Cerita Kehidupan part 1

Hari ini akhirnya manggil tukang pijet lagi ke rumah, sebenarnya pegal-pegal sisa perjalanan minggu lalu sudah hilang, tapi ya kalau dipijat kan biar tambah enak badannya hehehe. Ngobrol-ngobrol dengan tukang pijat merupakan salah satu kesempatan saya berlatih berbahasa Thai, karena dia gak bisa bahasa Inggris sama sekali.

Kami mengenalnya sudah lama, dari sejak saya ga bisa bahasa Thai sampai akhirnya bisa mengerti banyak mendengarkan ceritanya. Jadi kepikiran untuk menuliskan kisah kehidupannya. Sebenarnya yang bikin menarik dari kisah kehidupannya adalah, dia pernah diramal, katanya sepanjang hidupnya dia akan hidup susah dan harus bekerja keras. Coba bayangkan kalau udah tau duluan hidup bakal susah kira-kira reaksi kita bagaimana?

Sebut saja namanya Pina, dia dulu bekerja di tempat pijat depan Condo kami tinggal. Dia merupakan orang yang pertama memijat saya di Chiang Mai. Dulu, kalau kami mau pijat, kami ga pilih-pilih tukang pijat, siapa aja yang lagi antri di tempat pijat itu ya terima saja. Kadang-kadang pijatan terasa ga standar, ada yang tenaganya kuat ada yang mungkin karena sudah memijat banyak orang tenaganya jadi tinggal sedikit. Pina ini termasuk yang pijatannya oke. Waktu itu dia masih berumur 40-an. 

Setelah beberapa lama, karena tempat pijat depan Condo sering tutup, pas Pina memijat saya lagi, saya minta nomor teleponnya. Waktu itu sebenarnya kami sudah beberapa tahun ada di Chiang Mai, dan saya masih tetap ragu dan gak percaya untuk memanggil tukang pijat ke rumah apalagi saya tetap ga merasa kenal dengan dia. Tapi saya pikir, ya minta dulu nomornya, nanti kalau mau panggil bisa coba telepon.

Setelah beberaa kali memanggil ke rumah, akhirnya saya mulai mendengarkan kisah-kisah kehidupannya. Dulu saya ga begitu memperhatikan dengan seksama, mungkin juga karena kemampuan bahasa saya merespon juga masih sangat terbatas. Sejak beberapa tahun terakhir ini kisahnya semakin membuat saya kadang-kadang berpikir. Walaupun dia pernah diramal hidupnya bakal susah sampai dia meninggal, dia ga patah semangat, dan dia tetap melakukan apa yang dia bisa.

Dia punya tanah di Mae Teng, sekitar 1 jam perjalanan dari Chiang Mai. Di tanahnya yang cukup luas itu, dia punya rumah yang ditinggali 2 anak laki-lakinya. Dia juga menanam pohon pisang di sana. Kalau habis panen, dia mengerjakan sendiri memanen pisang, membawa pisangnya ke Chiang Mai dan menjualnya ke berbagai warung. Kadang-kadang walau lagi ga dipanggil untuk pijat, dia mampir ke rumah dan mengantarkan beberapa sisir pisang yang masih mentah. Sebagai orang yang hidup pas-pasan, kadang-kadang dia juga membawakan jagung rebus atau cemilan buat anak kami ketika datang untuk memijat. 

Sekarang ini dia sudah berumur 50 tahun lebih, tenaga memijatnya sudah berkurang dibandingkan dengan 11 tahun lalu. Kami masih tetap menggunakan jasanya memijat selama dia masih bekerja jadi tukang pijat. Salah satu alasan kenapa kami masih memanggil dia ke rumah juga karena dia sekarang ini harus membesarkan cucunya yang berumur hampir 2 tahun. Cucu perempuannya ini dia rawat sejak lahir, anak laki-lakinya dan ibu dari cucunya tidak mampu merawat si bayi karena berbagai alasan. Jadi kami pikir, dengan dia memijat kami dia dapat penghasilan untuk membesarkan cucunya itu.

Kadang-kadang kalau mendengarkan cerita dan keluh kesahnya, cerita soal anak-anaknya, cerita soal ibunya yang dulu sakit dan akhirnya meninggal, cerita mengenai merawat cucu, cerita masa lalunya tentang suami-suaminya, saya antara kasian dan heran. Kasihan dengan pilihan kehidupnya yang membuat dia mengalami berbagai kesusahan, heran kenapa dia mau-maunya hidup begitu. Tapi ya, saya berusaha menjadi pendengar yang budiman. Saya tahu, dia gak minta solusi dari saya, dia cuma mau mengeluarkan unek-unek dan pendengar saja. Saya juga ga kepikiran solusi buat dia, ya kan saya ga tahu jalan pikirannya secara lengkap, jadi ya manalah mungkin saya kasih solusi.

