Lunch Mate, Versi Lain dari Dinner Mate

Siapa yang pernah baca buku atau nonton film terus kepikiran: “ih cerita ini kok kayaknya pernah ngalamin ya?” Atau merasa suka dengan cerita karena ada kemiripan dengan jalan cerita walaupun hanya sekelumit saja. Saya juga pernah.

Dari sekian banyak nonton drama Korea, tentunya ada cerita-cerita yang ketika menontonnya mengingatkan dengan pengalaman pribadi. Nah hari ini tantangan dari grup drakor dan literasi, kami diminta menceritakan kisah pribadi yang mirip dengan drama Korea. Kalau ga ada yang mirip gimana? ah ga mungkin ga ada yang mirip, berarti belum banyak nonton dramanya, maksa banget ya, hahaha.

Sebenarnya mungkin ada banyak yang mirip atau dimirip-miripkan, tapi ya, kan ga semua bisa diingat kalau lagi disuruh menuliskan begini, belum lagi kalau orangnya pemalu dan ga mau jadi malu-maluin. Kalau kata salah satu teman saya, “jadi harus buka aib nih di blog?” Tentu tidak, jangan pernah menuliskan rahasia di blog, karena kalau ditulis namanya sudah bukan rahasia lagi. Jangan juga menuliskan hal yang bisa dipakai untuk mempersulit dirimu di kemudian hari, karena nanti pasti jadi sulit urusannya.

Lunch Mate sekian tahun kemudian

Iya, maap, saya memang lagi agak muter-muter ini ngomongnya, biar pembaca mulai penasaran atau makin penasaran. Kalau yang kenal dengan saya, atau yang baca tulisan sebelumnya review Dinner Mate (2020), pasti sudah tahu deh kira-kiranya cerita saya bakal seperti apa.

Setelah saya menuliskan review Dinner Mate yang baru selesai episode terakhirnya minggu lalu, saya bercerita garis besar dari drama Dinner Mate ke Joe. Terus, sesuai dengan ekspektasi saya, Joe bilang: “loh kok ceritanya kayak cerita kita?, tapi kita makan siang,” terus Joe juga bilang: “sekarang kita makan sehari 3 kali bersama-sama, ga cuma makan siang aja.”

Begitulah ceritanya. Eh, belum cerita kok udah selesai ya, hehehe. Ya, alkisah di bulan puasa sekian tahun silam, Joe dan saya waktu itu masih sama-sama kuliah S2 dan kami juga bekerja di tempat yang sama, dan mengerjakan proyek yang sama. Kebanyakan teman-teman kami berpuasa dan kantin pun tutup. Karena cuma kami berdua yang tidak puasa, maka otomatis kami makan siang bareng deh.

Saya lupa siapa yang duluan ngajakin, karena harusnya bisa saja kan saya bawa bekal waktu itu, tapi saya lupa siapa yang ajakin makan bareng duluan. Waktu itu, saya belum ada ketertarikan atau kepikiran aja nggak kalau Joe bakal jadi pasangan saya. Jadi emang cuma teman kuliah/teman kerja saja.

Kalau di cerita Dinner Mate, awalnya mereka bahkan tidak saling mengenal nama. Mereka cuma makan bareng, bahas makanan dan curhat masalah masing-masing sesekali. Terus juga misalnya si cewek punya restoran favorit, terus dia ajakinlah cowoknya makan di situ. Nah, kalau kami walau sudah kenal, tapi ya belum pernah juga ngobrol berdua doang, alias belum benar-benar kenal satu sama lain.

Apa saja yang diobrolin waktu makan siang? Mulainya dari apa yang dituliskan di blog, terus ngomongin buku, ngomongin film, terus ngomongin pandangan hidup/ngomentarin pilihan orang yang kurang tepat menurut kami, ngomongin teman-teman secara random, cerita tentang keluarga, pokoknya ngomongin apa aja kecuali gosip artis dan politik. Dari ngobrol-ngobrol itu, saya bisa lihat kalau ternyata Joe ga sependiam kelihatannya.

