Kumpul Indonesia di Chiang Mai 2019

Hari ini ceritanya setelah sekian lama di tahun 2019 ini, orang Indonesia di Chiang Mai ngumpul lagi. Seperti biasa, ngumpulin lengkap itu tidak mudah, selalu ada yang lagi mudik dan atau tugas luar. Terakhir ngumpul itu waktu sosialisasi pemilu yang diadakan panitia pemilu, tapi gak lama, karena biasanya kalau bawa anak-anak ketemuan yang bukan di rumah itu anak-anak ga betah berlama-lama.

komunitas Indonesia Chiang Mai, Juni 2019

Komunitas Indonesia di Chiang Mai ini sangat dinamis dan sering berganti datang dan pergi, tapi silaturahmi tetap terjalin. Kebetulan beberapa waktu lalu, salah satu alumni Indo-CM berencana napak tilas ke sini setelah 3 tahun tak berkunjung ke Chiang Mai, nah kebetulan juga kan baru lebaran nih, dan kebetulan lain Joshua juga baru ulang tahun tanggal 6 lalu. Karena sudah ada beberapa alasan, ya jadilah saya mengajak teman-teman berkumpul dadakan. Ajakan ngumpulnya disambut dengan cepat dan senangnya karena banyak juga beberapa anggota baru yang baru menemukan kami karena baca blog ini hehehe.

Ibu guru yang pernah ngajar bahasa Indonesia di Chiang Mai untuk orang Thai.

Seperti biasa, kumpul-kumpul itu tentu tidak lengkap tanpa makan bersama. Nah senangnya di sini kalau ngumpul Indonesia artinya kesempatan makan makanan Indonesia. Masing-masing membawa apa yang bisa dimasak, lalu makan bersama. Senangnya lagi, kali ini warga baru Indonesia di Chiang Mai rajin masak dan bawain banyak masakan walaupun rumahnya jauh dari kota hehehe. Jadi hari ini makanan melimpah, dan saya masaknya seperti biasa cuma bakwan hehehe. Oh ya sekarang di Chiang Mai jadi ada 2 orang yang rajin masak rendang deh, yay.

Hari ini lupakan diet deh, semuanya sedap, lebih sedap lagi karena bisa ngobrol tanpa mikir terjemahan. Kumpul begini pengennya sih sering-sering, apa daya masing-masing punya kesibukan masing-masing jadi ya gak bisa sering-sering juga.

Oh ya, walau gak ada di foto, sebelum makan, pada minum mangga smoothies dulu, mumpung masih musim mangga. Selesai makan, setelah agak turun makanannya kita tiup lilin ulang tahun Joshua deh. Tiup lilin ini cuma alasan, sebenarnya biar bisa makan kue es krim coklat aja hehehe.

Senang deh bisa kumpul-kumpul begini. Anak-anak juga senang bisa main bareng dan tadi sih kedengarannya pada akur aja mainnya hehehe. Ibu-ibu senang bisa ngobrol santai karena ada pemuda pemudi baik hati yang jagain anak-anak pas main hehehe. Jonathan juga senang karena udah lama juga nih gak rame-rame begini. Terakhir ngumpul di rumah ini ya tahun lalu pas eyangnya di sini dan rayain ulang tahun Joshua hehehe. Mudah-mudahan sisa tahun 2019 ini masih bisa sering-sering ketemu dengan teman-teman Indonesia, apalagi kabarnya akan ada beberapa orang baru yang datang ke Chiang Mai (yay).

Oh ya, kalau ada yang ketemu tulisan kami ini, sedang tinggal di Chiang Mai dan ingin terhubung dengan orang Indonesia lain di Chiang Mai, bisa kontak kami lewat FB Page. Komentar di blog kadang-kadang tidak selalu ada notifikasinya, kalau kirim pesan di FB Page biasanya langsung bisa kami ketahui. Untuk yang rencana cari kerja di Chiang Mai, kami tidak bisa membantu karena kami juga pekerja biasa di sini. Untuk yang mau jalan-jalan ke Chiang Mai, kami belum tentu bisa menjawab semua pertanyaanya tapi ya kalau bisa dijawab akan kami jawab. Informasi seputar Chiang Mai juga sudah ada banyak di blog ini, bisa coba di cari dulu sebelum bertanya.

