Yay! Hujan!

Beberapa hari ini udara di Chiang Mai sangat panas sekali, ya sudah diduga sih, karena prakiraan cuaca beberapa hari lalu juga bilang akan panas bahkan sampai 41 derajat. Tapi selain panas, yang tidak ada dalam prakiraan cuaca adalah polusi udara yang semakin parah. Di beberapa tempat, kadar AQI nya sudah di atas 500, yang artinya sudah sangat membahayakan buat kesehatan.

Hujan yang tak disangka-sangka

Tahun 2019, saya ingat ada 1 hari di mana kadar AQI bahkan hampir mencapai 700. Tahun ini saya sudah tidak terlalu kaget dengan AQI di atas 500, tapi yaaa tetap saja berharap polusi ini segera berlalu.

Menurut berita yang saya baca, polusi di utara Thailand ini ternyata bukan lagi produk dari penduduk Thailand saja, tapi juga merupakan kiriman dari negeri tetangga. Jadi ini menjawab pertanyaan saya, kenapa sudah ada larangan pembakaran 80 hari, tapi udara tidak juga membaik.

Continue reading “Yay! Hujan!”

Servis Mobil ke Bengkel Resmi

Tulisan ini buat catatan dari pelajaran baru mengenai mobil. Saya tidak mengerti sama sekali mengenai mesin mobil. Kalau ada kerusakan, ya bawa ke ahlinya alias ke bengkel. Bertahun-tahun tinggal di Chiang Mai, saya sangat jarang ke bengkel. Biasanya kalau ke bengkel paling ganti oli atau cek mesin. Lalu kalau ada yang disarankan untuk diganti, asal ada dananya ya diganti saja.

Beberapa tahun pertama di Chiang Mai, kami memakai mobil pinjaman dari kantor Joe. Biasanya saya hanya mendapat instruksi membawa mobil ke bengkel berbahasa Thai kalau mobilnya sudah butuh untuk di servis. Apa saja yang diservis saya tidak pernah bertanya. Kami hanya perlu membayar asuransi tahunan dan mengisi bahan bakarnya.

Pernah juga saya membawa mobil ganti oli ke sebuah bengkel yang banyak cabangnya di seluruh Chiang Mai, lalu ditawari cairan yang katanya bagus untuk mendinginkan mesin dan kita tidak perlu sering-sering memeriksa air radiator. Selama ini saya tahunya diisi air biasa, dan saya tidak pernah memeriksanya karena saya asumsikan ketika mobil saya bawa ke bengkel, mereka akan periksa. Entah kenapa waktu itu saya pikir, baiklah ditambahkan cairan tersebut, toh cairannya tidak mahal. Tak lama kemudian, mobilnya rusak berat dan harus mengganti beberapa part yang berkaitan dengan radiator (saya lupa persisnya karena tidak ingat nama-namanya).

Pelajaran kala itu adalah: jangan percaya dengan rekomendasi sembarang bengkel. Bawa mobil ke bengkel yang selalu sama secara berkala supaya bengkel tersebut punya sejarah perbaikan mobil kita.

Sejak 5 tahun terakhir, kami ganti mobil dan tidak lagi memakai mobil dari kantor Joe. Kami sudah bisa membeli mobil bekas dari sebuah tempat yang direkomendasikan banyak orang. Tempat kami membeli mobil tersebut juga memberi jaminan servis selama setahun pertama (mereka ada bengkelnya juga). Salah satu alasan kami membeli mobil di situ, selain karena direkomendasikan banyak orang, mereka bisa berbahasa Inggris.

Dengan jaminan jasa perbaikan setahun pertama, dan mereka bisa bahasa Inggris, saya tetap tidak belajar mengenai mobil. Setiap kali butuh ganti oli mesin atau ada keluhan, ya kami juga langsung bawa mobil ke bengkel tersebut.

