Review Mainan Tupperware Shape – O Ball

Saya baru tahu Tupperware memproduksi mainan juga setelah membeli bola yang berisikan puzzle bentuk-bentuk geometri ini. Waktu Jonathan masih 2 tahun, saya pernah melihat mainan seperti ini ketika sedang playdate di gereja, tapi saya tidak memperhatikan kalau bola biru merah ini merk tupperware.

Waktu Joshua masih bayi, saya gak sengaja menemukan mainan ini di sebuah toko barang bekas dari Jepang yang jualnya kiloan. Sempat pesimis kalau bentuk-bentuknya masih lengkap, tapi ternyata masih lengkap 10 puzzle bentuk di dalamnya. Serasa nemu harta karun deh.

Sejak Joshua masih belum bisa jalan, sekitar 1 tahunan dia sudah senang main dengan puzzle bola ini. Dia bisa main cukup lama dan berkali-kali walau sudah berhasil dia minta main lagi dan lagi.

Setelah agak lama saya perhatikan, baru saya melihat ada tulisan Tupperware di bola nya. Lalu saya juga baru mengamati, di dalam bentuk geometrinya ada angka dan titik-titik sejumlah angkanya. Kalau diperhatikan mereka berusaha membuat angka yang tercetak di dalamnya sejumlah sisi dari bentuk geometrinya. Mulai 1 untuk lingkaran dan 10 untuk bentuk bintang.

Selain bermain memasukkan puzzle ke dalam bolanya, Joshua juga berusaha menyebutkan nama bentuknya setiap kali sebelum memasukkan bentuk ke dalam bola.  Setelah dia mengenal angka, dia juga suka mengurutkan objeknya berdasarkan angka di dalamnya.

Barusan saya iseng membaca review benda ini, ternyata mainan ini merupakan mainan klasik dari puluhan tahun silam. Ada yang anaknya sudah berumur 30 tahunan dan mainan ini diwariskan ke cucuya. Kalau melihat dari material plastiknya memang cukup kuat, asalkan jumlah shapesnya nggak hilang, mainan ini memang bisa bertahan cukup lama.

Tapi sepertinya, daripada disimpan puluhan tahun, mainan ini akan saya donasikan atau dijual lagi saja. Lumayan kan bisa untuk beli mainan lainnya hehehe. Tapi untuk sekarang ini, walau mainan ini sudah terlalu gampang untuk Joshua mainkan, dia masih suka memainkannya cukup lama. 

Mainan ini selain mengenalkan bentuk dan angka, juga bisa dipakai untuk mengajarkan kata-kata buka, keluarkan, masukkan, urutkan. Ukurannya juga cukup besar dan tidak perlu kuatir di masukkan ke mulut, tapi juga tidak terlalu besar sehingga anak susah memegangnya. 

Kalau ada yang punya anak toddler dan bingung mau beliin mainan lagi, saya merekomendasikan mainan ini. Kalau bisa beli bekas saja, soalnya harganya barunya sepertinya cukup mahal. Asal bentuk-bentuknya masih lengkap, mainan ini masih cukup fun untuk dimainkan

Perjalanan sebuah Stroller

Stroller ini kami beli second hand dari orang yang anaknya sudah tidak mau duduk di stroller lagi. Menurut ceritanya mereka memiliki stroller ini selama 6 tahun dan dipakai oleh ke-2 anaknya. Kami membelinya ketika Joshua mulai bisa duduk, sebelum dia setahun sampai akhirnya beberapa bulan ini dia tidak mau lagi duduk si stroller karena sudah kesempitan. Stroller jaman Jonathan terlalu ringkih untuk membawa Joshua yang sejak kecil beratnya selalu diatas grafik anak seumurnya. Stroller bekas Jonathan kami berikan ke tukang pijet yang cucunya waktu itu sudah bisa duduk.

Kalau dipikir-pikir, stroller ini sudah di bawa ke banyak tempat. Keluarga yang menjual stroller ini ke kami bukan asli Chiang Mai, dan sepertinya dalam 6 tahun pastilah sudah banyak beberapa perjalanan dengan stroller ini. Kami saja yang memakainya sekitar 3 tahun, sudah membawa ke Indonesia beberapa kali. Yang jelas sudah dibawa ke Depok maupun ke Medan.

