3 Alasan Berhenti Nonton Mr.Queen

Annyeong,

Sesekali menulis review drakor lagi di blog ini. Kalau biasanya nulis drakor yang direkomendasikan, kali ini saya mau menuliskan drakor yang bikin saya berhenti menontonnya. Saya tidak sedang mengajak berhenti nonton loh ya, tapi cuma cerita saja kenapa saya memutuskan berhenti menontonnya walaupun rating drama yang sudah 8 episode ditayangkan ini semakin tinggi setiap episodenya.

Namanya selera tontonan, beda itu biasa. Jadi kalau kamu termasuk yang suka banget sama drakor ini, mungkin tidak usah meneruskan membaca tulisan saya.

Tentang Drama Mr. Queen

poster drakor mr queen
Poster drakor Mr. Queen (Sumber: tvN)

Drama Mr. Queen merupakan adaptasi dari web drama Cina produksi LeTV dengan judul Go Princess Go. Drama ini bercerita tentang seorang pria yang kategorinya suka main mata dengan perempuan, yang bernama Jang Bong-Hwan dan berprofesi sebagai tukang masak handal dari masa modern. Jang Bong-Hwan bekerja memasak makanan untuk para politisi di Blue House di Korea Selatan. Karena satu hal, dia jatuh ke dalam kolam renang dan ketika bangun dia terbangun dalam tubuh Ratu Cheorin, yang merupakan ratu ke-25 dari masa Joseon.

Menurut Wikipedia, drama Go Princess Go merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh seorang bernama Xian Chen. Web drama yang tayang tahun 2015 tersebut mendapat protes dan hampir sepertiga bagian akhirnya disensor oleh pemerintah Cina. Terlepas dari sensor yang dilakukan, web drama ini masih mendapat beberapa penghargaan untuk kategori web series paling populer dan kategori aktris terbaik.

Saya menonton episode pertama dari drakor Mr.Queen sebelum mengetahui fakta-fakta kalau dalam web drama nya sendiri selain unsur time travel dan pertukaran tubuh yang berbeda gender, ternyata akan ada faktor biseksualitas.

Rating drama Mr.Queen sejak awal penayangan cukup tinggi. Walaupun ada protes karena dianggap mengelirukan sejarah, ratingnya tetap saja semakin tinggi. Saya bisa mengerti kenapa banyak yang suka menonton drama ini. Belakangan ini belum ada drama Korea genre sejarah yang cukup menarik, visualisasi dari drama ini juga cukup enak untuk dilihat. Akting dari para pemainnya juga bisa membuat kita terhibur dengan berbagai scene yang lucu. Tapi, tetap saja saya memutuskan untuk berhenti menontonnya. 

Alasan berhenti menonton Mr. Queen

Ada 3 alasan kenapa saya berhenti menonton drakor ini. Buat yang mungkin sedang mempertimbangkan berhenti juga, yuk coba dibaca, siapa tahu kita punya alasan yang sama.

1. Saya tidak suka politik dalam cerita sejarah

Namanya cerita sejarah dalam kerajaan, tidak lepas dengan intrik politik dan kecurigaan satu sama lain. Pasangan suami istri menikah bukan karena cinta, tapi karena kekuasaan, adanya selir yang juga mengincar posisi untuk merebut tahta dan berusaha memberikan keturunan untuk menjadi raja, ataupun ibu suri yang juga masih post power syndrome dan ingin mengatur kerjaan. Belum lagi kalau digambarkan rajanya tidak punya wibawa dan selalu ketakutan tahtanya hanya bersifat sementara.

Penggambaran budaya yang indah dengan visual yang menarik maupun akting dari pemainnya yang membuat ceritanya terasa lucu, tetap tidak bisa menghilangkan kebosanan ketika terjadi adegan-adegan yang menurut saya terkadang tidak penting dan tanpa tujuan.

Tapi yang bikin agak ambigu adalah, cerita ini adalah parodi yang bukan sejarah sebenarnya, tapi kejadian politik yang membosankan mirip-mirip dengan kejadian sebenarnya juga. Jadi saya hanya bisa menikmati sebagian cuplikan-cuplikan ceritanya saja.

