Ketinggalan Kacamata

Hari Sabtu pagi, hari mengantarkan anak kelas mewarnai. Dari rumah sudah siap-siap bawa laptop untuk menulis sambil menunggu mereka. Lumayan 2 jam daripada bengong. Hari Sabtu lalu, saya cukup berhasil menggunakan waktu dengan mengerjakan sesuatu. Apa daya, ternyata hari ini saya lupa membawa kacamata.

Memaksakan menuis walau penglihatan blur, hehehe…

Sudah hampir 2 tahun saya memakai kacamata plus, dan saya masih tetap tidak terbiasa untuk selalu memakainya. Awalnya karena masih merasa bisa membaca tulisan di ponsel tanpa keluhan. Tapi beberapa waktu belakangan ini, umur memang tidak berbohong. Walaupun tulisan bisa dibaca tanpa kacamata, tapi tulisannya mulai terasa blur dan tidak nyaman memandang layar berlama-lama.

Saya ingat dulu, orang tua saya sering mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan mata. Membaca jangan terlalu dekat atau di tempat gelap. Mengingat jam terbang di depan layar, sebenarnya mata saya sudah berhasil saya jaga selama ini.

Saya dulu selalu heran dengan jawaban mama saya ketika saya protes kenapa pesan teks saya tidak dibalas. Mama saya akan bilang: dia malas buka ponsel, soalnya harus cari kacamata dulu. Nah, sekarang saya sudah tidak heran lagi, karena sayapun mulai merasakan malas melihat ponsel kalau sedang tidak pakai kacamata, dan terlebih lagi saya juga malas menggunakan kacamata.

Saya punya 3 kacamata. Rencananya 1 kacamata akan ditinggal di mobil, 1 di rumah bagian bawah dan 1 di kamar tidur. Tapi rencana tinggal rencana, yang di mobil akhirnya di bawa turun selalu, dan setiap pergi harus ingat untuk dipakai atau malah ketinggalan seperti sekarang ini.

Sekarang ini, anak-anak terpapar gadget jauh lebih banyak lagi. Bukan, bukan karena di sini kami harus mengalami belajar online, tapi ya dasar aja anak-anak lihat mama papa nya sering memakai gadget, mereka juga tidak mau kalah. Selain masalah gadget, Jonathan juga sering baca di tempat gelap. Saya pun jadi mengulang nasihat orang tua saya dulu ke anak saya.

Memang ya, orang tua itu nasihatnya itu karena mereka sudah punya pengalaman lebih dari kita, dan sekarang setiap kali menasihati anak, saya jadi mikir sendiri, “jadi begini ya rasanya orang tua saya dulu berusaha memberi saya pengertian.” Sayangnya saya lupa waktu itu apa yang saya pikirkan, hahaha, seringnya sih sepertinya lupa lagi dengan nasihat orang tua.

Jadi tulisan hari ini sebenarnya mau bilang apa sih? Ya cuma cerita aja sih kalau ketinggalan kacamata itu bikin rencana kerja bubar jalan. Tapi, supaya tetap ingat lain kali dan supaya target menulis hari ini tetap tercapai (sampai rumah bisa santai nonton drama, hehehe). Semoga saja tidak banyak salah tulis dalam tulisan ini, kalau ada salah, ya saya pakai alasan: “ga pakai kacamata sih, jadi agak blur gitu deh, harap dimaklumi.”

Eh sebenarnya lagi, pelajaran lainnya adalah: dengarkan, ingat dan turutilah nasihat orang tua, karena mereka menasihati itu untuk kebaikan kita juga.

Ada yang punya pengalaman sering ketinggalan kacamata seperti saya juga?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.