Hari Rabu, 5 Agustus 2009

Saya masih ingat 12 tahun lalu. Hari itu, hari baru berganti ke hari Rabu. Sekitar 10 menit setelah pergantian hari, saya kehilangan bapak saya, setelah beberapa waktu di rawat di rumah sakit.

Setelah beberapa hari mengalami roller coaster emosi, antara merelakan bapak pergi dan tidak, akhirnya saya menyerahkan yang terbaik pada Tuhan.

Tahun lalu, saya sudah menuliskan juga tentang hal ini. Sebenarnya tahun ini tidak ingin menuliskannya lagi karena tidak ingin merasakan kesedihan yang sama lagi, tapi… akhirnya saya memutuskan tetap menulisnya untuk mengingat bapak saya.

Menerima Kenyataan

Memang benar, rasa khawatir tidak akan menambahkan umur sedikitpun. Kita sudah berdoa meminta yang terbaik, dan ketika yang terbaik adalah melepaskan orang yang dikasihi pergi, sesulit apapun ya terima saja.

Hari itu, 12 tahun yang lalu, masih tetap membuat rasa sedih kalau mengingatnya. Tapi ya, itulah hidup. Semua akan kembali pada Nya pada waktu Nya.

Lalu, kenapa masih diingat-ingat kalau bikin sedih? Sebenarnya, bukan sengaja menyedihkan diri, tapi lebih ingin mengenang bapak di masa hidupnya.

Sejak awal bulan Agustus, aku sudah berusaha pura-pura lupa tanggal. Tapi, tetap saja gagal.

Pesan Terakhir Bapak

Pesan bapak buatku untuk sering-sering ajak mamaku ngobrol. Waktu itu, aku pikir akan sulit, karena aku tinggal jauh dari rumah, dan biaya SMS masih sangat mahal. Mamaku juga tidak mengerti pakai Skype atau alternatif lainnya.

Untung sekarang teknologi internet dan ponsel makin maju, aku bisa lebih mudah mengajak mamaku ngobrol, entah itu WA ataupun FB.

Mamaku yang awalnya menolak untuk berkenalan dengan teknologi, akhirnya bersyukur sudah kupaksa mengenal teknologi yang memudahkan komunikasi. Tapi, tentu saja beda rasanya ya ngobrol langsung dengan tulisan ataupun videocall sekalipun.

Sebenarnya 12 tahun itu waktu yang lama. Anak pertamaku saja hampr berumur 11 tahun rasanya sudah besar. Tapi, kenapa ya perasaan kala itu, walaupun mungkin tidak bisa diingat dengan detail, tetap saja bisa membuat perasaan jadi sedih lagi.

Tentang Bapak

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Walaupun bapakku bukan orang ternama, tapi pastinya namanya akan selalu ada dalam kenangan kami anak-anaknya.

Niat awal mau menulis tentang bapak, tapi kok rasanya sulit meneruskan tulisan ini ya. Air mata tak diundang datang sendiri minta keluar dari pelupuk mata. Terpaksa berhenti berkali-kali untuk mengambil tisue terlebih dulu.

Bapakku, seperti kebanyakan pria Batak, orangnya tegas dan bersuara keras. Tapi, bapakku bukan tegas tanpa alasan, dia cukup rasional dan punya prinsip.

Kupikir, bapakku tidak akan mengijinkan aku menikah dengan orang yang berasal dari suku lain selain Batak. Ternyata, dia mengijinkan aku untuk menikah dengan pilihanku yang bukan orang Batak. Mungkin karena dia tahu aku gak terlalu cocok dengan orang Batak? hahahaha…

Memang sih, aku juga orangnya keras, dan sepertinya sifat keras ini datang dari bapak. Bisa jadi bapakku kuatir kalau aku berpasangan dengan orang Batak lagi, bakal ribut setiap hari. Hahahaa…

Jadi, ketika kuberitahu kalau aku punya calon orang Jawa, pertanyaannya nggak banyak. Sepertinya bapakku cukup percaya dengan kemampuanku memilih pasangan.

Walaupun bersuara keras, bapakku orangnya ramah dan perhatian loh. Bapakku juga suaranya bagus dan pintar bernyanyi. Selalu aktif di paduan suara gereja.

Ah…, sayangnya, kenapa suaraku biasa aja ya, nggak sebagus suara bapakku, hehehe…

Menulis tentang bapak begini lumayan menjadi obat penawar rindu buatku. Sekalian juga bisa jadi cerita untuk anak-anakku, kalau mereka ingin tahu tentang oppungnya di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.