SosMed, Dulu dan Sekarang

Ini masih nyambung dengan nostalgia dulu dan sekarang e-mail, tapi sekarang mau bahas jejaring pertemanan alias sosmed. Masa awal internet mulai bisa dipakai umum, dengan segala pembahasan positif dan negatif, kebanyakan orang masih menjaga anonimitas. Sekarang ini dunia online sudah jadi ekstensi keberadaan kita di dunia nyata.

Pertama kali join jaringan pertemanan Friendster. Friendster awalnya jauh berbeda dengan Facebook sekarang. Jari kita menambahkan teman, dan diharapkan kita memberi testimony mengenai teman kita tersebut. Friendster berusaha menggabungkan platform blog juga ke jaringan pertemanannya, saya juga sempat ngeblog di Friendster, tapi pada akhirnya saya memilih kembali ke blog ini.

Continue reading “SosMed, Dulu dan Sekarang”

E-mail, Dulu dan Sekarang

Saya punya e-mail pertama dulu di layanan e-mail gratisan yahoo. User id e-mail pakai nick name karena merasa anonimity di Internet itu penting. Sempat punya beberapa e-mail gratisan dari layanan lainnya termasuk forwarder supaya e-mailnya lebih singkat ataupun terasa lebih keren. Dari sekian banyak alamat e-mail yang dipakai, yang akhirnya bertahan ya cuma yang pertama dibuat itu. E-mail itu bertahan karena user id nya dipakai juga untuk Yahoo Messenger. 

credit: foto dari huffpost.com
Continue reading “E-mail, Dulu dan Sekarang”

Kota Mana di Indonesia?

Awal datang ke Chiang Mai kami ga kepikiran bakal tinggal lama dan betah di sini. Waktu itu kontrak kerja Joe diawali dengan 4 tahun, dan karena kami baru menikah dan belum punya anak, ya saya bilang sama Joe kalau kita tinggal di sini sampai kalau anak-anak masuk SD. Waktu itu saya belum tahu apa itu homeschooling dan tidak terpikir bakal betah di kota yang bahasanya susah dibaca dan susah diucapkan.

Saya gak tahu, kapan persisnya kami akhirnya merasa betah di Chiang Mai dan malah mulai prefer stay di sini daripada pulang. Masalahnya, kalau ditanya: kapan pulang dalam arti kapan kembali ke Indonesia? saya sekarang tergantung pekerjaan Joe saja. Sekarang ini kontrak kerja Joe sifatnya permanen alias selama masih mau kerja di perusahaan di sini. Tapi jawaban yang kami belum bisa tentukan adalah: kalau pulang ke Indonesia bakal tinggal di mana?

Pertimbangan pertama: Jakarta. Saya ga pernah tinggal di Jakarta. Mertua rumahnya di Jakarta pinggiran, tapi ya kalau tinggal di sana kemungkinan stressnya bakal ga jauh beda dengan tinggal di Jakarta. Stress jalanan macet tentunya. Saya ga tahu, kalau tinggal di sekitar Jakarta saya akan berani nyetir atau nggak hehehe. Kemungkinan kalau terpaksa ya bakal nyetir juga kalau emang punya mobil. Kalau kata Joe, tenang aja, sekarang banyak Grab dan GoCar, kita pakai jasa taksi online aja, jadi ga harus stress nyetir di jalan.

Positifnya kalau tinggal di Jakarta, dekat dengan keluarga Joe. Gampang kalau berkhayal mau sering jalan-jalan keliling dunia urusan visa pastinya diurus di Jakarta dan kebanyakan penerbangan berangkat dari Jakarta. Karena kemungkinan besar kami akan memutuskan homeschooling, kemungkinan masalah antar jemput anak sekolah ga akan jadi masalah. Sekarang ini praktisi homeschooling juga semakin banyak di Indonesia, kemungkinan mencari kelompok homeschool gak akan jadi masalah. Di Jakarta banyak sepupu yang hampir seumuran dengan JoJo, jadi pasti ada teman bermain tetap paling nggak sekali seminggu.

