Kalung Salib dan Orang Batak

Banyak yang mengecam gue karena pernah menuliskan di blog ini kalau pesta batak itu ribet dsb dst. Kali ini gue bukan ingin membahas hal-hal yang ribet dari orang batak, tapi yang asik-asik saja. Cerita pengalaman hari ini ketika mobil kami gembos ban dan hampir membuat kami telat ke gereja. Di dekat rumah ada tukang tambal ban, maka kami berhenti di sana dengan niat jelas menambal ban, tapi ternyata dia tidak bisa menambal ban mobil, bisanya ban sepeda doang jangan-jangan :P. Nah, akhirnya terpaksa ganti ban dengan ban serep.

Awalnya, dari beberapa orang yang ada di sana, hanya melihat dari kejauhan bahwa kami sedang kesulitan dalam mengganti ban (ga ada yang terbiasa ganti ban sih). Beberapa menit kemudian, datang seorang bapak yang berbaik hati mendekat dan bertanya begini ke gue: “Orang Medan ya dek?” umm … saya bingung, aduh … muka gue batak banget apa yah:P, setelah gue menjawab iya, pertanyaan berikutnya ya jelas nanya boru apa. Ternyata bapak itu orang batak juga. Masih dengan keheranan gue melanjutkan perkenalan dengan bapak tersebut.

Karena penasaran, gue nanya: “Pak, tau darimana kalau saya orang batak?”. Terus jawabannya: “Itu saya lihat kalung salib yang dipakai, jadi kemungkinan besar orang Bataklah kalau Kristen.” Umm .. sebenarnya sih, ga semua orang Batak itu Kristen dan anehnya, bapak itu ngambil kesimpulan gue batak justru karena kalung salib, padahal ga semua orang Kristen batak kan :P, apalagi mengingat gue ditemani 2 pria yang jelas-jelas wajahnya jawa banget :p. Anyway, sejujurnya gue baru sekarang ini punya kalung salib, itupun hadiah waktu nikahan dari adiknya bapak. Dari dulu gue takut make kalung salib. Bukan karena malu mengakui gue orang Kristen, tapi karena beban mental aja rasanya kalau gue pake kalung salib tapi kelakukan gue malu-maluin. Gue takut kalau orang jadi ngambil kesimpulan yang salah tentang orang Kristen gara -gara gue. Gue suka sedih ngeliat orang – orang yang make kalung salib (atau aksesoris salib) tapi kelakuannya malu -maluin. Ya… gitu -gitu deh. Tapi hari ini kalung salib jadi membuat orang menolong kami. Well, diambil positipnya sajah. Kalau pake kalung salib jangan sampe malu-maluin, dan jangan malu memakai kalung salib.

Semoga tidak ada yang salah ngambil kesimpulan dari tulisan gue ini.

Menikah dan usia.

Akhir-akhir ini gue menyadari kalau begitu banyak remaja yang usianya sekitar 20 tahunan (bahkan kurang) yang sudah terobsesi atau bercita-cita untuk menikah. Tepatnya, mereka merasa sudah waktunya untuk memikirkan pernikahan (atau dengan siapa akan menikah nanti). Sebagian orang yang gue kenal (maaf kalau ada yang merasa), malahan ada yang takut sekali kalau tidak mendapatkan jodoh atau tidak akan menikah. Apa mereka salah memikirkan pernikahan? tidak, terus apa masalahnya? masalahnya adalah mereka belum waktunya menikah. Oke kalau memikirkan pernikahan dalam arti mencari tau apa yang perlu dipersiapkan untuk berumahtangga, tapi bukan menikah sekedar mencintai seseorang sampai maut memisahkan (romantisme basi!). Mungkin ada yang beralasan : ya..kan kita harus mengenal calonnya dulu sebelum menikah, kalau ingin menikah umur 22 ya ada baiknya mengenalnya sejak umur sebelum 20 dong. Well.. kalau gitu gue balik tanya, kalau ingin menikah umur 22, kira-kira seandainya dikaruniai anak, bisa ga ngasih makan anak? dan kira-kira kalau sudah umur segitu bisa ga hidup tanpa minta lagi dari ortu?

