Tantangan dalam Hidup

Ketika membaca tema tantangan menulis awal minggu ini dari KLIP saya langsung bilang dalam hati, ini topik yang kalau ditulis bisa panjang banget. Mulai dari mendefinisikan tantangan, mengkategorikan tantangan dan termasuk menceritakan berbagai tantangan dalam hidup.

Tapi… seperti biasa, waktu mulai menuliskannya saya malah ketemu dengan kutipan berikut ini : “Tantangan terbesar bukan saat kita menghadapi kesulitan, tapi saat kita melawan kemalasan diri kita sendiri.”

Semua tantangan yang lain terasa tidak ada artinya, ketika memikirkan kalau kemalasan masih menjadi tantangan terbesar dalam hidup saya.

Kalau dilihat dari ilustrasi yang ada, semuanya terlihat sulit dan menantang. Tapi semuanya kembali ke masalah pilihan. Dalam hidup ini, bukan memilihnya yang jadi tantangan, tapi melakukan dan menjalani apa yang sudah dipilih yang lebih menjadi tantangan.

Dengan kata lain, tantangan itu dimulai ketika saya sudah berkomitmen melakukan sesuatu. Bagaimana supaya saya tidak membenarkan diri untuk tidak melakukannya dengan sejuta alasan yang dicari-cari (padahal alasan sesungguhnya malas).

Sederhananya sih, mulai dari memilih untuk menulis atau menonton drama, membaca buku atau membaca chat di WAG. Melengkapi tulisan dengan gambar atau tidak (padahal sekarang sudah punya Canva Pro supaya bisa bikin gambar melengkapi tulisan).

Dari semua itu, ada faktor kemalasan yang sering membuat tidak jadi berkarya.

Banyak keinginan untuk belajar ini dan itu, sudah banyak tau cara belajar yang baik, dengan mengenali cara diri belajar, menetapkan target dan memecah menjadi tujuan kecil-kecil. Tapi, jangankan sampai ke bagian belajarnya, berpikir untuk menetapkan tujuan kecil-kecil aja malas alias takut komitmen.

Menulis setiap hari, merupakan salah satu bentuk tantangan menaklukkan kemalasan. Setelah berhasil melawan malas untuk menulis, saya masih belum berhasil untuk membaca setiap hari. Bukan karena saya terlalu sibuk, tapi ya memang tidak menyediakan waktu untuk membaca.

Ketika kita berkomitmen melakukan sesuatu, seharusnya kita menyusun tahapan melakukannya dan menyediakan waktu untuk melakukannya.

Bagaimana melawan kemalasan dalam diri sendiri?

Sebenarnya semua kembali pada prioritas. Ada banyak teori tentang membuat perencanaan dalam mencapai tujuan. Tapi ada satu hal yang lebih mudah daripada semua teori itu. Saya sebut namanya prinsip: Lakukan saja.

Apalah artinya semua teori kalau saya tidak melakukannya? Apalah artinya membuat perencanaan, kalau kemudian hanya jadi rencana saja dan tidak dilakukan?

Sebelum bertemu dengan teman-teman di berbagai komunitas yang saya miliki sekarang ini, sebenarnya saya sudah merasa hidup ini tidak ada kekurangan apapun. Saya merasa tidak perlu mempelajari hal baru karena sepertinya terlalu sulit. Atau merasa tidak butuh untuk belajar hal baru karena merasa sudah cukup banyak tahu.

Atau katakanlah sebelum saya akhirnya menemukan keasikan mengutak atik Canva, saya selalu mengotakkan diri saya sebagai orang yang tidak bisa mendesain dan tidak punya bakat mendesain.

Sekarang saya menyadari, kalau yang menahan saya untuk belajar hal-hal baru itu sebenarnya kemalasan saya untuk mencoba. Saya mencari pembenaran dan alasan untuk tidak mencoba.

Sejak akhir Februari, ketika dihadapkan pada persoalan menggabungkan data dari 2 spreadsheet, saya sudah tahu kata kunci apa yang harus dipelajari. Tapi saya malas mencoba. Kemalasan saya mencoba membuat saya tidak bisa membaca instruksi dengan baik dan mencari-cari cara lain yang sepertinya lebih mudah.

Hasilnya? tentu saja tidak akurat. Untungnya data yang saya gabungkan ini bukan data penting yang fatal akibatnya kalau tidak akurat.

Beberapa hari lalu, ketika kembali dihadapkan pada persoalan yang sama, saya sudah ingin menyerah. Padahal, saya tahu kalau hal ini bisa dilakukan, teorinya saya tahu, tapi saya malas membaca dengan seksama caranya.

Tapi, karena menyadari masalah ini akan terus berulang kalau saya menuruti kemalasan saya, akhirnya saya memaksakan diri membaca lagi teori yang sebenarnya saya sudah pernah mengerti.

Hasilnya? Tentu saja saya menang dari kemalasan.

Efek dari kemalasan sebelumnya dan mencari jalan pintas di bulan lalu, menyisakan pekerjaan tambahan buat saya. Jadi ternyata kemalasan malah membuat kerjaan bertambah.

Hal yang perlu saya ingat setiap kali saya malas. Lebih baik saya melakukannya dengan benar walau butuh waktu untuk memikirkannya, daripada melakukannya asal-asalan yang kemudian akan membuat masalah bertambah lagi.

Penutup

Setiap harinya, kita dihadapkan pada tantangan mengalahkan kemalasan dalam diri sendiri.

Mulai dari bangun pagi sampai mau tidur lagi, kita selalu akan dihadapkan pada tantangan untuk memenangkan kemalasan diri. Pilihan kembali pada kita, mau produktif atau mau memenangkan kemalasan.

Semoga kita tetap mau bangkit dan melawan kemalasan itu ya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.