Makanan Halal, Bulan Puasa dan Lebaran di Chiang Mai

Malam ini saya hampir bolos nulis karena lagi gak ada ide mau nulis apa. Akhirnya keluar jurus bertanya dengan teman-teman di grup dan jadilah sesi tanya jawab agak random. Tapi jurus ini memang jurus paling ampuh untuk memaksa saya menulis hehehe.

Chiang Mai merupakan kota di utara Thailand yang mempunyai 3 musim, ada musim dingin (November – Februari), panas ( Maret – Mei ) dan hujan (Juni – Oktober). Tapi sudah beberapa tahun ini musimnya agak bergeser, misalnya musim dingin baru mulai dingin itu menjelang akhir tahun, atau seperti sekarang masih akhir Mei tapi sudah dinyatakan musim hujan walau kenyataannya siang hari masih panas mencapai 40 derajat celcius. Musim dinginnya sih lumayan bisa antara 12 – 23 derajat celcius suhu harian, dan untungnya gak ada salju, karena buat saya dingin 15 derajat aja kepala udah pusing, apalagi kalau sampai ada salju.

Kembali ke judul, karena sekarang ini sedang bulan puasa, teman-teman banyak yang pingin tahu mengenai suasana bulan puasa di sini. Walaupun kami bukan Muslim dan tidak berpuasa, tapi karena ada beberapa teman dalam komunitas yang berpuasa, saya bisa dapat cerita dari teman-teman. Berbeda dengan di tanah air, di sini yang namanya hari besar agama itu yang diliburkan cuma untuk hari besar agama Budha. Jadi namanya Lebaran atau Natal sekalipun, walaupun di beberapa lokasi terasa suasananya, tapi tidak dijadikan libur Nasional. Setahu saya untuk Thailand bagian selatan yang dekat dengan Malaysia, mereka punya libur Lebaran tersendiri. Tapi di utara sini, bulan puasa itu terasa hanya di restoran Halal di sekitar Mesjid saja. Seperti di Indonesia, ada acara buka bersama di mesjid dan tentunya sholat taraweh. Tahun ini dapat cerita kalau ada teman sesama orang Indonesia yang selama setahun di Chiang Mai belum pernah ketemu komunitas orang Indonesia, akhirnya tanpa sengaja bertemu di masjid ketika mencari makanan untuk berbuka.

Rumah kami lokasinya dekat dengan jalan Changklan, di jalan Changklan ini ada 1 Masjid dan disekitarnya ada banyak restoran halal. Saya suka beli sup daging dari sebelah Masjid karena rasanya cukup mirip dengan sup daging di Indonesia, nah di bulan puasa ini restorannya tutup di siang hari, jadi selama bulan puasa saya gak bisa beli sup daging di sana untuk makan siang :(.

Di ujung jalan Changklan merupakan lokasi Night Bazaar. Persis di tengah Night Bazaar ada sebuah masjid lagi dan jalanan di depan masjidnya namanya Halal street. Dari nama jalannya jelas ketahuan kan di situ bisa cari makanan halal dengan mudah. Jadi kalau jalan-jalan ke Chiang Mai gak usah kuatir soal makanan halal, pastikan aja nyari penginapannya di sekitar Night Bazaar, biar gak repot nyari restoran Halal nya heheheh.

Dibandingkan dengan 12 tahun lalu, mencari makanan halal di Chiang Mai memang sudah lebih gampang. Kalau kita masukkan kata kunci halal restaurant in Chiang Mai, ada banyak informasi yang bisa didapatkan. Contohnya dari situs ini. Belakangan ini juga sudah ada acara festival makanan Halal beberapa kali di kota ini.

Selain di jalan Changklan, ada juga beberapa penginapan yang mengelola restoran halal. Nah informasi ini lengkapnya ada di teman saya. Kemarin saya diberitahu juga ada aplikasi Smart Halal untuk mengecek restoran Halal ada di mana saja di Chiang Mai, sayangnya barusan saya cek, aplikasinya tidak kompatibel lagi dengan HP saya, jadi saya tidak bisa menuliskan lebih banyak soal aplikasi itu.

