Ngeplurk via Instant Messenger

Buat yang belum tahu apa itu plurk, silahkan melihat contoh-contoh plurk yang ada. Misalnya punya saya di sini. Buat Anda yang sudah tahu apa itu plurk, sudah tahukan Anda kalau sekarang kita bisa ngeplurk via Instant Messsenger?. Saat ini IM yang bisa memposting isi plurk kita masih Google Talk/Jabber saja, tapi mungkin ke depannya siapa yang tahu apalagi kejutan dari Plurk.

Saya tidak tahu sudah berapa lama fasilitas ini ada, tapi saya baru tahu hari ini. Caranya mudah, dari bagian My Account, anda bisa pilih Instant Messenger. Masukkan id gtalk Anda.

1 myaccount
Di sudut kanan atas pilih My Account
2 instantmessaging
Pilih tab Instant messaging, masukkan id gtalk Anda.
3 readytoplurk
Anda akan menerima konfirmasi seperti ini jika sudah memasukkan id gmail Anda.
4 followfriendplurkviagtalk 
Jika ingin mengikuti teman via plurk, pilih My Friends, lalu ubah IM follow menjadi on (defaultnya off).

Pertama kali kita harus menuliskan id plurk kita di id gtalk bot plurk. Selanjutnya apapun yang kita ketikkan di window chat dengan Bot, hasilnya akan muncul di posting plurk kita. Berikut ini contoh saya memposting plurk dari gtalk.

botplurk testplurk
gtalk dengan bot plurk hasil yang tampil di plurk saya

Kalau kita mengikuti plurk seseorang via IM, maka kita akan menerima semua balasan terhadap thread posting orang tersebut. Saat ini saya tidak tahu bagaimana mereply posting plurk via gtalk. Ada yang tahu bagaimana?

Ternyata saat saya menulis posting ini, Joe coba-coba dan nemu cara reply via gtalk. Begini caranya, perhatikan gambar berikut

replyplurk replyplurk2
#8ceos adalah id msg plurk  

ketika kita menerima post plurk, post tersebut disertai dengan tanda dash – dan ada # dan angka. Itu adalah id posting plurk. Untuk membalasnya, ketikkan saja id tersebut dan pesan balasan kita. Voila, maka ketika saya mengetik #8ceos sip sip, lalu pesan saya itu muncul sebagai balasan di thread testing saya sebelumnya. Ah ngeplurk jadi tambah asik dong sekarang 🙂

Yuk ngeplurk 🙂

Loy Krathong 2008

Ini bukan Loy Kratong pertama kami sejak di Thailand. Tapi taun sebelumnya kami memang terlalu malas untuk keluar rumah setelah seharian diluar rumah. Alasan lain sih pengen memfoto kembang api dan foto di malam hari dengan object bergerak dan banyak lampu. Mengambil foto malam hari dan memotret kembang api itu sulit ya :(. Tidak semudah teori-teori yang ditemukan di internet.

Sebenarnya tempat perayaan itu dekat sekali dari tempat tinggal kami. Kalau mau jalan mungkin 30 menit sampai, tapi karena kami bukan orang yang gemar berolahraga, kami memilih membayar orang mengantarkan kami ke sana. Wuih jalanan macet, biasanya perjalanan sekitar 7 menit jadi 30 menit. Sudah berpikir jangan-jangan membuat keputusan yang salah nih. Tapi namanya udah terjebak macet, ya sudah, teruskan saja.

Sampai di sana, suasana tambah rame lagi. Walau tidak tahu suasana medan perang, tapi bunyi petasan yang bersahutan, banyaknya orang dan juga bau mesiu dari petasan dan asap yg ada membuat kami merasa seperti di tengah medan perang. Kadang-kadang ada petasan yang membuat bumi yang dipijak terasa bergetar. Ya namanya selera orang beda-beda, saya tidak bisa menikmati suasana disana. Sibuk menunggu kembang api untuk di jepret akhirnya bisa membuat kami bertahan di sana beberapa saat. Yang agak menyebalkan adalah ada orang yang suka iseng melemparkan petasan ke dekat orang lain yang mungkin saja bisa membahayakan orang lain. Beberapa kali petasan meledak di belakang kami. Kuping rasanya sakit (penging) dan pernapasan juga terganggu karena bau asap petasan dan kembang api.

Berada di sana selama kurang dari 2 jam adalah saat yang penuh ketakutan selama di Chiang Mai buat saya. Takut tiba-tiba komloy jatuh ke saya, atau takut ada petasan meledak dikaki saya. Takut ada orang mabuk karena banyak yang menjual minuman alkohol juga. Takut ada copet karena begitu banyak orang di sana. Takut ada komloy yang nyangkut di tiang listrik sehingga menyebabkan kebakaran. Kesimpulannya, kami bukan orang yang suka dengan keramaian sejenis ini. Menonton film di kamar kami yang mungil sungguh lebih menyenangkan dan nikmat.

Anyway, kalau ada yang pengen tahu apa sih Loy Krathong itu? bisa di baca di Wikipedia saja yah. Yang jelas, malam loy krathong adalah malam bulan purnama. Dan kalau ada yang mau melihat foto-foto yang berhasil kami ambil di hari itu, silahkan mengintip di Google Photos (tadinya di flickr) saja.

Piggy Radio USB

Ternyata ga cuma celengan yang bentuk piggy. Radio bentuk babi juga lucu 🙂

Ceritanya beberapa hari lalu front office menelpon memberi tahu ada paket buat Joe. Agak bingung sejenak, karena resepsionis bicara dengan bahasa Inggris sepotong. Dia bilang box, mailbox. Terus waktu buka pintu keluar, loh kok ada surat depan kamar. Hmm…ga jadi turun deh. Asumsi maksudnya resepsionis itu ada mail alias surat ini. Itu surat juga surat yang dinanti-nanti soalnya 😀

Singkat cerita, hari ini pas ke bawah, tau-tau di kasih tau ada paket. Sebuah kotak kecil. Bingung karena ga berasa order sesuatu. Kalau saja kotak itu dialamatkan ke Risna, pasti sudah bisa diduga isinya benang, tapi ini dialamatkan ke Joe. Oh ya, alamat pengirim dengan bahasa Thai, dan walaupun sudah belajar baca tulisan Thai tapi karena alamat pengirim sudah agak tersobek, tambah malas membacanya. Ya sudah, langsung di buka, ternyata isina benda yang lucu ini.

Kenapa lucu? karena selain bentuknya babi, design benda ini cukup unik. Kuping kanan dan kiri berguna untuk scan atau reset. Hidungnya udah jelas jadi speaker. Ekornya jadi puteran volume dan buat mematikan/menyalakan. Lalu radio babi ini (atau babi radio ya?) bisa menggunakan USB sebagai sumber tenaganya. Pilihan lain sudah jelas pake batere AA 3 buah (bukan AAA seperti yg ditulis disitus yang jual). Oh ya, ada satu detail yang ga difoto, di bawah ekor itu ada colokan untuk menggunakan earphone ataupun kalau mau menggunakan digunakan sebagai speaker eksternal.

Kemaren ini sudah terpikir butuh mendengarkan radio Thailand lebih sering, untuk melatih kuping tetap terbiasa dengan tone dan tetap menambah vocab. Eh…tau-tau dapat radio ini. Lumayanlah buat hiburan di siang hari bolong yang belakangan ini sangat panas. Oh ya radio ini hadiah dari Kasikorn Bank, tapi ga tau kenapa cuma Joe yang dapat. Entahlah… yang penting happy, dapat babi nan lucu hehe.

Update: Oh ya, tadi Joe browsing dan menemukan situs yang menjual benda lucu seperti ini di Handhelditems. Harganya lumayan juga ;)) untung dapat gratis hehe.

Komentar di Blog

Dulu masa awal-awal saya ngeblog, saya sering diprotes oleh teman-teman saya yang mampir membaca blog saya. Mereka bilang: "Ah Ris, baca blog lu cape, panjang-panjang banget tulisannya, udah gitu tulisannya juga serius banget". Padahal seingat saya, masa itu saya menulis apa yang saya amati dan apa pendapat saya dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya dengan sekarang, dulu kalimatnya sangat tidak terstruktur, dan dulu lebih banyak bersifat "emosional". Sekarang ini, saya lebih memilih apa yang pantas ditulis diblog dan apa yang sebaiknya disimpan sendiri saja. Saya juga belajar untuk mengungkapkan emosi dengan pilihan kata yang to the point, tidak bermakna ganda dan diharapkan bisa dimengerti dengan baik.

Sejak blog sudah menjadi trend (yang terbukti tidak hanya sesaat), hampir setiap orang memiliki blog. Lalu mulailah terjadi berbagai hal perdebatan melalui media blog. Entah apa tujuan orang yang menuliskan hal-hal yang katanya tidak bersifat menyerang, tapi isi postingan tersebut secara eksplisit menyerang. Lalu akan terjadi perang komentar, di mana kadang-kadang pemilik blog tidak fair dengan menghapus komentar yang tidak dia inginkan. Lalu biasanya akan banyak emosi yang terkuras di sana sementara si penulis blog akan tertawa-tawa senang karena tiba-tiba blognya menjadi populer.

Saya heran, ada begitu banyak orang yang senang menuliskan komentar panjang lebar yang kadang-kadang lebih panjang dari postingan aslinya. Lalu seringkali pembahasan tidak fokus dan belok ke mana-mana. Saya heran, ada begitu banyak orang yang peduli dan terpancing emosi gara-gara tulisan di blog.

Buat saya pribadi, tulisan di blog itu buah pikiran pemilik blog (dengan catatan orang tersebut tidak mencuri postingan). Kalau saya tidak setuju dengan postingan orang lain itu hal yang biasa. Tapi daripada saya harus menuliskan panjang lebar komentar tentang ketidaksetujuan saya terhadap isi posting tersebut – yang mana ada kemungkinan dihapus – lebih baik saya menuliskan pendapat saya di blog saya.

Mungkin akan ada yang bilang: "Kalau begitu namanya bukan berdiskusi/berargumen dong". Maka jawaban saya adalah: kita bisa kasih trackback  blog kita di komentar posting blog yang ingin dikomentari. Tapi pada dasarnya saya lebih sering ga merasa perlu komentar sih. Lagipula saya sudah kapok berargumen dengan orang "idiot" dan tidak merasa perlu berdiskusi.

Di dunia ini tiap orang punya pendapat masing-masing. Kalau pendapat orang lain itu terkait langsung dengan kepentingan kita (mempengaruhi hidup kita), mungkin perlu memperjuangkan pendapat kita untuk didengar. Tapi kalau tidak ada pengaruhnya, lebih baik tidak usah dipedulikan. Pengalaman berbalas-balas komentar cuma menguras emosi dan ga ada gunanya, malah cenderung membuat mood jadi jelek yang mana tidak baik untuk produktivitas pekerjaan.

Saya ingin mengakhiri postingan saya dengan kalimat bijak dari internet yang saya setujui:

Never argue with an idiot. They bring you down to their level and beat you with experience.

Langit di Tepi Sungai Ping

Sekarang ini seharusnya sudah memasuki akhir dari musim hujan. Tadi siang matahari bersinar dengan garang. Sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela kaca, membuat mata saya beberapa kali memandang langit di luar jendela. Melihat gumpalan awan putih di langit yang biru cerah, saya langsung tergerak mengabadikan langit biru tersebut.

Walaupun kamera yang kami punya hanya kamera saku biasa, tapi senang rasanya bisa mengabadikan komposisi warna biru gradasi dan gumpalan putih di langit. Ah saya ga terlalu ngerti seni. Tapi saya tetep merasa, gradasi biru langit dan gumpalan awan putih itu indah. Kalau dari foto ini sih, adanya pepohonan hijau di sepanjang tepi sungai ping yang airnya berwarna coklat membuat harmoni warna bertambah lagi. Ah saya semakin sok tau seni saja.

Dan waktu sore hari, menjelang matahari terbenam, saya lihat semburat jingga di langit. Saya suka langit biru dan saya juga suka langit jingga. Dilihat lebih teliti, eh udah ada bulan sabit juga di langit. Ya sudah, sekalian deh di hari yang sama saya foto langitnya.

Oh ya, semua ini diambil dari jendela tempat tinggal kami di Chiang Mai. Dari lantai 9. Di tepi sungai ping saya berdiri dan memotret langit. Sebenarnya aslinya yang saya lihat lebih bagus dari yang dapat ditangkap oleh kamera saku saya. Tapi segini juga udah senang rasanya. Melihat ciptaan Tuhan yang indah dan bersyukur hari ini masih bisa melihat matahari tenggelam dan digantikan oleh bulan.

Ah kalau kamera saya lebih bagusan, mungkin bisa mengambil foto bintang di langit malam ya.

Mr. Bennet Masih Hidup

Hari ini saya ketemu Mr. Bennet. Jangan salah, ini bukan tokoh dalam Heroes atau film apapun, tapi ini nama sebenarnya. Jadi ceritanya hari ini saya makan siang di sebuah restoran Thai bersama Shari. Terus, setelah kami selesai makan, Shari ngebaca tulisan saya sambil ngasih komentar gitu. Tiba-tiba, si Mr. Bennet yang baru saja masuk ruangan nyerocos langsung dengan ramah seperti udah lama kenal dengan Shari. Padahal Shari baru ketemu dia ya hari itu. Saya bingung sejenak, karena Shari juga sepertinya menanggapi omongannya dengan baik.