Kembali ke cerita hidupnya, salah satu episode cerita yang saya ingat adalah: dia menikah muda, menikah dengan pesta besar. Tapi pernikahannya itu ga berlangsung lama karena suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Setau saya suami pertamanya ini masih tetap kontak dengan dia terutama untuk urusan anak pertama. Kemudian dia menikah lagi, dari pernikahan ke-2 dia punya 1 anak laki-laki lagi, dan pernikahan ke-2 ini pun ga berlanjut. Setelah 2 kali gagal menikah, dia pernah menikah lagi di usia 40 -an dengan seorang pemuda usia 30. Pernikahan itu ga bertahan lama, karena menurut dia si lelaki muda itu cuma jadi beban nambah urusan saja.  Setelah gagal dengan pernikahan ke-3 nya, dia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memikirkan mengenai laki-laki. Bahkan ketika mantan suami pertama menunjukkan indikasi mau balik lagi dengan dia, walaupun si mantan suami itu punya pekerjaan tetap yang artinya bisa untuk menghidupi Pina, dia menolak untuk menikah ulang.

Dengan status Janda beranak 2, dia harus bekerja untuk menghidupi anaknya. Anak-anaknya dia titipkan ke ibunya, dan dia bekerja di Thailand Selatan. Waktu saya tanya apakah dia pernah rindu untuk mengurus anak-anaknya, dia bilang ya rindu juga, tapi kan saya harus cari duit. Dia tadi cerita, saat anaknya sudah sekolah dan bisa menuliskan surat, anaknya mengirimkan surat rindu ke ibunya ini. Membaca surat anaknya, dia menangis di kamar mandi sampai lupa kalau lagi goreng ikan. Hampir saja rumah makan tempat dia bekerja kebakaran, karena api sudah naik ke penggorengan. Ceritanya sebenarnya sedih, tapi dia menceritakannya sambil tertawa-tawa. Mungkin kalau sudah berlalu, mengingat cerita sedih bisa bikin jadi lucu juga ya. 

Sekarang, anak-anaknya sudah besar, yang paling kecil berusia 30 tahunan. Teorinya harusnya dia sudah bisa santai karena anaknya sudah mandiri. Tapi kenyataanya, dia masih harus bekerja keras untuk membesarkan cucu dari anak pertama. Anak pertama ini, punya pekerjaan, tapi gak cukup untuk membiayai anaknya sendiri. Tinggalnya juga bukan di Chiang Mai. Otomatis Pina yang urusin cucu dari bayi. Kadang-kadang Pina mengeluh susahnya mengurus bayi di usia 50-an. Tapi pada dasarnya dia dulu juga ga mengurus anak-anaknya. Mungkin dia terbeban mengurus cucunya, karena merasa dulu dia juga menelantarkan anak-anaknya. Entahlah persisnya apa yang dia pikirkan. Tapi walau mengeluh, dia tetap mengurus cucunya.

Ceritanya agak random ya, masih panjang kisah kehidupan Pina ini. Lain kali akan saya lanjutkan episode-episode kehidupan Pina. Sebenarnya mungkin ada banyak kisah sejenis kehidupan Pina ini. Pelajaran dari kisah hari ini, dia tetap bekerja keras walau tahu hidupnya akan susah sampai akhir hayatnya. Dia mengeluh tapi tetap mengerjakan apa yang dia bisa dan tidak menyerah begitu saja.

Thanksgiving Day, Loy Kratong dan Yi Peng Festival di Chiang Mai

Hari ini, hari Kamis ke-4 dalam bulan November, orang Amerika merayakan Thanksgiving Day. Hari ini, malam bulan purnama di bulan ke-12 kalendar Lunar Thai, orang Thailand merayakan Loy Kratong. Loy kratong juga diikuti dengan Yee Ping Festival yang jatuh pada malam bulan purnama bulan ke-2 kalendar Lanna. Hari ini 22 November 2018, bukan hari libur di Thailand, walaupun banyak kegiatan berlangsung terutama di sepanjang sungai.

Di Chiang Mai, banyak expat dari berbagai negara dan tentunya juga banyak yang dari Amerika. Sangkin banyaknya, di Chiang Mai sampai ada konsulat Amerika segala. Hari ini beberapa restoran yang biasa menyajikan makanan Amerika dan hotel memanfaatkan momen yang ada untuk menjual paket dinner Thanskgiving Day, dan buat yang lokasinya dekat dengan sungai Ping, mereka memanfaatkan untuk menjual tiket makan malam perayaan Loy Kratong dan Yi Peng Festival.

Dampak dari beberapa perayaan jatuh di hari yang sama yang paling terasa adalah: banyak jalanan macet. Kalau saja ga punya kegiatan wajib, rasanya lebih baik ga usah kemana-mana. Akses jalan ke rumah kami, yang terdekat itu melewati daerah sungai Ping, dan kalau sudah begini, harus siap-siap kena macet.