Kalau orang yang tidak kenal dengan Joe, pasti mikirnya Joe itu ga bisa diajak ngobrol karena terlalu ‘nerd’, padahal nggak loh, dia bisa mengingat joke yang dia baca dan menceritakannya kembali lebih banyak dari saya. Jadi jangan pikir pas ngobrol saya doang yang cerita, Joe juga punya banyak cerita, dan kami bergantian mendengarkan (walaupun memang, saya lebih banyak memulai cerita).

Jadi ini ngomongin drama atau nyeritain pengalaman pribadi sih? Ya sekalianlah, sekalian bernostalgia sedikit, mengenang 30 hari makan siang bareng Joe, hehehe. Setelah makan siang selalu bareng, kadang-kadang Joe mulai cari alasan ajakin saya beli makan sore bareng. Kadang makan di tempat, kadang beli untuk di bawa pulang masing-masing. Akhirnya jadi tau tempat makan yang sering dibeli oleh Joe yang letaknya terkadang ada yang dekat kos saya, dan ada yang dekat kos nya Joe.

Lalu, di antara bulan puasa itu, jadi timbul ide, gimana kalau sesekali kita makan bareng mulai sarapan sampai makan malam? Jadilah kami makan pagi dan siang mencari kantin yang buka di sekitar kampus, terus makan malamnya sesekali makan di restoran yang agak fancy. Termasuk pernah ditraktir makan Pizza karena alasan Joe mau nyobain kartu kredit (ini alasan banget ya, tapi saya waktu itu tetap ga ngeh kalau itu cuma alasan biar makan bareng, hahaha).

Nah kesamaan lain dari cerita Dinner Mate dan kisah kami adalah, karakter tokoh prianya. Jadi seperti halnya pak dokter di Dinner Mate yang tau apa yang dia mau dan to the point tanpa muter-muter. Suka bilang suka, nggak bilang nggak. Joe juga orangnya begitu. Tanpa pakai lama, di akhir 30 hari bulan puasa, Joe bilang kalau dia suka dengan saya. Naaah, ini sebenarnya saya udah ngerasa sih sebelum 30 hari, tapi saya masih gak yakin karena ada perbedaan suku dan umur di antara kami.

Tapi ya, di antara sekian banyak mengenal teman pria, emang cuma Joe yang bikin saya merasa bisa ngomongin apa saja dan didengarkan dan direspon dengan baik. Jadi kan dilema tuh, antara: “aduh males banget kalau nanti ga boleh sama orang tua gara-gara beda suku dan umur, mending ga usah dimulai daripada nanti udah tau endingnya ga enak, ” dengan “ya elah, hari gini masih ributin suku dan umur, emang kenapa kalau beda umur tapi doi lebih dewasa?”

Kalau drama yang ngomongin pasangan beda umur, atau orangtua tidak setuju karena perbedaan yang ada, pasti ada banyak. Walaupun gak semua pasangan beda umur di drakor itu bedanya masuk akal, tapi waktu nonton My Lovely Sam Soon (2015), saya jadi berasa ada kemiripan segi usianya dengan kami.

Dari drama-drama yang disebutkan ada kemiripan, tentu saja ada perbedaan endingnya dengan kehidupan nyata. Karena hidup ini lebih indah dari drama Korea. Drama Dinner Mate, endingnya baru diajakin makan bareng setiap hari, sedangkan kami sudah menjalani makan bareng setiap hari selama bertahun-tahun. Karena kantor Joe yang dekat rumah, kami juga makan siang bareng, bukan cuma sarapan dan makan malam saja. Dalam setahun, paling hanya beberapa kali kami tidak makan bareng.

Nah kalau dari My Lovely Sam Soon, pada saat akhirnya mamanya masih tetap tidak setuju dengan hubungan mereka, tapi mereka sih tetap bersama. Kalau versi Joe dan saya, orangtua setuju dan kami hidup bahagia sampai selamanya (amiiin).

Kalau cerita kalian bagiamana? Mudah-mudahan lebih indah dari drama Korea ya semuanya. Tapi, ada juga cerita teman-teman saya yang versi lebih drama dari drama selain yang lebih indahnya. Mau tau? Baca saja tulisan teman-teman saya ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.