Anak Sakit di Masa Pandemi

Minggu lalu, di hari Selasa, Jonathan tiba-tiba sakit. Padahal kami tidak kemana-mana sejak hari Sabtu sebelumnya. Kadang perubahan cuaca dingin ke panas ke dingin lagi dan polusi memang bikin kondisi tubuh juga jadi gampang sakit. Bukan cuma anak-anak, orang dewasa juga bisa gampang sakit kalau udara lagi jelek begini.

Jadi sejak sore dia makannya kurang terlihat berselera, tapi saya pikir menu makanannya saja yang kurang cocok. Malam hari, waktu mengecek apakah dia sudah tidur atau belum, saya kepikiran buat periksa suhu badannya, ternyata benar saja badannya hangat. Karena ternyata dia masih setengah tidur, saya tanya apakah dia mau minum obat parasetamol? Jadilah dia minum obat dulu dan tidur sampai pagi.

Keesokan paginya dia sudah segar lagi, tapi selera makannya masih kurang bagus walaupun dia menghabiskan sarapannya, saya perhatikan dia juga berdehem-dehem seperti gatal tenggorokannya. Ketika makan siang, dia juga sempat muntah karena mencium bau makanan yang sangat tajam dari dapur. Sore harinya dia demam lagi, kali ini sampai agak malam. Dia tidak mau minum obat penurun panas tapi dia bisa tidur nyenyak sih sampai pagi.

Hari Kamis pagi masih susah makan dan masih agak hangat badannya, terus dia sakit perut juga katanya. Jonathan memang kalau sakit susah sekali makan, dikasih bubur juga tidak mau, akhirnya dia makan roti dan susu bear brand. Setidaknya perutnya tidak kosong.

Namanya anak sakit, pandemi atau tidak, tentunya bikin khawatir. Masa pandemi bikin kekhawatiran agak lebih sih. Tapi, saya bisa cukup tenang karena dia tidak terlihat lemas walaupun makannya sangat sedikit. Biasanya kan anak demam itu lemas ya, nah Jonathan tuh tidak terlihat lemas, cuma susah makan saja.

Jonathan memang ada alergi terhadap perubahan cuaca, setiap perubahan musim dari dingin ke panas dan sebaliknya, dan karena polusi udara juga sudah mulai datang ke Chiang Mai, pasti deh ada kemungkinan dia sakit begini. Kami juga masih ada obat yang dia minum terakhir kali sakit seperti ini. Jadi hari Kamis, kami memberikan obat untuk batuknya selain parasetamol. Sempat terpikir, kalau dia tidak membaik juga di hari Jumat, kami harus bawa dia ke dokter.

Puji Tuhan, hari Kamis sore demamnya sudah hilang, hari Jumat selera makannya sudah kembali lagi dan bersyukur demamnya tidak kembali.

Dari pengalaman anak sakit kemarin, saya bersyukur kalau bisa tetap tenang dan tentunya juga dengan bantuan dari Joe yang membantu menemani Jonathan tidur malam sampai membelikan kira-kira makanan apa yang bisa dia makan.

Prinsip menangani anak sakit itu buat kami yang terutama turunkan demamnya dulu dan usahakan dia tetap makan. Karena demam itu pertanda tubuh sedang melawan infeksi, terkadang bisa sembuh seiring imunitas dan bisa juga butuh antibiotik.

Observasi anak selama anaknya tidak lemas, bisa dirawat di rumah, tapi kalau anak terlihat lemas, atau demam naik turun lebih dari 3 hari, sebaiknya bawa ke dokter. Penyakit dengan gejala demam naik turun ini bisa beberapa kemungkinan, tapi bisa juga karena dia tidak fit saja.

Kami juga memastikan anak tidak kekurangan cairan dan tentunya perlu ditambah suplemen vitamin. Kalau anak susah makan, sebaiknya diberi cemilan sedikit-sedikit tapi sering. Diberi sedikit sedikit supaya tidak langsung muntah.

Pastikan anak mendapat istirahat cukup, dan tentunya walau Jonathan sudah sembuh sejak hari Kamis sore, di hari Jumat kami tidak langsung membawa dia ke kegiatannya seperti biasa. Kami selalu menunggu anak bebas demam 24 jam sebelum yakin dia sudah cukup kuat untuk kembali berkegiatan.

Oh ya, minggu lalu itu Chiang Mai sebenarnya sudah tidak ada pasien covid-19 baru selama seminggu lebih, tapi tetap saja ada kekhawatiran sedikit karena kasus di Thailand baru mulai masuk gelombang ke-2. Puji Tuhan, minggu ini Chiang Mai sudah bebas pasien baru selama 15 hari dan semoga bisa tetap aman sampai Thailand bebas dari Covid-19.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.