Untuk stroller berumur 9 tahun, benda ini masih sangat bagus dan kuat. Apalagi waktu awal kami membelinya, Jonathan kadang-kadang masih minta duduk di stroller juga (Joshua saya gendong). Beban yang dibawa stroller ini juga lumayan berat, Joshua saja kami bawa sampai dia beratnya 20-an kg.

Selain stroller, banyak barang-barang kebutuhan bayi yang kami beli second hand. Crib, car seat, baby gate juga contoh barang bayi yang bisa beli secondhand dan dijual lagi kalau sudah tidak butuh. Dipikir-pikir umur barang-barang bayi itu bervariasi, harganya juga kalau beli baru bisa jauh lebih mahal daripada membeli second hand. Kadang saya kepikiran kira-kira crib yang kami beli second dan sudah kami jual lagi, sekarang ini sudah berapa kali berpindah tangan.

Membeli benda bayi baru tentunya harganya lumayan mahal. Contohnya stroller ini saja kalau di cek di lazada, karena barang bukan asli Thailand, harganya masih diatas 10ribu baht. Waktu kami beli, harganya tinggal 2500 baht, dan sekarang ini masih bisa dipasarkan dengan harga 1000 baht. Mungkin pemilik berikutnya akan menjadi pemilik terakhir sebelum akhirnya rusak, kecuali baru sebentar pakai anaknya udah ga mau duduk di stroller lagi, mungkin masih bisa dijual kisaran 800 – 500 baht atau didonasikan ke orang lain.

Di kota ini, banyak orang asing yang kadang sekedar travel untuk beberapa bulan, ada juga yang tinggal bertahun-tahun tapi setiap tahunnya pulang ke negerinya, barang bayi seperti stroller, car seat, gendongan, mainan dan buku biasanya mereka bawa dari negeri asal. Bisa jadi mereka dihadiahi atau ya beberapa benda lebih murah di Amerika atau Eropa, dan mereka ga perlu kena biaya kirim ataupun biaya impor. Kalau beruntung, kadang bisa dapat barang bayi secondhand yang masih sangat bagus dengan harga kurang dari harga beli.

Anyway, tadinya mau cerita soal stroller tapi jadi cerita barang bayi pada umumnya hehehe. Tapi karena stroller yang biasanya dibawa jalan-jalan, kemungkinannya ya si stroller merupakan barang bayi yang paling banyak dibawa-bawa selain tas popok atau gendongan untuk yang prefer gendongan.

Kami lebih suka membawa stroller, biasanya bisa untuk membawa barang-barang ekstra digantung di stroller nya. Kalau tempat tujuannya tidak stroller friendly misalnya banyak tangga naik turun, bawa anak di stroller bisa bikin ribet juga. Stroller ini paling sering kami bawa ke mall, dulu Joshua mau duduk tenang dan di lepas sesekali waktu kami menunggu Jonathan latihan taekwondo. Sekarang ini stroller nya sudah terasa sempit untuk Joshua, dia lebih suka jalan atau lari menentukan tujuan sendiri. Waktunya menjual stroller untuk digunakan keluarga yang membutuhkannya.

Pengalaman Melahirkan di Chiang Mai

Hari ini 8 tahun yang lalu, saya pertama kalinya merasakan yang namanya proses bersalin. Awalnya kirain masih seminggu lagi karena perkiraanya 15 November, mama saya juga baru akan sampai tanggal 10 November. Tapi karena tanda awal sudah berasa, kami datang ke RS Sripat Chiang Mai untuk daftar dan periksa. Proses pendaftaran cukup cepat, tinggal bawa kartu riwayat kehamilan yang di bawa setiap cek ke dokter, passport trus mengisi beberapa form.

Hari itu dokter yang biasa memeriksa saya sejak awal sedang ke luar kota. Rasanya campur aduk, antara pengen bilang ke baby jangan keluar dulu, tungguin dokter dan oppung, tapi ya udah ga nyaman juga bawa perut besar dan kaki dan tangan yang bengkak.

Hasil periksa awal, ternyata sudah bukaan 4, jadi disarankan langsung stay di RS, padahal saya ga merasakan kontraksi yang berarti. Mulai dag dig dug karena bisa jadi bayinya lahir tanggal 8 itu juga. Hati saya tetap ga siap, harapan saya kalau oppung ga ada, minimal pas melahirkan saya ditangani dokter yang memang saya sudah kenal. Harapannya terkabul, dokternya cukup baik hati, walau dia baru tiba dari luar kota jam 8 malam, dia sempatkan periksa saya di Rumah Sakit.

