Meneruskan Draft atau Mulai Tulisan Baru?

Beberapa hari lalu, di KLIP ada kutipan yang sangat menohok untuk beberapa orang yang punya tumpukan draft untuk diposting tapi gak jadi-jadi diposting.

Kutipannya begini: “Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai.” – Rella.

Hari ini, sebenarnya semangat dari pagi ingin menuliskan topik tentang peringatan Hari Perempuan Internasional dengan tema #ChooseToChallenge. Tapi, saya tidak jadi menuliskannya dengan alasan tumpukan draft tulisan juga memanggil-manggil minta diselesaikan.

Akhirnya? Saya tidak jadi menulis tentang hari perempuan internasional ataupun meneruskan salah satu draft dan malah memulai tulisan ini.

Dari dulu, saya memang jarang menyelesaikan draft. Kalau draft sudah terlalu lama, emosi untuk menuliskannya sudah hilang dan seperti tidak tahu lagi mau dibawa kemana tulisannya.

Terkadang, saya sudah tuliskan poin penting yang akan saya tuliskan di draft, tapi tetap saja ketika membukanya kembali, keinginan meneruskannya sudah berkurang.

Setelah beberapa kali kejadian mengabaikan draft, saya akhirnya mengerti kenapa saya seperti itu.

Kalau saya memulai menulis dengan pola pikir: ah hari ini tulis draft nya aja dulu, asal lebih dari 300 kata, saya bisa setoran KLIP (grup menulis konsisten yang saya ikuti). Pasti tulisan itu akhirnya tetap jadi draft, karena tujuannya memang jadi draft setoran dan bukan tulisan hehehe.

Tapi lama-lama, draft yang variasinya antara 400 -900 kata itu tetap tidak selesai. Ada sih beberapa yang diteruskan, terutama tulisan untuk drakorclass, tapi kebanyakan tulisan curcol akan tetap jadi curcol di google doc dan tidak pernah jadi posting blog.

Apakah tulisan curcol tidak termasuk tulisan layak tayang?

Tentu saja jawabannya tergantung jenis curcolnya. Kalau curcolnya tidak mengandung rahasia atau hal-hal menyangkut orang lain, curcol seseorang bisa jadi manfaat buat orang lain.

Contohnya? Curcol soal menulis, bisa jadi ujung-ujungnya memberi motivasi buat orang lain (dengan catatan tulisannya selesai dan diposting di blog).

Memang seringkali, ada idealisme tulisan di blog sebaiknya minimal sekian ratus kata, bahasanya sudah bebas typo dan bisa mendatangkan banyak pembaca mampir. Tapi, apalah artinya menetapkan idealisme kalau akhirnya tidak jadi-jadi posting karena selalu menemukan kekurangan dalam tulisan sendiri.

Bagus banget kalau kita punya standar sebuah tulisan, tapi menurut saya, tulisan di blog itu berbeda dengan tulisan ketika menulis jurnal yang diterbitkan secara resmi. Kembali ke kutipan pertama: Tulisan yang baik adalah yang selesai.

Mengakhiri curcol hari ini, saya mau berbagi tips (untuk diri sendiri) supaya tidak memperbanyak lagi draft yang tidak selesai.

  1. Sebelum memulai tulisan baru, coba dilihat lagi tumpukan draft yang ada. Pilihlah mana yang bisa diselesaikan dalam waktu yang tersedia.
  2. Jangan memulai menulis dengan pola pikir hari ini draft seadanya saja dulu, besok-besok diterusin. Karena seringnya tulisan itu akan tetap jadi draft dan gak selesai-selesai.
  3. Boleh menulis curcol yang tidak masuk blog, kalau memang isi tulisannya bukan untuk konsumsi umum.
  4. Selain menulis draft di google doc/word, bisa juga loh menulis draft di blog tapi dikunci, sehingga tulisannya tetap tersimpan di blog dan hanya orang yang punya password yang bisa membacanya.
  5. Selalu menulis sesuatu yang yakin akan selesai (cukup waktunya untuk menuliskannya).
  6. Untuk jenis tulisan yang membutuhkan riset, ya dikumpulkan dulu datanya baru mulai menulis, jangan menulis sambil mencari bahan.
  7. Khusus untuk tulisan seputar drakor, boleh memulai dengan tujuan ngedraft, tapi sebelum menutup draft harus menuliskan dengan lengkap sampai mana hal-hal yang ingin dituliskan (karena kalau gak begini, tulisannya bisa ribuan kata).
  8. Untuk tulisan yang memang terlalu panjang (lebih dari 1500 kata), lebih baik dipecah menjadi beberapa tulisan jika memungkinkan.

Tulisan hari ini termasuk kategori curcol yang direncanakan untuk diselesaikan langsung dan tidak berakhir menjadi draft.

Semoga bermanfaat buat yang membaca dalam rangka menghasilkan tulisan yang selesai.

4 thoughts on “Meneruskan Draft atau Mulai Tulisan Baru?”

  1. Haha aku kena dehh Kak Ris… kapan hari aku posting setengah halaman dengan harapan akan melanjutkan sisanya besoknya. ehh besok ketemu kerjaan baru, terbengkalai deh… noted ya lihat dulu tumpukan draf deh br mulai ngedraf tulisan baru, Thank you for sharing yaa

  2. Jleb banget ini. Blogku berisi tumpukan draf, entah itu karena tulisannya belum selesai atau hanya gara-gara tak nemu foto atau belum.bikin infograpisnya dsb…
    Macam-macam deh alasannya.

    Saya harus segera “bertobat” ini, hahaha.

Tinggalkan Balasan ke rhin Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.