Tumpengan ala Perantau di Chiang Mai

Hari ini, untuk pertama kalinya saya terpikir untuk mencari tahu apa sih makna tumpengan itu sebenarnya. Di Indonesia, kegiatan tumpengan ini mungkin hal yang biasa setiap kali ada syukuran ya. Nah, bertahun-tahun merantau, baru belakangan ini bertemu teman yang jago masak makanan Indonesia dan bisa bikin nasi tumpeng lengkap begini. Ayo, siapa yang pernah mencari tau lebih banyak soal tumpeng dan kenapa bentuknya kerucut?

Tumpeng Nasi Kuning lengkap dengan 7 lauknya (foto: patricia)

Menurut Wikipedia, tumpeng ternyata ada banyak jenisnya, dan bukan hanya dari nasi kuning saja. Tiap nasi ada maknanya. Nah hari ini, salah satu dari anggota komunitas Indonesia di Chiang Mai berencana pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan perkuliahannya. Untuk acara syukuran, biasanya yang dibuat adalah tumpeng nasi kuning , warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. Tentunya ini menjadi harapan buat teman kami yang baru lulus dan akan pulang ke tanah air.

Saya jadi tahu kalau kata tumpeng itu merupakan akronim dari bahasa Jawa: yen metu kudu sing mempeng  yang artinya bila keluar harus dengan sungguh-sungguh. Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Jadi acara tumpengan ini biasanya intinya ya ucapan syukur dan harapan akan keberhasilan di masa depan dengan pertolongan dari Tuhan.

Lauk dari tumpeng itu memiliki makna masing-masing di tiap daerah di Indonesia. Tapi buat saya dan teman-teman perantau maknanya jelas: kami bisa makan enak bersama dan berharap lebih sering ada acara seperti ini, hahaha. Ya, intinya maknanya kami bisa ikut berbahagia atas keberhasilan teman kami dan berharap ke depannya dia sukses.

Oh ya, hampir lupa, jadi kenapa tumpeng bentuknya kerucut? Masih menurut beberapa sumber yang saya baca, bentuk kerucut ini meniru kondisi geografis Indonesia yang memiliki banyak gunung. Karena acara tumpeng ini sudah ada sejak jaman purba, di mana saat itu masyarakat masih menyembah gunung tempat bersemayam para arwah nenek moyang, maka bentuk kerucut itu meniru gunung tempat para leluhur itu.

Tapi tenang saja, jaman sekarang kan kita ga percaya dengan kepercayaan kuno, arti dari bentuk kerucut seperti gunung diadaptasikan menjadi harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.

Terimakasih buat teman-teman Indonesia di Chiang Mai. Saya jadi belajar hal baru hari ini (selain perut kenyang dan hati senang), hehehe. Terimakasih buat tuan rumah dan juru masak handal kesayangan kami semua. Buat teman kami yang akan berangkat ke Bekasi hari Kamis nanti, semoga pas wisuda Januari bisa kembali ke Chiang Mai ya. Hati-hati di jalan dan semoga harapan dari tumpeng hari ini bisa kesampaian.

Untuk menjaga privasi, saya hanya memasukkan foto tumpeng saja hari ini, hehehe. Mudah-mudahan 17 Agustusan bisa tumpengan lagi.

2 thoughts on “Tumpengan ala Perantau di Chiang Mai”

  1. Mantap kali keknya menu tumpengannya ya…
    Aku belum pernah euy… mungkin kalo tumpengan, aku bakalan duduk dekat di sebelah tumpeng, dan menyendok tak henti hahaha

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.