Pertimbangan ke-2: Bandung. Sebelum kami tinggal di Chiang Mai, kami berdua lama tinggal di Bandung. Tapi ini ada keraguan, karena terakhir kali kami mengunjungi Bandung, kotanya sudah berbeda sekali dengan yang kami ingat. Jalanannya juga sudah jauh lebih macet. Plusnya, kalau pindah ke Bandung, biarpun macet pastinya ga akan semacet Jakarta. Kalau misalnya, ini misalnya, Joe pengen kembali terlibat mengabdikan diri mendidik mahasiswa menjadi programmer yang bener, ya bisa apply lagi buat jadi dosen heheh.

Pertimbangan lain: Medan, Laguboti, Solo, Batam, Bali. Sebenernya gak gitu pengen pindah ke Medan. Saya meninggalkan kota Medan sudah puluhan tahun lalu. Rute angkot saja saya sudah lupa semua, padahal dulu setiap hari keluar masuk sambu ehhehehe. Salah satu yang dipertimbangkan juga ke Desa Sitoluama, terlibat dengan DEL yang dulu pernah terlibat sebentar. Apalagi sekarang kan kabarnya bandara udara Silangit juga sudah selalu ada penerbangan setiap harinya ke Jakarta.

Kota Solo/Sukoharjo juga sempat jadi pertimbangan. Dengar-dengar kotanya cukup nyaman karena kecil dan ga terlalu crowded, tapi sejak dulu di pegang Jokowi, kotanya jadi cukup maju. Kota Solo juga dekat dengan kampung halaman Joe. Masalahnya kalau tinggal di Solo atau Sukoharjo, nanti saya harus belajar bahasa Jawa dong, padahal bahasa Batak aja saya udah menyerah ga pengen belajar hahahaha.

Sempat mempertimbangkan Batam juga. Konon Batam karena dekat dengan Singapur, banyak hal juga sudah cukup maju. Tapi sejauh ini kami gak tahu apa-apa soal Batam karena belum pernah ke sana. Kepikiran juga Bali, kemaren liat ada yang bilang kalau Bali itu kota untuk digital nomad juga seperti Chiang Mai. Tapi ya baru pernah sekali ke Bali, jadi ga punya kesan mendalam juga. Kemungkinannya memang bakal mirip Chiang Mai, banyak expat, banyak kuil, banyak tempat pijat dan alamnya indah yang merupakan tujuan wisata.

Sampai sekarang, kami tetap gak merasa klik dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada. Rasanya tinggal di Chiang Mai masih jauh lebih nyaman. Kota yang santai dengan akses internet cepat. Gak banyak mall, banyak coffee shop yang rasanya lebih enak daripada Starbuck dengan harga yang lebih murah dari Starbuck. Banyak komunitas homeschoolers, secara umum ga terlalu macet (sekarang ini macet cuma kalau jam keluar masuk sekolah).

Jadi karena belum bisa memutuskan mau tinggal di mana kalau pulang ke Indonesia, dan ya di sini pekerjaan juga masih ada, ya kami memutuskan untuk tinggal di sini selama kami punya ijin tinggal. Nantinya kalau memang tiba saatnya untuk memutuskan pulang ke Indonesia, semoga sudah menemukan alasan yang kuat untuk memilih kota yang akan menjadi tujuan berikutnya.

Produk Makanan Homemade atau Pabrikan?

Belakangan ini banyak orang mulai aware dengan kesehatan. Salah satu faktor yang diperhatikan selain berolahraga ya makanan yang dikonsumsi. Banyak yang klaim produk makanan homemade lebih sehat dibanding pabrikan. Kadang-kadang produk homemade dijual agak mahal dibandingkan produk pabrikan dengan alasan karena bukan diproduksi secara massal maka harga produksinya juga lebih mahal, bahan bakunya juga pilihan. Tapi ada juga beberapa produk tanpa brand yang malah jadi lebih murah. Alasannya? karena mereka ga harus bayar untuk ijin produksi ataupun marketing produk. Kadangkala orang langsung cepat bikin kesimpulan homemade pasti lebih baik. Benar ga sih begitu?