Buat yang suka cerita sejarah, tentunya hal ini tidak mengganggu ya. Jadi ya tidak heran kalau drama ini ratingnya naik terus, dan tidak ada alasan untuk berhenti menontonnya.

2. Lucunya Berkurang Sejak Episode ke-2

Episode pertama memang sangat informatif dan menghibur, saya pikir saya sudah bisa menikmati drama bertema sejarah. Saya juga sangat kagum dengan penggambaran bagaimana berlapis-lapisnya pakaian seorang Ratu di pesta pernikahan. Semua dijelaskan sampai bentuk hiasan kepala yang dipakai. Untuk orang yang ingin mengetahui budaya Korea, pastilah menarik sekali melihatnya.

Di episode pertama, digambarkan dengan animasi bagaimana Ratunya memakai baju berlapis-lapis sambil dijelaskan tiap bagiannya untuk memakai baju kebesaran dalam upacara pernikahan. Dijelaskan juga kegunaan dari setiap bagiannya.

Tapi Ternyata… scene lucu yang ada di episode pertama berkurang banyak di episode berikutnya. Informasi tentang budayanya juga banyak berkurang. Cerita yang menunjukkan kegelisahan raja yang merasa terancam senantiasa, tapi tidak kunjung dijelaskan tujuannya membuat saya semakin bosan. 

Padahal, andai saja lebih banyak ditunjukkan sang Ratu nya dengan aksinya masak di dapur, pasti deh saya betah melihatnya dan auto lapar melihat hasil masakannya. 

Alasan 3. Potensi Cerita Pasangan Sejenis

Di episode pertama, seorang lelaki dari masa modern bangun dalam tubuh Ratu jaman Joseon, akting Shin Hye Sun yang menjadi pemeran Ratu Cheorin terlihat sangat berbeda dibandingkan perannya di drama-drama sebelumnya. Shin Hye Sun bisa membuat saya melihat dia berperan seperti Choi Jin Hyuk (pemeran Jang Bong-Hwan si Koki Blue House).

Adegan yang lucu terjadi karena si Ratu ini sebenarnya bukan Ratu, melainkan orang dari masa modern, dan dia saja kaget karena harus hidup di masa Joseon. Orang yang aslinya pria, harus menjadi wanita, dan dia akan menikah dengan seorang Raja (yang diperankan Kim Jung Hyun), lelaki yang punya kekuasaan tertinggi dalam sebuah negara.

Tentunya, bisa dibayangkan bagaimana si laki-laki dalam tubuh wanita (walau sebenarnya kita melihat wanita), berusaha beradaptasi dan mencari jalan untuk kembali ke tubuhnya di jamannya semula. Belum lagi, si lelaki itu aslinya suka genit dengan perempuan, jadilah digambarkan kadang-kadang dia genit ke dayang-dayangnya, bahkan genit ke selir yang notabene saingannya dalam merebut hati Raja.

Melihat latar belakang pertukaran tubuh dari cerita ini, saya jadi mikir sendiri. Apa yang bisa diharapkan menjadi akhir dari cerita ini? Menurut sejarah, Ratu dan Raja ini akan punya keturunan loh. Walaupun ini parodi alias bukan sejarah yang sesungguhnya, saya jadi tidak tahu mau berharap apa dari kisah romantis yang akan terjadi antara Raja dan Ratu. 

Kalau Ratu (yang jiwanya pria) benar-benar jatuh cinta dengan raja, berarti… kisahnya… ah sudahlah. Lebih baik saya tidak melanjutkan menontonnya.

Penutup

Sekali lagi, namanya selera menonton beda itu biasa ya. Buat yang masih suka banget nonton drama ini silakan saja, lanjuuttt terus. Tapi saya sih cukup sampai episode 3 saja, hehehe. Semoga akan ada drama tema sejarah lainnya yang cukup menarik untuk ditonton di kemudian hari.

Satu tanggapan pada “3 Alasan Berhenti Nonton Mr.Queen”

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.