Kami, sebagai orang Indonesia yang tidak merayakan Thanksgiving dan tidak merayakan Loy Kratong maupun Yi Peng Festival, biasanya cuma jadi penonton saja. Lokasi rumah yang dekat dengan tempat orang-orang menghanyutkan Kratong, membuat kami bisa dengan mudah melihat kegiatan mereka ini. Tahun-tahun sebelumnya, Jonathan pernah juga bawa pulang kratong yang dijadikan kegiatan di sekolah, jadilah kami ikutan sesekali menghanyutkan kratong di sungai.

Pertama kali tahu mengenai Loy Kratong ini, saya bertanya-tanya, sebenarnya kegiatan ini kegiatan keagamaan atau budaya? Ternyata asal mulanya lebih merupakan kegiatan keagamaan, tapi entahlah bagaimana, orang Thailand pinter aja mengemas kegiatan mereka menjadi sesuatu yang menarik juga untuk turis asing. Sekarang ini, saya lihat perayaan Loy Kratong dan Yi Peng festival lebih komersil dibandingkan religius.

Beberapa waktu lalu, saya dengar percakapan seorang Thai non Budha berkata kalau mereka tidak lagi ikut-ikutan menghanyutkan kratong, karena itu bertentangan dengan agama yang mereka yakini. Tapi salah seorang teman non Thai lain berkata kalau tetangganya yang bukan Budha mengencourage untuk tetap ikutan mengenalkan budaya Loy Kratong ke anak-anaknya. Kami sendiri sebagai non Budha, melihat keramaian Loy Kratong ini sebagai budaya yang menarik untuk diamati di Thailand.

Yang saya tidak suka dari acara Loy Kratong ini adalah: kadangkala orang masih main petasan lewat jam 10 malam. Masa anak-anak kami masih bayi, keributan petasan bikin anak nangis dan susah tidur. Beberapa tahun ini, pemerintah Thailand mulai meregulasi jam untuk bermain petasan, dan sekarang ini festivalnya lebih terjadwal dan gak bikin kaget tengah malam lagi.

Dampak negatif dari menghanyutkan Kratong juga ada. Awalnya, Kratong itu dibuat menggunakan bahan yang 100 persen biodegradable, bahan utama pelepah pisang, daun pisang, bunga-bunga dan lilin. Belakangan untuk membuat lebih indah, banyak juga yang membuat dengan styrofoam dan kertas. Tahun ini saya sudah melihat ada himbauan untuk memilih Kratong yang ramah lingkungan. Walaupun Kratong ramah lingkungan, biasanya hari berikutnya sungai Ping jadi terlihat kotor. Pemerintah di sini untungnya cukup sigap, mereka mengerahkan petugas dan volunteer untuk membersihkan sungai.

Dampak dari Yi Peng festival juga ada, kabarnya tahun ini hanya diijinkan beberapa lokasi untuk melepaskan lantern secara masal dan ditentukan jamnya. Untuk kegiatan ini, beberapa penerbangan di Chiang Mai juga harus direschedule. Kadang-kadang ada juga kejadian rumah terbakar dan atau pemadaman listrik karena ada khomloi yang jatuh di kabel listrik.


Jutaan khomloi dilepaskan ke angkasa memang terlihat indah, tidak heran beberapa tempat yang mendapat ijin mengadakan acara ini menjual tiket cukup mahal mulai dari 2ribuan baht.


Lalu bagaimana cara menikmati Loy Kratong dan Yi Peng di Chiang Mai dengan aman? kalau kami sih pilih jalan ke sungai dekat rumah, perhatikan kratong yang dihanyutkan orang lain. Sesekali perhatikan langit dan lihatlah komloi seperti kunang-kunang diangkasa. Kalau ingin ikut menerbangkan komloi, pilihlah lokasi yang memang diijinkan dan tiketnya tidak mahal. Kami belum pernah ikutan menerbangkan komloi massal, rencananya nanti saja kalau anak-anak sudah besar, jadi tidak risiko kehilangan anak di keramaian hahaa.


Tahun 2008, sebelum punya anak, kami pernah ikutan keramaian sekitar Nawarat Bridge. Pernah di posting di blog ini juga. Kemungkinannya tahun ini acaranya semakin ramai dibanding 10 tahun lalu. Kami memilih menghindar dari kemacetan dan keramaian tahun ini. Kalau ada yang pingin lihat foto-foto 10 tahun lalu, bisa cek linknya di posting 10 tahun lalu hehehe.

Perjalanan sebuah Stroller

Stroller ini kami beli second hand dari orang yang anaknya sudah tidak mau duduk di stroller lagi. Menurut ceritanya mereka memiliki stroller ini selama 6 tahun dan dipakai oleh ke-2 anaknya. Kami membelinya ketika Joshua mulai bisa duduk, sebelum dia setahun sampai akhirnya beberapa bulan ini dia tidak mau lagi duduk si stroller karena sudah kesempitan. Stroller jaman Jonathan terlalu ringkih untuk membawa Joshua yang sejak kecil beratnya selalu diatas grafik anak seumurnya. Stroller bekas Jonathan kami berikan ke tukang pijet yang cucunya waktu itu sudah bisa duduk.