Well, gue sendiri orang yang baru dalam hal pernikahan ini. Secara sadar gue juga ga ingin hidup sendiri sampai akhir hayat, dan gue juga tidak pernah berniat untuk menikah di usia di mana banyak temen gue sudah punya 3 atau bahkan 4 orang anak. Tapi..terlepas dari kondisi gue saat ini, gue hanya heran, kenapa sih banyak orang yang takut tidak menikah? Saat ini gue mengenal begitu banyak wanita di atas 25 tahun yang sudah mulai gelisah mencari calon pasangan hidupnya. Bahkan ada yang berusia 30 tahunpun masih blank. Untuk usia yang sudah ditanya-tanya oleh orangtua, gue maklum kalau mereka mulai resah dan gelisah, tapi..apakah mereka harus menikah begitu ada yang bilang: “dek, nikah yuk!”.

Sejujurnya gue hampir jadi orang seperti itu. Gue bahkan sudah meminta jodoh dari ortu gue, tapi… ortu gue ga mau, gue disuruh nyari sendiri. Gue sempat berkencan buta dengan beberapa orang yang sesuai kriteria umum, tapi… gue masih waras untuk tidak membabi buta dan tidak ada yang mengena di hati gue. Banyak yang menasihati gue untuk “jangan pilih-pilih, umur jalan terus”, tapi.. rasanya statemen itu salah. Gue lebih setuju untuk bilang kita memang harus pilih-pilih, karena ini bukan sekedar pernikahan yang berupa pesta, surat nikah, punya anak demi meneruskan keturunan, tapi ini lebih berat ke orang yang harus dihadapi seumur hidup. Harus memilih orang yang memang bisa sejalan, seia sekata dan bisa mengerti dan dimengerti.

Ada beberapa orang yang menyalahartikan memilih dengan ungapan : “koleksi baru seleksi”. Jadi ada yang bilang untuk memilih kita harus punya pilihan, jangan hanya ada 1, dari sinilah orang mulai menduakan pacarnya. Padahal memilih itu harusnya dilakukan sebelum berkomitmen. Kita boleh memilih untuk menolak orang yang tidak kita sukai walaupun secara umur kita sudah dianggap usia menikah. Kita boleh memilih siapa yang kira-kira cocok dengan kita atau tidak. Kita boleh memilih kira-kira orang seperti apa yang kita harapkan menjadi pasangan kita.

Kembali ke para remaja 20 tahunan yang sudah memikirkan menikah, mungkin mereka kebanyakan nonton sinetron yang selalu happy ending, atau mungkin mereka hanya membaca cerita serial cantik ataupun dongeng pengantar tidur di mana ceritanya selalu berakhir bahagia. Apakah mereka pernah membaca tentang “bagaimana mengelola keuangan”, sedangkan mungkin saja mereka selalu mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari orangtua mereka tanpa mencari. Atau.. “peran suami dan istri dalam rumahtangga”, atau..”masalah-masalah yang mungkin timbul dalam keluarga” atau “cara berargumen yang baik”. Semua judul itu fiktif, tapi..setidaknya semua itu sudah harus terpikirkan sebelum menikah (selain masalah bagaimana membesarkan anak dsb).

Gue sering membaca berita “sepasang kekasih bunuh diri”, atau “pria membunuh kekasihnya”, atau “seorang bocah tanpa nyawa ditemukan di tong sampah” yang semuanya itu pelakunya kebanyakan remaja (kalau orang dewasa sebagian besar sudah cukup cerdas menyembunyikan kejahatannya). Kalau dari beberapa berita yang gue baca, gadis remaja biasanya dibodohin oleh pria yang tak bertanggung jawab yang waktu melakukan kejahatan itu ngakunya :”akan bertanggung jawab”. Halah, ga usah percaya deh dengan omongan busuk dari lelaki yang tak dapat mengendalikan dirinya, yakinlah, kalau sekarang dia ngomong gitu, besok2 dia akan bilang: sudah lupa tuh atau menghilang tanpa jejak atau ya macem2lah cara mengelak dari tangung jawab. Heran yah, masih usia belasan kadang sudah berani2nya bilang akan bertanggung jawab, lebih heran lagi ada gitu gadis belasan tahun percaya omongan cowo buaya?

