Pinebook Pro setahun kemudian

Saya sudah pernah membahas mengenai laptop Pinebook dan Pinebook pro sebelumnya, tapi saya ulangi sedikit: kedua benda ini adalah laptop open source dari Pine64. Mereka ini membuat berbagai hardware terbuka. Misalnya saya pernah membahas mengenai PinePhone, ponsel Linux. Fokus utama mereka adalah menyediakan hardware, dan membiarkan komunitas yang mengurus bagian softwarenya.

Karena fokusnya hanya pada hardware, softwarenya selalu jelek sekali ketika hardwarenya baru dirilis dan membuat hardwarenya jadi sulit dipakai. Setelah beberapa lama, banyak hacker yang bekerja sukarela untuk memperbaiki softwarenya, dan benda tersebut jadi lebih mudah dipakai. Ini sudah terjadi pada berbagai hardware yang mereka rilis, dari SBC (single board computer), laptop, ponsel, sampai jam pintar.

Sekarang saya sudah memakai Pinebook Pro ini selama setahun, dan selama setahun ini softwarenya menjadi semakin baik. Tapi sebaik apapun softwarenya, tetap saja ada beberapa batasan hardware, jadi di posting ini saya ingin memberikan review terbaru.

Spesifikasi

Laptop seharga 199 USD ini menggunakan arsitektur ARM64, dan menggunakan SOC RK3399 dengan RAM 4GB dan storage eMMC 64 GB (tapi karena pesanan awal, saya mendapatkan free upgrade menjadi 128 GB). SOC ini kurang powerful dibandingkan kebanyakan prosessor AMD/Intel atau bahkan prosessor di berbagai ponsel dan table baru, jadi jangan bandingkan performancenya dengan Apple M1, walau sama-sama memakai ARM64. Laptop ini memakai layar IPS 1920×1080, jadi cukup nyaman dilihat masih lebih baik dari kebanyakan laptop murah yang masih memakai resolusi 1366×178.

Kelebihan laptop ini dibandingkan kebanyakan laptop lain adalah: sifatnya open source, dan adanya kill switch (Seperti Pinephone) untuk memastikan privasi kita. Setelah melihat killswitch versi PinePhone, saya merasa bahwa milik pinephone lebih bagus: berupa saklar mekanis. Versi pinebook ini kurang meyakinkan karena bentuknya adalah shortcut keyboard.

Sampai saat ini saya masih belum berhasil mendapatkan keyboard pengganti untuk laptop ini. Laptop batch pertama memakai layout keyboard ISO yang agak mengesalkan karena ada beberapa key yang posisinya tidak standar. Walaupun bisa diremap, tapi ukuran tombol shift di sebelah kiri yang terlalu kecil sangat mengganggu. Pine64 sebenarnya menjual keyboard pengganti, tapi sudah lama sekali out of stock.

Software

Sekarang ini semua fitur hardware sudah bekerja dengan baik: WIFI, bluetooth, sleep mode dsb. Saya sudah mencoba menghubungkan mouse bluetooth dan bisa dipakai dengan mudah. Oh iya, alasan saya kadang memakai mouse eksternal adalah: touchpadnya kurang usable. Ini merupakan masalah di hampir semua laptop Linux: sensitivitas kurang baik dan palm rejection kurang bagus. Palm rejection yang kurang bagus ini akan membuat kursor mouse melompat ke lokasi acak ketika jari kita tidak sengaja menyentuh touchpad. Solusi saya: ketika mengetik saya matikan dulu touchpadnya dengan menekan Fn+F7.

Ketika laptop ini datang, keyboardnya sangat mengesalkan (banyak lag), tapi setelah diupgrade firmware, semuanya jadi lancar. Kelancaran keyboard ini akan lebih terasa ketika kita menggunakan aplikasi yang ringan seperti vim/emacs. Ketika memakai editor yang berat (seperti Visual Studio Code) tetap saja akan terasa lagnya. Meski tidak secepat di versi desktop Intel, VS Code for Linux ARM64 didukung resmi oleh Microsoft.

Apapun distribusi Linux yang kita pakai, akan terasa bahwa laptop ini lambat tapi cukup usable. Saya sudah terbiasa menggunakan browser di desktop yang spesifikasinya sangat tinggi, jadi ketika beralih ke laptop ini terasa lambat. Dibandingkan Surface Pro X, benda ini juga terasa lambat ketika browsing berbagai situs yang berat. Tapi harap dimaklumi karena harga benda ini juga cuma seperlima Surface Pro X. Saya sudah mencoba berbagai distribusi dan desktop environment. Sebagian desktop environment sangat indah (misalnya KDE Plasma), tapi menurut saya kurang usable. Akhirnya saya memilih memakai distribusi Manjaro dan menggunakan i3. Ini tidak mudah dipakai oleh pemula (butuh membiasakan diri untuk memakai banyak shortcut). Saya pernah memaksakan diri selama beberapa bulan memakai i3 di Desktop, jadi ini tidak terlalu menjadi masalah buat saya.