Kalau dipikir-pikir, stroller ini sudah di bawa ke banyak tempat. Keluarga yang menjual stroller ini ke kami bukan asli Chiang Mai, dan sepertinya dalam 6 tahun pastilah sudah banyak beberapa perjalanan dengan stroller ini. Kami saja yang memakainya sekitar 3 tahun, sudah membawa ke Indonesia beberapa kali. Yang jelas sudah dibawa ke Depok maupun ke Medan.

Untuk stroller berumur 9 tahun, benda ini masih sangat bagus dan kuat. Apalagi waktu awal kami membelinya, Jonathan kadang-kadang masih minta duduk di stroller juga (Joshua saya gendong). Beban yang dibawa stroller ini juga lumayan berat, Joshua saja kami bawa sampai dia beratnya 20-an kg.

Selain stroller, banyak barang-barang kebutuhan bayi yang kami beli second hand. Crib, car seat, baby gate juga contoh barang bayi yang bisa beli secondhand dan dijual lagi kalau sudah tidak butuh. Dipikir-pikir umur barang-barang bayi itu bervariasi, harganya juga kalau beli baru bisa jauh lebih mahal daripada membeli second hand. Kadang saya kepikiran kira-kira crib yang kami beli second dan sudah kami jual lagi, sekarang ini sudah berapa kali berpindah tangan.

Membeli benda bayi baru tentunya harganya lumayan mahal. Contohnya stroller ini saja kalau di cek di lazada, karena barang bukan asli Thailand, harganya masih diatas 10ribu baht. Waktu kami beli, harganya tinggal 2500 baht, dan sekarang ini masih bisa dipasarkan dengan harga 1000 baht. Mungkin pemilik berikutnya akan menjadi pemilik terakhir sebelum akhirnya rusak, kecuali baru sebentar pakai anaknya udah ga mau duduk di stroller lagi, mungkin masih bisa dijual kisaran 800 – 500 baht atau didonasikan ke orang lain.

Di kota ini, banyak orang asing yang kadang sekedar travel untuk beberapa bulan, ada juga yang tinggal bertahun-tahun tapi setiap tahunnya pulang ke negerinya, barang bayi seperti stroller, car seat, gendongan, mainan dan buku biasanya mereka bawa dari negeri asal. Bisa jadi mereka dihadiahi atau ya beberapa benda lebih murah di Amerika atau Eropa, dan mereka ga perlu kena biaya kirim ataupun biaya impor. Kalau beruntung, kadang bisa dapat barang bayi secondhand yang masih sangat bagus dengan harga kurang dari harga beli.

Anyway, tadinya mau cerita soal stroller tapi jadi cerita barang bayi pada umumnya hehehe. Tapi karena stroller yang biasanya dibawa jalan-jalan, kemungkinannya ya si stroller merupakan barang bayi yang paling banyak dibawa-bawa selain tas popok atau gendongan untuk yang prefer gendongan.

Kami lebih suka membawa stroller, biasanya bisa untuk membawa barang-barang ekstra digantung di stroller nya. Kalau tempat tujuannya tidak stroller friendly misalnya banyak tangga naik turun, bawa anak di stroller bisa bikin ribet juga. Stroller ini paling sering kami bawa ke mall, dulu Joshua mau duduk tenang dan di lepas sesekali waktu kami menunggu Jonathan latihan taekwondo. Sekarang ini stroller nya sudah terasa sempit untuk Joshua, dia lebih suka jalan atau lari menentukan tujuan sendiri. Waktunya menjual stroller untuk digunakan keluarga yang membutuhkannya.

Chiang Dao Trip part 2

Tulisan kali ini melanjutkan cerita liburan kami ke Chiang Dao bersama teman-teman komunitas Indonesia di Chiang Mai. Setelah hari sebelumnya kami menjelajah goa Chiang Dao yang lumayan bikin kaki pegel, pagi hari kami bangun agak santai. Sebenarnya ada ajakan untuk melihat lautan kabut jam 5.30 pagi, tapi rasanya tak sanggup untuk bangun sepagi itu hehehe. 

Ada keanehan dengan ayam jago di Chiang Dao, mereka mulai berkokok dari sejak jam 1 pagi. Untungnya anak-anak ga jadi terganggu dari tidurnya dan saya juga tetap bisa tidur dengan nyenyak. Udara menjelang pagi di sana cukup dingin, tadi pagi kami bangun udaranya masih sekitar 20 derajat celcius. 

Karena rombongan tidak ada rencana pergi pagi-pagi, kami memutuskan sarapan di penginapan saja. Kami membawa mie instan cup, ada juga yang bawa roti dan bisa juga membeli sereal di penginapan. Selesai sarapan, anak-anak melakukan eksplorasi disekitar penginapan. Di halaman penginapan kami ditanami sayur-sayuran dan juga mereka mempunyai sebuah ruangan hidroponik.