Di group FB Expat yang tinggal di Chiang Mai, kadang ada juga iklan jualan madu yang katanya asli 100 persen jaminan mutu, ada juga produk roti/kue, yoghurt, susu, kombucha, pressed cold juice, energy bar, dan terakhir saya lihat ada yang jual bacon dengan harga super murah. Saya sendiri ga selalu percaya dengan produk homemade pasti lebih baik, kecuali saya tau siapa yang memproduksinya dan atau memang sudah cukup banyak reviewnya tanpa ada review negatif.

Saya lebih memilih membeli madu produksi pabrik daripada yang katanya asli tapi ga ada brand, karena menurut saya, dengan adanya label pabrik dan ijin produksi, mereka pasti sudah jelas mempunyai  prosedur untuk pemeriksaan kualitas setiap botol produksinya. Membeli produk madu tanpa label itu agak riskan karena saya gak tahu apakah yang jualan menjaga higienitas peralatannya ketika mengumpulkan madunya.

Kebanyakan produk saya lebih percaya membeli produk pabrikan yang jelas ada tertera kapan expiry datenya dan mempunyai ijin produksi. Hanya untuk produk roti/kue yang akan dimakan segera, saya percaya untuk beli produk homemade atau produk bakery lokal.

Bagaimana dengan kopi? Di sini ada banyak sekali yang menjual biji kopi dengan klaim organik. Biasanya saya membeli kopi yang sudah jelas juga brandnya. Kalau ada coffee shop yang sudah cukup sering saya kunjungi dan rasanya cocok dilidah, baru saya pertimbangkan untuk membeli biji kopinya dari mereka dan biasanya dalam jumlah sedikit sedikit. Saya juga memilih kopi kemasan pabrik biasanya berdasarkan coffeeshop yang cukup besar dan punya nama secara lokal.

Homemade pasti lebih sehat? ya kalau homemade yang dimaksud kita bikin sendiri dan kita mengerti benar bagaimana cara mengolah bahan mentah. Dengan memasak sendiri, pastilah kita memperhatikan kebersihan dari peralatan masak dan area di mana kita masak. Homemade bisa ga sehat juga kalau kita ga tau cara mengolah daging dengan benar misalnya.

Produk kemasan pasti tidak sehat? Tidak selalu begitu. Contohnya, produk UHT itu bisa awet karena proses pengemasan dengan temperature tinggi dan bukan karena bahan pengawet. Saya lebih percaya minum susu yang sudah dipasteurisasi ataupun UHT daripada minum susu yang katanya susu murni baru diperah dari sapinya. 

Makanan segar/mentah pasti lebih sehat daripada makanan yang sudah diolah beberapa tahap? Gak selalu juga, membuat tempe ataupun yoghurt itu butuh diolah beberapa tahap. Tempe dan yoghurt itu prosesnya membutuhkan waktu lebih dari 24 jam. Saya lebih memilih makan tempe dan yoghurt daripada makan telur mata sapi yang tengahnya mentah. 

Tempeh Homemade

Beberapa waktu lalu, saya lihat ada yang jual bacon 1 kilogram harganya ga sampai 100 baht, padahal biasanya saya beli bacon 500 gram saja harganya hampir 300 baht. Tapi saya urung membelinya karena melihat fotonya seperti sisa-sisa potongan bacon yang dijual dipabrik. Agak bertanya-tanya juga, itu beneran bacon? hehehe.

Pada akhirnya, semua kembali ke pilihan masing-masing sih. Hanya saja perlu teliti sebelum membeli, jangan langsung terima asumsi homemade pasti lebih sehat. Karena dibuat di rumah sendiripun kalau cara pengolahan bahan makanannya salah, bisa jadi tidak sehat juga.

Cerita Kehidupan part 1

Hari ini akhirnya manggil tukang pijet lagi ke rumah, sebenarnya pegal-pegal sisa perjalanan minggu lalu sudah hilang, tapi ya kalau dipijat kan biar tambah enak badannya hehehe. Ngobrol-ngobrol dengan tukang pijat merupakan salah satu kesempatan saya berlatih berbahasa Thai, karena dia gak bisa bahasa Inggris sama sekali.