Berikutnya cerita soal lebaran di Chiang Mai. Karena di sini tidak libur, biasanya teman-teman kami yang merayakan lebaran ya gak bisa mudik lama. Kalaupun mudik harus ijin khusus. Tapi kalau memang merindukan suasana lebaran, disini juga ada Sholat Ied nya kok. Selesai sholat biasanya restoran di sekitar mesjid akan mengadakan open house. Nah disitulah kesempatan untuk melupakan sejenak kalau sedang jauh dari tanah air.

Salah satu kegiatan komunitas Indonesia di Chiang Mai juga ngumpul di hari lebaran. Nah yang ini sih ngumpulnya gak persis hari lebarannya ya, tapi biasanya pas hari Sabtu atau Minggu kita ngumpul dan masing-masing membawa masakan khas yang bisa dimasak sendiri. Acara ngumpul hari lebaran ini gak setiap tahun diadakan, tapi saya ingat ada beberapa kali diadakan. Walaupun gak selalu ada rendang dan opor ayam, tapi kebersamaan dengan teman-teman sesama orang Indonesia melepaskan rindu kampung halaman sejenak. Rencananya tahun ini akan ngumpul lagi, semoga jadi dan ada yang masakin rendang atau opor ayam hehehe.

Naik Tuktuk di Chiang Mai

Kemarin baca berita kalau di Jakarta sekarang ada Grab Bajaj. Terus jadi kepikiran dengan Tuktuk di Chiang Mai. Selama tinggal di sini rasanya naik Tuktuk itu kurang dari 5 kali. Saya gak suka naik tuktuk, soalnya sama seperti Bajaj, mesinnya suaranya berisik. Di sini supir tuktuk juga suka ngebut dan nyalip-nyalip gitu jalannya. Kalau gak terpaksa rasanya gak ingin naik tuktuk.

Ketika sedang ngobrolin GrabBajaj yang berlanjut ke ngomongin tuktuk, Jonathan nguping dan bilang gini: emang tuktuk itu apa sih? . Jonathan ternyata lupa kalau dia sudah pernah naik tuktuk, tapi memang terakhir naik tuktuk itu sebelum ada Joshua jadi bisa dimengerti kalau Jonathan gak ingat hahaha. Siapa sangka kalau setelah ngobrolin Tuktuk kemarin, hari ini saya perlu naik tuktuk. Tapi Jonathan gak mau diajakin naik tuktuk, soalnya udaranya tadi siang panas banget.

Kursi komputer di belakang tuktuk

Ceritanya kursi komputer Joe rusak setelah kurang lebih 5 tahun, kemarin nyari di mall kursi yang ada itu kursi untuk main game dan harganya lumayan mahal. Jadi tadi nyarinya yang di dekat rumah saja (dekat tapi gak deket banget). Harganya lumayan beda banyak dari harga yang di mall, tapi tokonya tidak ada jasa pengantaran kalau cuma beli 1 kursi. Nah mobil kami jelas-jelas gak muat bawa kursi komputer di bagasinya. Pemilik toko yang usulin pakai tuktuk saja. Karena saya pikir toh tidak jauh, ya bisalah pakai tuktuk diangkut. Jadilah tadi kursi komputernya diikat di belakang tuktuk, dan saya duduk di bagian penumpang untuk memberi tahu arah ke rumah.

Di Chiang Mai, Tuktuk dan Songtew merupakan taksi tanpa argo tanpa AC yang ongkosnya tentunya lebih murah daripada taksi biasa. Selain membawa penumpang, mereka juga biasanya jadi pilihan untuk membawa barang yang tidak bisa dibawa di bagasi mobil kecil. Biayanya tentunya lebih murah daripada harus menyewa mobil pick up misalnya. Saya juga pernah melihat orang pindah rumah menggunakan jasa Songtew atau tuktuk. Sepertinya karena sering membawa orang yang membawa barang-barang besar, supir tuktuk tadi juga langsung cekatan mengeluarkan tali dan langsung tau bagaimana mengikat kursi di belakang tuktuknya tanpa kuatir kursi itu akan jatuh.