Saya merasa lega ketemu dokter yang saya kenal dan lebih siap kalaupun melahirkan tanggal 8 itu, tapi ternyata kegelisahan saya bikin bayinya menahan diri ga berusaha keluar hari itu juga. Kontraksi ga teratur dan pembukaan tidak bertambah. Mulai jadi gelisah lagi deh, karena labor nya udah sejak malam sebelumnya, berarti lebih dari 24 jam dong. 

Keesokan harinya tanggal 9 November, pagi hari ibu dokter udah datang lagi memeriksa saya, karena pembukaan ga nambah, dokter sarankan induksi untuk membantu mempercepat pembukaan. Agak menyesal sebenarnya memutuskan induksi, karena kontraksinya jadi berasa sakit luar biasa. Sebelumnya sampai bukaan 4 itu, saya ga merasakan kontraksi apapun, setelah induksi rasanya gak main-main. Dokter yang menangani saya pro normal, jadi dia akan mengusahakan untuk pasien menjalani induksi dulu dan ga boleh langsung memutuskan caesar untuk anak pertama. Tapi ternyata setelah merasakan sakitnya kontraksi, saya siangnya demam dan detak jantung bayi mulai ga normal dan sore harinya akhirnya saya harus emergency caesarian.

Tadinya memulai posting ini mau cerita tentang rumah sakit, dokter, suster dan pelayanan secara umumnya. Eh udah panjang begini belum sampai ke tujuan semula haha. Kebiasaan ya kalau udah cerita ke mana-mana dulu.

Pengalaman melahirkan 2 kali di Chiang Mai, di RS yang sama, dengan dokter yang sama. Rumah sakitnya oke banget. Kamarnya kayak hotel, ada tv, kulkas, microwave, bed untuk yang nungguin dan bahkan ada 1 kursi sofa lagi kalau misalnya yang nungguin 2 juga cukuplah. Kamarnya besar, tentunya dengan kamar mandi di dalam. Saya terkagum-kagum hahaha, padahal harga paketnya ga lebih mahal waktu banding-bandingkan harga teman saya juga melahirkan di Bandung.

Dokternya pro normal dan pro asi, suster-susternya sangat membantu di hari-hari awal pemberian asi. Pas melahirkan pertama bahasa Thai saya masih sangat terbatas, mereka masih berusaha berbahasa Inggris ke saya. Pas melahirkan ke-2 tahun 2015, bahasa Thai saya semakin lancar, begitu tahu saya bisa berbahasa Thai, mereka langsung pake bahasa Thai. Akibatnya, saya yang pusing sendiri jadi pasien harus berpikir keras tiap mereka ngomong hahahaha.

Karena melahirkan pertama emergency caesarian, waktu melahirkan ke-2 saya langsung putuskan caesar terjadwal. Saya pikir akan lebih sedikit sakitnya, ternyata saya salah, karena jadwal operasi caesarnya pagi, otomatis puasanya jadi lebih panjang. Total puasa itu dari malam sebelum operasi jam 10, sampai keesokan hari setelah caesar jam 7 pagi. Itu rasanya mau pingsan, bukan cuma ga boleh makan tapi juga ga boleh minum. Totalnya hampir 36 jam kali ya saya puasa. Padahal waktu melahirkan pertama, keesokan hari setelah operasi saya sudah boleh makan. Jadi puasanya paling cuma 18 jam. Melahirkan pertama Joe boleh ikut masuk ke ruang operasi, eh melahirkan yang terjadwal suami ga boleh masuk (katanya sih ada peraturan baru dari rumah sakitnya).

Paket melahirkan di RS Sripat Chiang Mai ada 3 jenis, melahirkan normal, natural dan caesarian. Emergency caesarian disamakan dengan caesar. Paketnya termasuk biaya dokter, ruangan, perawatan bayi dan vaksin untuk anak. Biaya tambahan biasanya kalau ada komplikasi dan anaknya butuh obat ekstra. Melahirkan pertama, karena saya demam tinggi, Jonathan sempat diberi antibiotik dan diobservasi 1 malam, tapi tambahannya juga ga banyak kok. Pulang dari RS, akte kelahiran dalam bahasa Thai juga sudah selesai dan akte itu sudah termasuk dalam biaya melahirkan. Bersyukur banget ada paket yang super lengkap begini, jadi ga pusing-pusing lagi untuk urusan administrasi begini.

Oh ya, karena di sini akte lahir itu semua harus dalam aksara Thai, nama anak-anak kami di dalam akte juga dituliskan dalam bahasa Thai. Kami sengaja cari nama yang bisa dituliskan dalam aksara Thai juga. Walaupun banyak juga yang bilang, nanti waktu bikin translasinya bisa saja agak berbeda penulisannya.

Satu hal yang diluar dugaan, karena Joe membayar pajak ke pemerintah Thailand, biaya melahirkan kami bisa direimburse sebesar 13000 Baht. Jadi setelah keluar sekian baht, kembali duit 13000 baht. Kalau ga salah ingat dengan kurs tahun 2010, biaya melahirkan caesar pertama gak sampai 15 juta rupiah. Kurs tahun 2015, biaya melahirkannya sudah lebih mahal karena harga paket rumah sakitnya naik dan kurs rupiah melemah terus, tapi masih di bawah 18 juta rupiah. Biaya tersebut belum dikurangi 13000 baht yang dikembalikan pemerintah Thailand.

Setiap anak sampai umur 6 tahun juga mendapat tunjangan dari pemerintah Thai sebesar 400 baht sebulan. Nantinya kalau masuk sekolah di Thailand, dengan menunjukkan akte lahir, anak itu berhak mendapatkan harga Thai untuk uang sekolahnya. Tapi karena pada akhirnya kami memilih homeschooling, kami belum pernah nerima bagian potongan harga uang sekolah hehehe.

Pengalaman 2 kali melahirkan di Chiang Mai, semua rasanya baik-baik saja. Walau jauh dari keluarga, untungnya mama saya masih cukup sehat untuk datang ke Chiang Mai. Waktu melahirkan pertama, mama saya kami bikinkan visa turis supaya bisa tinggal di sini sampai 2 bulan, tapi waktu anak ke-2 lahir, mama saya di Chiang Mai cukup sebulan saja. 

Melahirkan di negeri orang, tentu ada urusan tambahannya. Untuk membuat passport anak-anak, kami harus urus translasi akte kelahiran dari bahasa Thai ke bahasa Inggris. Lalu translasi yang sudah disahkan itu di bawa ke KBRI di Bangkok untuk dibikin surat keterangan lahir. Surat keterangan lahir ini dilengkapi dengan surat menikah orangtua dan foto anak menjadi dasar untuk pembuatan Passport.

Masalah berikut adalah ijin tinggal anak di Thailand. Kebijakan pemerintah Thailand, untuk anak yang lahir di Thailand, tidak butuh ijin tinggal selama anak tersebut gak keluar dari Thailand sampai berumur 16 tahun, jadi kami cukup santai dan ga harus bawa bayi kami ke Bangkok untuk pembuatan passport dan visa, selama kami memang belum rencana ke luar dari Thailand. Untuk penerbangan dalam negeri Thailand, kami harus membawa fotokopi akte lahir bayi sebagai tanda pengenalnya.

Sekitar anak kami berumur setahun, kami baru urus passportnya. Jadi selama hampir setahun, kami ga pulang ke Indonesia. Waktu pulang pertama kali ke Indonesia setelah anak lahir, kami harus mengurus visa untuk anak kami yang berlaku 3 bulan, dan nantinya setelah tiba di sini akan diubah menjadi visa 1 tahun. 

Rencana menuliskan pengalaman melahirkan di RS di Chiang Mai saja, tapi jadi kepikiran menyampaikan informasi ekstra soal pembuatan dokumen untuk anak yang lahir di sini. Siapa tahu ada yang berencana tinggal di Chiang Mai dan butuh informasinya hehehe.

Kesalahan informasi dari penjual

Dulu tiap mau beli hp atau gadget, saya sering menghabiskan waktu lama buat nanya sama penjualnya. Tapi belakangan kebiasaan Joe menular ke saya untuk mencari tahu spesifikasi dan review dari internet dan kalau emang sudah yakin tinggal ke toko untuk membeli supaya ga perlu menunggu dan mendapat garansi lokal. Bagusnya mencari sendiri di internet kita bisa menemukan lebih dari 1 sumber dan tidak akan terjebak dengan ketidaktahuan penjual. Ini salah satu contoh penjual yang tidak mengerti barang yang dia jual dan membahayakan pembelinya. Ini spesifikasi car seat untuk bayi yang dia tulis dalam deskripsi produk, sepertinya copy paste tanpa mengerti maksudnya

image

Di atas disebutkan car seat untuk newborn sampai 24 bulan dan berat 20 kg, di situs lain untuk benda yang sama saya temukan carseat untuk sampai usia setahun dan berat 13 kg. Rata-rata car seat untuk bayi baru lahir model infant carseat merk lain bisa sampai 13 kg, saya pikir oke mungkin dia salah copy paste. Di deskripsi itu juga disebut posisi car seat rear facing alias hadap belakang dan disebutkan untuk tidak memposisikan car seat di kursi depan terutama yang ada airbagnya.  Lalu saya membaca bagian diskusi mengenai car seat ini antara penjual dan calon pembeli. Saya kaget banget karena penjualnya konsisten ga ngerti arti dari rear facing.

image

image

Saya sengaja memblurkan identitas toko maupun merk car seat nya karena tulisan ini sekedar buat mengingatkan kita untuk selalu mencari informasi sebelum membeli. Kalau kita tidak hati-hati, memakai car seat justru membahayakan buah hati kita.

Sebulan Joshua

Sebulan pertama dengan newborn merupakan masa penyesuaian baik untuk saya dan juga baby. Walaupun Joshua anak ke-2 dan seharusnya saya sudah punya pengalaman ngurus Jonathan tapi ternyata perjalanan ngurus anak pertama atau kedua masing-masing punya cerita sendiri. Sebelum lupa ada baiknya saya tuliskan proses kelahiran Joshua sampai sebulan hari ini. Puji Tuhan mama saya bisa datang ke Chiangmai untuk support saya selama sebulan pertama ini.

Masa hamil
Kehamilan Joshua ini hampir sama dengan masa hamil Jonathan, bahkan tanpa saya sadari berat badan pas awal hamil juga sama persis dengan pas hamil Jonathan. Total kenaikan berat badan juga hampir sama malah cenderung lebih lambat naiknya di 6 bulan pertama, 3 bulan terakhir naik lebih banyak sehingga akhirnya total kenaikan sama juga dengan kehamilan pertama yaitu sekitar 15 kg.

Trimester pertama berjalan mulus tanpa ngidam atau mual muntah kecuali pagi pas sikat gigi beberapa kali jadi muntah kalau terburu-buru untuk persiapan berangkat antar jonathan ke sekolah. Kalau kehamilan pertama saya ga nyetir sama sekali selama hamil, kehamilan kedua saya masih nyetir sampai seminggu sebelum melahirkan (minggu 38).

Secara umum kehamilan kali ini ga bisa terlalu manja juga soalnya mau ga mau ya tetap harus urus Jonathan, kerja (dapat kesempatan part-time lagi beberapa bulan sebelum hamil) dan sebulan terakhir sempat ambil kelas baca tulis Thai lagi. Bedanya di kehamilan Joshua, di Trimester terakhir tangan kiri mulai mengalami kesemutan yang masih terasa sampai sekarang sampai sebulan pasca melahirkan.

Selama masa kehamilan, Jonathan bertingkah manis menantikan adiknya. Dia mau membantu membuatkan susu untuk mamanya, dan ketika perut mamanya sudah semakin besar, dia sering kiss-kiss baby.

IMG_3138_resized
Lanjutkan membaca “Sebulan Joshua”

Selamat Natal 2012

IMG_00000142

Natal tahun ini kami rayakan di Chiang mai. Dan seperti tahun lalu kami ga mengikuti kebaktian malam Natal. Di sini kebaktian malam Natal itu mulainya jam 11 malam. Awalnya kami berencana untuk mengikuti kebaktian malam Natal, mengingat tahun ini kami tidak bisa hadir di Christmas Pageant seperti tahun sebelumnya, tapi kami batal pergi karena papa Jonathan masih capek sepulang dari Jerman. Kebaktian Natal jam 10 pagi kami bisa datang, karena kami sudah cukup tidur malamnya.