Di sekitar bungalow ada banyak tanaman bunga dan anak-anak menciptakan permainan sendiri dengan mengamati jumlah kelopak bunga. Saya sempat dengar salah seorang berimajinasi begini: kalau kamu menemukan bunga dengan 4 kelopak, kamu bakal dapat keberuntungan. Lalu mereka juga punya teori mengenai besar kelopak bunga ataupun warnanya. Mereka sangat serius dengan permainan detektif memeriksa kelopak bunga dan mencari petunjuk untuk misteri yang saya kurang tau apa misterinya hahaha.

Sekitar jam 10.30 pagi, kami semua sudah siap-siap cek out dari penginapan menuju lokasi adventure berikutnya. Ada beberapa pilihan yang disarankan oleh Google Trip, salah satunya adalah melihat Wat Tham Pha Plong. Temple ini lokasinya tidak jauh dari penginapan, dan dari reviewnya mendaki 500 lebih anak tangga dengan reward pemandangan yang indah. 

Rasa pegal hasil eksplorasi goa hari sebelumnya masih terasa di kaki bagian atas, tapi ya masa sih 500 tangga saja ga bisa. Maka kami memutuskan ayolah kita naik ke atas, toh undakannya kecil-kecil, pastilah ga seberapa dibandingkan eksplorasi goa kemarin. Dan ya, setelah 200 tangga pertama, saya sebenarnya hampir menyerah hahaha. 

Di sepanjang jalan, ada banyak tulisan-tulisan yang menyejukkan dan menyemangati. Di peristirahatan setelah tangga ke 200, disediakan balsem kalau ada yang membutuhkan. Setelah tangga ke 200 itu ada pemberitahuan dan penyemangat kalau 300 tangga berikutnya akan lebih mudah. Dan memang benar, karena setelah 200 tangga non stop naik, ada beberapa tangga menurun sebelum akhirnya naik dan naik lagi. 

Di tangga entah ke berapa, ada peristirahatan lagi, kali ini Templenya sudah kelihatan. Lagi-lagi tergoda untuk berhenti saja sampai situ. Tapi Joshua masih semangat bilang, up mama, up papa. Jonathan dan beberapa anak lain juga kayak ga punya rasa capek, mereka sudah duluan agak jauh di depan dengan salah satu teman kami.

Setelah sampai di atas, rasanya senang sekali kami tidak menyerah di tengah jalan. Saya perhatikan, sebelum sampai ke puncak, mereka cukup memikirkan para pengunjung, sekitar beberapa puluh tangga sebelum puncak, tersedia air minum gratis, dan juga ada toilet untuk umum. Saya kagum dengan cara mereka merawat tempat itu, padahal untuk masuk ke tempat itu tidak dipungut biaya sama sekali, mereka hanya membuat kotak donasi untuk siapa yang ingin donasi saja.

Setelah menghabiskan beberapa menit di daerah temple untuk beristirahat dan foto-foto, kami memutuskan untuk turun. Tentunya, perjalanan turun tidak seberapa dibandingkan perjalanan naik, walaupun kaki rasanya mulai sakit lagi. Untungnya ada pegangan di sepanjang tangga. Joshua juga cukup bisa jalan sendiri, dan tidak seperti waktu di goa yang minta digendong terus.

Sampai di bawah, waktu sudah menujukkan pukul 12, kami memutuskan untuk makan di sekitar situ juga, supaya setelah itu bisa langsung pulang ke Chiang Mai. Tentunya semua sudah kehabisan tenaga untuk eksplorasi berikutnya. Restoran yang kami pilih, merupakan restoran dari penginapan di sekitar goa di Chiang Dao juga. Suasana restoran The Nest 2 juga cukup nyaman. Selesai makan, anak-anak masih bisa bermain di sebuah pondokan yang menyediakan mainan untuk anak-anak. Mungkin lain kali ke Chiang Dao, bisa juga dicoba untuk menginap di The Nest.

Setelah puas makan dan bermain, kami pun kembali ke Chiang Mai. Kali ini, karena tidak ada rencana untuk berhenti mengunjungi tempat tertentu, kami menyetir santai saja. Berangkat dari The Nest 2 sekitar jam 2.30 dan tiba di rumah jam 4 lewat dikit (hampir persis 90 menit). Weekend yang menyenangkan walaupun agak pegel-pegel hehehe. Mungkin lain kali kalau ke Chiang Dao bisa benar-benar untuk relaks dan bukan untuk adventure ataupun eksplorasi yang menyebabkan badan kaget karena biasanya ga rutin olahraga tiba-tiba diajak eksplorasi goa dan naik 500 anak tangga hehehe. 

Chiang Dao

Hari ini, kami jalan-jalan ke Chiang Dao bareng temen-temen Indonesia di Chiang Mai. Cuma 4 keluarga Indonesia, ga sebanyak rencana semula. Tapi ada 1 teman dari teman, keluarga Thai Singapura, jadi total ada 9 orang dewasa dan 7 anak-anak berusia antara 3.5 tahun – 8 tahun.

