Kerja di Chiang Mai

Dah ada beberapa orang yang nanya: enak nggak sih kerja di Chiang Mai? Ada juga yang menyangka kalo aku studi S3 di sini, sedangkan yang lain pengen tau kerjaan di Chiang Mai ngapain sih? Setelah 4 bulan di Chiang Mai, saatnya cerita sedikit pengalaman di sini.

Di sini aku kerja sebagai programmer (tepatnya senior programmer) di perusahaan startup yang baru berdiri bulan April 2007. Karena belum tahu apakah bos mengijinkan membeberkan apa yang dikerjakan oleh perusahaan ini, saat ini aku nggak akan cerita mengenai produk perusahaan ini. Mungkin ada yang mikir: ngapain jauh-jauh ke Thailand cuma kerja di startup company, tapi yang jelas si Bos alias Prof sudah berpengalaman punya perusahaan di sebuah negara di Eropa, dan sudah cukup sukses, sampai perusahaanya dia jual. Dalam bidangnya si Bos juga adalah termasuk pionir (sudah masuk buku).

Lanjutkan membaca “Kerja di Chiang Mai”

Warorot Market (Ta’ lat Warorot)

milih milih

Cerita ini masih lanjutan dari cerita Mae Sa Waterfall dan masih dalam rangka mengantar teman-teman dari Indonesia yang berkunjung ke Chiang Mai. Sebenarnya pasar ini seperti pasar biasa. Tapi tentunya lebih murah membeli oleh-oleh di pasar daripada di tempat wisata. Berhubung waktu mereka di Chiang Mai tinggal sedikit lagi dan belum tentu bisa jalan-jalan lagi, ya sudah kami ajak saja belanja di pasar Warorot. Lanjutkan membaca “Warorot Market (Ta’ lat Warorot)”

Mae Sa Waterfall (Naam Tok Mae Sa)

Sekitar 2 Minggu lalu, kami bertemu dengan 4 orang Indonesia yang datang ke Chiang Mai di gereja yaitu Pendeta Karia, Tuju, Lia dan Pendeta Essy. Mereka mengikuti Cultural Training yang diadakan oleh CTC di daerah Mae Rim. Kami tidak pernah ke daerah sana sebelumnya, tapi tentunya ini kesempatan untuk mempunyai alasan bepergian agak jauh dari rumah. Karena kami tidak mendapatkan alamat tempat trainingnya selain alamat PO BOX (dan tidak ada seorangpun yang bisa menjelaskan bagaimana cara menjemput teman-teman Indonesia itu), maka pada 1 minggu lalu (seminggu setelah kami bertemu), kami mengikuti mereka pulang ke daerah MaeRim (sekitar 17 km dari rumah kami).

maesa waterfallSingkat cerita, hari Sabtu kemarin kami berjanji untuk bertemu dengan mereka. Tadinya kami berencana mengajak mereka melihat Elephant Show di daerah Mae Sa, tetapi ternyata CTC sudah berencana mengajak mereka ke sana hari sabtu pagi. Karena kami terlambat bangun (well, jangan harap bangun pagi di hari sabtu hehe), kami akhirnya menyusul ke Mae Sa Elephant Camp (Sekitar 30 km dari rumah). Ceritanya, untuk memperlancar menyetir (dengan perkiraan trafficnya tidak terlalu padat), gue yang menyetir ke sana. Well..walau masih deg degan di beberapa tikungan (terutama karena jalannya yang menanjak dengan belokan yang cukup tajam), akhirnya kami sampe juga dengan selamat ke sana. Kesan tentang elephant camp? bau perkampungan di Indonesia yang banyak sapi. Ya..bau kotoran gajah hehehe… :p Lanjutkan membaca “Mae Sa Waterfall (Naam Tok Mae Sa)”

Night Bazaar

Cerita ini masih dalam rangka mengantar membeli oleh-oleh. Karena di pasar kurang banyak pernak pernik, kami memutuskan hari minggunya untuk ke Night Bazaar. Sesuai dengan namanya, tempat itu ramai di malam hari. Banyak orang berjualan berbagai macam pernak pernik (selain baju-baju yang bisa ditemukan di pasar juga). Pulang dari gereja langsung ke tempat makan yang bernama Kalare. Seperti biasa, makan dulu sebelum memulai aktivitas yang diyakini akan melelahkan.

Oh ya, kali ini kami ditemani dengan Bu Diana, seorang Indonesia yang sudah lebih lama tinggal di Chiang Mai. Well harus diakui, walau sudah beberapa bulan tinggal di sini, kami belum pernah mengeksplor daerah Night Bazaar ini. Tempat ini sangat ramaaaaaai oleh pedagang maupun pembeli. Padahal sekarang ini lagi low season katanya. Di night bazaar ada banyak pilihan pernak pernik dan oleh-oleh. Sejujurnya rasa pegal-pegal sisa aktivitas hari sabtu belum hilang. Lalu datang tawaran menarik dari Bu Diana untuk mencoba Foot, Back and Shoulder Massage di daerah Night Bazaar. Setelah yakin bahwa teman-teman yang mencari oleh-oleh tidak akan nyasar (ya ga mungkin nyasar wong daerahnya disitu-situ juga), kami memutuskan menunggu mereka belanja sambil massage.

Jadi inget, dulu di Bandung sering refleksi di Jhonny Andrean, dan sejak tiba di Chiang Mai otomatis kami belum pernah refleksi lagi. Belum pernah benar-benar sempat untuk memanjakan diri berelaksasi di pijat. Hmm…jadi inget waktu di Bali. Untungnya biaya pijat di sini lebih murah di bandingkan Bali 😛 (setidaknya kami memilih tukang pijet yang cukup profesional tapi juga bukan tempat yang sudah sangat terkenalnya sampe jadi mahal). Di sini tempat pijet banyak banget, bahkan di depan apartemen juga ada 2 tempat. Tapi dari kemarin selalu ragu untuk mencoba massage. Takut ketagihan sih :p, kan gawat hehehe…

Setelah 1 jam massage, ternyata teman-teman yang belanja udah pada selesai. Mereka duduk menikmati tari-tarian yang disuguhkan di food court Kalare. Heran deh, kami sudah beberapa kali makan di Kalare (walaupun belum pernah wisata belanja di Night Bazaarnya), tapi biasanya di situ ga ada tari-tarian, paling pernah juga ngeliat orang nyanyi. Kenapa giliran sekarang ada yang nari? (loh kok sewot?). Bukan sewot sih hehehe, cuma agak hairan, minggu ini kok serasa jadi turis juga yah :P.

Anyway, cerita weekend ini emang beda dengan weekend lainnya. Walaupun sudah 3 bulan tinggal di Chiang Mai, tapi serasa baru kemarin tiba hehehe. Dan semakin kami berjalan-jalan di Chiang Mai, semakin kami menemukan kalau kekayaan alam Indonesia itu ga kalah deh dibanding negeri orang. Jadi pengen ke Grojokan Sewu, Tongging dan daerah wisata Indonesia kalau ada kesempatan pas mudik ntar.