Kdrama: It’s Okay to Not be Okay

Drama ini baru selesai tayang hari Minggu kemarin, tapi saya baru selesai nontonnya hari Senin. Awalnya drama ini hampir saya tinggalkan karena beberapa menit pertama terkesan menyeramkan. Cerita dimulai dengan sebuah dongeng ala Rapunzel, seorang anak wanita yang dikekang seorang penyihir yang merupakan ibunya dan dikurung di sebuah kastil dan dilarang mempunyai teman.

Poster di Netflix

Saya memang tidak mencari tahu detail dari drama ini sebelum menontonnya, tapi mengambil asumsi dari judulnya kalau ceritanya akan membahas seputar psikologi manusia. Apalagi judul lainnya adalah Psycho but It’s Okay.

Waktu melihat bagian awalnya ada cerita penyihir, saya pikir drama ini akan menjadi drama horor. Saya memang tidak suka cerita fantasi yang mengarah ke horor, tapi ketika ceritanya berlanjut dengan pembacaan buku dongeng, saya pun jadi terpikat dengan drama ini.

Ada beberapa daya tarik dari drama ini yang membuat saya meneruskan menontonnya sampai akhir. Kalau Anda termasuk yang tidak suka horor seperti saya, ceritanya bukan cerita horor kok jadi coba teruskan saja menontonnya. Saya akan berusaha menuliskannya tanpa memberikan spoiler.

Banyak dongeng sebagai pengantar cerita

Dalam drama ini, tokoh wanitanya seorang penulis dongeng dengan ilustrasi dan cerita yang agak terlalu sadis sebenarnya untuk anak-anak. Buku yang dia tulis terkesan sadis dan menyeramkan karena dia sendiri digambarkan karakternya sangat dingin dan tidak tahu cara berinteraksi yang wajar dengan orang lain. Si penulis dongeng ini kisah masa kecilnya seperti Rapunzel yang dikekang penyihir jahat dan tidak boleh punya teman.

Selain buku-buku yang dikarang oleh tokoh wanitanya, judul dari setiap episodenya juga merupakan judul dari dongeng yang terkenal, termasuk Rapunzel and the Cursed Castle, Beauty and the Beast, The Ugly Duckling, dan Romeo and Juliet.

Cara mereka membacakan dongeng dan cara si tokoh wanita melihat makna lain dari biasanya dari sebuah dongeng juga cukup menarik untuk disimak. Pelajaran dari dongeng itu tidak selalu indah. Kalau membaca cerita aslinya, dongeng-dongeng itu sebenarnya memang ada yang berakhir tragis. Tapi di dunia modern yang mana lebih menyukai kisah bahagia, dongeng-dongeng diadaptasi menjadi kisah yang berakhir dengan klise ‘dan mereka hidup bahagia selamanya’.

Saya tidak akan menceritakan secara rinci dongeng apa saja dalam drama tersebut, silakan ditonton kalau memang suka dengan dongeng, teman saya Lendyagasshi sudah menuliskannya dengan cukup detail.

Cerita drama ini juga disimpulkan dalam bentuk dongeng yang dituliskan oleh si tokoh wanita. Semua cerita dongeng yang dituliskan si tokoh wanita dalam drama ini sudah ada bukunya dijual di Korea, tapi sepertinya hanya ada dalam bahasa Korea. Mungkin kalau mereka memproduksi versi multi bahasa, akan terjual sangat laris. Beberapa teman saya yang sama-sama menonton drama ini sudah tergoda ingin membeli buku-buku dongeng dalam drama ini.

Eh tapi, walaupun namanya dongeng, ini bukan untuk anak-anak ya. Netflix memberi rating 13+, tapi menurut saya drama ini lebih tepat lagi 18+. Butuh kedewasaan berpikir untuk bisa mencerna masalah-masalah psikologi yang diungkapkan dalam drama ini.

Banyak pelajaran tentang kehidupan

Tokoh utama dalam cerita ini ada 3 orang. Selain tokoh wanita si penulis dongeng, ada 2 tokoh pria yang merupakan kakak beradik.

Si kakak tumbuh besar sebagai anak kebutuhan khusus. Si kakak ini menyaksikan pembunuhan ibunya dan menjadi trauma dengan kupu-kupu. Walau dia berkebutuhan khusus, si kakak ini punya talenta dalam membuat ilustrasi/gambar.

Si kakak ini masih mentalnya terlihat seperti anak-anak, dia sangat menyukai dinosaurus, film kartun yang diputar berulang kali sampai hapal semua dialognya dan juga buku dongeng karangan si tokoh wanita.

Pemeran tokoh si kakak ini sungguh membuat cerita drama ini jadi lebih menarik karena totalitas aktingnya. Menurut saya, si kakak inilah tokoh utama dari cerita drama ini.