Doi Chiang Dao

Chiang Dao lokasinya gak jauh dari Chiang Mai sekitar 80 km atau 1.5 jam driving, tapi ini kali pertama buat kami ke sini. Kami berangkat santai, sekitar jam 10 dari rumah, dan karena berhenti dulu di jalan, kami sampai di penginapan sekitar jam 12 siang. Kami menginap di Chiang Dao Story Camp,  tidak jauh dari tujuan wisata Chiang Dao Cave.

Sebagian dari rombongan memilih tenda dan sebagian tinggal di bungalow sederhana. Setelah menurunkan bawaan, kami memutuskan untuk makan siang di dekat tempat wisata tujuan utama di Chiang Dao, Selesai makan dan istirahat, sekitar jam 2.30 kami pun memutuskan masuk ke Goa di Chaing Dao.

Bungalow di Chiang Dao Story Camp

Sebenarnya, saya dan Joe bukan orang yang terlalu suka adventure, tapi kami pikir, ya sesekali melihat goa supaya Jonathan melihat stalaktit dan stalagmit dan juga kami pikir kebanyakan tempat wisata di Thailand sudah cukup dirapihkan, jadi tidak akan terlalu sulit. Tapi ternyata….cukup sulit hahaha.

Biaya masuk ke dalam Goa, harga Thai 20 baht, harga asing 40 baht, anak-anak gratis. Di dalam goa, kami bisa menyewa guide yang juga akan membawakan lampu petromax. Biaya guide 200 baht untuk 5 orang, dan lampunya 200 baht. Karena kami ada 9 orang dewasa, kami menyewa 2 orang guide (2 lampu). Oh ya, bagian goa ini ada 2, bagian yang masih sangat asli tanpa lampu dan bagian yang sudah dipasang lampu di sepanjang goanya.

Awalnya jalannya cuma naik tangga biasa, saya pikir, oke ini cuma bakal capek naik turun saja,. Lalu di bagian dalam, mulailah jalannya pun tidak rata dan kadang agak licin. Lalu ada bagian di mana kami harus menunduk untuk bisa masuk ke bagian goa berikutnya. Ada 3 pintunya dan bagian pertamanya merupakan pintu paling gampang.

Explorasi Goa sambil gendong anak 22 kg.

Pintu ke-2 berupa lorong sekitar 1 meter. Untuk melewati bagian ini, bener-bener perlu keterampilan merangkak. Kalau ga malu sama yang lain, saya sudah pengen balik kanan pulang hahaha. Ternyata pintu masuk goa ke-3 lebih sulit lagi karena walau lorongnya agak lebih besar dari yang sebelumnya, tapi ternyata lorongnya lebih panjang. Di bagian ini, saya salut dengan Joe yang bisa sambil bawa Joshua melewati lorong goa nya.

Selanjutnya rutenya cukup mudah. Dalam hati saya cukup yakin jalan keluar goa nya pasti bukan dari jalan yang sama dengan masuk dan akan lebih mudah rutenya. Asumsi saya ada benarnya, tapi ternyata tidak lebih mudah karena kami harus turun melewati tangga yang cukup terjal, yang untungnya sebagian besar ada pegangannya (sebagian hanya cukup 1 orang lewat dan sebagian anak tangga sangat tinggi bahkan untuk saya. Di bagian ini saya pikir, mungkin lebih mudah kalau keluar dari jalan masuknya tadi, saya salut melihat guidenya bisa melewati rute dalam goa dengan memakai sendal jepit!.

Singkat cerita, sampai di luar goa kami ditawarkan untuk melihat bagian goa yang sudah terpasang lampu-lampunya. Tapi ya semua sudah letih, terutama Joe yang sebagian besar harus menggendong Joshua yang sudah 22 kg. Salut dengan Joe bisa turun tangga sambil gendong anak. Salut juga dengan Jonathan bisa turun tangga yang sangat curam (kayaknya saya lebih deg2an dibanding Jonathan).

Sampai penginapan, sorenya kami makan bersama barbeque-an. Teman-teman rombongan sangat berpengalaman mempersiapkan acara begini. Mereka sudah mempersiapkan daging dan sayur-sayuran untuk dipanggang dan saya bisa tinggal makan hehehe. Bersyukur kalau hari ini cuacanya cerah dan tidak hujan seperti prakiraan cuaca pada saat kami memutuskan untuk jadi jalan-jalan hari ini.

Oh ya, sedikit catatan, walaupun ada iklan 4G di pintu masuk goa, tapi Joe mengecek begitu masuk ke dalam bagian goa yang gelap, gak ada tuh koneksi internet sama sekali hehehe. Kirain iklannya itu menunjuukan mereka sudah memasang hotspot di banyak tempat di dalam goa.

Secara keseluruhan, pengalaman hari ini anak-anak cukup enjoy berlari-larian dan bermain bersama. Tapi kayaknya saya ga akan masuk goa di Thailand lagi sampai anak-anak cukup mandiri dan bisa membantu saya nantinya hahahaha.

