Ngemall di New Normal Thailand

Setelah hampir 4 bulan di rumah saja, mulai dari gara-gara polusi sampai dengan pandemi Covid-19, hari Minggu kemarin kami ngemall lagi. Bersyukur kalau di Thailand tidak ada polusi lagi dan penyebaran infeksi Covid-19 sudah tidak ada transmisi lokal selama 40 hari lebih.

Hari yang cerah, langit biru dan bebas polusi.

Semua yang dulu ditutup sudah mulai dibuka kembali. Semua sudah terasa normal, bedanya selama di luar setiap orang disarankan memakai masker. Sebelum masuk mall tetap ada pemeriksaan suhu tubuh dan check-in dengan aplikasi. Kalau masih ada kasus infeksi setiap harinya, pastinya kami masih di rumah saja.

Saya perhatikan, check-in aplikasi ataupun mendaftarkan nama dan nomor telepon sebenarnya bisa saja tidak dilakukan. Tapi kami memilih tetap melakukannya, supaya kalau tiba-tiba ada penyebaran kasus baru, kami bisa dihubungi dan segera diperiksa. Tidak berharap ada kasus baru sih, tapi namanya juga lebih baik menjaga daripada terkena.

Sebenarnya, jalan-jalan ke mall ini bukan sekedar jalan-jalan. Setelah beberapa bulan di rumah saja, baju, celana dan sepatu si anak bungsu semua mulai mengecil dan butuh diganti. Selain itu, waktu dia ulang tahun kemarin juga belum dikasih hadiah apapun. Untungnya dia belum tahu protes dan sudah bahagia walau cuma dapat tulisan happy birthday di Minecraft.

Kami sengaja berangkat dari rumah sebelum mall ramai, tujuannya supaya mudah mencari parkir. Jam 11 pagi, kami sudah berangkat dari rumah. Mall nya cuma 5 menit dari rumah, cari parkir 5 menit. Jam sebelas lewat sedikit sudah berada di dalam mall.

Misi pertama membeli baju dan celana. Misi berikutnya makan siang. Selesai makan, kami lanjutkan mencari sepatu buat Joshua. Rasanya sudah seperti dulu sebelum pandemi. Sayangnya tempat bermain anak-anak seperti meja bermain LEGO ataupun kereta api keliling mall tidak ada untuk sementara, pastinya karena pandemi.

Sebelum memilih sepatu, Joshua melihat ada LEGO Minecraft. Langsung dengan percaya diri, dia tunjuk ke papanya dan minta dibeliin.

Milih mainan sendiri

Karena memang dia jarang minta mainan dan memang lagi senang banget dengan Minecraft, kami belikan LEGO Minecraftnya. Anggap saja hadiah ulang tahun yang tertunda.

Catatan tambahan, walaupun itu dibelikan untuk Joshua, Jonathan boleh main dan sangat disarankan main bareng-bareng. Kadang-kadang Joshua agak posesif, jadi harus disuruh janji dulu kalau dia mau berbagi mainan. Kalau tidak mau berbagi, tidak akan dibelikan.

Makan di luar lagi

Setelah selesai membeli hal yang diperlukan dan makan, kami pulang ke rumah. Sekitar jam 2 siang, kami sudah di rumah lagi. Semua yang dibutuhkan sudah dibeli, perut juga sudah aman terisi. Ke mall kali ini terasa lebih boros setelah beberapa bulan di rumah saja. Tapi ya, anggap saja hari itu istimewa karena gabungan dari merayakan ulang tahun papa dan Joshua yang tertunda gara-gara pandemi (alesan mah ada aja ya).

Secara umum, situasi di mall tidak terlalu ramai, tapi ya tidak sepi juga. Kalau tidak melihat orang-orang memakai masker dan memakai aplikasi untuk cek-in, rasanya ya sama saja seperti sebelum pandemi. Keberhasilan Thailand menghilangkan transmisi lokal sejauh ini cukup membuat kami merasa ‘aman’ untuk berkegiatan seperti dulu, termasuk berbelanja dan makan di mall.

Sampai rumah Joshua tertidur di mobil, jadi dia tidak langsung main LEGO Minecraftnya. Akhirnya setelah makan dan mandi sore, baru deh main LEGO bersama papa dan Jonathan. Mamanya tukang dokumentasi dan memastikan semua kembali tersimpan rapi saja.

Karena LEGO nya ini sebenarnya untuk mainan anak 8 tahun ke atas, yang menyusun-nyusunnya Jonathan dan Papa. Joshua seperti biasa membentuk huruf-huruf dan sambil memainkan karakter Minecraft yang sudah disusun oleh Papa dan Jonathan. Tokoh Minecraftnya diletakkan di atas huruf yang disusun Joshua.

Selesai bermain, tentunya harus dibereskan dulu sebelum tidur. Kalau sampai hilang, ntar mamanya nangis, hehehe. Loh nangis kok ketawa. Ya, maksudnya tentu saja sebisa mungkin jangan sampai ada yang hilang. Belum sehari masak udah mau hilang saja. Kalau sudah sebulan baru deh boleh, eh jangan hilang lebih baik sih, tapi biasanya agak mustahil.

Kami sebenarnya orang rumahan. Selama masa di rumah saja, anak-anak ataupun saya tidak ada yang kangen ke mall. Ya mau kangen juga belum tentu bisa, wong semua mall ditutup. Waktu mall mulai dibuka, tapi masih ada kasus di dalam negeri, kami memilih tetap di rumah saja dan tidak ngemall dulu. Setelah semua aman, baru deh berani ke mall lagi.

Kegiatan ke mall ini kalau sebelum pandemi cukup menyenangkan buat anak-anak. Di sana yang pasti udaranya tidak panas. Makanan banyak pilihan. Mainan juga banyak yang tidak harus bayar. Dulu sesekali kami sengaja ke mall buat main yang gratisan doang. Yang terpenting sih keluar rumah bersama-sama, di rumah juga main bersama. Anak-anak sih cukup senang walaupun tidak selalu apa yang dimau dibelikan.

Kalau mereka meminta sesuatu dan kami anggap tidak dibutuhkan, kami akan bilang tidak boleh. Biasanya yang besar akan bertanya kenapa? Tapi setelah dijelaskan mereka akan menerima dan tidak perlu ada kejadian merengek menangis karena tidak diberi apa maunya.

Kalau kalian suka ajak anak-anak ke mall juga gak? Tetap perhatikan protokol kesehatan, dan jangan berlama-lama di mall nya kalau memang belum aman ya. Kalau sudah aman seperti Thailand, bolehlah ke mall lagi, tapi juga jangan sering-sering juga, boros euy, hehehe…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.