Foto di dalam tuktuk

Karena jarang naik tuktuk, saya lupa ternyata di Thailand, supir tuktuk juga wajib mencantumkan identitasnya seperti halnya yang ada di taxi. Saya perhatikan, bagian atas tuktuk dilapisi dengan foil, sepertinya upaya untuk mengurangi panas di dalam tuktuk. Sofa penumpang dan jarak ke depan juga cukup luas. Kalau misalnya terpaksa, ayah, ibu dan 2 anak masih bisalah duduk bareng di tuktuk, dengan catatan tuktuknya jangan ngebut. Hari ini saya merasa beruntung, karena supir tuktuknya menyetirnya tidak ngebut dan sangat hati-hati, mungkin juga karena dia takut kursi yang diikat di belakang tuktuknya jatuh. Image tuktuk yang ada selama ini tergantikan dengan pengalaman baik hari ini. Kapan-kapan kalau iseng mau ikutan wisata naik tuktuk keliling Chaing Mai ah hehehehe.

Girls Talk

Hari ini saya bertemu dengan grup merajut lokal. Saya bertemu dengan lebih banyak lagi teman baru. Ada 10 wanita berkumpul membawa rajutan masing-masing, sambil ngopi ataupun nyemil. Dipikir-pikir, selama saya punya hobi merajut, baru kali ini saya punya kesempatan merajut bersama seperti ini.

Walaupun saya tergolong anggota baru, mereka yang umumnya lebih tua dari saya sangat ramah dan sudah seperti kenal lama saja (sepertinya ada yang lebih muda, tapi anggaplah saya paling muda hahaha), sambil merajut tentunya sambil berkenalan dan ngobrol. Obrolannya juga seru. Hobi yang sama bisa membuat topik apa saja jadi terasa nyambung.

Topik utama yang membuat semua berseru kagum atau mata berbinar-binar: benang dan perlengkapan merajut! Ya namanya juga grup merajut, tentunya benang itu bahan baku utama selain jarum rajut. Setiap ada jenis benang baru atau toko benang lokal yang tidak semahal toko benang import, semua langsung pengen tahu di mana persisnya. Dalam hati saya jadi teringat dengan masa awal saya mulai berhobi merajut ini dan berpikir: jadi kira-kira beginilah kelakuan saya waktu itu setiap lihat benang hahaha.

Ada anggota yang sering travelling, dan setiap bepergian tak lupa berburu benang. Jadi dia punya banyak sekali koleksi benang. Aduh benangnya bagus-bagus dan lembut. Untungnya sekarang saya sudah tobat untuk tidak berbelanja benang kalau memang belum habis yang sudah ada. Semoga tetap bertahan seperti sekarang dan tidak tergoda kalau keseringan liat benang bagus.

Topik-topik obrolan lainnya juga sangat beragam, mulai dari ngomongin anak milenial, cerita jaman sebelum ada internet yang terasa seperti jaman dulu kala (padahal belum selama itu), bertukar info soal dokter atau tips sehat, dan juga problem yang semua wanita akan alami: gangguan hormonal dan menopause. Saya jadi tersadar, sebelumnya saya gak pernah menghadiri grup yang terdiri dari wanita semua seperti ini. Kalaupun ada ikutan grup di facebook atau mailing list, tentunya berbeda dengan grup yang bertemu langsung seperti ini. Sambil ngobrol, tangan tetap bisa bekerja, jadi bukan sekedar nongkrong tanpa hasil.

Grup merajut ini anggotanya dari berbagai negara. Ada yang dari Brazil, Jepang, Myanmar, Korea, Canada, England, Perancis dan tentunya saya dari Indonesia. Kadang-kadang obrolannya berganti sendiri dari berbahasa Inggris ke bahasa Thai. Sepertinya karena sudah cukup lama tinggal di Thailand, kosa katanya lebih cepat menemukan kata dalam bahasa Thai daripada bahasa Inggris. Padahal semua ngakunya tidak lancar dalam berbahasa Thai.