Kami mengenalnya sudah lama, dari sejak saya ga bisa bahasa Thai sampai akhirnya bisa mengerti banyak mendengarkan ceritanya. Jadi kepikiran untuk menuliskan kisah kehidupannya. Sebenarnya yang bikin menarik dari kisah kehidupannya adalah, dia pernah diramal, katanya sepanjang hidupnya dia akan hidup susah dan harus bekerja keras. Coba bayangkan kalau udah tau duluan hidup bakal susah kira-kira reaksi kita bagaimana?

Sebut saja namanya Pina, dia dulu bekerja di tempat pijat depan Condo kami tinggal. Dia merupakan orang yang pertama memijat saya di Chiang Mai. Dulu, kalau kami mau pijat, kami ga pilih-pilih tukang pijat, siapa aja yang lagi antri di tempat pijat itu ya terima saja. Kadang-kadang pijatan terasa ga standar, ada yang tenaganya kuat ada yang mungkin karena sudah memijat banyak orang tenaganya jadi tinggal sedikit. Pina ini termasuk yang pijatannya oke. Waktu itu dia masih berumur 40-an. 

Setelah beberapa lama, karena tempat pijat depan Condo sering tutup, pas Pina memijat saya lagi, saya minta nomor teleponnya. Waktu itu sebenarnya kami sudah beberapa tahun ada di Chiang Mai, dan saya masih tetap ragu dan gak percaya untuk memanggil tukang pijat ke rumah apalagi saya tetap ga merasa kenal dengan dia. Tapi saya pikir, ya minta dulu nomornya, nanti kalau mau panggil bisa coba telepon.

Setelah beberaa kali memanggil ke rumah, akhirnya saya mulai mendengarkan kisah-kisah kehidupannya. Dulu saya ga begitu memperhatikan dengan seksama, mungkin juga karena kemampuan bahasa saya merespon juga masih sangat terbatas. Sejak beberapa tahun terakhir ini kisahnya semakin membuat saya kadang-kadang berpikir. Walaupun dia pernah diramal hidupnya bakal susah sampai dia meninggal, dia ga patah semangat, dan dia tetap melakukan apa yang dia bisa.

Dia punya tanah di Mae Teng, sekitar 1 jam perjalanan dari Chiang Mai. Di tanahnya yang cukup luas itu, dia punya rumah yang ditinggali 2 anak laki-lakinya. Dia juga menanam pohon pisang di sana. Kalau habis panen, dia mengerjakan sendiri memanen pisang, membawa pisangnya ke Chiang Mai dan menjualnya ke berbagai warung. Kadang-kadang walau lagi ga dipanggil untuk pijat, dia mampir ke rumah dan mengantarkan beberapa sisir pisang yang masih mentah. Sebagai orang yang hidup pas-pasan, kadang-kadang dia juga membawakan jagung rebus atau cemilan buat anak kami ketika datang untuk memijat. 

Sekarang ini dia sudah berumur 50 tahun lebih, tenaga memijatnya sudah berkurang dibandingkan dengan 11 tahun lalu. Kami masih tetap menggunakan jasanya memijat selama dia masih bekerja jadi tukang pijat. Salah satu alasan kenapa kami masih memanggil dia ke rumah juga karena dia sekarang ini harus membesarkan cucunya yang berumur hampir 2 tahun. Cucu perempuannya ini dia rawat sejak lahir, anak laki-lakinya dan ibu dari cucunya tidak mampu merawat si bayi karena berbagai alasan. Jadi kami pikir, dengan dia memijat kami dia dapat penghasilan untuk membesarkan cucunya itu.

Kadang-kadang kalau mendengarkan cerita dan keluh kesahnya, cerita soal anak-anaknya, cerita soal ibunya yang dulu sakit dan akhirnya meninggal, cerita mengenai merawat cucu, cerita masa lalunya tentang suami-suaminya, saya antara kasian dan heran. Kasihan dengan pilihan kehidupnya yang membuat dia mengalami berbagai kesusahan, heran kenapa dia mau-maunya hidup begitu. Tapi ya, saya berusaha menjadi pendengar yang budiman. Saya tahu, dia gak minta solusi dari saya, dia cuma mau mengeluarkan unek-unek dan pendengar saja. Saya juga ga kepikiran solusi buat dia, ya kan saya ga tahu jalan pikirannya secara lengkap, jadi ya manalah mungkin saya kasih solusi.