Si adik diceritakan bekerja sebagai perawat di rumah sakit jiwa yang isinya ya orang-orang dengan gangguan jiwa. Sejak ibunya meninggal, si adik terbeban harus menjaga kakaknya dan tanpa sadar menyimpan trauma masa kecil karena merasa diperlakukan tidak adil oleh ibunya. Tapi walau begitu, dia sangat menyayangi kakaknya dan rela menekan perasaannya demi kesejahteraan mereka berdua.

Kakak beradik ini diceritakan sering berpindah-pindah kota, mereka merasa dikejar-kejar oleh si pembunuh ibunya. Sampai pada satu titik, mereka harus kembali ke kota asal mereka karena di situlah pekerjaan yang baru untuk si adik.

Dinamika dari si kakak beradik dan si penulis dongeng dimulai ketika si kakak meminta si adik mendapatkan tandatangan dari si penulis dongeng yang akan membacakan dongengnya di rumah sakit tempat si adik bekerja.

Seperti halnya di semua drama, harus ada beberapa kali pertemuan tidak sengaja yang berakhir dengan ketemu orang yang itu lagi itu lagi dan akhirnya mereka malah harus tinggal serumah.

Interaksi dari 3 orang yang memiliki keunikan masing-masing ini dan juga masalah yang dihadapi di klinik psikologi memberikan pelajaran-pelajaran yang bisa diambil.

Beberapa pelajaran diantaranya:

  • Menenangkan diri dengan pelukan kupu-kupu dengan cara menyilangkan tangan di depan dan memegang bahu, sambil menepuk bahu sendiri.
  • Pelajaran untuk mengendalikan emosi dengan menghitung sampai tiga sebelum mengambil tindakan yang akan disesali kemudian.
  • Bagaimana mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain.
  • Pelajaran tentang menerima tindakan orang tua di masa lalu dengan segala ketidaksempurnaannya sebagai manusia.

Saya tidak akan menuliskan semuanya di sini, beberapa hal yang juga didapatkan oleh teman saya Gita dan Dian K bisa dibaca di tulisan mereka.

Soundtrack yang enak untuk didengar

Lagu-lagu dari drama ini menjadi salah satu daya tarik juga. Beberapa lagu memiliki kesan yang agak berbeda dengan drama genre romantis lainnya. Saya suka mendengarkan semua lagunya. Lagunya mulai dari terkesan misterius, sedih, riang gembira sampai memberikan semangat ke diri sendiri.

Dari semua lagu, ada satu lagu yang cocok untuk menemani kalau sedang terkantuk-kantuk di siang hari. Judulnya saja sudah menggambarkan: Wake Up.

Wake Up – Elaine

Akting yang meyakinkan dari semuanya

Bagian yang ini sudah jelas membuat drama terlihat jadi menarik. Bintang-bintangnya yang menjadi si adik dan si penulis dongeng termasuk dalam jajaran aktor dan aktris yang dibayar mahal dengan kemampuan akting yang sudah menghasilkan berbagai award.

Pemeran tokoh si kakak, walau mungkin bukan dalam kategori ganteng seperti si adik, dengan akting yang sangat meyakinkan membuat drama ini jadi sangat berkesan.

Tokoh-tokoh pendukung lainnya juga tidak kalah aktingnya, termasuk akting dari pasien-pasien yang ada di Rumah Sakit Jiwa.

Ditutup dengan manis

Spoiler? Nggaklah, saya cuma mau bilang kalau episode 16 sebagai episode terakhir merupakan episode terbaik yang menyelesaikan semua masalah dalam drama ini dengan manis. Kalaupun ada beberapa kejanggalan yang ada dalam drama ini atau misteri yang terasa tidak dikupas tuntas, akan tertutupi dengan dongeng pamungkas yang dibacakan secara bergantian oleh tokoh utamanya.

Udah deh, ga usah diperpanjang lagi reviewnya. Silahkan ditonton sendiri saja, dan semoga ceritanya bisa menghibur dan memberikan pelajaran juga buat Anda.

3 thoughts on “Kdrama: It’s Okay to Not be Okay”

  1. Lengkap banget ulasannya, kak Risna.
    TOP.
    No spoiler at all.
    Hihii~

    Aku suka juga sama Sang-tae. Tapi penasaran siih…apakah sakitnya Sang-tae oppa ini nyata?
    Berdasarkan riset yang dalam?

    1. hehehe biar tetap menarik buat yang belum nonton. nah kalau soal penyakitnya si kakak yang autis itu aku belum baca2, tulisannya berdasarkan kesan menonton tanpa nonton ulang hehehe. nanti kita tunggu siapa tau temen2 lain ada yang mengulas nya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.