Menjadi Lansia itu Istimewa

lansia

Banyak yang bilang menolak tua dan ingin selalu muda, tapi di tulisan ini saya ingin menuliskan kalau mempunyai umur panjang alias menjadi lansia (lanjut usia) itu merupakan hal yang istimewa.

Harapan semua orang adalah mempunyai umur panjang dan bisa menikmati hari tua dengan bahagia. Seperti halnya setiap tahapan dalam kehidupan kita, kita juga perlu mempersiapkan diri menjelang lansia. Apa saja sih yang kira-kira Anda pikirkan perlu dipersiapkan menjelang lansia?

Lansia dan Permasalahannya

Saya pernah menuliskan ada 3 bahan bakar dalam hidup ini: waktu, tenaga dan uang. Sayangnya, ke-3 bahan bakar itu terkadang tidak selalu ada saat bersamaan. Waktu masih muda, kita punya tenaga dan waktu tapi belum punya uang. Ketika masa produktif kita punya tenaga dan uang tapi gak punya waktu menikmati hidup. Ketika lansia, harapannya punya waktu untuk menikmati hidup dan ada uang tapi terkadang tidak ada tenaga lagi.

Kalau di Alkitab, ada janji Tuhan akan menggendong dan akan terus memikul dan menyelamatkan kita manusia sampai masa tua dan sampai memutih rambut. Akan tetapi, dengan kemajuan teknologi kedokteran sekalipun, tidak semua bisa mendapatkan kesempatan berumur panjang dan tetap bisa menikmati masa tuanya dengan baik.

Sebelum membahas bagaimana mempersiapkan hari tua, kebetulan sekali hari ini saya membaca di sosial media saya tentang ada banyaknya masalah lansia. Bahkan sampai ada cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah-masalah kesehatan lansia, namanya geriatri.

Geriatri: cabang ilmu tentang penyakit berhubungan dengan lansia (Wikipedia)

Saya baru tahu istilah geriatri ini. Jadi, bukan saja kesehatan fisik, tapi juga bisa mempengaruhi sisem sensorik dan saraf pusat yang kira-kira juga akan terlihat seperti mempengaruhi cara berpikir seseorang bisa berubah.

Salah satu ketakutan terbesar banyak orang lanjut usia selain penyakit fisik adalah ketika mulai pikun alias banyak lupanya. Padahal ada banyak juga yang masih bisa berpikir jernih sampai akhir hidupnya walaupun sudah banyak umurnya. Akan tetapi, beberapa penyakit itu sifatnya tidak bisa dikendalikan karena genetik misalnya, bahkan ada yang masih relatif muda, tau-tau sudah terdeteksi dementia atau penyakit penyakit lainnya yang umumnya ditemukan ketika sudah lanjut usia.

Perubahan Seiring Bertambah Usia

Kalau dulu, saya pikir umur itu hanyalah angka. Mau berapapun umurnya tapi jiwa tetap muda. Tapi, untuk sebagian orang, ada juga yang bangga sekali dengan usianya. Semakin bertambah umur, ada yang semakin ingin dianggap lebih bijaksana ataupun lebih dari yang lain.

Saya pun termasuk yang mulai mengerti, ternyata dengan bertambahnya umur dan pengalaman hidup, cara berpikir kita juga akan mulai ada perubahan.

Hal-hal yang dulu kita anggap penting dan terkadang ngotot untuk dilakukan, bisa jadi kita anggap tidak berarti. Ada juga hal-hal yang dulu kita anggap remeh, menjadi terlihat penting. Dengan bertambahnya umur, bertambah juga banyak opini dan perasaan lebih tau dan gak mau disalahkan, apalagi misalnya disalahkan dengan “anak kemarin sore” (ini yang pernah saya rasakan sih, nggak tau yang lain, hehehe).

Mempersiapkan Diri Menjadi Lansia Bahagia

Tema Tantngan Menulis KLIP

Nah, setelah tahu kalau menjadi orang lanjut usia itu ada banyak tantangan dan permasalahannya dan adanya perubahan dalam diri seiring bertambahnya usia, tentunya kita perlu mempersiapkan diri untuk menjadi lansia yang bahagia.