Mini PC + TV + HP Xiaomi = Smart TV

Konfigurasi entertainment centre kami sekarang ini memakai Mini PC Windows yang dihubungkan ke TV (via HDMI). Awalnya dulu, kami memasang keyboard wireless ke mini pc nya untuk memilih menu Kodi, Netflix ataupun nonton YouTube di browser. Tapi, masalah dengan yang namanya remote, sama saja dengan keyboard. Kadang-kadang ga ketemu terselip entah di mana, sering juga pas butuh eh baterenya habis.

Mini PC nya kotak hitam di samping mobil-mobilan hijau

Setelah dipikir-pikir, gimana kira-kira supaya mau nonton ga kelamaan nyari remote atau keyboardnya. Untungnya Joe kepikiran untuk mencari aplikasi remote mouse untuk Android. Walaupun namanya remote mouse, tapi dari aplikasi ini, kita juga bisa mengetikkan sesuatu kalau dibutuhkan. Pengaturan aplikasi ini cukup gampang. Baik Mini PC dan HP Android terkoneksi ke jaringan lokal yang sama kalau dirumah. Jadi waktu menyalakan aplikasi ini, kita bisa langsung menemukan Desktop mana yang perlu kita akses secara remote. Selanjutnya ya sama seperti mouse di komputer biasa.

Remote Mouse bisa jadi keyboard juga

Aplikasi remote mouse ini gratis, tapi ada iklannya. Iklannya kecil di bagian atas. Tapi karena dipakainya cuma untuk meremote Mini PC di TV, saya ga terlalu terganggu dengan iklannya. Selain sebagai mouse, seperti saya sebutkan sebelumnya, dari aplikasi ini kita juga bisa mengakses keyboard misalnya untuk mencari kata kunci tertentu di YouTube. Kita juga bisa berpindah aplikasi dengan cepat.

Pindah aplikasi

Masalah berikutnya, kadang-kadang kami juga ga nemu remote TV nya di mana. Sejak memakai Samsung Note 4 yang memiliki fitur infrared, saya jadi agak ketergantungan mencari HP yang ada fitur IR blaster untuk remotenya. Waktu tau hampir semua HP Xiaomi masih punya fitur IR, saya senang sekali. Setiap mau nyalain TV ga perlu repot-repot lagi mencari remote. Tinggal pake HP aja jadi remotenya. Untuk Xiaomi, nama aplikasinya MiRemote. Selain untuk remote TV, bisa juga untuk remote AC atau benda apapun yang di remote dengan infrared.

MiRemote untuk TV

Jadi sekarang ini, di dekat TV kami pasang Mini PC yang terhubung ke jaringan rumah. Mini PC ini kami biarkan selalu menyala. Pemakaian daya mini pc tentunya tidak sebesar pemakaian komputer, jadi tidak masalah kalau dibiarkan menyala. Setiap mau menonton, cukup nyalakan TV dengan MiRemote, atur suara TV juga dengan MiRemote, lalu untuk memilih menonton via YouTube atau Netflix, Iflix ataupun Kodi, kami pilih menunya dengan remote mouse. Biasanya sih HP selalu berada dalam jangkauan dan jarang keselip seperti halnya remote-remote lainnya.  Dengan mini PC, dan HP Xiaomi, TV biasa kami yang sudah berumur lebih dari 6 tahun disulap jadi smart TV deh hehehe.

DIY Workshop di McDonald’s

Hari ini Jonathan ikutan workshop di Mc Donald’s bareng anak-anak grup homeschooling Thai. Ceritanya beberapa minggu lalu saya kepikiran gimana caranya ya biar Jonathan punya teman berlatih ngobrol Thai, soalnya tetangga rumah kami anaknya sudah agak besar dan jam keluar rumahnya jarang bareng dengan Jonathan. Hasil dari nanya ke temen yang ikutan co-op tapi orang Thai, saya disarankan gabung ke grup homeschooling orang Thai. Tadinya agak ragu-ragu karena sampai sekarang baca bahasa Thai buat saya itu masih sering malasnya daripada memaksakan diri baca. Tapi ya masa sih anak disuruh belajar, sendirinya ga maju-maju belajar baca Thainya. Akhirnya sayapun masuk FB group yang isinya semua pake bahasa Thai.

Gak berapa lama bergabung, saya baca pengumuman mengenai workshop ini. Ada 3 paket harga yang ditawarkan, dan harganya seperti kita beli paket burger untuk di makan sendiri. Saya penasaran, kira-kira workshopnya ngapain aja ya? karena saya lihat anak-anak yang daftar workshop, rata-rata antara 5 dan 6 tahun. Saya pikir, ga mungkin dong mereka diajak goreng-gorengnya di McD.

Hari ini, sekitar jam 11 siang kami sudah tiba di lokasi workshop. Pertama kami harus daftar, memilih paket mana yang ingin dikerjakan dan bayar di tempat. Sembari menunggu semua yang sudah daftar sebelumnya hadir, anak-anak diberi kertas dan crayon untuk mewarnai. Beberapa anak langsung mewarnai dengan tekun.

