Kesan Pertama

Ini hari keempat kami di Chiang Mai, kesan pertama yang didapat adalah:

– kota ini sepi (lalu lintas lancar)

– kota ini lebih bersih dari Bandung

– Makanan di kota ini enak dan murah (tapi bagi rekan kami yang Muslim, mereka agak kesulitan mencari makan)

– Bensin dan Listrik mahal (karena nggak disubsidi seperti di Indonesia)

Evolusi

Hampir di semua milis yang topiknya umum (milis ITB, milis angkatan, dll), di slashdot, dll, hampir selalu ada orang yang mempertanyakan teori evolusi. Biasanya teori penyanggah dinamakan Creationism, yaitu bahwa segala sesuatu diciptakan sudah seperti itu adanya, baik orang Kristen maupun Islam, keduanya punya tokoh yang dijadikan panutan (misalnya di kristen mengikuti tokoh-tokoh answers in genesis, dan di Islam ada Harun Yahya). Posting seperti itu biasanya akan menimbulkan debat yang cukup panjang.

Banyak orang yang terlibat debat, tapi cuma menghabiskan waktu. Sebagian menganggap masalah evolusi vs kreasi ini sangat penting, karena dasar agama (dengan interpretasi mereka) terletak pada apakah evolusi itu benar atau tidak. Sebagian lagi menganggap masalah ini tidak terlalu penting karena ini hanya masalah interpretasi kitab suci. Sebagian berdebat karena hanya ingin berdebat agar terlihat pintar (dan mungkin tidak ingin disebut sebagai “keturunan monyet”).

Lanjutkan membaca “Evolusi”

Sekalian …

Hmm, susah mau bikin judul posting. Mau nulis: “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”, tapi ke bali nggak pake kapal, apalagi merengkuh dayung. Mau nulis “Sekali ke Bali, dua tiga pulau terlampaui”, tapi setahuku ke Bali nggak lewatin pulau apapun 🙂 Intinya sih di Bali ini kami sekalian melakukan banyak hal.

Yah di Bali, kami mengikuti Asia OSS, sekalian “Bulan Madu” dengan (sebagian) biaya oleh panitia OSS, sekalian dapet kenalan sama orang Thailand buat persiapan ke Chiang Mai.

Menikah dengan gadis batak

Ini sebagian dari pengalaman dari acara pernikahanku dengan Risna. Pertama: hal yang paling sulit adalah mengingat harus memanggil apa terhadap orang-orang. Ini tidak mudah, di batak ada banyak panggilan sopan (istilah bataknya ‘tutur’) untuk aneka relasi dalam keluarga (misalnya: tulang, natturang, inang, bapak tua, bapak anggi, lae, namboru, dst). Jika tidak ada Risna maka saya harus berpikir keras, dan meski ada risna, panggilan risna terhadap kerabatnya akan berbeda dengan panggilan saya (misalnya kalau risna memanggil Namboru, berarti saya harus memanggil inang, dan mungkin bisa jadi harus dengan sebutan inang tua). Kapan-kapan penjelasan mengenai tutur ini akan saya tuliskan dengan lebih lengkap.

Ini nasihat saya untuk yang ingin menikah dengan gadis batak. Siapkan RFID tag untuk setiap tamu, lalu kantongi reader RFID, yang terkoneksi ke PDA dan gunakan headset bluetooth untuk memberi tahu harus memanggil apa tamu itu. Memang agak rumit (Anda harus menulis sendiri program untuk PDA-nya, ditambah lagi harus ada data mengenai setiap tamu yang hadir), tapi akan mempermudah Anda untuk memanggil seseorang :).