Antara Kebersihan dan Sampah Plastik

Hari ini, di gereja diadakan Perjamuan Kudus. Di Chiang Mai, gereja memang sudah dibuka kembali dengan protokol kesehatan yang masih harus dipatuhi. Saya ingat, beberapa minggu lalu ada himbauan dari depan untuk tetap taat aturan selama ibadah walau merasa Thailand sudah aman. Pemakaian masker tetap wajib, termasuk saat bernyanyi. Pengukuran suhu tubuh dan pemakaian hand sanitizer juga tersedia di setiap pintu masuk gereja.

Roti dan anggur untuk perjamuan kudus dalam kemasan sekali pakai

Untuk kegiatan sakramen Perjamuan Kudus dilakukan penyesuaian juga. Sebelumnya, biasanya menggunakan gelas kecil yang bisa dipakai berulang setelah dicuci lalu, gelas anggur dan roti diantarkan ke tempat duduk jemat.

Di masa pandemi ini, roti dan anggur ditempatkan di gelas plastik sekali pakai dan jemaat yang datang ke depan secara bergantian untuk mengambilnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya pertukaran virus dari tangan setiap orang yang memegang wadah ketika mengedarkan makanan dan minuman untuk Perjamuan Kudus.

Banyak hal yang harus disesuaikan di masa pandemi ini untuk menjaga kebersihan dan mencegah penularan virus. Satu hal yang terpikir sebagai efek dari pandemi ini adalah banyaknya penggunaan benda plastik sekali pakai yang tidak ramah lingkungan.

Ada hal-hal yang masih bisa dipikirkan untuk mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, tapi ada banyak juga yang tidak bisa dihindari. Untuk di rumah sakit, tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri dan masker lebih banyak dari masa normal. Alat pelindung diri yang umumnya juga terbuat dari plastik itu kebanyakan ya sekali pakai. Kalau dipakai berulang, malah jadi membahayakan kesehatan tenaga kesehatan yang memakainya.

Untuk kita sehari-harinya, pemakaian masker kain yang bisa dicuci juga sudah cukup membantu mengurangi sampah selain membantu mengurangi pengeluaran kalau harus beli masker sering-sering. Akan tetapi, perlu diperhatikan juga ketika memilih masker kainnya. Kabarnya kalau salah memilih masker kain, resiko tertularnya masih tetap tinggi juga.

Di masa pandemi, walau restoran sudah dibuka dan mengijinkan makan di tempat, tentunya masih lebih aman makan yang dibungkus dan makan di rumah. Tapi, lagi-lagi hal ini kan menambah timbunan sampah plastik dari bungkusan makanan yang kita bawa pulang. Kalau mau mengurangi sampah dan melindungi diri 100 persen dari resiko tertular, ya akhirnya pilihan jatuh ke tidak membeli makanan jadi dari restoran alias semua dimasak di rumah.

Menjaga kebersihan di masa pandemi ini butuh ekstra usaha. Seringnya kita jadi mengorbankan lingkungan dengan menggunakan kemasan plastik sekali pakai untuk menjaga kebersihan.

Tapi kuncinya sekarang ini adalah kesehatan yang utama. Saat ini, hal-hal kecil yang bisa kita mulai lakukan adalah berupaya mengurangi sampah plastik dengan memakai masker kain yang bisa dicuci, tidak sering-sering membeli makan dari restoran, dan tentu saja membawa tas belanja sendiri ketika berbelanja, membawa gelas minuman sendiri kalau mau membeli minuman seperti es kopi ataupun boba.

Kalau untuk pelaksanaan Perjamuan Kudus, saat ini memakai kemasan sekali pakai memang masih yang paling aman. Pelaksanaan kegiatan ini toh tidak setiap minggu. Kapasitas gereja saat ini juga tidak terlalu penuh karena masih banyak yang belum bisa kembali ke Thailand. Mungkin solusi ke depannya memakai kemasan plastik yang bisa terurai dengan mudah sehingga tidak menjadi masalah penumpukan sampah.

Ada yang punya pengalaman lain dan ingin berbagi cara menjaga kesehatan tanpa menimbulkan banyak sampah plastik? silakan tulis di komentar ya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.