Antara K-pop dan K-drama

Hari Sabtu, harinya menuliskan tentang kokoriyaan. Tidak terasa, sudah menuliskan 25 topik tentang kokoriyaan bersama teman-teman di grup drakor dan literasi. Walaupun tulisannya berkurang dari 10 topik per bulan menjadi 5 topik per bulan, obrolan di WAG sih jalan terus setiap harinya.

Dari sekian banyak anggota yang bergabung, sebagian besar terpapar K-pop dan K-drama secara bersamaan. Pakai kata terpapar sudah seperti penyakit saja ya, hehehe. Maksudnya, mereka memang sudah lama berkecimpung dengan hallyu wave dan mengenal hampir semua nama aktor dan juga artis K-pop.

Tidak, saya tidak berlebihan, ada memang teman-teman yang mengenal semuanya dan melahap habis semua informasi mengenai artis-artis korea tersebut. Mereka bisa mengenali wajah-wajah yang menurut saya terlihat sama semua, dan bahkan bisa mengenali suaranya masing-masing, namanya juga sudah hobi ya, tentu saja sedikit sedikit lama-lama jadi bukit mengenali wajah-wajah yang awalnya terlihat mirip.

Tidak usah heran, kalau kita punya ketertarikan akan sesuatu, kita akan mencaritahu dan ketika kita sudah mengetahui lebih banyak, maka kita serasa sok kenal sok dekat dengan meraka. Wajah yang buat saya terlihat sama, buat penggemarnya tentu bisa melihat bedanya, sama seperti buat non drakorian, mereka juga bilang wajah pemain K-drama semua sama.

Karena pada dasarnya saya hanya menyukai K-drama dan bukan penikmat K-pop, biasanya kalau ada topik obrolan tentang idol dan seputar K-pop di grup, saya akan jadi penonton yang menyiapkan catatan pinggir untuk mencoba mengenali apa sih yang mereka obrolkan, hehehe.

Memang, ada beberapa idol yang kemudian menjadi pemain drama. Biasanya, kalau ada idol yang main drama, di awal akan terbentuk 2 kelompok. Orang-orang yang bilang: “keren banget aktingnya”, dan orang-orang yang bilang: “udah lah mendingan mereka nyanyi aja ga usah sok-sokan ikutan akting”. Nah, tapi walaupun ada beberapa aktor pemain drama yang dipaksa nyanyi soundtrack, saya belum pernah membaca berita seorang aktris drama menjadi anggota band ataupun menjadi idol.

Nah, ada lagi nih, teman saya yang karena idol yang dia suka terjun main drama, maka dia pun terpapar K-drama dan lama-lama jadi drakorian juga. Seperti halnya tulisan teman saya Manda, kalau penyuka K-drama bisa terpapar K-pop, dengan alasan yang kurang lebih sama, penyuka K-pop bisa terpapar K-drama juga.

Kisah-kisah idol dan dunia entertainment Korea dituangkan dalam K-drama juga sudah banyak, seperti saat ini saya sedang menonton drama komedi romantis lawas “The Greatest Love”, (2011) yang mengisahkan pertemuan tanpa sengaja yang berakhir menjadi kisah cinta dari seorang wanita mantan idol dengan aktor K-drama yang masih sangat berjaya. Sekarang ini saya belum selesai menontonnya, mudah-mudahan dramanya cukup menarik sampai akhir, dan cukup menarik buat saya menuliskan reviewnya, hehehe.

Kesimpulannya sampai dengan saat ini, walaupun saya sering mendengarkan OST setelah menonton sebuah drama dan juga cukup bisa menikmati beberapa musik K-pop yang dimainkan dengan instrumen, tapi saya belum menganggap diri saya sebagai penggemar K-pop.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.