Waktu saya berkenalan dengan bahasa Korea (sebagai efek dari menonton drakor), saya langsung merasa perlu untuk mempelajari hurufnya juga yang dikenal dengan sebutan Hangul. Romanisasi bahasa Korea, seperti halnya bahasa Thai itu tidak standar, dan yang banyak tersedia di internet itu romanisasi dari penutur berbahasa Inggris.

Contoh romanisasi untuk bunyi ‘i’ seperti dalam kata ikan, untuk penutur bahasa Inggris mungkin akan ditulis ‘ee’, padahal bahasa Indonesia punya huruf i untuk membunyikan huruf tersebut. Nah jadi daripada bingung dengan romanisasi, memang lebih baik langsung belajar hangul.

Memang pengalaman belajar suatu bahasa bisa berguna untuk dipakai belajar bahasa lainnya. Sebelum belajar bahasa Thailand, dan sebelum mengenal cara belajar baca bahasa Inggris menggunakan phonics, saya pikir bahasa Indonesia itu bahasa yang paling gampang dan gak aneh-aneh. Sekarang saya mulai menyadari, setiap bahasa itu selalu ada keanehan dan pengecualian. Kadang-kadang pengecualian itu tidak ada rumusnya, hanya perlu diingat saja (walaupun daftar pengecualian ini terkadang kalau dikumpulkan ya cukup banyak).

Cara otak manusia bekerja itu memang hebat. Saya tidak pernah mempertanyakan ketika membaca kata ‘depan’ dan ‘desa’ kenapa memiliki bunyi ‘e’ yang berbeda. Saya juga tidak pernah mempertanyakan kenapa kata ‘yoyo’ dan ‘ongkos’ walau sama-sama menggunakan huruf ‘o’ tapi sebenarnya bunyinya berbeda. Dalam bahasa Thai dan Korea simbol huruf vokal untuk menyebut kata ‘depan’ dan ‘desa’ itu berbeda, demikian juga simbol yang digunakan untuk membunyikan kata ‘yoyo’ dan ‘ongkos’ itu berbeda loh!

Seperti saya sebutkan sebelumnya, dalam setiap bahasa akan ada aturan khusus dan pengecualian. Dalam bahasa Indonesia, konsonan itu umumnya tidak berubah bunyi di manapun diletakkan. Tapi dalam bahasa Thai dan Korea, beberapa huruf berubah bunyi ketika diletakkan di akhir suku kata, dan akibatnya yang paling terasa buat saya, saya tidak bisa menuliskan nama Risna menggunakan pemetaan konsonan langsung.

Dalam bahasa Korea, nama saya harus dituliskan Riseuna (리스나), dan ada potensi nama saya akan dibaca Lisna (karena bunyi huruf ‘r’ dan ‘l’ untuk bahasa Korea sangat dekat sekali). Darimana saya tahu hal ini? kenapa tidak boleh menuliskannya tanpa bunyi ‘eu’ di antara bunyi ‘s’ dan ‘n’? Karena dalam hangul tidak ada bunyi ‘s’ ketika terletak di akhir suku kata. Kalau saya paksakan menulis nama saya 릿나, maka orang akan memanggil saya Ritna (hal yang sama juga terjadi dalam bahasa Thai).

Aturan-aturan seperti ini hanya bisa kita ketahui kalau belajar bahasa dengan mempelajari tulisannya. Kalau kita beralasan: tapi kan saya cuma pengen bisa menyanyikan lagu-lagu KPOP saja, saya tidak perlu tahu bagaimana menuliskan hangulnya, kan saya bisa baca romanisasinya saja. Ya tidak apa-apa juga, tapi kalau memang mau lebih tau kenapa kata 미안 ketika diromanisasi ‘mian’ tapi kadang terdengar seperti ‘bian’, lebih baik belajar hangul. Karena ini bukan masalah siapa yang kupingnya salah, tapi memang bunyi huruf nya diantara m dan b.

Dengan alasan-alasan di atas, menurut saya untuk lebih memahami bagaimana pengucapan sebuah kata dalam bahasa yang dipelajari, daripada pusing dengan romanisasi, lebih baik mempelajari hurufnya sekalian. Lagipula bahasa Korea ini jumlah konsonan dan vokalnya tidak sebanyak itu juga dan buat saya sedikit lebih mudah daripada bahasa Thai. Jumlah hurufnya lebih sedikit daripada bahasa Thai, dan tidak ada pembedaan nada yang perlu diingat.

Ibaratnya, bisa berbicara itu satu hal, tapi bisa membaca itu penting juga supaya tahu kalau yang kita sebutkan itu benar dan lebih gampang juga nantinya mencari kata di kamus untuk mencari tahu kata-kata berikutnya.

Saya belajar bahasa Korea dari Coursera dan menggunakan aplikasi Memrise dan Duolingo, tapi sejauh ini tetap belum bisa mengaku fasih berbahasa Korea. Mungkin nanti, kalau punya teman orang Korea yang tidak bisa bahasa Inggris dan bahasa Thai, baru deh terpaksa belajar bahasa Korea. Sekarang ini, ya belajarnya buat iseng-iseng saja.

Sedikit tips, kalau mau menambahkan keyboard di ponsel android, caranya dari sebelah kiri spasi ada gambar seperti bola dunia. Tekan tanda itu. Lalu pilih language setting. Dari dalam menu Languages, pilih Add Keyboard untuk menambahkan keyboard bahasa yang kita inginkan. Kita juga bisa menambahkan keyboard versi tulisan tangan.

Udah penasaran belum untuk belajar hangul juga? Kalau mulai penasaran, bisa baca nih berbagai cerita tentang belajar hangul dari teman-teman saya di grup drakor dan literasi, mulai dari filosofi belajar hangul, fakta unik tentang hangul, aplikasi apa saja untuk belajar hangul dan bagaimana pengalaman mereka berkenalan dengan hangul, periksa aja satu persatu ya! Rijo, Lala, Gita, Ima, Rani, dan Lendyagasshi.

2 thoughts on “Belajar Bahasa itu Sepaket Sama Tulisannya”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.