Kalau melihat dari kecepatan mereka merajut, sepertinya saya yang paling lambat menyelesaikan rajutan. Tapi kali ini saya mau menikmati saja merajutnya, namanya juga hobi, harus dinikmati bukan untuk berlomba atau kejar setoran toh. Proyek yang kemarin sudah selesai, waktunya menentukan mau bikin apa selanjutnya. Memilih proyek rajutan ini terkadang bisa lama, seringnya malah terjebak browsing berlama-lama dan tidak juga memutuskan mau bikin apa. Sepertinya saya akan pakai jurus yang sama dengan sebelumnya: minta masukan dari temen-temen di grup dan langsung dikerjakan saja hehehe.

Review: Kumon Thai

Catatan: Tulisan ini merupakan review mengenai belajar membaca dan menulis bahasa Thai di Kumon Thailand, saya tidak dibayar untuk tulisan ini.

Sejak Homeschool, Jonathan saya ikutkan kelas Kumon Thai sebagai bagian dari belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Awalnya saya tahu Kumon itu untuk Matematika dan Bahasa Inggris saja, eh ternyata ada juga untuk pelajaran bahasa Thai.

Setelah ikutan tes, Jonathan mulai dari level paling awal Word Building Block (7A) dan sekarang sudah sampai level Sentence Building Block (B I) dalam waktu 2 tahun. Lama? ya nggak juga, karena setiap level itu diulang sampai anaknya bisa lulus testnya untuk naik level. Jadi dipastikan anaknya memang sudah mampu untuk naik level.

Belajar bahasa Thai dengan metode Kumon ini lebih cocok untuk Jonathan dibandingkan ikut kelas kursus grup ataupun privat. Kelas Kumon Thai ini menjadi bagian dari homeschool kami, nilainya juga bisa diperoleh setiap kali dia ada ujian kenaikan level.

Cara belajar di Kumon Thai mulai dari awal yang kami jalani ini sebagai berikut:

  • pertama anak akan di nilai level bahasa Thai nya sampai mana. Karena waktu itu Jonathan sempat sekolah di sekolah yang full berbahasa Inggris, kemampuan bahasa Thai Jonathan yang pernah ada waktu kecil menghilang. Jadi dia harus mulai dari awal lagi (level 7A)
  • anak akan diminta untuk mengerjakan lembar kerja setiap harinya (5 hari seminggu) dan 2 hari seminggu mengerjakannya di kumon center.
  • pekerjaan anak harus dikerjakan tidak lebih dari 30 menit dan anak bisa mengerjakan lembar kerja secara mandiri.
  • lembar kerja yang diberikan sekitar 10 lembar (2 sisi per lembar), jika waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dinilai lebih dari 30 menit, maka pemberian lembar kerja bisa dikurangi per hari nya.
  • lembar kerja yang sudah dikerjakan akan dikoreksi oleh instruktur kumon di kumon center, kalau ada yang salah, anak diminta untuk memperbaiki sampai tidak ada yang salah.
  • tidak ada hari libur dalam mengerjakan lembar kerja, hal ini untuk membangun kebiasaan rutin setiap harinya, lagipula mengerjakan kumonnya tidak memakan waktu lama.
  • instruktur kumon merupakan orang yang sudah mendapat pelatihan khusus, mereka membantu anak dengan memberikan petunjuk dan bukan memberikan jawabannya langsung.
  • dalam 1 level, akan ada pengulangan set lembar kerja beberapa kali sampai anak dinilai bisa lulus untuk test naik ke level berikutnya.
  • lamanya anak berada dalam 1 level tergantung dari masing-masing anak, dan bukan dari ukuran berapa bulan. Ketika anak lulus test naik level, akan ada laporan berapa kali lembar kerja level tersebut diulangi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk anak itu menjalani level tersebut.
Level kumon Thai mulai dari bawah ke atas

Metode Kumon ini cocok untuk Homeschool karena:

  • Mulai dari yang paling mudah dan tingkat kesulitannya meningkat sesuai dengan kemampuan anak, jadi anak bisa mengerjakan lembar kerja secara mandiri (self study)
  • Anak terbiasa dengan rutin harian mengerjakan kumon, kalaupun hari libur, anak tetap diberikan lembaran kerja untuk dikerjakan.
  • Umumnya dengan kebiasan berlatih sedikit setiap hari, anak akan lebih maju daripada level yang dipelajari di sekolah.
  • Ketika di kumon center, anak belajarnya bukan dalam setting kelas besar, tapi gurunya mengajar tiap anak 1 demi 1. Setiap anak diajar secara khusus sesuai dengan tingkatannya, dengan begini anak tidak perlu merasa ketinggalan dari teman-temannya. Kalau ada bagian yang tidak dimengerti bisa ditanyakan langsung.
  • Materi diberikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak, tidak ada anak yang harus stress karena tidak mengerti ketika mengerjakan.
  • Waktu pengerjaan lembar kerja yang dibatasi tidak lebih 30 menit, untuk menghindari anak merasa bosan mengerjakan lembar kerjanya.

Bagaimana dengan kumon matematika dan bahasa Inggris? nah ini saya ga bisa banyak kasih opini, karena Jonathan tidak kami daftarkan untuk 2 pelajaran tersebut. Kemampuan matematika dan bahasa Inggris Jonathan saat ini lebih dari cukup, jadi kami tidak merasa perlu untuk menambah pekerjaan sekolahnya.

Dari cerita salah seorang teman kami yang anaknya ikut kumon Math. Anaknya yang awalnya ketinggalan dalam pelajaran Matematika, sekarang ini sudah melebihi kemampuan pelajaran Math di sekolah. Efeknya ya tentunya anak jadi gak takut buat belajar matematika. Anaknya juga setiap hari mengerjakan kumon tanpa disuruh oleh orangtuanya di rumah.

Dulunya, saya juga agak meragukan metode Kumon, tapi ternyata keraguan saya karena saya gak kenal Kumon. Sayangnya di tempat Jonathan ikut Kumon, kelas Kumon ini khususnya untuk anak sekolah, bukan seperti tempat kursus bahasa Thai, jadi saya gak bisa merekomendasikan misalnya ada orang dewasa ingin belajar baca tulis Thai dengan metode Kumon ini hehehe.

Sosialisasi Keluarga Homeschooling

Sore ini, kami mencoba hal baru untuk sosialisasi Jonathan dan Joshua. Jonathan hampir 9 tahun, tentunya lebih pengen untuk bermain dengan anak seusianya daripada main dengan adiknya yang baru mau 4 tahun. Jonathan pengen nonton Detektif Pikachu, Joshua belum bisa gak berisik di dalam bioskop, jadilah Jonathan pergi sama papanya nonton bareng teman Jonathan dan papanya juga.

Sebelum nonton, Jonathan sempat makan dan main dulu di mall sama temannya. Mereka main pakai koin tapi bisa lama banget karena menang terus. Lumayan cuma 10 baht bisa main lama hehehe, tapi ternyata akhirnya kalau kelamaan dibatasi juga waktunya. Mungkin udah sering kali ya orang main kelamaan gak habis-habis kalau tidak dibatasi waktunya.

Tadinya saya akan berdua saja dengan Joshua di rumah, eh ternyata ada teman yang punya anak usia 4 tahun dan 1,5 tahun yang mau main ke rumah, jadilah kebetulan yang pas banget. Joshua main dengan anak seumurnya juga di rumah. Mainan semua yang ada di rumah dibiarin aja berantakan biar puas hahaha. Mamanya sibuk ngobrol dan mikirin mesan makanan.

Karena Jonathan dan papanya makan di mall, saya gak masak lagi sorenya. Temen saya ngajakin pesen makanan dari restoran Indonesia yang baru buka di Chiang Mai. Sebenarnya harusnya kami bisa aja pergi makan ke restoran, tapi karena menu makanannya kayaknya belum tentu ada yang cocok untuk anak-anak dan juga lokasinya rasa susah parkir, kami memutuskan untuk mencoba pesan makanan delivery saja. Anak-anak dibikin nasi goreng dan telur dadar saja hahaha.

