Dear Joe

Pasti sudah tidak sabar ingin membaca surat dariku ini. Dari kemarin kamu sudah nanyain tanggal 27 Januari mau nulis apa? Setiap tahun tanggal 27 Januari selain tanggal-tanggal yang dianggap penting lainnya, pasti deh disuruh nulis di blog tentang berbagai hal-hal yang sebenarnya sudah sering diobrolin setiap hari.

Aku ingat, kamu pernah bilang: “Ya gak apa-apa, dituliskan saja, biar kalau suatu hari kita lupa karena satu dan lain hal, kita bisa ingat lagi tentang apa yang pernah kita pikirkan dan rasakan.” Udah kayak status media sosial saja ya. Tapi bedanya, kalau di media sosial statusnya hanya akan bertahan sampai media itu tutup seperti layanan gratisan lainnya, kalau menulis di blog ini, mudah-mudahan kita bisa baca lagi pada tahun-tahun mendatang.

Masalahnya adalah, walapun tiap hari sudah konsisten menulis, rasanya kok aku nggak bisa ya menulis hal-hal apalagi surat yang akan dibaca orang lain selain orang yang ditujukan untuk membacanya. Tapi, berhubung aku diajakin Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog, ya udahlah sekalian aku tuliskan surat ini di sini.

Tanggal 27 Januari 2007, tentunya kita akan selalu mengingat hari itu. Hari di mana kita resmi menjadi suami istri, setelah menerima pemberkatan di Gereja dan menandatangani surat catatan sipil. Pesta adat Simalungun (walaupun kamu orang Jawa) sederhana juga sudah kita jalankan. Dan itu sudah 15 tahun yang lalu. Artinya kita sudah bertambah umur 15 tahun sejak hari itu.

Sungguh ini sebenarnya tidak pernah terpikirkan sebelumnya, kalau aku akan menikah dengan suku lain selain batak. Bukan apa-apa sih, bukan aku orangnya kesukuan, aku tuh justru nggak terlalu tahan dengan segala pesta adat batak, tapi ya namanya juga bapakku dulu orangnya udah seperti raja adat, kupikir mereka tidak akan pernah menerima kalau boru nya ada yang menikah dengan orang dari suku lain. Tapi sepertinya karena 2 kakakku sudah menikah dengan suku batak, aku dapat kelonggaran, hehehe.

Tuhan itu memang baik. Dia mempertemukan kita di saat aku tidak mencari lagi. Setelah gagal mencari pria batak yang kuharap mengerti aku. Aku bahkan menantang orangtuaku untuk dijodohkan sajalah dengan siapa maunya mereka, tapi mereka juga nggak punya calon, hahahah. Aku pun sempat minta dikenalin ke temannya temanku yang siapa tau juga sedang cari pasangan. Tapi kebanyakan pria itu bukan cari pasangan, mereka sepertinya lebih mencari pembantu buat bebersih rumah dan menyiapkan segala kebutuhannya di rumah. Bah, jelas saja aku tolak pria yang baru ketemu pertama pamerin punya mesin cuci!

Tapi kamu berbeda. Kita bertemu karena sama-sama ngurusin kerjaan yang sama. Lalu, waktu itu aku sedang tidak berniat sekolah lagi kalau di ITB lagi. Tapi tiba-tiba saja dosen di tempat kerja kita memberi tahu ada tawaran untuk sekolah lagi dan ada kesempatan beasiswa, ya udahlah dijalani saja. Ajaibnya lagi, walau dulu sudah siap-siap untuk menjalani ikatan dinas sebagai kewajiban beasiswa, tau-tau kita dibebastugaskan ketika kita lulus.

Karena kuliah bareng kita jadi lebih sering ngobrol. Siapa sangka kalau kamu tiba-tiba bilang suka sama aku yang menurutku sih biasa aja tapi kamu bilang cantik (duh tau aja ya gombalin aku, siapa yang ga senang dibilang cantik ya hahahah).

Sebelum aku mengenal kamu, aku sudah lelah menjawab pertanyaan dan pernyataan orang-orang yang bilang: “Udah jangan sekolah tinggi-tinggi, ntar jauh jodoh loh.” Apalagi sebagai wanita lulusan cap gajah, katanya kalau cowok lulusan ITB mah gampang nyari istri, tapi cewek kalau terlalu pintar susah cari pasangan, karena kebanyakan cowok gak mau punya istri lebih pintar.

Sekali lagi harus kusebutkan di sini, Tuhan itu baik, dia menjawab doa di saat kita berkata kehendakNya jadilah. Aku tuh gak akan sekolah lagi kalau bukan karena ada tawaran beasiswa. Jelas-jelas orangtuaku tidak setuju aku sekolah lagi. Katanya: Sudah cukup modal diberikan, kalau mau sekolah lagi, ya usaha sendiri! Dan tentunya dengan nasihat jangan lupa cari pasangan, walau kutantang tetap ga bisa ngasih calon.

Walau aku sempat ragu-ragu karena kita berbeda suku, tapi semakin aku mengenalmu semakin aku tahu kalau kita itu bisa membicarakan apa saja. Kamu bukan orang yang sok drama ataupun menyimpan rahasia. Akupun nggak perlu jaga image dan bisa menyatakan apapun yang kupikirkan dan kurasakan setiap kali.

Biarpun banyak yang bilang aku itu galak, cerewet dan bawel, tapi kamu bilang biasanya aku marah karena memang ada alasan untuk marah, bukan karena emang hobi marah-marah. Pastinya lagi, kamu lebih pintar dari aku dan selalu bilang kalau kamu bersyukur punya istri yang pintar, jadi kalau ngobrolin berbagai hal termasuk terkadang teknis pekerjaan, aku bisa mendengarkan walau tidak mengerti seratus persen.