Kembali ke cerita hidupnya, salah satu episode cerita yang saya ingat adalah: dia menikah muda, menikah dengan pesta besar. Tapi pernikahannya itu ga berlangsung lama karena suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Setau saya suami pertamanya ini masih tetap kontak dengan dia terutama untuk urusan anak pertama. Kemudian dia menikah lagi, dari pernikahan ke-2 dia punya 1 anak laki-laki lagi, dan pernikahan ke-2 ini pun ga berlanjut. Setelah 2 kali gagal menikah, dia pernah menikah lagi di usia 40 -an dengan seorang pemuda usia 30. Pernikahan itu ga bertahan lama, karena menurut dia si lelaki muda itu cuma jadi beban nambah urusan saja.  Setelah gagal dengan pernikahan ke-3 nya, dia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memikirkan mengenai laki-laki. Bahkan ketika mantan suami pertama menunjukkan indikasi mau balik lagi dengan dia, walaupun si mantan suami itu punya pekerjaan tetap yang artinya bisa untuk menghidupi Pina, dia menolak untuk menikah ulang.

Dengan status Janda beranak 2, dia harus bekerja untuk menghidupi anaknya. Anak-anaknya dia titipkan ke ibunya, dan dia bekerja di Thailand Selatan. Waktu saya tanya apakah dia pernah rindu untuk mengurus anak-anaknya, dia bilang ya rindu juga, tapi kan saya harus cari duit. Dia tadi cerita, saat anaknya sudah sekolah dan bisa menuliskan surat, anaknya mengirimkan surat rindu ke ibunya ini. Membaca surat anaknya, dia menangis di kamar mandi sampai lupa kalau lagi goreng ikan. Hampir saja rumah makan tempat dia bekerja kebakaran, karena api sudah naik ke penggorengan. Ceritanya sebenarnya sedih, tapi dia menceritakannya sambil tertawa-tawa. Mungkin kalau sudah berlalu, mengingat cerita sedih bisa bikin jadi lucu juga ya. 

Sekarang, anak-anaknya sudah besar, yang paling kecil berusia 30 tahunan. Teorinya harusnya dia sudah bisa santai karena anaknya sudah mandiri. Tapi kenyataanya, dia masih harus bekerja keras untuk membesarkan cucu dari anak pertama. Anak pertama ini, punya pekerjaan, tapi gak cukup untuk membiayai anaknya sendiri. Tinggalnya juga bukan di Chiang Mai. Otomatis Pina yang urusin cucu dari bayi. Kadang-kadang Pina mengeluh susahnya mengurus bayi di usia 50-an. Tapi pada dasarnya dia dulu juga ga mengurus anak-anaknya. Mungkin dia terbeban mengurus cucunya, karena merasa dulu dia juga menelantarkan anak-anaknya. Entahlah persisnya apa yang dia pikirkan. Tapi walau mengeluh, dia tetap mengurus cucunya.

Ceritanya agak random ya, masih panjang kisah kehidupan Pina ini. Lain kali akan saya lanjutkan episode-episode kehidupan Pina. Sebenarnya mungkin ada banyak kisah sejenis kehidupan Pina ini. Pelajaran dari kisah hari ini, dia tetap bekerja keras walau tahu hidupnya akan susah sampai akhir hayatnya. Dia mengeluh tapi tetap mengerjakan apa yang dia bisa dan tidak menyerah begitu saja.

Belajar Bahasa

Buat kebanyakan orang di Indonesia, dari kecil mereka sudah bisa paling tidak dua bahasa: Bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Sebagai orang Batak Simalungun, saya cuma mengerti sedikit dan gak bisa bilang klaim saya bisa bahasa Simalungun. Bahasa yang digunakan di rumah itu ya bahasa Indonesia.

Bahasa pertama yang saya pelajari selain bahasa Indonesia itu bahasa Inggris. Saya ingat, sejak kelas 1 SMP saya ikut kursus belajar bahasa Inggris. Saya ikut kursus dekat rumah, seminggu 2 kali sekitar 2 jam. Di kelas bahasa Inggris, pelajarannya di mulai dengan percakapan, lalu mulai diberi beban spelling, dictation dan grammar. Saya merasa kemampuan bahasa Inggris saya biasa-biasa saja walaupun waktu masa kuliah saya banyak juga membaca textbook dalam bahasa Inggris.

