Wanita dan Belanja

Tema Tantangan Menulis minggu ini tentang Wanita dan Belanja. Tema ini membuat saya ingin mempertanyakan benarkah hanya wanita yang suka belanja? Sebagai wanita, saya termasuk yang malas belanja, apalagi belanja ke pasar yang becek dan berangkatnya harus naik ojek, hahaha.

Tulisan kali ini sebenarnya agak-agak random, intinya sih semua orang (bukan hanya wanita) punya keinginan, dan antara keinginan itu dituruti atau tidak, itulah yang membuat perbedaan jadi konsumtif atau tidak.

Semua orang punya keinginan

Tiap orang punya penilaian/pembenaran masing-masing kenapa membeli sesuatu. Buat si A mungkin dia penting beli skincare biar glowing, buat si B lebih penting beli gadget. Buat si A, pokoknya harus merek buah yang digigit, buat si B yang penting fungsinya sesuai kebutuhan walaupun merk Cina.

Atau contoh lain di kalangan teman-teman blogger nih: buat si A lebih butuh menulisnya jadi ga butuh domain dan hosting, tapi buat si B lebih menantang menulis di domain sendiri yang bisa diutak atik biar lebih semangat lagi nulisnya. Atau buat si C dia butuh menulis dan butuh beli domain karena berharap dari tulisannya bisa menghasilkan cuan untuk membayar domainnya tersebut. Tidak ada yang salah atau benar antara A, B dan C, semua sah-sah saja. Dan semua kembali ke prioritas, kebutuhan dan keinginan masing-masing.

Ada yang bilang, harga tidak pernah bohong, makanya ketika sebuah barang yang biasanya mahal turun harga, banyak yang tidak bisa menahan diri dan tergoda membelinya. Ada yang demi membeli barang merk tertentu, menggunakan skema cicilan, ada juga yang lebih memilih membeli merk lain yang harganya lebih terjangkau bisa dibeli lunas, karena yang lebih dibutuhkan adalah fungsinya. Ada yang memilih tidak membeli tapi meminjam saja terus menerus dari orang lain selama bisa meminjam. Pokoknya masing-masing punya pembenaran atas pembelanjaan masing-masing.

Saya termasuk yang mana?

Waktu saya hobi merajut, saya mengumpulkan banyak benang dan jarum rajut. Semuanya menjadi harta karun yang membuat hati bahagia. Saya berhenti merajut sudah cukup lama, sekarang harta karun yang dulu sangat berkilau cuma jadi tumpukan menuh-menuhin rumah. Saya sebenarnya ingin memberikan saja semua harta karun itu ke orang lain yang masih suka merajut, tapi saya selalu berpikir siapa tahu nanti saja jadi rajin merajut lagi?

Sekarang ini, tumpukan harta karun merajut itu jadi pengingat buat saya ketika memiliki hobi baru, untuk tidak membeli semua-semua yang diinginkan. Tapi, bukan berarti juga saya jadi tidak mengijinkan diri sendiri untuk membeli hal yang membuat saya produktif. Tapi, sebelum membeli ada beberapa hal yang saya terapkan.

Mempertanyakan kegunaannya (buat apa?)

Antara keinginan dan kebutuhan itu tipis bedanya. Kalau namanya sudah ingin, yang tidak butuh juga jadi butuh. Tapi seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, setiap orang punya penilaian yang berbeda akan satu hal, jadi tidak bisa disamaratakan juga. Buat yang tinggal di Indonesia, Indomie itu makanan murah buat anak kos yang nunggu uang kiriman yang belum datang. Kalau buat kami di sini, Indomie itu makanan mewah, yang hanya tersedia kalau kami bersedia membayar ongkos kirim yang mahal dari Indonesia ke Thailand, atau kalau ada kesempatan mudik dan bisa membawanya sendiri.

Hukum ekonomi berlaku ya, antara ketersediaan dan kebutuhan atas nama keinginan. Tapi kalau memang yakin ongkos kirim itu lebih murah daripada hal-hal lainnya, ya sudah beli saja Indomienya dari Indonesia, boleh dong kita memberi reward alias menyenangkan hati yang gundah gulana tak tau kapan akan bisa mudik dengan Indomie semata. Aduh jadi puitis.

Dananya tidak merusak anggaran pengeluaran

Seperti saya bilang, contoh membeli Indomie itu hanya pembenaran. Tapi yang juga tak kalah penting, ketika kita berbelanja yang harganya termasuk mahal itu, pastikan saja kita tidak merusak anggaran pengeluaran rutin. Kalau buat kami, anggap saja dana pengiriman Indomie itu adalah bagian dari dana yang biasanya kami pakai mudik. Sudah 2 tahun tidak mudik, ongkos kirim Indomie itu tidak seberapa memang dibandingkan ongkos kalau harus mudik. Buat biaya pcr saja dari sini bisa untuk mengirimkan entah berapa kali Indomie dari Indonesia, belum lagi menghitung biaya karantina.

Akhirnya memang, terkadang kita memang melakukan pembelanjaan yang buat orang lain terlihat mahal, tapi buat kita harga segitu masih masuk akal karena hanya kita yang tahu apa pembandingnya.

Sekali lagi, pengiriman Indomie itu hanya salah satu contoh pembenaran pembelanjaan yang kemungkinan dilakukan bukan hanya wanita saja.

Penutup

Pembahasan soal belanja ini bisa jadi terlalu meluas dan melebar. Untuk hari ini saya cukupkan satu contoh ini saja. Tapi pada dasarnya, yang perlu diingat ketika belanja sudah pernah saya tuliskan di tulisan tentang merdeka finansial ala saya. Bebas mau belanja apa saja, tapi usahakan supaya hidup tetap bebas hutang.

Nah, kalau kamu termasuk yang mana? Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan belanja, asal ada uangnya, hehehe…

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.