Zoom Drakor dan Literasi

Ini cerita buat teman-teman yang tidak bisa hadir dalam sesi zoom hari ini, sekalian karena saya lagi tidak ada topik tulisan, hehehe.

Setelah sebulan berkutat dengan 10 topik kokoriyaan, hari ini dimulai jam 7.30 malam, sebagian dari anggota grup drakor dan literasi berkumpul di Zoom conference. Agendanya berbagi cerita dari 10 topik yang sudah dikerjakan, kira-kira mana topik termudah dan mana topik tersulit dalam menuliskannya.

Perwakilan dari anggota drakor dan literasi

Grup drakor dan literasi ini anggotanya sebenarnya cuma sedikit, yang berkomitmen untuk mengerjakan tantangan topik ini ada awalnya sekitar 16 orang, lalu setelah beberapa tantangan ada tambahan dari grup KLIP 3 orang lagi. Jadi total ada 19 orang. Hari ini yang bisa hadir di Zoom awalnya rencana 9 orang, tapi karena namanya ibu-ibu rempong, akhirnya ada 7 orang yang bisa hadir (walaupun akhirnya 6 yang agak lama ngobrol dan saya termasuk yang harus duluan pamit).

Nah, ternyata menuliskan 10 topik pertama di bulan Juni ini tidak selalu mudah. Tapi, kalau semua mudah namanya bukan tantangan dong, ya kan. Saya sering takjub melihat sebuah topik yang sama, bisa dikembangkan menjadi berbagai rupa walau ngakunya lagi ga punya ide. Kalau mau melihat daftar lengkapnya, bisa dilihat di sini.

Topik-topiknya bisa dilihat di gambar berikut ini:

Topik kokoriyaan di bulan Juni 2020

Topik yang ada ini sudah membantu sekali membuat hari-hari berjalan tanpa memikirkan hari ini harus nulis apa ya? Setidaknya dalam sebulan, saya tinggal memikirkan 20 topik lain kalau mau menulis setiap hari, hehehe.

Buat saya, topik paling mudah itu menuliskan topik 5: drama yang sudah ditonton. Daftarnya ternyata sudah panjang, tapi ya tidak dihitung juga. Walau saya sebut mudah, butuh usaha juga mengingat tahun drama itu release.

Menuliskan judul-judul film dan tahun keluarnya itu ya tentu saja mengandalkan Wikipedia. Tapi, daftar sudah sepanjang itu, masih ada beberapa drama yang ketinggalan dan belum saya tambahkan ke dalamnya.

Topik paling sulit buat saya menuliskan topik 8, tentang makanan Korea. Topik ini sulit karena saya sudah pernah menuliskan tentang makanan Korea dalam 2 tulisan. Untuk menuliskan kembali tulisan yang sama, kok rasanya gimana gitu.

Untungnya setelah membaca-baca tulisan teman-teman yang lain, saya menemukan ide untuk menceritakan tentang perasaan saya kalau menonton drama Korea yang sering jadi lapar. Drakor sukses menjual makanan Korea dan membuat pemirsa ingin mencoba makanan yang ditunjukkan di dalamnnya.

Nah, teman-teman yang lain beda lagi ceritanya. Kalau Makdey, malah kesulitan menuliskan topik 5 tentang drama yang sudah dia tonton, terutama karena harus mengingat drama yang sudah dia tonton apa saja, dan tentu saja banyak yang masih ketinggalan. Kalau topik paling mudah itu topik 2: Alasan nonton drakor.

Terus kalau Lendyagasshi cerita dia malah kesulitan menuliskan topik 2: awal mula nonton drakor dan alasan nonton drakor. Karena katanya, ya dia suka aja nonton, kalau boleh mengutip, “Cinta itu tidak butuh alasan.” Kalau topik paling gampang itu topik 6: jenis drama yang tidak akan ditonton alias drama-drama yang belum diselesaikan karena tidak klik.

Nah kalau jeng Dwi Tobing lain lagi ceritanya. Berhubung dia tidak terlalu suka dengan citarasa makanan Korea, topik makanan juga menjadi topik tersulit untuk dituliskan. Topik termudah? tentunya topik tentang manfaat nonton drakor yang akhirnya jadi artikel utama di Kompasiana. Katanya, “itu nulisnya tanpa beban, jadi enak aja gitu berceritanya.”

Berikutnya kalau Manda bilang topik paling susah itu tentang belajar Hangul, soalnya sampai sekarang belum tertarik belajar Hangul. Tantangannya, bagaimana menuliskan itu menjadi minimal 300 kata? Kalau topik yang paling mudah itu tentu saja topik 4 tentang genre drakor yang banyak ditonton.

Seperti Manda, Litha juga agak kesulitan menuliskan topik 10. Topik lainnya semua mudah katanya, karena sudah pernah menuliskan seputar topik itu juga. Eh iya bukan ya?

Nah kalau Rijo Tobing (bukan kembaran Dwi Tobing) lain lagi ceritanya. Topik tersulit itu katanya tentang menulis huruf Hangul, tapi faktanya dia paling duluan selesai nulis karena kesambit, hehehe. Kalau topik termudah tentu saja topik asal muasal terdampar ke dramaland. Kayaknya itu sekalian bernostalgia kebucinan yak, hehehe.

Obrolan Zoom lainnya, diceritakan lain kali saja ya. Salah satunya adalah usaha teman-teman di grup untuk membujuk saya menonton drama beraliran Sageuk apapun, atau ya Kingdom juga boleh katanya. Rekomendasinya sih Moon Lovers, sayangnya tidak ada di Netflix (ah ini mah alesan aja).

Buat teman-teman yang tidak ikutan Zoom hari ini, semoga sesi Zoom berikutnya bisa ikutan ya. Kalau cerita/keluh kesahnya tentang topik tersulit dan termudah dituliskan di blog, cerita-cerita di grup ya, biar bisa saya backlink hehehe.

6 thoughts on “Zoom Drakor dan Literasi”

  1. Gomawooo, Risna eonni.
    Aku kalo abis zoom tu…berasa punya sayap looh…
    ((terbang melayang, karena happy, jadi badan enteng))

    Segala dark-side aku selama dirumahaja jadi lenyap dihempashkan saat ngobrol bareng.
    Lagi….lagiii yaa…

  2. Aaaak, mb risna emang ter-daebak pisan! Udah jadi tulisan aja hasil zoom semalam, uwuuu

    Saeguk yg romcom cobaaa mbaaa hihihihihi

    The Tale of Nokdu maksudkuuu

    1. ini namanya the power of ngejar badge KLIP hahaha. Take of Nokdu ada di Netflix ya, ntar deh coba dilirik

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.