Waktu tingkat 2 kuliah, saat teman-teman saya beramai-ramai belajar bahasa Perancis, saya memilih kursus bahasa Jerman. Alasannya ya karena bahasa Jerman terdengar lebih gampang dikuping daripada bahasa Perancis. Tapi saya cuma belajar bahasa Jerman 1 term selama 6 bulan, sekarang ini saya sudah lupa dengan bahasa Jerman sama sekali.

Setibanya di Chiang Mai, untuk bisa berkomunikasi dengan orang lokal, mau ga mau saya berbahasa Inggris. Untuk belajar bahasa Thai, saya juga belajar menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa perantara. Sejak semakin sering dipakai, bahasa Inggris saya semakin banyak vocabularynya. Perbendaharaan kata dan pelafalan kata bahasa Inggris saya banyak bertambah dari menonton film serial asing dengan subtitle bahasa Inggris.

Sekarang ini, setelah 11 tahun tinggal di Chiang Mai, kemampuan bahasa Thai saya sudah tergolong lumayan untuk percakapan sehari-hari, tapi saya belum terbiasa dengan kata-kata di koran ataupun di berita TV. Saya juga sudah belajar untuk membaca bahasa Thai, tapi karena belum pernah memaksakan diri untuk membaca banyak hal dalam bahasa Thai, sampai sekarang kemampuan baca bahasa Thai saya tergolong beginner.

Buat saya, belajar bahasa itu hanya akan berhasil kalau ada kebutuhan untuk menggunakannya. Saya ingat, kemampuan bahasa Thai saya juga pernah hampir hilang karena lama ga dipakai. Sejak punya teman orang Thai yang gak bisa berbahasa Inggris sama sekali, akhirnya saya memaksakan diri untuk memakai bahasa Thai saya.

Kalau melihat dari cara belajar anak-anak berbahasa, saya juga bisa menyimpulkan, kemampuan berbahasa itu bisa hilang kalau tidak digunakan. Waktu Jonathan sekolah, dia hampir 100 persen menggunakan bahasa Inggris, kemampuan bahasa Indonesianya minim sekali. Waktu dia di daycare, dia bisa berbahasa Thai juga, tapi kemampuan bahasa Thai-nya itu hilang. Sejak homeschool, kemampuan bahasa Indonesia Jonathan meningkat, karena walaupun pelajarannya menggunakan bahasa Inggris, percakapan sehari-hari kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Sejak dia belajar kumon Thai, kemampuan bahasa Thai-nya juga kembali lagi, dia juga mulai bisa membaca teks bahasa Thai.

Cara belajar orang beda-beda, ada yang bisa belajar bahasa cukup dari menonton video saja. Joe belajar bahasa Inggris dari menonton sesame street. Joshua sekarang kemampuan berbahasanya kebanyakan bahasa Inggris, karena Jonathan lebih banyak berbahasa Inggris ke dia. Selain itu, Joshua ini tipe yang banyak belajar dari apa yang dia tonton. Lagu-lagu dan film yang dia tonton kebanyakan bahasa Inggris juga, sekarang kalau ngigau juga pake bahasa Inggris dia hahaa.

Saya tipe belajar dari mendengar. Saya ingat, setiap mau ujian dulu saya merasa ga siap, terus saya tutup buku dan mendengarkan teman-teman yang lagi sibuk menghapalkan. Ketika ujian tiba, saya bisa ingat apa yang teman-teman saya hapalkan hahaha. Waktu pertama belajar bahasa Thai, saya juga lebih suka belajar di kelas daripada belajar privat. Dengan belajar di kelas, saya mendapat kesempatan mendengarkan berulang-ulang kata yang baru dari teman-teman yang sedang ditanya oleh gurunya.

Sekarang ini ada banyak metode belajar bahasa baru. Kita bisa mengikuti kursus di kelas bersama murid-murid lain ataupun memanggil guru privat. Kita juga bisa belajar sendiri dari buku-buku. Bisa juga menciptakan flashcard untuk mengulang-ulang perbendaharaan kata. Cara terakhir yang sedang saya coba menggunakan aplikasi.

