Sudahkah Jadi Wanita Merdeka?

Topik tantangan menulis KLIP minggu ini mengenai Merdeka sebagai Wanita. Grup KLIP memang isinya wanita semua, yang mana sebagai wanita punya multi peran. Ada yang sudah menikah dan menjadi istri, lalu sudah punya anak dan juga berperan sebagai ibu, lalu juga ada yang berprofesi di kantor. Semuanya itu dilakukan tanpa melupakan kalau dirinya sebagai wanita yang tidak punya kekuatan super, tapi mampu melakukan tugas multi peran tersebut.

Sabda Alam yang dipopulerkan kembali oleh White Shoes & the Couples Company tahun 2006

Pertama kali mendengar kata merdeka sebagai wanita, yang terpikir oleh saya adalah: Siapa yang menjajah wanita? Kenapa tidak merdeka? Lalu saya teringat dengan sebuah lirik dari lagu lama yang diciptakan Ismail Marzuki tahun 1956 dan sudah didaur ulang beberapa kali. Dari hasil pencarian Google, saya bahkan baru tahu kalau judulnya adalah Sabda Alam. Saya tahunya Sabda Alam itu lagunya Chrisye doang, hehehe. Ayo coba disimak lagunya…

Lagu ini diciptakan tahun 1956, dan sekarang sudah tahun 2020. Apakah lagu ini masih relevan? Apakah memang ditakdirkan pria berkuasa dan wanita lemah lembut manja? Apakah Wanita cuma sekedar perhiasan sangkar madu? Buat wanita jaman dulu sih mungkin ini semua diterima saja. Tapi tidak demikian pandangan wanita jaman ‘now’.

Orang tua jaman dulu sering bilang: “Wanita ga usah sekolah tinggi-tinggi, yang penting bisa masak dan urus suami dan anak.” Lalu sekarang, ketika wanita sudah boleh sekolah tinggi, apakah wanita sudah bisa lebih perkasa dari pria?

Faktanya, semaju apapun teknologi, walaupun wanita bisa dilatih kekuatannya, tetap saja pria yang dilatih kekuatannya akan lebih kuat. Semaju apapun teknologi, pria tidak akan bisa mengandung dan melahirkan. Semaju apapun teknologi, manusia memang diciptakan pria dan wanita dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk saling melengkapi.

Tapi kalau dibilang wanita cuma jadi perhiasan sangkar madu, ini sih menurut saya salah wanitanya sendiri. Makanya penting buat wanita memilih pria yang menghargai dirinya sebagai pribadi yang utuh dan bukan sebagai ‘properti’.

Kemerdekaan sebagai wanita, sebagaimana halnya kemerdekaan lainnya juga tentu saja ada batasannya. Jaman sekarang wanita dan pria memang sudah sama-sama mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengecap pendidikan dan juga berprofesi. Tapi, tetap jangan lupa, kalau memang sudah sepakat untuk menikah, sebagai istri, seorang wanita sudah punya komitmen juga untuk mendukung suami. Soal pengasuhan anak, tentu saja ini semua juga didiskusikan bersama dengan suami.

Manusia tidak dapat hidup seorang diri saja, demikian pula seorang wanita seperkasa apapun dan sesukses apapun dalam berkarir, dia membutuhkan orang lain untuk menjadi penyeimbang hidupnya. Bisa saja wanita merasa tercukupi dan puas dengan semua pencapaiannya, dan itu juga sah-sah saja sih. Tapi, ketika seorang wanita berkomitmen menjadi pasangan dari seorang pria, di situ dia perlu menyesuaikan lagi peranannya sebagai wanita. Wanita yang melengkapi pasangannya tentunya, bukan menjadi wanita lemah yang minta dilindungi dan menuntut tiada habisnya.

Saya bersyukur, bisa mendapat kesempatan mengecap pendidikan yang tinggi. Dengan pendidikan yang sudah saya peroleh, saya bisa memiliki pola pikir yang lebih baik soal kemerdekaan. Saya tidak memandang kalau menjadi ibu rumahtangga yang sehari-hari mengurusi anak dan tidak pergi ke kantor itu sebagai suatu penjajahan dari suami. Saya merasa kalau itu sebuah tanggung jawab yang sangat istimewa. Saya bisa memakai apa yang sudah saya pelajari untuk mengajari anak-anak saya, dan saya juga bisa mengimbangi pola pikir suami ketika dia mengajak diskusi mengenai berbagai hal.

Saya juga bersyukur, pasangan saya bukan orang yang memandang rendah terhadap wanita atau memperlakukan wanita sebagai ‘objek’ ataupun ‘properti’. Dia selalu membanggakan saya, bahkan untuk hal-hal yang kadang saya anggap biasa saja. Dia tahu saya bukan wanita super tapi juga bukan wanita lemah yang cuma tahu menuntut saja.

Tulisan ini jadi agak random ya, hahaha. Jadi menurut saya, wanita merdeka itu kalau mereka bisa jadi diri sendiri, mengerti apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya terutama dalam mengurus anak, pintar mengelola rumahtangga termasuk urusan finansial dan tentu saja selektif dalam memilih pasangan. Wanita butuh pasangan yang bisa diajak berdiskusi dalam menentukan keputusan bersama dan juga tidak menjadi wanita yang hanya ‘nerimo’ doang atau menuntut semata.

Kemerdekaan itu hak setiap wanita, tapi kalau tidak hati-hati, selalu ada saja hal-hal yang berusaha menjajah kehidupan kita ini. Pola pikir itu yang terutama untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Pola pikir itu yang juga perlu dilatih supaya kita jangan menjerumuskan diri dalam hubungan yang penuh dengan penjajahan.

Saya tahu, masih banyak wanita yang tidak merdeka dalam hidup ini karena situasi yang tidak mempersiapkan mereka dalam menghadapi penjajahan. Penjajahan ini bisa berasal dari keluarga sejak mereka kecil, salah dalam memilih pasangan ataupun penjajahan ekonomi sehingga menerima saja diperlakukan tidak adil oleh keluarga, pasangan atau di tempat kerja.

Lingkungan kita juga banyak menyalahkan wanita untuk setiap kesalahan yang sebenarnya berasal dari kelakuan pria juga. Kondisi fisiologis wanita yang memang tidak sama dengan pria biasanya menjadi faktor penyebab utamanya. Memang pria dan wanita itu berbeda. Walaupun ada gerakan menuntut persamaan hak, kesetaraan gender, tetap saja faktanya ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan pria, dan ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan wanita.

Sebelum tulisan ini semakin kemana-mana, saya sudahi dulu dengan harapan setiap wanita yang membaca tulisan ini bisa mulai mengusahakan kemerdekaannya dan mulai mencari cara melepaskan diri dari hubungan dengan penjajah dalam bentuk apapun.

Tulisan ini menjadi tulisan penutup dari tantangan menulis KLIP topik Merdeka. Semoga saja kita semua tetap MERDEKA!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.