Buku-buku Robert Galbraith dan Haruki Murakami

Setelah lama tidak menulis review buku, saya ingin menuliskan buku yang belum lama saya baca, sekaligus juga jadi catatan di blog bahwa saya masih rajin membaca buku fiksi tapi malas menuliskannya. Saya suka buku jenis science fiction, tapi tidak eksklusif membaca buku jenis itu, buku jenis apa saja akan saya baca kalau menarik.

Tahun lalu saya menghabiskan banyak waktu membaca buku 1-5 The Dresden Files karangan Jim Butcher. Isinya tentang penyihir, vampir, dan berbagai hal supernatural lainnya. Masih ada 12 lagi buku di seri itu, tapi saya sudah mulai bosan, jadi tidak diteruskan.

Cormoran Strike buku 5 (Troubled Blood)

Awal tahun ini saya baru sadar bahwa Robert Galbraith (nama pena JK Rowling) sudah menerbitkan buku kelima serial Cormoran Strike beberapa bulan sebelumnya. Biasanya saya sudah memesan duluan di Kindle supaya dapat notifikasi, tapi kali ini sepertinya terlewat. Saya sudah membaca buku ini dari sejak terbit beberapa tahun lalu, dan selalu mengikuti seri terbarunya.

Buku seri Cormoran Strike ini adalah jenis buku detektif untuk orang dewasa, cara berceritanya sangat mengingatkan saya pada seri Agatha Christie (salah satu posting pertama di blog ini adalah tentang buku Agatha Christie yang saya baca). Intinya adalah mewawancara banyak orang untuk menemukan jawaban atas suatu misteri. Settingnya modern, jadi pencarian bukan hanya dilakukan secara manual tapi juga menggunakan Facebook dan sumber online lainnya. Ada kisah romance yang menyangkut Strike dan Robin yang bikin gemes karena sampai buku 5 masih belum ada progress yang berarti.

Buku kelima ini sudah sangat tebal, buku pertama dan kedua hanya sekitar 454-464 halaman, sedangkan buku terakhir ini 944 halaman, dua kali lebih panjang dari buku-buku awal. Karena membaca dengan e-reader, saya tidak merasakan panjangnya buku ini waktu mulai membaca (biasanya saya matikan fitur yang menyebutkan butuh berapa jam untuk membaca bukunya), setelah berjam-jam kok belum selesai juga, saya baru mengecek bahwa memang jumlah halamannya banyak.

Fitur X-Ray untuk mengecek nama tokoh

Ceritanya tetap menarik seperti buku-buku sebelumnya. Seperti Agatha Christie, tidak ada pola tertentu mengenai siapa tokoh jahatnya. Kelihaian JK Rowling dalam bercerita memang sangat bagus, setiap kali membaca buku-bukunya, saya jadi ingin mengunjungi tempat yang diceritakan. Kadang kalau iseng saya akan membuka Google Maps, mencari tempatnya dan membuka street view supaya lebih jelas gambaran tempatnya seperti apa.

Jumlah tokoh dalam buku terakhir ini menurut saya agak terlalu banyak dan kadang hanya disebut sekali di depan, lalu disebut lagi pas agak akhir, untungnya Kindle memiliki fitur X-Ray. Dengan fitur ini kita cukup mengklik nama seorang tokoh dan mendapatkan kutipan ketika nama tersebut disebut pertama kali. Biasanya ini sudah cukup untuk mengingatkan siapa tokoh tersebut.

1Q84

Haruki Murakami merupakan penulis terkenal dari Jepang sejak puluhan tahun yang lalu, tapi saya baru dengar namanya akhir-akhir ini. Awalnya gara-gara artikel tentang kelangkaan pasta Bucatini. Ada yang berkomentar bahwa cerita ini seperti gayanya Murakami, dari hal sederhana bisa ke mana-mana.