Menurut pengalaman belajar bahasa Inggris dan Thai, apapun metode belajarnya yang paling penting untuk bisa mahir berbahasa asing itu adalah menggunakan bahasa itu. Percuma belajar bertahun-tahun kalau ga pernah menggunakan bahasa yang dipelajari. Ada orang yang datang ke Thailand seminggu dan bisa menguasai banyak kata-kata sehari-hari karena kemungkinan dia punya keterampilan menguasai bahasa baru.

Bahasa Thailand merupakan bahasa asing pertama yang saya pelajari tanpa bisa membaca tulisannya. Sekarang ini saya masih tetap belajar membacanya dan sejauh ini masih gagal hahaha. Saya perlu mencari keterpaksaan untuk bisa membaca bahasa Thai. Saya sudah coba menambahkan beberapa teman orang Thai yang selalu bikin status bahasa Thai di FB, tapi saya lebih sering mengklik translate this daripada mencoba membaca apa yang mereka tulis. Saya juga ikut bergabung dengan Line Grup homeschooler orang-orang Thai, bagian ini juga sejauh ini lebih sering saya skip baca hahaha. Saya coba membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Thai, hasilnya saya bosan karena ceritanya kurang menarik. Saya mencoba menuliskan kembali apa yang saya baca, tapi karena belum nemu waktu yang tepat untuk melakukannya saya lebih sering lupa melakukannya. Ada yang punya ide bagaimana supaya saya bisa terpaksa menulis dalam bahasa Thai? jangan suruh saya ngeblog dalam bahasa Thai, karena belum sampai sana kemampuan bahasa Thai saya hahahaa.

Belakangan ini, karena ketularan wabah nonton kdrama (ini hal yang saya tahu harusnya ga saya mulai), dan karena Jonathan yang keukeuh mau belajar bahasa Spanish mengggunakan aplikasi Memrise, saya juga jadi iseng mencoba belajar Korea pakai aplikasi Memrise. Sejauh ini sih belum konsisten, tapi ternyata alphabet bahasa Korea jauh lebih mudah daripada bahasa Thai. Kapan-kapan walau mungkin belum benar-benar bisa berbahasa Korea saya akan coba tuliskan mengenai aplikasi Memrise untuk belajar bahasa asing.

Thanksgiving Day, Loy Kratong dan Yi Peng Festival di Chiang Mai

Hari ini, hari Kamis ke-4 dalam bulan November, orang Amerika merayakan Thanksgiving Day. Hari ini, malam bulan purnama di bulan ke-12 kalendar Lunar Thai, orang Thailand merayakan Loy Kratong. Loy kratong juga diikuti dengan Yee Ping Festival yang jatuh pada malam bulan purnama bulan ke-2 kalendar Lanna. Hari ini 22 November 2018, bukan hari libur di Thailand, walaupun banyak kegiatan berlangsung terutama di sepanjang sungai.

Di Chiang Mai, banyak expat dari berbagai negara dan tentunya juga banyak yang dari Amerika. Sangkin banyaknya, di Chiang Mai sampai ada konsulat Amerika segala. Hari ini beberapa restoran yang biasa menyajikan makanan Amerika dan hotel memanfaatkan momen yang ada untuk menjual paket dinner Thanskgiving Day, dan buat yang lokasinya dekat dengan sungai Ping, mereka memanfaatkan untuk menjual tiket makan malam perayaan Loy Kratong dan Yi Peng Festival.

Dampak dari beberapa perayaan jatuh di hari yang sama yang paling terasa adalah: banyak jalanan macet. Kalau saja ga punya kegiatan wajib, rasanya lebih baik ga usah kemana-mana. Akses jalan ke rumah kami, yang terdekat itu melewati daerah sungai Ping, dan kalau sudah begini, harus siap-siap kena macet.

Kami, sebagai orang Indonesia yang tidak merayakan Thanksgiving dan tidak merayakan Loy Kratong maupun Yi Peng Festival, biasanya cuma jadi penonton saja. Lokasi rumah yang dekat dengan tempat orang-orang menghanyutkan Kratong, membuat kami bisa dengan mudah melihat kegiatan mereka ini. Tahun-tahun sebelumnya, Jonathan pernah juga bawa pulang kratong yang dijadikan kegiatan di sekolah, jadilah kami ikutan sesekali menghanyutkan kratong di sungai.