Setelah keraguanku kutepis, akhirnya kita sepakat untuk berdoa bersama dan sekali lagi berdoa supaya kehendak Tuhan jadilah. Sampai sekarang ini, di saat ada masalah yang kita hadapi, dan kamu liat aku terlalu banyak pikiran dan malah jadi gundah gulana, kamu akan ingatkan aku, “Kita sudah berdoa dan menyerahkan pada Tuhan. Apakah dengan memikirkan terus menerus bisa menyelesaikan masalahnya?”

Dan memang terbukti, kalau masalah itu bukan untuk dipikirkan terus menerus, tapi diselesaikan. Biasanya berdoa adalah langkah awal, lalu ya sudah kita jalani hidup dan terus berkarya. Seiring dengan waktu, Tuhan akan bukakan jalan untuk kita. Kalaupun kita berdoa, kita kan bukan mendikte Tuhan, tapi kita meminta. Kalau yang diminta nggak dikabulkan gimana? Ya udah terima aja, berarti itulah kehendak Tuhan untuk hidup kita.

Buku The Courage to be Disliked yang baru saja kita baca berkata kalau masa lalu dan masa depan sama-sama tidak ada. Yang ada itu masa sekarang. Banyak hal dalam hidup kita berdua ternyata dari dulu kita putuskan juga nggak pake rencana jangka panjang. Dan memang keputusan kita di saat itu dengan menyertakan campur tangan Tuhan, hasilnya memang selalu lebih dari yang kita pikirkan.

Masih ingat pastinya, waktu kamu bilang suka denganku aku jawab kalau aku nggak nyari pacar tapi nyari suami. Kamu bilang, “Kalau gitu aku mau jadi suamimu.” Buhahahahhaa… aduh nekat benar kamu ya! Walaupun setelah itu, butuh 3 tahun sampai akhirnya kita menyelesaikan kuliah S2 kita dan juga mendapat restu orangtua.

Setelah menikah, Tuhan membawa kita ke Chiang Mai, Thailand. Kota yang namanya saja aku belum pernah dengar walau orang lain banyak yang sudah dengar kalau di sini pernah ada Sea Games di tahun 1995. Tidak terpikir kalau kita sudah lebih lama di Chiang Mai daripada di Bandung. Dan entahlah kemana lagi kita akan melangkah kemudian.

Buatku sih, selama kita bisa tetap bersama, tetap bertukar cerita, tetap bisa sepakat untuk semua keputusan hidup kita, berbagi rasa dan berbagi hidup, membesarkan Jona dan Joshua bersama-sama, rasanya di manapun akan tetap sama. Dan aku senang, kalau kamu selalu memikirkan berbagai faktor untuk aku dan anak-anak juga untuk setiap hal.

Suratku sudah panjang, masih akan lebih panjang kalau kutuliskan semua perjalanan 15 tahun kita bersama. Tapi aku mau bersyukur kalau kita bisa selalu bercerita tentang segala hal yang terjadi dan dihadapi. Tentang orang-orang disekitar kita yang terkadang terasa aneh buat kita, padahal mungkin juga kita yang aneh.

Bersyukur pada Tuhan yang sudah mempertemukan kita, dan berdoa semoga Tuhan yang selalu menyertai kita dalam setiap langkah kita bersama dalam keluarga kecil kita.

Love,

Risna

11 thoughts on “Dear Joe”

  1. Selamat ulang tahun pernikahan Kak Risna dan Mas Joe, semoga selalu bahagia, sehat sampai kakek nenek.
    Semoga tercapai semua harapan dan cita-cita ya.

  2. Halo teh Risna, seruu yaa berkisah tentang kisah cinta.. kebayang itu mah kalau diceritain semua. Kisah 15 tahun, bisa ngalahin panjangnya novel serial Bumi .anyway..happy aniversay yaa

  3. Hehehe. Meskipun ada kocak-kocaknya, terasa banget surat ini penuh cinta. Seneng deh baca surat ini. Semoga bahagia selalu ya Kak Risna!

  4. Walau apa adanya, so sweeeet banget surat ini. Iya kalau kitanya gak neko-neko, malah dapat yang cocok. Takdir nggak ada yang tahu ya. Semoga bahagia selalu teh bersama pasangan

  5. Risnaaa, manis sekali kisah cintanya. Skenario Tuhan memang selalu indah dan baguss. Tuhan Maha Baik. Semoga Risna dan Bang Joe bahagia selalu, juga bersama Jona dan Joshua. 🙂

    Btw ngakak yang bagian cowok baru dikenal tapi mamerin mesin cuci. Wkwkwkwkwkwk. Ampun dah, baru juga kenal sudah memberi clue agar nanti rajin bersih2 rumah.

  6. Duh udah baca 2 kali tetep so sweet banget sih ini. Aku juga nikah sama orang beda suku. Sama sama dari Sumatera Utara tapi dia Madailing sih hehe. Memang jodoh di tangan Tuhan 100% ya. Sejauh apapun kita mencari sesusah apapun kalau memang belum jodohnya ya nggak akan jadi. Sementara kalau sudah jodohnya apapun juga mungkin terjadi. Bahagia terus ya Kak Risna.

  7. Happy anniversary, Kak Risna! Walau ga bertabur bunga, romantisnya tetap kerasa, deh. Semoga bahagia selalu bersama keluarga yaaa…

  8. Selamat ulangtahun pernikahan kak Risna dan Mas Joe
    Makasih ya kalian terus mengiringi aku dan BL juga di dalam setiap jalan hidup kami. Terutama untuk Mas Joe terimakasih udah update server notingly, ihihihih

Tinggalkan Balasan ke ariestyasikin Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: