SLI Thailand – Indonesia

Hari ini terima tagihan detail Xplor via email. Dan ternyata dari sekitar 13 sms yang dikirimkan di Singapura (waktu transit) dan Thailand, total biayanya 55.000 rupiah. Rate roaming singapura masih lebih murah, ada yang 1857 dan 2609 (tanpa ppn tuh). Kalau roaming dari Thailand setiap sms nya Rp. 3946 (blum ikut ppn juga). Mahal yaaa…. Untungnya itu buat ngirim sms doang, bukan termasuk nerima. Soalnya udah jauh-jauh ke sini tetap aja nerima sms ‘sampah’ dari XL *sigh*, males banget kan kalau harus bayar juga nerima sms tak penting itu.

Kalau dipikir-pikir, tarif sms internasional pake nomor lokal sini dengan operator true juga mahal, yaitu sekitar 9 Baht untuk 1 sms nya, kalau di hitung konversi 1 Baht = Rp.270, maka pake sms sini sekitar Rp. 2430. Tapi sesungguhnya, dibandingkan mengsms, masih lebih mending lagi nelpon aja pake Skype.

Nelpon 1 menit ke Indonesia (telepon rumah) €0.125 (Rp1492), kalau telpon ke rumah di Jakarta malah lebih murah : €0.072 (Rp. 860). Sedangkan kalau nelpon ke HP Indonesia €0.183 (Rp. 2184) tapi masih tetap lebih murah dibandingkan sms ke Indonesia. Well…masih ada alternatif lain tapi sepertinya kami memilih skype. Walau di awal harus beli kreditnya dulu 10 Euro, tapi ya..toh bisa diirit makenya. Selama sebulan ini saja 10 Euro blum abis (tapi sebenernya lain kali mendingan beli kreditnya yang 10 USD aja, biar ga usah banyak-banyak nyimpen duit di Skype). Kayaknya biaya yang selama ini dialokasikan untuk bayar biaya mobile phone bisa dialihkan untuk bayar internet hehehe…

Sebulan di Chiang Mai

Baru sebulan di Chiang Mai, tapi kok rasanya sudah lama banget ya. Setelah sebulan selalu menggeleng tiap orang sini ngomong pake bahasa Thailand, akhirnya mulai belajar bahasanya juga. Hari ini adalah hari pertama belajar. Untuk 5 minggu pertama belajar speaking and listening, mungkin setelah level ini selesai baru melanjutkan kelas menulisnya.

Btw, beberapa update tentang kota ini:

  • ternyata kota ini ga sepi-sepi banget, untuk jam-jam tertentu sudah mulai terlihat kemacetan lalu lintas (walaupun tetep aja masih lebih macet Bandung).
  • pengendara motor disini lebih parah dari pengendara motor di Bandung, bayangin aja, mereka umumnya ga pake helm, terus bawa anjing di boncengan, kadang-kadang sambil mengepit sesuatu di kakinya, dan satu tangan memegang handphone *buset deeeh*, belum lagi mereka suka muncul tiba tiba dari belakang baik dari sebelah kanan maupun dari sebelah kiri
  • sekarang udah nemu pengganti teh botol, ice tea! (perasaan teh botol emang teh hehe, ga terlalu mirip sih, tapi.. cukuplah untuk pelipur lara).
  • cara melafalkan huruf Thai masih lebih mudah untuk orang Indonesia dibandingkan orang Jepang, Amerika ataupun Perancis
  • mulai terbiasa untuk tidak ber sms 😛 (abisnya mahal sih), menelpon menggunakan account skype masih lebih bisa diandalkan
  • kecap manis di sini umumnya encer seperti kecap asin, tapi dengan sedikit usaha kecap manis yang kental bisa ditemukan
  • hawanya ga selalu dingin, ternyata lebih sering panassss, makanya orang disini selalu minum air dengan es batu, dan sepertinya mereka selalu merasa kepanasan

Udah, segitu dulu. Yang jelas, di tempat ini ada banyak kesempatan untuk belajar. Mulai dari belajar nyetir, belajar renang (buat Joe), belajar bahasa Thailand maupun belajar Yoga ataupun Thai Massage. Belum lagi urusan belajar untuk keperluan kerjaan :P. Terkadang memang harus jauh ke negeri orang dulu baru belajar dengan sungguh-sungguh ya :P.

Oh Ibu…

Setiap minggu kedua bulan Mei diperingati sebagai hari ibu di banyak negara (bisa disebut internasional). Saya rasa semua orang juga tahu peran seorang ibu sangat penting untuk setiap orang. Ibu yang mengandung selama 9 bulan, melimpahi dengan kasih sayang, membesarkan dan mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya (ya..tentu saja bapak juga ga kalah memegang peran untuk hadirnya seorang anak, tapi bukan itu yang sedang ingin dikemukakan dalam posting kali ini). Continue reading “Oh Ibu…”

Asli atau palsu?

Di Chiang Mai, banyak restoran yang didekorasi secara alami. Oh ya, satu poin tambahan buat Chiang Mai dibandingkan Indonesia secara keseluruhan adalah: banyak tempat makan enak yang sudah cukup ramai dikunjungi orang, dengan harga yang cukup masuk akal. Salah satunya tempat kami ditraktir di awal kami datang ke Chiang Mai.

img_0005img_0002img_0003

Uniknya tempat ini karena mereka berusaha membuat suasana berada di alam dengan pohon-pohon yang rimbun, tapi sebenarnya beberapa pohon itu palsu. Walaupun pohon palsu, mereka cukup niat menirunya. Coba liat toilet dan tempat cuci tangannya. Toilet modern, disebuah ruang yang ada pohonnya. Ada tisuenya kok, lengkap. Terus tempat cuci tangannya, seolah2 kita dapat air keluar dari pohon kayu gitu. Kereeen!.

Kesan berikutnya…

Huah… dari kemaren pengen posting, tapi ga pengen panjang-panjang, eh akhirnya malah ga posting-posting. Berikut ini fakta mengenai Chiang Mai yang menurut kami cukup untuk membuat kami merasa betah di sini :

  • zona waktu yang sama dengan Indonesia, GMT+7, sehingga tidak perlu repot menyesuaikan waktu untuk menelpon ke orangtua 🙂
  • cuaca yang cukup mirip dengan Bandung, walaupun so far Bandung masih lebih dingin
  • lalu lintas yang tidak terlalu macet, sehingga jarak yang cukup jauh bisa ditempuh dalam waktu yang relatif singkat
  • makanan yang enak dengan harga yang lebih murah daripada di Bandung
  • bumbu masakan yang sama dengan apa yang ditemui di Indonesia, bahkan di sini memakai lebih banyak bumbu daripada kita, sehingga mudah untuk memasak makanan Indonesia yang ingin kita makan (asal tau cara masaknya hehe)
  • internet unlimited 24/7 dengan kecepatan 1Mbps seharga 300 ribu rupiah :), lumayan untuk telpon VOIP ke rumah, download berbagai hal dan tentu saja streaming radio siaran Indonesia, bikin serasa tetap di Indonesia saja
  • tempat tinggal yang sangat dekat dengan pasar tradisional, sehingga bisa belanja sayur dan buah segar dengan mudah walaupun agak repot dalam berkomunikasinya
  • Furniturenya oke punya, masih baru pula.. jadi serasa main The Sims nih 🙂
  • Ada gereja berbahasa Inggris yang memberikan informasi yang sangat berguna untuk permulaan hidup di Chiang Mai, lokasi gereja yang cukup dekat dari tempat tinggal, dan kami berhasil menemukan sepasang orang Amerika yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Mereka sudah 8 tahun di Chiang Mai, dan baru sekarang bertemu orang Indonesia lagi (yeah.. feels like home)

Well, seenak-enaknya di negeri orang, pasti lebih enak di negeri sendiri. Beberapa hal berikut sebagai contoh:

  • Listrik dan Bahan bakar minyak tidak disubsidi, jadi mahal :(, padahal di apartemen perabotannya pada pake listrik dengan watt gede pula, semoga sanggup bayar nih 😐
  • Karena tinggal di apartemen yang ga boleh pake kompor yang ada apinya, jadi agak repot masaknya, harus adaptasi lagi
  • Masalah bahasa dan tulisan yang asing, mana jenis fontnya macem-macem lagi.. harus belajar dulu…
  • Biaya telpon seluler sesama operator sini memang murah, tapi.. biaya SMS jauh lebih murah di Indonesia. Huhuhuhu, SMS Internasional lebih mahal lagi :(, telepon lokal disini itungannya flat sekali angkat mau sampe berbusa juga bayarnya tetep, tapi sayangnya di sini ga ada yang bisa ditelpun 😛
  • Tinggal di rumah masih lebih enak daripada di apartemen, tapi ngurus apartemen lebih mudah daripada ngurus rumah (ceritanya kan di sini tanpa pembantu), umm.. bedanya, kalau di Bandung udah ga bayar sewa lagi, kalau di sini harus bayar sewa lagi deh…
  • Gak ada teh botol…huhuhuhu…. masa kudu ngimpor 🙁

Duh, karena udah malam dan agak ngantuk, ga konsen buat nginget2 lagi, well ntar diupdate lagi kalau ada yang diingat lagi. Segitu dululah. Overall bertemu orang yang bisa berbahasa Indonesia, bahkan bisa memasak rendang (catat, rendang!!), membuat kami merasa senang, ada orang yang bisa jadi tempat bertanya 🙂 .

Kalau ditanya: betah ga di sana? betah-betah aja tuh, setiap tempat ada plus minusnya. Enjoy ajaaa…!