Sekitar jam 11.20, anak-anak diminta berbaris berdasarkan ketinggian. Anak-anak dibagi dalam 2 grup, mereka akan diajak untuk tour melihat dapurnya Mc Donald. Sayangnya bagian yang ini saya dan orangtua lainnya ga ikutan, jadi ga tahu persisnya ada apa saja di dapurnya Mc Donald. Setiap kelompok di minta untuk berbaris memegang bahu teman di depannya dan berjanji untuk tidak memegang benda-benda di dapur dan tekun mendengarkan. Salah satu bagian yang saya sempat lihat, di bagian Mc Cafe nya, ada lemari es dan juga mesin untuk susu, minuman pepsi dan lain-lain.

Kalau dari cerita Jonathan, mereka juga masuk ke ruangan freezernya, dan juga dijelaskan mengenai proses menerima proses drive thru. Kataya dijelaskan ada sensor untuk mengetahui ada mobil yang datang memesan. Anak-anak di bawa keluar untuk melihat titik drive thrunya. Bagian ini Jonathan kemungkinan sudah hapal, karena beberapa kali kami mampir beli drive thru walau itu sekedar beli ice cream cone hehehe. Saya juga lihat anak-anak diberi penjelasan mengenai mesin kasirnya. 

Sekitar jam 11.50, anak-anak dimnta kembali duduk dan diberikan video mengenai Mc Donald di Thailand. Sebelum memulai workshop menyusun burger, mereka diberi kuis berdasarkan video yang ditonton dan diberi hadiah bukut tulis kecil apabila menjawab dengan benar. Di luar dugaan saya, walaupun videonya menggunakan audio bahasa Thai, tapi karena ada informasi tertulis dalam bahasa Inggris, Jonathan cukup mengingat beberapa fakta, dan berhasil menjawab pertanyaan pertama mengenai tahun berapa Mc Donald masuk ke Thailand. Saya dan beberapa orang tua lain ga nyimak bagian yang itu, dan Jonathan duluan angkat tangan dan menjawab 1985.

Ada yang unik dengan cara memberi kuis di sini. Anak-anak di minta untuk mendengarkan pertanyaan dan memegang kupingnya selama pertanyaan diajukan. Lalu siapa yang tahu jawabannya dipersilahkan mengangkat tangannya. Mungkin cara ini bukan cara baru, tapi buat saya, hal ini baru dan masuk akal. Dengan memegang kupingnya, kita yakin anak-anak  memasang kuping mendengarkan pertanyaan. 

Setelah beberapa pertanyaan diajukan, akhirya sampai juga ke bagian workshop yang dinanti-nantikan yaitu mempersiapkan burger. Saya jadi baru tau juga bagaimana mereka menyusun burger dan membungkusnya. Pertama sisi atas roti burger adala sisi yang diberikan saus tomat dan saus paprika. Lalu susun sayuran selada dan tomat di atas saus tadi. Bagian daging burger di letakkan di sisi bawah burger, lalu di tangkupkan ke sisi yang sudah ada sayuran dan tomat. Berikutnya untuk melipat bungkusan burger, letakkan burger di tengah dalam keadaan terbalik dan kertas dengan orientasi portait, lalu sisi kertas yg dekat ke kita di lipat ke bagian atas burger. Lalu burger di balikkan sambil melipat kertas. Setelah burger tiak terbalik lagi dan berada di tengah kertas, sisi kanan dan kiri kertas bisa dilipat ke bagian bawah burger.  Dan selesailah sudah mempersiapkan burger dan siap untuk disajikan.

Mungkin karena umur anak-anaknya masih kecil-kecil, mereka tidak diajak untuk mengiris sayur, tomat ataupun memanggang roti dan patty untuk burgernya. Semua hal-hal tersebut sudah dipersiapkan oleh pegawai Mc Donald nya. Dipikir-pikir, hal sederhana begitu saja anak-anak sudah senang ya. Melihat bagaimana dapurnya dan belajar mempersiapkan burger sambil memai celemek dan topi chef. Dan diakhir, tentu saja makan burger yang mereka persiapkan plus french friesnya. Kegiatan workshop diakhiri foto bersama dan pemberian sertifikat.

Selesai workshop, tentunya anak-anak bermain-main di ruangan bermain yang ada di Mc Donald. Jonathan cukup enjoy dengan kegiatan hari ini, pulang ke rumah jam 2 siang dia langsung tidur siang. Senangnya lagi, karena dia bisa dapat beberapa teman baru. Beberapa keluarga homeschool Thai cukup bisa berbahasa Inggris. Saya sih tadi ngobrol pake bahasa Thai, kalau obrolannya ga rumit-rumit amat, saya masih bisalah ngerti mereka ngobrolin apaan hehehe. 

Cukup positif dengan pengalaman bareng homeschoolers Thai hari ini. Kegiatannya menarik, gak mahal, semua happy dan saya senang dapat beberapa teman baru untuk kembali mengasah bahasa Thai saya yang sudah lama ga bertambah vocabularynya. Semoga lain kali ada kegiatan lainnya yang juga cocok untuk Joshua dan mereka bisa berlatih bahasa Thainya juga.