Klub Buku KLIP

Hari ini Klub Buku KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional) kembali mengadakan Zoom Meeting. Beberapa waktu belakangan hampir lupa membaca buku dan menuliskan reviewnya, nah sekarang KLIP mau mengingatkan lagi supaya kembali membaca buku. Katanya kan kalau mau menulis, kita juga perlu membaca buku (jangan cuma nonton drakor saja).

Sesi berbagi cerita buku yang sudah dibaca di Klub Buku KLIP

Ada 4 orang yang diminta untuk menceritakan buku yang sudah dibaca dan dituliskan reviewnya, selain itu siapa saja yang bisa hadir juga boleh membagikan buku menarik yang sedang mereka baca. Saya ingat, Zoom Klub Buku KLIP beberapa waktu lalu membuat saya mendapatkan beberapa bacaan menarik.

Kegiatannya diadakan tadi, jam 1.30 siang sampai sekitar jam 3 siang. Tapi, saya hanya bisa ikutan sampai jam 2.40 karena harus antar anak-anak pergi. Lumayan jugalah ketemu dengan teman-teman di KLIP yang sudah terpisah di kelas peminatan KLIP.

Ah iya, jadi ingat kalau belum pernah menceritakan kalau sekarang ini anggota grup KLIP dibagi menjadi 4 kelas peminatan: Kelas Non Fiksi, Kelas Fiksi, Kelas Blogger Profesional dan kelas Free Writing. Nah, tujuannya dibagi kelas-kelas begini supaya orang-orang dengan minat yang sama dikumpulkan dalam satu grup dan diharapkan diskusinya lebih terarah sesuai dengan minatnya.

Nah, dari sekian banyak anggota KLIP, semuanya memang mempunyai berbagai kesibukan, jadi Zoom meeting ini pun sifatnya siapa yang bisa hadir saja. Hari ini yang hadir sedikit lebih banyak dari beberapa bulan lalu.

Tadi itu ada sekitar 11 orang yang hadir, tapi yang ada di foto ini hanya 10 orang. Beberapa teman mau bergabung tapi koneksi internet sedang tidak bersahabat. Semoga kegiatan ini berikutnya bisa lebih banyak yang hadir dan berbagi buku.

Foto dulu sebelum mulai berbagi cerita tentang buku

Buku-buku yang dibagikan

Dari 11 orang yang hadir, ada 4 yang hanya bisa menyimak karena sambil melakukan hal lain. Nah jadi hanya ada 7 nih yang pamer buku. Sayangnya, dari 7 orang yang bawa buku, saya hanya bisa mengikuti 3 topik buku utama selain saya sendiri bercerita tentang buku Alice in Wonderland yang merupakan buku terakhir yang saya tulis reviewnya.

Mbak Shanty: Buku tentang Kebiasaan

Mbak Shanty membagikan 2 buku tentang habit/kebiasaan. Selain buku Atomic Habits oleh James Clear, mbak Shanty juga membagikan buku The Power of Habit oleh Charles Duhigg.

Sebenarnya inti dari dua buku ini hampir sama, tapi buku atomic habit ada lebih detail dan lebih dibawa ke emosi dan personal.

Di buku The Power of Habit, ada 3 tahapan untuk membuat suatu kebiasaan: 1. ada motivasi/pemicu, 2. bagaimana kita merespon pemicu dan 3. ada imbalan dari apa yang kita lakukan.

Sedangkan di buku Atomic Habit, tahapan pertama masih sama ada pemicu/motivasi. Misalnya untuk membuat kebiasaan membaca buku, sebaiknya buku tersebut diletakkan di tempat yang mudah terlihat. Lalu tahap berikutnya bagaimana kegiatan tersebut dibuat menarik.

Jadi ada tambahan tahapan untuk membuat motivasinya terasa lebih bergairah. Tahapan ke-3, untuk responnya sebaiknya kegitan tersebut harus mudah dilakukan, lalu tahapan terakhir kembali lagi kita memberi imbalan kalau kita sudah melakukan hal tersebut. Imbalan ini juga sebaiknya sesuatu yang menyenangkan hati.

Nah di buku Atomic habit juga dijelaskan tips untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Untuk ini kita balik saja semua tahapannya. Misalnya letakkan di tempat yang tidak mudah terlihat, anggap kegiatan tersebut tidak menarik, kegiatan tersebut harus susah dilakukan dan jangan beri imbalan yang menyenangkan hati kalau kita melakukan kebiasaan yang ingin kita hilangkan tersebut.

Ah teorinya sepertinya mudah ya, tapi prakteknya tentu saja harus dilakukan terus menerus sampai menjadi kebiasaan.

Mbak Erna: Buku Saku untuk Orang tua PAUD

Mbak Erna berbagi tentang buku saku untuk orangtua PAUD yang menjadi bagian dari proyek Kemdikbud. Bukunya bisa diunduh di sini. Judulnya: Mengelola Emosi Orang tua Dalam Proses Pengasuhan.