Ada 3 jasa layanan antar makanan di Chiang Mai. Meals on Wheels, Food Panda dan Grab Food. Periksa menu di Meals on Wheels, harga menunya lebih mahal 15 – 20 baht dari harga restoran. Ongkos kirim ke rumah 110 baht. Ini sih mahal banget. Tadinya udah mau berangkat aja ke sana belinya, atau gak jadi pesan di sana. Terus cek di Food Panda, ternyata karena mereka kerjasamanya baru banget, menunya belum ada. Grab Food belum ada kerjasama dengan restorannya. Akhirnya coba telpon langsung ke restorannya. Untungnya restorannya bersedia menerima pesanan lewat telepon dan dibayar via bank transfer. Tapi kami yang harus mikirin deliverynya.

Saya baru tau sekarang ada jasa Grab Express di Chiang Mai. Grab Express ini mengantarkan barang apa saja dengan motor, ongkosnya juga relatif murah, dari restoran itu ke rumah cuma sekitar 56 baht. Jadilah kami berhasil memesan makanan tanpa biaya ekstra per porsinya dan juga biaya delivery yang lebih murah. Jadi teringat dengan isi buku soal berhemat yang baru dibaca beberapa hari lalu, walaupun pesan makanan itu bukan langkah berhemat, tapi sesekali bolehlah ya memanjakan diri dengan pesan makanan dari restoran dan memikirkan mendatangkannya tanpa biaya yang terlalu mahal.

Senang rasanya bisa menikmati makanan Indonesia di rumah, gak kena macet, gak repot cari parkir, gak repot ngurusin anak di restoran, biayanya juga ga sampe berlipat ganda hehehe. Jadi juga deh malam ini makan nasi lemak, nasi kuning, rendang, kerupuk udang, sate ayam, daaaan yang gak kalah penting: sambelnya dooong!. Ada 2 jenis sambal yang dikirim, sambal terasi dan sambal bawang. Aduh itu sambalnya masih nyisa, besok tinggal goreng tempe atau masak bakwan deh buat dicocol ke sambalnya.

Kata siapa anak homeschool gak punya teman? Ini sih bukan cuma anaknya yang bersosialisasi, tapi emak dan bapaknya juga kok. Memang untuk anak homeschool, sosialiasi itu akhirnya lebih ke sosialiasi keluarga bukan cuma sosialisasi anak-anaknya doang. Oh ya, teman Joshua bukan anak homeschool sih, tapi ya mereka datang main ke rumah kan jadi temen buat Joshua hehehe.

Plus Minus selama Tinggal di Chiang Mai (12 tahun)

Tanggal 4 Mei 12 tahun yang lalu, saya dan Joe untuk pertama kalinya sampai di Chiang Mai. Kota terbesar di utara Thailand yang memiliki 3 musim dan pernah menjadi tempat berlangsungnya acara Sea Games di tahun 1995. Karena setiap tahun akhirnya menuliskan hal yang serupa, kali ini saya akan coba menuliskannya dalam format yang agak berbeda. Saya akan mencoba menuliskan plus minus atau suka duka selama 12 tahun di sini.

Mari kita mulai dengan hal-hal yang menyenangkan alias plus nya tinggal di sini:

  • Makanannya enak-enak dan mirip dengan masakan Indonesia, harganya dulu sih sama dengan Indonesia, sekarang terasa lebih murah karena pas pulang ke Indonesia kalau makan di luar berasa lebih mahal.
  • Kemana-mana dekat, ke mall bisa cuma beberapa jam saja dan gak pake macet di jalan.
  • Banyak tempat buat anak-anak main yang gratisan dan kalau bayar juga gak terlalu mahal
  • Banyak komunitas orang asingnya yang sangat membantu terutama ketika masa baru awal sampai dan juga waktu baru punya anak
  • Ada komunitas homeschooling berbahasa Inggris ataupun Thai, tinggal pilih saja
  • Internet kencang dan terjangkau harganya
  • Orang yang merokok relatif sedikit, minimal di tempat umum jarang deh berasa asap rokok.
  • Ada musim dingin yang adem dan menyenangkan buat jalan-jalan dengan keluarga
  • Nilai tukar baht cukup stabil terhadap dollar, selama 12 tahun tidak ada kenaikan harga yang terasa banget.
  • Datang berdua sekarang sudah berempat :D, pengalaman hamil dan melahirkan di Chiang Mai, dokter dan rumahsakitnya cukup bagus dan mendukung untung memberikan ASI eksklusif. Suster di rumah sakitnya juga ramah dan baik hati semua walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas tapi hatinya tulus membantu.
  • Dokter gigi di sini bisa ga pake nunggu lama, jadi bisa bikin janji dan datang sesuai dengan jam yang dijanjikan.
  • Banyak dokter di sini bisa berbahasa Inggris, jadi untuk berbagai masalah kesehatan gak usah jadi frustasi karena bingung bahasa, beberapa rumah sakit malah menyiapkan jasa translator untuk pasien dari negara yang tidak berbahasa Inggris.
  • Orang Thai baik hati dan ramah
  • Buah-buahannya enak kalau lagi musim berbuah harganya juga murah
  • Merasa lebih aman daripada di Indonesia, kalaupun kelupaan kunci pintu gak usah kuatir bakal ada maling.
  • Jarang ada pemadaman listrik, kalaupun ada selalu ada pemberitahuan terlebih dahulu. Atau kalaupun terjadi karena hujan badai, paling lama pernah pemadaman itu sekitar 2 jam.
  • Bahasanya strukturnya mirip bahasa Indonesia, jadi lebih mudah mempelajarinya (yang sedikit susah belajar naik turun suaranya aja).

