Mengapa Memilih Kuliah di Informatika ITB

Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret 2021 ini sekilas terlihat gampang. Apa susahnya menjawab pertanyaan: Mengapa dulu memilih jurusan yang dipilih.

Tantangan Blogging Bulanan Komunitas MamahGajahNgeblog

Ternyata, setelah direnung-renungkan, agak sulit buat saya menuliskannya menjadi 500 kata. Karena saya sendiri tidak ingat lagi persisnya alasan sesungguhnya memilih jurusan Informatika ITB itu kenapa.

Setelah ditunda-tunda sekian lama, karena sudah akhir bulan, waktunya untuk menuliskannya. Siapa tahu ada yang pengalamannya sama dengan saya dalam memilih jurusan kuliah.

Ku Tahu Yang Ku Tak Mau

Jawaban pertama yang terlintas di benak saya adalah: karena saya tidak mau jadi dokter. Lah, apa hubungannya milih Teknik Informatika dengan jadi dokter? Lagian, jadi dokter itu tidak mudah loh.

Nah justru itu, saya memahami saya tidak punya cukup nyali menjadi dokter. Kebanyakan teman saya bercita-cita menjadi dokter, tapi saya tidak. Walaupun mama saya dulunya perawat, tapi dia juga tidak pernah meminta saya bersekolah di bidang kesehatan.

Alasan tidak mau jadi dokter ada 3: 1. saya malas menghapal segala nama latin, 2. saya tahu sekolahnya lama, dan 3. saya tidak tahan melihat darah. Penomoran tidak menunjukkan mana alasan yang lebih kuat dari yang lain, hehehe..

Ku Tak Tahu yang Ku Mau

Alasan utama sulit menuliskan tantangan ini adalah karena sebenarnya awalnya saya tidak tahu mau kuliah apa, saya hanya tau saya tidak mau kuliah apa.

Nah kan, jadi gimana menuliskan alasan memilih jurusan kalau tidak tahu jawabannya?

Akhirnya setelah merenungkan lagi, saya jadi berusaha mengingat kembali bagaimana ceritanya sampai akhirnya saya memutuskan memilih jurusan Teknik Informatika ITB.

Bertanya pada Orang Tua

Karena tidak tahu mau kuliah apa, dan cuma tau apa yang tidak mau, saya mencoba bertanya pada orangtua saya. Harapannya sih, kalau orang tua punya keinginan saya akan berusaha mewujudkannya.

Seandainya nih orang tua saya minta saya jadi dokter, mungkin saja saya akan berusaha walau saya tahu saya tidak akan suka. Tapi ternyata, orang tua saya tidak seperti itu.

Mereka menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada saya. Katanya: “yang mau kuliah kan kamu, ya kamu pilih sendiri mau jadi apa, kami akan dukung dengan kemampuan kami.” Haish… pusing kan jadinya.

Di tengah kebingungan, saya melihat teman-teman saya sudah tau maunya apa. Beberapa mencoba masuk dengan jalur khusus ke IPB, UNDIP dan UI. Saya jelas tidak berminat ke IPB karena… ya tidak kepengen saja, hehe.

Terpikir memilih UNDIP, tapi kok kayaknya jauh ya, dan kurang keren (ah sok keren kamu!).

Mencoba Jalur Khusus

Ketika ada pengumuman ada jalur khusus untuk masuk Ilmu Komputer UI, saya pikir, boleh juga nih kalau ke UI. Kayaknya keren (halah, milih jurusan kok mikirin keren, sok keren aja).

Akhirnya saya melamar tuh jalur khusus ke Ilmu Komputer UI. Saya sebenarnya tidak tahu juga mau ngapain di Ilmu Komputer UI, tapi saya tahu di situ tidak ada hapalan yang banyak seperti jadi dokter, dan bidang ilmu lainnya.

Oh ya, saya memang lebih menyukai ilmu komputasi (Matematika) daripada ilmu Biologi.

Satu fakta lagi, saya sebenarnya baru kenal komputer itu kelas 2 SMA. Saya tidak pernah belajar memprogram.

Waktu itu cuma tahu pakai DOS, LOTUS123 dan WordStar. Komputer pertama saya bahkan tidak sanggup untuk menjalankan windows 3.1.

Saya pikir, walaupun saya belum tahu banyak tentang ilmu komputer, nanti kan bisa belajar kalau sudah keterima kuliah.

Tapi, ternyata…

Saya tidak keterima di Ilmu Komputer UI. Tepatnya lagi, saya tidak dapat kabar sama sekali. Nah kalau tidak ada kabar artinya tentu saja ditolak ya toh!

Maka, sejak saat itu, saya coret Ilmu Komputer UI menjadi calon pilihan jurusan kuliah saya.

Ketika Harus Memilih

Lulus SMA, waktunya harus menentukan pilihan. Lamaran jalur khusus tidak ada kabar, artinya ya harus berjuang mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Sejak melamar jalur khusus Ilmu Komputer UI, saya mulai punya mimpi ingin belajar seluk beluk dunia komputer.

Akan tetapi, karena tidak diterima jalur khusus saya ogah milih jurusan yang sama lewat jalur UMPTN. Maka, saya nekat memilih jurusan Teknik Informatika ITB.

Kenapa saya bilang nekat? Karena sejujurnya saya agak gentar dengan passing grade ITB yang konon katanya paling tinggi se-Indonesia Raya.

Terang saja saya ga mau kalau milih Ilmu Komputer UI lagi. Ga mau sakit hati kalau ditolak 2 kali! Hehehe…

Maka jadilah saya memilih Teknik Informatika ITB sebagai pilihan pertama saya ketika UMPTN. Pilihan lain tidak perlu disebutkan di sini ya, hehehe..

Penutup

Demikianlah alasan receh saya memilih jurusan Teknik Informatika ITB. Ternyata, ditolak UI malah keterima di ITB.

Walaupun sebelumnya saya belum bisa mrogram dan tidak tahu banyak menggunakan komputer, saya bersyukur akhirnya bisa belajar.

Walaupun sekarang saya bukan menjadi programmer handal, tapi saya merasa ilmu yang dipelajari dulu di kampus banyak membentuk pola pikir yang lebih baik.

Saya bersyukur jalannya hidup membawa saya berkesempatan kuliah di Teknik Informatika ITB.

7 thoughts on “Mengapa Memilih Kuliah di Informatika ITB”

  1. teh risna keren pengalamannya … mirip ya akupun gak minat kuliah kedokteran padahal bapakku sangat ingin aku meneruskan jejaknya … akhirnya atas pilihan bapakku juga, jadi deh aku kuliah di arsitektur he3 …

  2. gapapa teh sok keren, karena itu cikal bakal menjadi keren! hihihi.. ditolak di UI, keterima di Informatika ITB, mantapp bgtt

  3. Wah, saya juga masuk ITB karena ditolak UI teh hehe. Ilmu programmingnya kepake buat bikin blog yang cakep-cakep nih kayaknya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.