Kebaktian Natal hari ini sangat singkat, tapi tidak mengurangi semangat Natal itu sendiri. Pesan Natal kali ini adalah: What you really want for Christmas? Hmm… kalau saya sendiri sih merasa semua yang saya perlu selalu Tuhan sudah cukupkan. Banyak sih keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi di tahun ini, tapi banyak juga hal-hal di luar dugaan yang merupakan kado Natal buat saya dan buat keluarga kami. Keluarga kecil kami bisa bernyanyi, berdoa dan bersama-sama juga sudah merupakan kebahagiaan di hari Natal. Bisa merayakan Natal dengan teman di perantauan juga merupakan kebahagian ekstra buat kami. Makanya tadi sepulang gereja kami berkunjung ke rumah Timmy sahabat pertama Jonathan di Chiang mai, dan juga dengan khruu Ang, guru bahasa Thai kami yang sekarang jadi teman keluarga setelah mama papa ga belajar bahasa Thai lagi.

Tahun ini awalnya kami berniat membeli pohon Natal kecil untuk dipasang di rumah, pertimbangannya Jonathan sudah mulai mengerti dengan tradisi dan hiasan Natal. Tetapi karena sibuk mengurus ini itu, kami tidak jadi sempat membeli pohon Natal. Walau demikian tidak mengurangi makna natal, semoga tahun depan bisa terlaksana keinginan beli pohon Natalnya. Terpikir juga untuk pulang atau mengundang orangtua untuk natalan di sini, tapi situasi tidak memungkinkan juga. Semoga tahun depan ada kesempatan untuk merayakan natal dengan keluarga besar, entah itu di sini ataupun di Indonesia.

Salah satu hadiah Natal terbesar yang saya rasakan di akhir tahun ini adalah: saya bisa bekerja dari rumah tanpa meninggalkan Jonathan. Pekerjaan ini sebenarnya bukan pekerjaan yang baru buat keluarga kami, tapi baru sekarang kami terpikir untuk lebih serius menjalankannya. Sejak Jonathan mulai suka bermain dengan tablet, kami terpikir untuk membuatkan materi permainan sendiri. Papa Jonathan pun merintis pembuatan aplikasinya di sela-sela waktu luangnya. Menjelang Jonathan 2 tahun, saya sudah mulai bisa membantu mengerjakan aplikasi untuk playbook dan BB10. Sejauh ini penjualan aplikasi kami belum luar biasa (karena pengguna playbook tidak sebanyak pengguna ipad dan BB10 sendiri baru akan launch januari 2013), tapi rasanya senang bisa mulai punya penghasilan tambahan. Harapannya aplikasi yang dibuat bertambah terus dan penjualannya juga meningkat seiring waktu. Aplikasi yang pernah dibuat sebelum Jonathan 2 tahun bisa dilihat di posting ini.

Wat Ket-20121224-01982Sepertinya Tuhan membukakan jalan buat kami, ketika kami sedang giat-giatnya membuat aplikasi untuk playbook, RIM memotivasi developer playbook untuk membuat aplikasi untuk BB10 dengan hadiah 100 USD per apps. Target awal kami menyelesaikan 10 aplikasi untuk playbook sampai akhir tahun 2012, dan ternyata kami bisa membuat lebih dari yang ditargetkan untuk playbook dan BB10 (berkat motivasi  hadiah dari RIM hahaha). Dan di luar dugaan, kami ternyata juga dapat hadiah ekstra berupa playbook dan device BB10 alpha (device ini merupakan cikal bakal generasi berikutnya dari BB yang ada sekarang). Hadiah dari RIM sudah sampai tanggal 24 Desember kemarin, secara tidak langsung jadi hadiah Natal buat kami. Ini contoh hadiah Natal yang tidak diduga. Senang rasanya karena baru mulai bekerja 2 bulan, tapi sudah dapat bonus akhir tahun hahahaha.

Salah satu aplikasi yang kami buat tentu saja aplikasi Christmas Game. Berikut ini screen shoot nya:

Anyway, sementara ini aplikasi ini belum ada versi gratisnya. Semoga sebelum akhir tahun sempat merilis versi litenya.

