Mengenang masa-masa di ITB

Saya ini bukan termasuk orang yang membanggakan diri jadi alumni ITB. Saya juga tidak mengenal ITB sebelum masuk ITB. Tapi karena hari ini adalah ulang tahun yang ke-100 ITB, saya ingin bercerita kenangan masa saya di ITB.

Saya masuk S1 ITB tahun 1998, sempat bekerja sebentar di ITB. Sempat ingin jadi dosen di ITB dan mendapatkan beasiswa S2 di ITB dengan ikatan dinas. Akhirnya pindah ke Chiang Mai tahun 2007. Selama hampir 9 tahun, ada banyak kenangan di ITB.

Masuk ITB

Sebagian orang sudah mengincar masuk ITB dari sejak masuk SMU. Saya dulu nggak terlalu memikirkan akan masuk perguruan tinggi mana. Waktu kelas 3 SMU saya mulai ikutan bimbingan belajar yang dekat dengan sekolah dan setelah beberapa kali try out, saya merasa percaya diri bisa masuk UI atau UGM. Suatu hari di tempat bimbingan belajar ada guru bahasa Inggris pengganti, setelah melihat nilai kuis saya, dia nanya: “kamu milih ke mana?” saya jawab “UI dan UGM Pak“, dan dengan logat Batak-nya dia bilang “Ah, kau kalau mau milih ITB udah pasti lulus ini“.

Hal kecil itu yang membuat saya memilih ITB dan UGM. Saya mencoba masuk PMDK UI tapi tidak diterima, saya juga sempat mencoba ujian STT Telkom dan juga gagal. Malam hari sebelum pengumuman UMPTN, saya baru terpikir: “kalau saya nggak diterima UMPTN, saya mau ngapain ya?”, dan itu membuat saya jadi cemas. Akhirnya saya berdoa untuk bisa menerima apapun yang terjadi dan bahwa Tuhan akan memilihkan jalan terbaik untuk saya.

Saya masih ingat pagi-pagi ke pasar untuk mencari koran pengumuman UMPTN. Waku UMPTN saya ketemu teman dari kelas lain dan namanya saya temukan duluan. Saya ingat saya terpisah beberapa kelas dari teman saya itu ketika UMPTN (nomor ujiannyalebih dari saya), jadi saya langsung lompat beberapa puluh baris di atasnya mencari nama saya dan deg-degan tidak ketemu. Ternyata nama saya persis di atas nama teman saya itu (jadi semua antara kelas kami nggak lulus).

Pindah ke Bandung adalah kali pertama saya jauh dari orang tua. Untungnya saya masih punya saudara walau rumahnya di daerah Kopo, agak jauh dari kampus dan perlu naik angkot dua kali. Saya agak kaget di ITB ada yang namanya Tahap Persiapan Bersama (TPB) di mana di tahun pertama pelajarannya adalah materi dasar seperti Matematika, Fisika, Kimia, Olahraga, Agama, dsb tanpa materi dari jurusan yang kita pilih.

Setelah setahun, saya sudah mulai bisa mroyek dan bisa memilih kost dekat kampus (walking distance). Bagi saya waktu itu tempatnya cukup mewah: kamar saya punya kamar mandi di dalam (walau kamar mandinya tidak punya air panas), ada dapur bersama, ada telepon bersama, ada pembantu untuk cuci dan setrika dan bisa memesan catering untuk sarapan.

Masa-masa di Kampus

Melihat sekolah asal teman-teman sekelas, sejak awal Saya sudah merasa pasti akan jadi mahasiswa golongan kurang berprestasi, dan itu membuat saya tidak memiliki beban selama di kampus. Saya banyak ngoprek, banyak mroyek, dan berusaha belajar sebanyak mungkin. Ternyata setelah lulus, IP saya masih sedikit lebih dari 3. Bukan cuma oprekan teknis, selama di ITB saya ikutan kegiatan agama: Persekutuan Sion, PMK, dan juga kegiatan rohani di Teknik Informatika.

Saya beruntung tidak dikeluarkan karena insiden yang pernah saya ceritakan di sini. Setelah kejadian itu saya sempat menjadi administrator jaringan. Ilmunya sempat saya pakai untuk mensetup jaringan di Institut Teknologi DEL. Pergi ke DEL adalah kali pertama saya pergi ke pulau di luar pulau Jawa. Oprekan saya di bidang open source membuat saya dikirim oleh ITB ke beberapa simposium open source di Asia, mewakili Indonesia.

Ada begitu banyak kisah suka dan duka selama di kampus, tapi dalam kenangan saya, masa-masa di kampus itu adalah awal masa bahagia. Di situ awal saya bisa banyak ngoprek, ketemu banyak orang baik, dengan dosen-dosen yang amat berkesan. Sampai sekarang saya masih ngoprek, masih berkomunikasi dengan teman-teman, dan bahkan sampai sekarang saya masih kontak dengan dosen-dosen yang dulu mengajar saya.

Saya ini orangnya kurang ambisius, lebih suka ngoprek dan bermain-main daripada mengejar karir. Setelah lulus, saya sempat bergabung dengan PT Divusi di ITB selagi memikirkan langkah hidup berikutnya. Di situ saya bertemu Risna, dan kami mengambil S2 bareng dengan beasiswa dari ITB. Di situ sepertinya hidup sudah pasti: kami akan S2, lulus dan jadi dosen. Tapi ternyata Tuhan menentukan jalan lain. ITB yang saat itu sedang beralih ke BHMN tidak bisa mempekerjakan orang baru selama jangka waktu tertentu, jadi akhirnya kami (dan semua dengan kontrak yang sama) dibebaskan dari kewajiban kami.

Belasan Tahun Setelahnya

Sekarang saya masih sering ketemu dengan banyak orang dari ITB, baik itu adik kelas maupun kakak kelas. Untuk teman-teman yang dari satu jurusan, ada topik sama yang bisa dibicarakan tentang masa-masa di kampus. Sudah sangat sedikit sekali teman SD, SMP dan SMU yang saya ingat, tapi teman-teman dari ITB masih banyak.

Setelah bertemu banyak orang ITB dan melihat karir mereka sekarang ini, saya bisa melihat: tidak semua orang ITB sukses, tidak semuanya cemerlang dalam segala aspek kehidupan, dan tidak semua alumni ITB baik (misalnya ada yang tertangkap korupsi). Banyak orang ITB yang saya kenal yang tidak ambisius dan mengerjakan apa saja yang mereka sukai, entah itu jadi karyawan biasa, pegawai negeri, jadi peternak ataupun profesi lain.

Mungkin yang istimewa dari ITB adalah sejarahnya yang sudah panjang dan namanya dikenal orang. Kepopuleran ini membuat banyak orang di ITB berusaha sebaik mungkin untuk berhasil dan untuk berlaku baik (takut dibilang “malu-maluin aja, anak ITB kok kayak gitu”). Mungkin tidak selalu begitu, tapi setidaknya ketika masih menjadi mahasiswa semangat itu masih ada.

Bagi saya sendiri: menengok kembali 22 tahun yang lalu, saya tahu Tuhan menjawab doa saya dan sudah memilihkan jalan yang terbaik untuk hidup saya. Banyak ilmu yang saya dapat di ITB, juga pertemanan dan bahkan jodoh saya juga ketemu di ITB.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.