Buat apa?

Buat apa beli laptop ini kalau masih banyak laptop lain yang lebih bagus dengan harga serupa (atau bahkan laptop second hand dengan harga lebih murah). Laptop berbasis Intel/AMD bahkan bisa menjalankan Windows selain Linux. Jawaban singkatnya: kalau Anda bukan orang yang suka ngoprek, maka laptop ini bukan untuk Anda. Kalau Anda mementingkan privasi, maka laptop ini mungkin bagus untuk Anda, tapi Anda harus suka ngoprek juga.

Selain dari sisi penggunaan praktis, ada juga sisi ideologi: mendukung hardware yang sifatnya terbuka (open). Dulu banyak orang memaksakan diri memakai Linux di masa awal Linux (tidak semuanya hacker, banyak juga orang yang sekedar penasaran dan mau belajar). Padahal dulu Linux masih sulit dipakai dan dukungan hardwarenya masih sangat rendah. Dari orang-orang "nekat" yang mau berkorban waktu (bukan cuma memprogram, tapi memakai dan dan melaporkan bug), maka Linux bisa jadi bagus seperti sekarang ini. Demikian juga halnya dengan Pinebook Pro: dengan banyak orang yang mau memakai ini dan memperbaiki (atau memberi masukan), harapannya di masa depan akan ada banyak pilihan hardware yang sifatnya terbuka.

Ada beberapa hal yang bisa dioprek: arm64 dan laptop linux. Kalau fokus utamanya hanya ingin ngoprek Linux Arm64, maka Single Board Computer seperti Raspberry Pi 4 juga bisa menjadi alternatif. Mungkin ada yang bertanya: apa sih contohnya ngoprek arsitektur prosessor tertentu? Meski di level bahasa tingkat tinggi seperti Python, Javascript dsb semua tidak ada bedanya, tapi di low level banyak hal yang berbeda. Contohnya: kita perlu mengenal assemblynya arm64 ketika melakukan reverse engineering dan kita perlu mengenal berbagai perilaku sistem yang mungkin tidak kita duga ketika membuat eksploit.

Contoh sederhana: di ARM64 akses ke stack menggunakan register SP harus aligned 16 byte, tapi jika kita memakai register lain, ini tidak harus. Kalau kita baca dengan teliti berbagai spesifikasi ARM, maka kita akan menemukan catatan ini, tapi sulit sekali mengingat semua fakta seperti ini jika belum mencoba sendiri. Sebagian hal ini bisa dilakukan dengan emulator seperti Qemu, tapi emulator seperti ini tidak akurat di berbagai level. Contohnya: ijika kita ke level lebih rendah lagi, masalah MMU ini sangat bergantung pada SOC (ini ada contoh artikel dimana sesuatu jalan di Qemu tapi tidak di hardware). Emulator juga tidak bisa mengemulasikan semua hardware, sedangkan kadang kita justru ingin membuat hardware tertentu berjalan di Linux ARM64.

Jika kita ingin ngoprek menggunakan laptop (prosessor apa saja), laptop versi Intel juga tidak mudah untuk dioprek. Koneksi serial di laptop untuk debugging level kernel juga sulit dilakukan di sebagian besar laptop modern. Sementara koneksi alternatif seperti USB3 debug port jarang tersedia. Koneksi debugging via ethernet juga tidak selalu bisa dilakukan karena laptop modern juga kebanyakan tidak lagi memiliki port ethernet. Jadi pinebook pro ini cocok untuk yang ingin ngoprek kernel linux di laptop (misalnya untuk ngoprek power management).

Penutup

Meskipun sudah bisa dipakai oleh orang awam, dan sudah lebih dari cukup untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan office dan browsing, menurut saya Pinebook Pro masih kalah dari laptop lain. Mencari bantuan dan garansi laptop Windows masih lebih mudah dilakukan daripada laptop ini. Laptop Pinebook (versi sebelum pinebook pro) masih sangat jelek, Pinebook Pro sudah bagus dan Laptop versi berikut dari Pine64 mungkin sudah cocok dipakai oleh orang awam dan bisa jadi alternatif yang baik daripada Windows ataupun Mac.

Laptop Linux dengan switch privacy seperti Pinebook pro akan lebih dicari orang di masa depan oleh orang-orang yang peduli privasi dan security. Windows dan Mac keduanya mengirimkan berbagai informasi tracking di level sistem operasi. Sebagai sistem operasi yang populer, hacker juga lebih menargetkan Windows dan Mac dibandingkan Linux.

Setelah setahun, laptop ini masih sering saya pakai, karena cukup ringan dan lebih dari cukup untuk melakukan berbagai pekerjaan yang bisa dilakukan dengan command line. Mengoprek software langsung juga terasa lebih enak daripada SSH ke Raspberry Pi. Laptop dengan performance yang lebih rendah juga membuat saya lebih peduli dengan kecepatan program yang saya tulis.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.