Cerita Potong Rambut (Lagi)

Hari ini mau cerita tentang potong rambut lagi. Ini merupakan potong rambut ke-3 di tahun 2020. Bukan, bukan rambut saya, tapi rambut triple Jo. Rambut saya terakhir dipotong ketika kami mudik akhir tahun 2018, tadinya sudah berniat mau potong rambut tahun ini (rencana pulang April). Karena tidak jadi mudik, ya sudah ditunda dulu potong rambutnya.

Sebelumnya, alasan kenapa saya tuliskan lagi di sini, karena menuliskan di blog itu cara termudah buat saya mengecek kapan terakhir mereka potong rambut, hehehe. Joe, yang rambutnya dipotong saja sempat bersikeras kalau hari ini adalah potong rambut ke-2 di tahun 2020, tapi dengan adanya tulisan di blog ini di bulan Februari dan Juni, sudah jelas hari ini potong rambut ke-3.

Singkat cerita, hari ini pun kami pergi cukur ke tempat yang sama. Kemarin saya membuat janji dengan ibu tukang cukurnya. Ibu ini sudah mengenal kami sejak kami tiba di Chiang Mai. Sejak saya belum bisa bahasa Thai, sampai sekarang saya bisa berbahasa Thai ketika menelpon untuk membuat janji. Rasanya menyenangkan sekali punya tempat yang bisa ditelpon seperti ini.

Tadi kami datang jam 10.30 sesuai janji, dan selesai jam 12.30 untuk 3 orang. Pertama mengerjakan Jonathan dulu, supaya Joshua melihat contohnya. Dulu, Jonathan juga masih menangis dan kegelian setiap kali dicukur rambutnya, tapi setelah dia kira-kira berumur 6 tahun, barulah dia bisa dicukur tanpa drama dan malah ikut-ikutan seperti papanya minta dikeramas juga.

Berikutnya giliran Joshua. Awalnya, dia masih mau duduk sendiri. Tapi ternyata, karena rambutnya yang dipotong mulai masuk ke bagian leher dan sedikit jatuh di bagian muka, dia mulai merasa tidak nyaman dan mulai rewel. Seperti waktu lalu, beberapa menit terakhir acara cukur kembali dengan drama tangisan dan anak yang meronta karena tidak suka dicukur.

Andaikan saja rambutnya tidak semakin cepat panjangnya, dan dia tidak terlihat gelisah dengan rambut yang mulai panjang, pengen juga membiarkan rambutnya dipanjangin supaya tidak ada drama menangis setiap ke tukang cukur. Tapi ya, mungkin ini pendekatan lain dengan perlunya membawa anak lebih sering ke tukang cukur, supaya mereka terbiasa.

Menunggu cukur bagian rambut di wajah

Setelah Joshua selesai cukur, dan saya bersihkan bagian rambut yang masuk ke baju, untungnya dia mau anteng nungguin papanya cukuran. Cukur rambut 3 orang selama 2 jam itu sebenarnya yang paling lama ya bagian papanya. Tapi daripada harus bikin janji lagi, memang lebih baik sekaligus saja.

Saya berharap Joshua cukur rambut berikutnya Joshua sudah bisa lebih baik lagi, dan setelah itu tentunya saya tidak perlu ikutan lagi. Saya hanya perlu menelpon untuk bikin janji, dan anak-anak berangkat dengan papa nya saja cukur rambut.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.