Proyek penulisan buku ini sebenarnya didapatkan setelah mengikuti seminar dari kemdikbud dalam masa pandemi. Lalu, sebagai lulusan psikologi, mbak Erna dan Dea diutus oleh grup KLIP untuk mengikuti acara tersebut. Hasilnya, dapatlah penugasan untuk membuat buku ini.

Buku ini dikerjakan agak terburu-buru dalam waktu sebulan, termasuk konsultasi dengan 2 pengajar psikologi di Universitas ternama di Indonesia yang tergabung dalam tim kerja.

Namanya pekerjaan terburu-buru, Mbak Erna sebagai penulis merasa ada saja hal yang rasanya masih butuh perbaikan. Tapi itupun, semoga saja apa yang sudah dituliskan bisa dimanfaatkan oleh orang tua di masa pandemi dalam mendampingi anak usia dini belajar di rumah.

Dea: Buku kumpulan Cerpen

Dea bercerita tentang sebuah kumpulan Cerpen terbaik Tempo. Isinya ada 15 cerita dari 15 penulis. Kumpulan cerita yang terbit tahun 2017 ini diseleksi dari total 64 cerita.

Kalau menurut Dea, satu-satunya kekurangan buku tersebut adalah cetakan hurufnya yang kecil-kecil sehingga mengurangi kenyamanan membacanya. Tapi, selain masalah huruf yang kecil, sisanya sih bagus banget (cerita-ceritanya).

Beberapa cerita butuh dibaca beberapa kali untuk bisa lebih mendalami gambaran lengkap yang ingin disampaikan penulis. Dea memang sedang belajar untuk menjadi penulis cerpen. Salah satu cara belajar, tentu saja dengan mencari contoh yang masuk kategori terbaik. Dari buku kumpulan cerpen terbaik ini, Dea bilang kita bisa melihat berbagai genre cerita dan juga cara pengambilan sudut pandang.

Dengan membaca lebih dari sekali, Dea bisa belajar teknik bercerita dalam cerpen, selain melihat berbagai gaya pemilihan kata dari berbagai penulis.

Tapi sepertinya usaha Dea untuk menjadi penulis cerpen mulai menunjukkan hasil nih, beberapa kali saya baca cerpen karya Dea, saya bisa pangling tidak merasakan ada gaya bahasa Dea yang biasa ngobrol di grup. Tulisan yang tersaji seperti ditulis oleh orang yang saya tidak kenal, hehehe.

Buku Alice in Wonderland

Hal-hal yang menarik dari buku ini bisa dibaca di posting sebelumnya. Tapi hal yang ingin saya ulang di sini adalah, kita bisa mendapatkan berbagai buku klasik secara gratis di Project Guttenberg dan tersedia dalam berbagai format e-book. Lalu untuk mendengarkan audiobooknya bisa didengarkan di librivox.

Berbagai format buku Alice in Wonderland di Project Guttenberg

Saya berbagi kekaguman bagaimana buku yang ditulis ratusan tahun yang lalu, masih ada pembacanya dan bahkan banyak diadaptasi dan dijadikan referensi dalam berbagai cerita. Padahal buku ini dituliskan sebagai buku anak-anak, tapi ternyata sebagai orang dewasa, membacanya saya bisa mendapat berbagai pelajaran di dalamnya.

Penutup

Sayangnya saya tidak bisa mendengarkan cerita dari buku-buku yang dibaca teman-teman lain karena harus pamit duluan. Tapi, semoga dari peserta yang hadir sampai sesi zoom berakhir ada yang menuliskan dari sudut pandangnya juga selain saya.

Ayo, sudah baca buku apa minggu ini? Apa perlu kita memulai habit tracker untuk membaca 10 menit sehari, memulai kebiasaan kecil secara konsisten untuk menjadikannya kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari.

Jangan lupa untuk menuliskan apa yang didapat dari buku yang dibaca, dan tulisan yang dibagikan itu bisa membuat orang lain juga tertarik untuk membacanya, atau setidaknya jadi dapat pelajaran dari buku tersebut secara tidak langsung.

2 thoughts on “Klub Buku KLIP”

  1. Setelah sekian purnama akhirnya kita kembali dapat asupan bacaan cakep dari temen-temen KLIP. Kangen banget denger obrolan temen-temen kesayangan ini.

    Ada 1 buku yang kelewat diliput di post ini. Buku yang direview Lendy. Judulnya Mantappu Jiwa-nya Jerome Polin Sijabat. Tentang anak yang hobi matematika dari Surabaya. Raka yang ikut nguping celotahan Tante Lendy, langsung minta didownloadkan bukunya.

  2. iya mbaak, review nya Lendy aku dah pamit pergi. Nanti nunggu tulisan review bukunya aja, aku masukin link di sini, hehehe

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.