Seperti saya bilang sebelumnya, Tuhan tahu apa yang kami perlu, dan dia selalu mencukupkan kebutuhan kami. Kalau Tuhan berkenan semoga kami bisa banyak merilisi aplikasi gratis selain aplikasi berbayar dan juga bukan hanya di playbook dan BB10 tapi juga bisa untuk di tablet lainnya.

Sekali lagi selamat Natal buat kita semua, dan selamat menyambut tahun yang baru 2013.

Game Puzzle Mesin Konstruksi

Jonathan suka sekali bermain puzzle di iPad dan Android. iPad ukurannya besar, dan  tablet Android yang kami miliki (Asus Transformer) juga sama besarnya. Biasanya kami membawa-bawa Playbook ke mana-mana untuk hiburan Jonathan, tapi mainan puzzle anak-anak kurang banyak di Playbook. Jadi saya memutuskan untuk membuatkan game puzzle untuk Jonathan sekaligus aplikasinya dijual.

Tema yang dipilih untuk puzzle pertama ini adalah mesin konstruksi (construction machines). Salah satu alasannya karena Jonathan suka dengan mobil-mobil mainan konstruksinya yang berwarna kuning.

Game ini sudah dirilis di Blackberry Appworld. Mungkin di masa depan akan dirilis di Ipad dan Android. Versi lite (5 Puzzle) bisa di dapat di sini dan versi fullnya (20 Puzzle) bisa dibeli di sini.

Untuk Anda yang memakai desktop dengan browser yang mendukung Flash, Anda bisa melihat demonya (versi lite di): http://yohan.es/demo/construction-puzzle/ Harap sedikit sabar, karena file SWF utamanya 3 mb.

Sebelum membahas mengenai detail implementasinya, saya berikan dulu gambaran mengenai aplikasinya. Berikut ini halaman awalnya. Di sini pengguna bisa langsung menunjuk gambar puzzle yang ingin diselesaikan.

IMG_00000130

Puzzlenya beberapa jenis. Misalnya yang standar seperti puzzle biasa seperti ini:

IMG_00000145

Sebagian sedikit lebih sulit karena tidak menampilkan garis:

IMG_00000148

 

Sebagian hanya melengkapi bagian kendaraan saja:

IMG_00000112

 

Dan sebagian melengkapi bentuk dalam sebuah scene:

IMG_00000136

Gambar-gambar puzzle ini dibeli dari VectorStock. Harga sebuah vektor di VectorStock bervariasi. Untuk standard license, sebagian besar biayanya 1 USD per file (satu file bisa cuma satu gambar, bisa juga banyak gambar), dan tidak boleh digunakan di aplikasi yang dijual (aplikasi gratis boleh, website boleh). Untuk expanded license yang mengijinkan penggunaan gambar untuk produk komersial, harganya mulai dari 25 USD per file.

Saya membeli dua file expanded license untuk aplikasi ini. Biaya VectorStock ini sangat murah dibandingkan situs lain dan hal ini membuat sebagian designer/artist kesal karena VectorStock ini membuat mereka sulit bersaing dengan situs lain. Sebagai developer, saya merasa harga ini cukup fair. File yang rumit dihargai lebih mahal di VectorStock.

Untuk masalah kode program, saya menggunakan haxenme yang baru saya pelajari baru-baru ini. Haxe memungkinkan pembuatan program cross platform dari satu source code. Game ini sebenarnya jalan di Android dan iPad (juga di browser), tapi masih butuh sedikit polesan supaya sesuai dengan ukuran layar Android  dan iPad.

Secara algoritma, game puzzle yang dibuat ini sangat sederhana, yang memakan waktu adalah membuat konten puzzlenya. Puzzle dirancang menggunakan inkscape oleh saya dan Risna. Untuk memudahkan pemotongan gambar, saya menulis program dalam Python yang akan melakukan pemotongan gambar secara otomatis (berdasarkan properti objek di inkscape). Dengan tools yang sudah saya rancang, rencananya kami akan merilis lagi beberapa aplikasi puzzle dengan tema yang berbeda-beda.

Jonathan menjadi tester utama kami. Dia sudah sangat lancar memainkan berbagai jenis puzzle di tablet lain dan semua puzzle ini bisa dimainkan oleh Jonathan. Jonathan juga menemukan beberapa bug kecil yang sudah saya perbaiki. Namanya saya cantumkan di bagian about sebagai tester Smile

register

Semoga puzzle-puzzle berikutnya bisa segera menyusul.