Dari obrolan sekitar 5 menit pertama, Mr. Bennet cerita kalau dia sakit kanker dan dokter ngasih vonis waktu hidupnya beberapa bulan lagi. Jangan bayangkan dia bercerita dengan muka orang menderita atau sedih atau gimana. Umurnya saya ga nemu persisnya, tapi kira-kira 60 tahun, wajahnya terlihat lebih tua dari itu, tapi jalannya masih tegak tanpa tongkat, suaranya juga masih lantang. Sesaat saya pikir orang tua itu bercanda dengan penyakitnya. Tapi, setelah dia tunjukkan bekas operasi, kemoterapi dan radioterapi, saya ga bisa ga percaya. Beberapa kali dalam obrolah, saya agak bingung dengan berbagai pertanyaan di kepala saya, kenapa orang ini bersemangat sekali menceritakan tentang apa yang telah dia capai dan apa yang masih ingin dia lakukan, tapi diawali dengan pemberitahuan hidupnya tidak lama lagi?.

Obrolan siang tadi cukup singkat, total ga sampe 20 menit (dia yang ngomong banyakan), tapi sampai sekarang saya masih ingat banget. Pas kami pulang, dia lagi ngobrol dengan orang lain yang baru datang, dan mereka ngobrol dalam bahasa Jepang. Oh ya, dari obrolan tadi dia kasih brosur museum miliknya dan ada websitenya. Dari websitenya saya bisa liat, Mr.Bennet orang yang hebat dan emang masih punya cita-cita banyak, no wonder dia ga merasa kankernya menghalanginya untuk hidup. Kalau dari ceritanya, abis makan siang dia akan pergi ke sebuah konfrensi tentang kerajinan tangan, dan dia masih memuridkan orang yang mau menjadi pottery (ga tau bahasa Indonesianya apa), atau kalau mau belajar bahasa Jepang ataupun bahasa Inggris.

Baru-baru ini, saya dapat kabar mengenai 2 teman saya yang terkena kanker, dan sampai sekarang saya masih ga tau mau bilang apa ke temen saya itu. Saya bukan orang yang ahli untuk menghibur. Tapi, setelah hari ini saya ketemu si Mr. Bennet yang sangat bersemangat dengan hidupnya, saya seperti mendapat pencerahan. Orang sakit kanker itu masih hidup, dan tentunya masih bisa berkarya. Saya ga seharusnya mengasihani orang yang sakit, mereka masih hidup, masih full of life. Saya berharap mereka punya semangat seperti si Mr. Bennet. Kanker tidak menghalangi untuk berkarya. Kanker cuma penyakit, hidup masih lebih penting untuk diisi.

Buat teman saya yang mungkin saja nyasar ke blog ini. Saya berdoa semoga kamu tetap semangat melawan penyakitmu seperti Mr. Bennet. Jangan patah semangat kalau dokter menjatuhkan vonis. Umur di tangan Tuhan, yang terpenting adalah mengisi hidup. Toh semua orang pasti menghadap sang penciptanya.

Menjelang hari lebaran

Hari terakhir puasa, hari menjelang lebaran merupakan hari yang spesial buat umat yang merayakannya. Walaupun Joe dan saya tidak merayakan lebaran, tapi buat kami hari ini juga merupakah hari yang spesial. Kalau mengikuti kelender hijriah, hari menjelang lebaran sekitar 5 taun yang lalu merupakan hari dimana saya dan Joe berangkat ke depok bersama-sama naik bis umum, lalu dengan malu-maluinnya saya mabuk di jalan (padahal saya jarang sekali mabuk di jalan). Joe pulang ke rumah orangtuanya, saya ke rumah sepupu saya yang keesokan harinya akan berulang tahun. Menjelang maghrib Joe dan saya jadian.

Setelah sebulan umat muslim berpuasa yang otomatis sebulan Joe dan saya makan siang bareng. Selama sebulan kami berkenalan secara intensif (sebelumnya cuma kenal sebagai rekan kerja dan satu jurusan). Ya bisa dikatakan cukup intensif, karena obrolan dengan Joe selalu terasa berkualitas. Setelah bertahun-tahun mengenal Joe, rasanya kami tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Obrolan berkualitas itu tidak berhenti selama sebulan saja. Sampai hari ini kami masih sering mendiskusikan berbagai hal yang tidak terbatas pada bidang informatika.

Selamat merayakan lebaran buat umat yang merayakannya. Ijinkan saya meminjam penanggalan kalendar hijriahnya untuk merayakan hari saya jadian dengan Joe 🙂 .