Antara Drakor “Hello, Me!” dan “Sisyphus: The Myth”

Beberapa waktu lalu, pada waktu bersamaan, Netflix memulai drakor Hello, Me! dan Sisyphus: The Myth. Kedua drakor ini punya tema perjalanan waktu, walaupun genre nya jauh berbeda. Kemarin malam, karena keduanya sama-sama berjumlah 16 episode, dramanya pun berakhir dengan bersamaan.

Awalnya, saya sempat bingung memilih mau nonton drakor yang mana. Apalagi nama besar aktor dan aktris di Sisyphus lebih sering saya dengar dibandingkan pemeran Hello, Me!

Dari genre nya, jelas Sisyphus ini bernuansa Hollywood. Bukan saya anti drama produk Hollywood, tapi sejak menonton The King Eternal Monarch yang temanya perjalanan waktu dan dunia multiverse, saya merasa tema perjalanan waktu di drakor ini masih belum ada yang bagus jalan ceritanya.

Drakor “Hello, Me!”

Setelah meninmbang-nimbang berdasarkan genre, saya akhirnya memutuskan menonton Hello, Me! Ceritanya sebenarnya klise banget, dan saya bahkan sudah bisa menebak jalan ceritanya dan menerima ada bagian fantasi di mana seorang dari masa lalu bisa melompat ke masa depan (dengan sedikit mistis).

Terlepas dari berbagai klise yang ditampilkan di Hello, Me! Saya merasa pilihan saya sudah tepat. Saya tidak akan mengulang berbagai informasi yang ada tentang drama ini, kalau ada yang belum nonton dan pengen tahu kesan pertamanya langsung saja baca di drakorclass.

Beberapa alasan kenapa drama ini menarik buat saya (mengandung spoiler):

  1. Ceritanya sederhana. Pertemuan seorang dewasa (37 tahun) dengan dirinya sendiri versi 17 tahun membuatnya mengingat banyak hal yang telah dilupakan. Selama 20 tahun, dia sibuk menyalahkan diri sendiri dan menangisi kepergian ayahnya. Dia depresi dan lupa untuk meneruskan hidup. Pertemuannya dengan dirinya sendiri membuatnya kembali mencoba bangkit dari keterpurukan dan berusaha berdiri lagi.
  2. Ada banyak pelajaran hidup didalam drama ini. Cerita tentang bagaimana orang dewasa harus bertanggung jawab dengan hidupnya dan cerita tentang orang dewasa yang pada dasarnya juga tidak berbeda dengan anak-anak dengan mimpi-mimpinya.
  3. Kisah cinta dalam drama ini bisa dibilang tidak grasa grusu. Pendekatan dilakukan dengan cara saling mengenal satu sama lain. Tidak ada adegan dewasa dalam drama ini, tapi pegangan tangan saja bisa membuat hati hangat ketika menontonnya.
  4. Drama ini merupakan drama keluarga. Bagaimana kisah tokoh tokoh pria nya dan hubungannya dengan keluarganya. Walaupun ada sedikit cerita perebutan kekuasaan dalam perusahaan orang kaya, tetap saja penyelesaiannya keluarga itu saling mengasihi, melindungi dan memaafkan. Cerita tokoh perempuan dengan keluarganya juga digambarkan cukup hangat, walaupun ada kisah kecemburuan kakak dan adik, tetap saja pada akhirnya keluarga itu ya keluarga yang saling membantu dan mendukung.
  5. Ada bagian cerita, yang mengajarkan bahwa kesalahan masa lalu pasti akan terungkap dan kita harus bertanggung jawab dengan kesalahan itu. Tapi setelahnya kita harus bangkit lagi meneruskan hidup dan bukan terpuruk diam ditempat.
  6. Drama ini juga menggambarkan persahabatan dari kecil yang bisa berlanjut ketika dewasa, walaupun ada beberapa kecemburuan yang pernah terjadi di masa lalu.
  7. Mungkin sebagian bilang kalau akhir ceritanya too good to be true, tapi ya ceritanya semua masuk akal kok. Menonton buat hiburan itu perlu yang menyenangkan hati, jadi ya tentu saja pemirsa bahagia kalau dikasih kebahagiaan untuk semua orang.
  8. Ada banyak percakapan yang bisa jadi kutipan! Tapi bagian ini menyusul ya, belum sempat bikinnya, hehehe..

Drama Hello, Me! ini kategori drama yang sepertinya receh, tapi menarik untuk ditonton sambil berkaca diri.

Dengerin podcast kami kalau udah penasaran dengan drama ini

Oh ya, 4 episode sebelum drama ini berakhir, saya dan teman dari Drakorclass bikin podcast semi prediksi. Dan waktu melihat endingnya, saya makin senang karena sebagian besar prediksi dan harapan benar. Penulisnya tau aja apa yang penonton mau.

Drakor Sisyphus: The Myth

Berikutnya, sambil menunggu episode baru Hello, Me! Saya menyempatkan menonton Sisyphus.

Ketika membaca legenda tentang Sisyphus ini, saya sudah merasa kalau cerita ini kemungkinan besar akan berakhir seperti The King Eternal Monarch. Akan ada lingkaran waktu yang akan sulit menjelaskan mana duluan ayam atau telur.

Benar saja, ketika menonton 2 episode pertama, saya punya banyak pertanyaan dari drakor Sisyphus . Akhirnya saya memutuskan untuk tidak meneruskan menontonnya dan menunggu cerita berakhir untuk melanjutkan menontonnya.

Tadi siang, saya bertanya kepada teman saya yang menonton drama ini dengan tekun dari awal sampai akhir. Ternyata, memang ada beberapa hal yang tetap tidak terjawab.

Pertanyaan utama tentang kenapa Seo Hae yang diperankan Park Shin Hye makan pisang dengan kulitnya tidak ada penjelasannya. Mungkin dia lupa cara makan pisang karena 15 tahun dalam bunker. Waktu masuk bunker padahal dia sudah cukup besar loh, sekitar 9 atau 10 tahun.

Tapi ya sudahlah, kesimpulannya saya tidak akan jadi meneruskan menonton drama ini. Tapi, selain masalah lingkaran waktu, ada banyak sih yang bisa dikutip dari drama ini. Pelajaran utama adalah: tidak ada yang bisa mengubah masa lalu.

Baca deh: “Sisyphus: The Myth”: Antara Masa Lalu, Penyesalan dan Masa Kini

Penutup

Gimana dengan pembaca? Ada yang menonton salah satu atau kedua drakor di atas? Saya sih agak kapok dengan tema perjalanan waktu yang mengandalkan teknologi, sepertinya perjalan waktu dengan sedikit cerita mistis masih lebih bisa diterima sebagai cerita fantasi.

Namanya hiburan, abis nonton jangan jadi pusing karena cerita mbulet ya. Kalau memutuskan untuk menontonnya, ya dinikmati saja ceritanya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.