Pantesan aja betah ya tinggal di sini, soalnya banyak plusnya. Nah tapi sebenarnya mana ada sih tempat yang benar-benar sempurna. Pasti adalah kurang-kurangnya dikit, asal gak lebih banyak dari plusnya aja ya.

Berikut ini hal-hal yang bikin tinggal di Chiang Mai jadi kurang nyaman:

  • Ada musim polusi selama bulan Maret sampai pertengahan April. Polusi udara ini benar-benar hal paling gak enak dari kota ini, tapi ya masih bisa diakalin sih dengan filter udara dan mempersedikit pergi selama sebulan dalam setahun. Tahun ini polusinya agak lebih parah dan bertahan sampai awal Mei.
  • Musim panasnya lumayan dashyat, bisa sampai 44 derajat celcius, panas gabung ama polusi bikin malas keluar rumah. Kalau di rumah minimal bisa ngadem pake AC dan pasang filter udara.
  • Belum ada direct flight ke Indonesia, jadi untuk perjalan mudik butuh 1 hari pergi dan 1 hari pulang karena selalu ada transit dulu beberapa jam.
  • Harus ke imigrasi urus visa tinggal tiap tahun, dan lapor diri setiap 90 hari kalau gak keluar dari Thailand. Sekarang sebenarnya hal ini udah mulai gak jadi masalah, karena urusan imigrasi sudah semakin cepat prosesnya dibandingkan 12 tahun lalu.
  • Angkutan umumnya terbatas dan belum cover semua rute, jadi punya kenderaan pribadi itu wajib untuk kemudahan kemana-mana. Sekarang ini angkutan umum sudah lebih banyak daripada 12 tahun lalu, tapi ya tentunya lebih cepat bepergian kalau punya transportasi sendiri, apalagi kalau bawa anak kecil.
  • Gak bisa beli tanah/rumah sebagai orang asing di Thailand (banyak kok pilihan rumah kontrakan dengan range harga terjangkau).
  • Gak ada yang jual indomie kari ayam dan ceres (ini sih emang harus nyetok hahaha).

Udah itu aja, gak nemu lagi apa minusnya tinggal di sini. Semua minusnya juga masih bisa ditolerir makanya masih betah sampai sekarang di sini hehehe.

Pertanyaan yang selalu saya tanyakan setiap tahun: mau sampai kapan di Chiang Mai? Selama masih memungkinkan, masih betah di sini. Gimana dengan kemajuan pelajaran bahasa Thai? Udahlah, udah bisa ngobrol dan baca secukupnya hehehhe. Masih pengen bisa berbahasa Thai yang fasih seperti berbicara, membaca dan menulis bahasa Indonesia sih, tapi ya belum ada kebutuhan untuk benar-benar fasih berbahasa Thailand, jadilah kemampuan berbahasa Thai nya jalan di tempat. Tetap optimis semoga tahun berikutnya bisa lebih fasih lagi baca tulis dan ngobrol bahasa Thai nya biar makin betah di sini hehehhe.