Tidak ada yang tahu hari esok

Hal pertama yang perlu disadari dari sekarang adalah, tidak ada yang tahu tentang hari esok. Kita bisa merencanakan dan mempersiapkan ini dan itu untuk hari tua kita, tapi bisa jadi, banyak hal yang tak terduga terjadi. Hal-hal yang tidak diharapkan bisa saja merusak rencana yang sudah kita susun dengan rapi, diantaranya seperti misalnya dana pensiun yang dipersiapkan ternyata tidak cukup atau terlalu cepat habis (salah perhitungan).

Buat saya sih, menyadari kalau saya tidak tahu hari esok ini, tentunya saya hanya bisa kembali ke janji Tuhan. Dia berjanji akan menggendong sampai masa tua, jadi ya seandainya banyak hal terjadi di luar rencana, setidaknya jangan sampai kehilangan iman.

Yang pertama dan terutama adalah, kita harus memelihara iman kita dari sekarang. Mempersiapkan masa tua itu bukan hanya persiapan fisik, tapi juga mental/ rohani dan spiritual.

Persiapan dana pensiun

Uang bukan segalanya, tapi kita butuh uang untuk membayar berbagai kebutuhan hidup. Kita perlu mempersiapkan dana pensiun sebaik mungkin di masa kita masih punya penghasilan ini.

Saat masih produktif, kita harus ingat menyimpan dan kalau memungkinkan menginvestasikan sebagian penghasilan untuk dipakai di hari tua. Akan tetapi, terkait dengan tidak ada yang tahu hari esok, kita tidak benar-benar tahu berapakah yang akan cukup di masa tua kita?

Ini tuh masih jadi salah satu hal yang saya dan suami juga terus belajar mempersiapkannya. Harapannya sih di masa tua nanti, kami tidak usah lagi memikirkan sumber penghasilan, tapi tinggal menghabis-habiskan saja tanpa merepotkan anak-anak kami.

Mempersiapkan anak-anak untuk mandiri

Kesuksesan anak-anak bukan berdasarkan mereka nanti punya gelar ataupun punya penghasilan sekian digit. Yang lebih penting adalah mereka mandiri. Mereka tidak menjadi beban untuk kita di masa tua dan mudah-mudahan kita juga tidak menjadi beban buat mereka.

Dulu, orang tua saya selalu bilang, kalau mereka tidak akan mewariskan harta kepada kami anak-anaknya. Mereka menyekolahkan kami untuk menjadi modal kami masing-masing menjadi mandiri.

Secara tidak langsung, selain membekali dengan pendidikan rohani, orangtua saya ingin kami punya karakter yang mandiri, mau selalu belajar dan juga mencukupkan diri. Seperti halnya orangtua saya, saya dan suami pun berharap bisa mendidik anak-anak menjadi anak yang cinta Tuhan dan juga anak yang mandiri.

Bagian ini sebenarnya masih tugas yang sangat besar untuk kami. Kami pun masih harus terus belajar menjadi orang tua yang bisa membentuk karakter anak yang cinta Tuhan dan juga nantinya ulet berkarya dan mandiri.

Manfaatkan teknologi

Ingatan manusia itu terbatas, karenanya sekarang ini manusia berusaha menciptakan berbagai teknologi untuk membantu ketika di masa lansia. Beberapa hal sebenarnya sudah bisa dimanfaatkan dari sekarang, misalnya alarm pengingat di ponsel (atau dimanapun) supaya tidak lupa kalau ada janji atau tugas yang harus dilakukan.

Kesehatan mata juga termasuk salah satu yang pasti akan menurun. Saya dari dulu selalu bangga tidak harus menggunakan kacamata, tapi setelah umur tertentu, mau tak mau saya harus menggunakan kacamata. Kacamata merupakan salah satu produk teknologi loh! Ya iya, kalau tidak ada kacamata, semua akan jadi blur, dan kemungkinan saya tidak akan bisa lagi menulis begini.