Jadi saya coba sampel dari Amazon Kindle, dan yang pertama terlihat menarik adalah 1Q84. Karena awalnya menarik, saya membeli bukunya dan meneruskan membaca. Ternyata yang saya beli adalah versi lengkap, gabungan dari 3 volume buku ini. Pantas saja kok sepertinya panjang sekali bukunya.

Sulit menjelaskan kenapa buku ini menarik, karena kalau diringkas plotnya dan diceritakan kembali, rasanya tidak menarik. Endingnya juga kurang memuaskan, banyak misteri tidak diselesaikan. Hal yang menarik adalah gaya berceritanya, dan juga detailnya dalam menceritakan semua hal, baik itu pemandangan, musik, atau suatu proses. Saran saya untuk yang ingin mencoba membaca novel Haruki Murakami: coba saja baca, dan teruskan jika terkesima dengan gaya berceritanya, atau stop jika memang kurang suka.

Secara singkat bukunya bercerita tentang seseorang yang pindah dunia alternatif dari tahun 1984 di mana ada dua bulan di angkasa. Kisahnya penuh misteri diselingi kisah cinta. Kalau diceritakan lebih detail lagi akan jadi spoiler.

Sebelum membaca buku ini, saya tidak tahu bahwa ada orang NHK yang tugasnya menarik iuran pajak wajib untuk pemilik TV di Jepang, dan karena di sana tidak ada hukuman untuk yang tidak membayar (Bizarrely, however, there is no penalty if you don’t pay), mereka menggunakan berbagai taktik supaya orang mau membayar. Deskripsi ceritanya sangat bagus, saya bisa merasakan perjuangan mereka,dan bisa membayangkan saya masih di apartemen dan seseorang dari NHK mengetuk pintu apartemen saya.

Kafka on the Shore

Buku berikutnya adalah Kafka on the Shore. Plot dan ending buku ini juga lebih nggak jelas dibandingkan 1Q84, tapi isi ceritanya dan cara berceritanya sangat menarik. Ini dua kisah selang-seling, kisah pertama tentang perjalanan seorang anak dalam mencari jatidiri dan menghindari takdir dan kisah kedua tentang seseorang yang karena kejadian di masa lalu membuatnya jadi bodoh tapi bisa berbicara dengan kucing.

Buku ini banyak bercerita tentang musik klasik, dan setelah mendengarkan beberapa yang disebutkan di buku tersebut, saya jadi ingin belajar lebih banyak lagi mengenai musik klasik. Di coursera ada course tentang musik klasik, dan saya mulai mengambil course ini.

Banyak hal yang menarik di Novel Murakami, tapi ada banyak konten yang terlalu seksual dan hanya cocok untuk dewasa, walau sebenarnya konten seksualnya tidak mengarah ke pornografi. Padahal jika tidak ada konten seksualnya, Jonathan bisa saya ajak membaca buku itu.

Penutup

Kalau mulai membaca buku non fiksi, saya biasanya terlalu terlarut membaca dan sering kali masih bangun sampai jam 2 pagi untuk meneruskan ceritanya. Ini sudah jadi kelemahan saya sejak dulu. Karena ini saya memutuskan hanya membaca buku fiksi jika memang sedang tidak banyak kerjaan.

Dulu ketika masih naik motor, dan masih membaca buku fisik, saya bahkan menyisipkan bukunya di bagian depan motor Kymco dan saya baca bukunya ketika berhenti di lampu merah. Di Chiang Mai, waktu saya masih harus menyetir pulang (sekarang rumah sangat dekat kantor, jadi bisa jalan kaki) saya mengaktifkan text to speech di kindle supaya bisa tetap meneruskan bacaan sambil menyetir.

Rencananya sih saya akan membaca lebih banyak buku Haruki Murakami jika sudah tidak sibuk lagi. Sementara ini kembali ke buku teknis, yang bisa diskip dari titik mana saja dan tidak bikin penasaran.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.