Pertama kali tahu mengenai Loy Kratong ini, saya bertanya-tanya, sebenarnya kegiatan ini kegiatan keagamaan atau budaya? Ternyata asal mulanya lebih merupakan kegiatan keagamaan, tapi entahlah bagaimana, orang Thailand pinter aja mengemas kegiatan mereka menjadi sesuatu yang menarik juga untuk turis asing. Sekarang ini, saya lihat perayaan Loy Kratong dan Yi Peng festival lebih komersil dibandingkan religius.

Beberapa waktu lalu, saya dengar percakapan seorang Thai non Budha berkata kalau mereka tidak lagi ikut-ikutan menghanyutkan kratong, karena itu bertentangan dengan agama yang mereka yakini. Tapi salah seorang teman non Thai lain berkata kalau tetangganya yang bukan Budha mengencourage untuk tetap ikutan mengenalkan budaya Loy Kratong ke anak-anaknya. Kami sendiri sebagai non Budha, melihat keramaian Loy Kratong ini sebagai budaya yang menarik untuk diamati di Thailand.

Yang saya tidak suka dari acara Loy Kratong ini adalah: kadangkala orang masih main petasan lewat jam 10 malam. Masa anak-anak kami masih bayi, keributan petasan bikin anak nangis dan susah tidur. Beberapa tahun ini, pemerintah Thailand mulai meregulasi jam untuk bermain petasan, dan sekarang ini festivalnya lebih terjadwal dan gak bikin kaget tengah malam lagi.

Dampak negatif dari menghanyutkan Kratong juga ada. Awalnya, Kratong itu dibuat menggunakan bahan yang 100 persen biodegradable, bahan utama pelepah pisang, daun pisang, bunga-bunga dan lilin. Belakangan untuk membuat lebih indah, banyak juga yang membuat dengan styrofoam dan kertas. Tahun ini saya sudah melihat ada himbauan untuk memilih Kratong yang ramah lingkungan. Walaupun Kratong ramah lingkungan, biasanya hari berikutnya sungai Ping jadi terlihat kotor. Pemerintah di sini untungnya cukup sigap, mereka mengerahkan petugas dan volunteer untuk membersihkan sungai.

Dampak dari Yi Peng festival juga ada, kabarnya tahun ini hanya diijinkan beberapa lokasi untuk melepaskan lantern secara masal dan ditentukan jamnya. Untuk kegiatan ini, beberapa penerbangan di Chiang Mai juga harus direschedule. Kadang-kadang ada juga kejadian rumah terbakar dan atau pemadaman listrik karena ada khomloi yang jatuh di kabel listrik.


Jutaan khomloi dilepaskan ke angkasa memang terlihat indah, tidak heran beberapa tempat yang mendapat ijin mengadakan acara ini menjual tiket cukup mahal mulai dari 2ribuan baht.


Lalu bagaimana cara menikmati Loy Kratong dan Yi Peng di Chiang Mai dengan aman? kalau kami sih pilih jalan ke sungai dekat rumah, perhatikan kratong yang dihanyutkan orang lain. Sesekali perhatikan langit dan lihatlah komloi seperti kunang-kunang diangkasa. Kalau ingin ikut menerbangkan komloi, pilihlah lokasi yang memang diijinkan dan tiketnya tidak mahal. Kami belum pernah ikutan menerbangkan komloi massal, rencananya nanti saja kalau anak-anak sudah besar, jadi tidak risiko kehilangan anak di keramaian hahaa.


Tahun 2008, sebelum punya anak, kami pernah ikutan keramaian sekitar Nawarat Bridge. Pernah di posting di blog ini juga. Kemungkinannya tahun ini acaranya semakin ramai dibanding 10 tahun lalu. Kami memilih menghindar dari kemacetan dan keramaian tahun ini. Kalau ada yang pingin lihat foto-foto 10 tahun lalu, bisa cek linknya di posting 10 tahun lalu hehehe.