Salah satu cara lain yang juga perlu memanfaatkan teknologi adalah, mau belajar dengan perkembangan teknologi, terutama misalnya saat ini teknologi digital. Mama saya dulu sempat menolak belajar menggunakan ponsel. Untungnya akhirnya mama saya mau belajar dan akhirnya sekarang ini, jadi lebih mudah untuk saya menelpon mama saya menggunakan panggilan video.

Kalau misalnya mama saya bersikeras tidak mau mempelajari teknologi, pastilah dia akan merasakan hidup yang sungguh sunyi, apalagi di masa pandemi ini. Tapi karena mama saya mau belajar dan mengenal teknologi, minimal mama saya bisa menggunakan ponsel dan menghubungi kami dan atau teman-temannya yang juga mau belajar menggunakan ponsel dan terhubung ke internet.

Miliki komunitas dan hobi

Sebenarnya ini 2 hal yang bisa berbeda tapi bisa juga dijadikan satu. Dengan adanya komunitas, kita tidak merasakan sepi sendiri atau tak berarti. Di dalam komunitas, kita selalu bisa memberi arti buat orang lain.

Komunitas berdasarkan hobi akan lebih baik lagi, karena dengan adanya hobi, kita akan selalu punya keinginan untuk berkarya. Kita tidak perlu merasa tidak tau mau ngapain hari ini. Selalu ada yang ingin dikerjakan/ diselesaikan. Dengan adanya tujuan begini, kita bisa lebih bersemangat dan berbagi dengan yang lain.

Salah satu hobi yang saya ikuti saat ini ya ngeblog/ menulis. Di masa teknologi ini, saya bisa tergabung dalam komunitas online yang anggotanya tersebar secara geografis di seluruh dunia. Sejak gabung dengan KLIP, saya jadi punya komunitas menulis Drakor Class dan Mamah Gajah Ngeblog. Entah apakah saya berhenti di 3 komunitas ini, atau masih akan bertambah lagi. Tapi yang jelas, saya senang dengan komunitas yang saya ikuti saat ini.

Saat ini, saya juga mempunyai komunitas di kota tempat tinggal saya, tapi ini sih bukan komunitas berdasarkan hobi, tapi lebih ke komunitas karena teman senasib di perantauan. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Kita perlu punya komunitas untuk saling berbagi dan atau berkarya bersama.

Penutup

Satu hal yang mungkin belum saya sebutkan di atas adalah tentang menjaga kesehatan dengan berolahraga, tapi anggap saja itu sudah saya masukkan ke bagian: tidak ada yang tahu hari esok, hehehe..

Jangan lupa bahagia, jangan terlalu fokus menjadi ibu sampai lupa berkarya sesuai dengan passion kita. Jangan juga terlalu ingin berkarya sampai lupa dengan keluarga.

Keseimbangan antara keluarga dan pengembangan diri harus tetap ada. Bekerjasama dengan pasangan, mendistribusikan tugas dan atau mencari bantuan jika memang dibutuhkan. Mari mempersiapakan dan menyambut masa lansia yang bahagia.

Btw, mungkin akan ada yang bertanya-tanya… lansia itu umur berapa sih? Ya bebaslah kembali ke deskrispi masing-masing umur berapa mulai dianggap lansia. Tapi pastinya, berbahagialah kamu, kalau bisa sampai di masa lansia, karena artinya Tuhan tetap menjaga dan menggendong kamu! Yuk persiapkan diri menjadi lansia bahagia dari sekarang.

Satu tanggapan pada “Menjadi Lansia itu Istimewa”

  1. Bener banget terutama point mendidik anak harus mandiri. Itupun harus kita lakukan dari sekarang karena buat mandiri itu ternyata gak bisa tiba2 (pengalaman pribadi anak bungsu kolokan yang sempat gelagapan karena harus mandiri hehehe)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.