Buat para remaja yang masuk kategori belasan dan awal 20 tahunan. Sebelum memikirkan dengan siapa yah nanti menikah, sebaiknya cari tahu lebih banyak mengenai pernikahan. Cari tahu yang pait-paitnya, jangan yang manis-manisnya doang. Cari tahu apa saja masalah yang muncul dalam pernikahan. Sedangkan buat teman-temanku yang belum menemukan pasangan yang tepat, jangan terburu-buru dalam memilih, pertimbangkan apakah menikah dengan orang itu akan lebih baik? kalau emang tidak lebih baik, lebih baik jangan. Lagipula, menikah itu tidak tergantung usia. Yakin dan percaya saja kalau jodoh itu ditentukan oleh Tuhan (sebagian orang mungkin ditakdirkan telat menikah, seperti gue!).

Kesimpulannya jangan menikah kalau hanya untuk menyenangkan orang lain atau karena dikondisikan atau karena ketakutan akan kesepian di hari tua atau karena dipaksa lingkungan. Menikah bukan karena usia. Menikah sekali untuk selamanya, sampai maut memisahkan (bukan karena sudah tidak ada kecocokan lagi!). Ah sutralah.. terlalu banyak teori, ntar gue diprotes lagi.

T Shirt from Opera

Today Mr. Postman came with a package from Opera. I had to pay Rp 7000 for the package (repackaging service from Indonesian Postal). It’s the t-shirt from opera watch-group writing project: opera mini. It’s the gift because of my post about opera mini. Thanks Mr.Daniel, I like the design, the size fits me and I look thinner on the shirt 😉 I love it. Thanks to Joe who encouraged me to write that post, love you!

Sebulan jadi Istri

Sudah sebulan ga hidup sendiri lagi. Sudah cukup lama ga posting panjang (mungkin posting ini pun ga akan panjang). Perasaan waktu sebulan ini berlalu dengan cepat, tapi ternyata dalam sebulan ini banyak tempat dijalani, banyak urusan yang bikin sibuk, dan baru beberapa minggu mulai memasak :P. Sebenernya pengen menulis banyak hal, persiapan menikah ala batak, kejar-kejaran dengan airasia, perjalanan ke bali, dsb dst. Tapi… bukan karena saya sangat sibuk, tapi terkadang sulit menemukan waktu yang tepat untuk menuliskan kalimat yang tepat (bahkan menuliskan posting ini juga masih rada sulit).

Anyway, hal-hal di atas akan dituliskan kemudian, sekarang ini saya sedang belajar memasak. Lebih 10 tahun jadi anak kost saya tidak pernah tergerak untuk memasak setiap hari, tetapi sekarang setelah jadi istri, memasak itu bukan karena kewajiban sebagai istri, tapi lebih sebagai upaya menghemat pengeluaran 😛 (pola pikir mulai pelit deh). Nah sebagai pemalas yang baru belajar masak, saya mencoba untuk lebih rajin memasak dengan menuliskan resep-resep untuk pemalas (seperti saya). Berhubung domain saya yang lain belum diisi, ya kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk memisahkan hal-hal berbau dapur dari blog ini.

Ah ya, setelah sebulan jadi Istri Joe dan hampir 12 tahun menjadi anak kost di Bandung, akhirnya…saya punya Kartu Tanda Penduduk Bandung, bukan KTP Musiman, bukan pula KTP Sementara. Tapi sepertinya saya sudah tidak terlalu membutuhkannya sih (dulu sih butuh buat buka rekening BCA, sekarang mah rekening BCA mau ditutup aja, ga ada yang ngisi sih :P).

Executive Lounge Citibank Ngurah Rai Bali

Liburan sudah selesai, sudah harus pulang ke Bandung. Setelah menikmati panasnya udara Bali hampir seminggu, berkeliling ke tempat-tempat wisata 2,5 hari dan sempat pake acara demam tinggi segala, akhirnya kami akan kembali ke Bandung.

Menunggu pesawat ke Bandung, perut lapar. Ah..mari kita coba executive lounge lagi. Seperti sebelumnya, tinggal bayar untuk 1 orang, lumayan daripada beli Mc D dan masih terkena panas. Harga Executive Lounge Bali 50.000 rupiah, masih lebih murah daripada di Polonia Medan (75.000 rupiah). Tapi ternyata…makanannya lebih sedikit 😛 terus…hotspotnya pake IM2, masih harus beli voucher lagi (mending juga pake 3G nya xl daripada bayar lagi).

Acara TV nya sepertinya di sini hanya ada siaran lokal (ga tau kalau di terminal luarnegerinya yah). Umm…sepertinya sekilas infonya sudah kepanjangan. Cerita liburannya, kalau sempet akan dituliskan kemudian, minimal foto-foto akan diuploadlah ke album.