Kami bahkan tidak terpikir untuk membawa ke bengkel resmi, karena biasanya di bengkel resmi biasanya menggunakan bahasa Thai. Walaupun sudah bisa cukup banyak berkomunikasi dalam bahasa Thai, saya masih merasa tidak bisa mengkomunikasikan hal-hal berkaitan dengan mobil. Jangankan dalam bahasa Thai, dalam bahasa Indonesia saja saya belum tentu bisa mengerti istilah-istilah mobil hehehe.

Beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya saya memutuskan untuk mencoba bengkel resmi lagi. Selain karena lebih dekat dari rumah, estimasi biaya untuk kebutuhan ganti AC mobil saat itu lebih murah. Bengkel sebelumnya memberi harga lebih mahal sekitar 2500 baht dan itupun katanya tidak punya suku cadang asli.

Hari Kamis lalu, ketika mobil sudah waktunya untuk ganti oli, saya memutuskan untuk ganti oli ke bengkel resmi saja. Ada beberapa keluhan juga mengenai mobil kami belakangan ini. Misalnya pengalaman ketika mesin mobil mati tiba-tiba dan juga di musim dingin kemarin mobilnya sering susah starter walaupun mesin mobil sudah dipanaskan.

Jadi selain ganti oli, saya meminta bengkel resmi untuk memeriksa sistem auto-starter di mobil kami. Oh ya, mobil kami ini jenis otomatis dan untuk menghemat bensin akan mati sendiri ketika kita menginjak rem agak lama, dan ketika kita angkat kaki dari rem biasanya akan menyala lagi. Tapi sejak pengalaman mobil gak nyala lagi ditengah jalan, kami sering nonaktifkan auto-off nya. Efeknya, terkadang setelah kita rem mobil, waktu mulai jalan mobilnya seperti gak punya tenaga dan mesin seperti mau mati.

Setelah diperiksa, kesimpulannya adalah: batere mobil kami cca-nya tidak sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan mobil. Jadi katanya mobil kami butuh batere dengan 600 cca, sedangkan baterai yang dipasang hanya 550 cca. Solusinya tentu saja harus mengganti baterai mobil supaya masalah kekurangan tenaga tidak terjadi lagi.

Bengkel resmi menanyakan: apakah kami mengganti baterai di bengkel lain? Umm…yaa…tentunya, tapi saya pikir, bengkel lain yang kami pakai itu tahu apa yang mereka lakukan, bukan sekedar bengkel asal-asal. Baterai mobil kami sebenarnya baru diganti bulan Juni 2019 yang lalu, biasanya baterai mobil bisa dipakai 2 sampai 3 tahun. Dan sekarang, belum setahun saya harus ganti baterai mobil lagi?

Walaupun dengan berat hati, akhirnya kami memutuskan ganti baterai lagi. Saya tanyakan: ada jaminan gak kalau mobilnya gak akan mengalami masalah yang sama? Nah seperti halnya dengan penggantian AC, mereka juga memberi jaminan garansi 20000 km atau 1 tahun sejak datang ke bengkel. Karena ada jaminan, saya jadi lebih tenang hati.

Pelajaran ke bengkel kali ini adalah: lebih baik ke bengkel resmi, mereka tahu apa yang mereka lakukan dan ada garansinya. Masalah bahasa ternyata sudah bisa saya atasi, asalkan saya bisa menjelaskan dengan pelan-pelan kosa kata saya sudah bisa dimengerti oleh mereka hehehe.

Lagipula untuk bengkel resmi, setiap kali mereka melakukan sesuatu, mereka akan mengkonfirmasi harganya terlebih dahulu ke kita. Kekurangannya memang semua keterangan dalam tanda terima dalam bahasa Thai. Jadi saya harus membuat catatan sendiri apa saja yang dilakukan setiap ke bengkel.

Semoga setelah ini tidak ada lagi kejadian yang butuh ke bengkel. Kalau pembaca punya pengalaman apa dengan bengkel mobil?

Antara Polusi dan Corona di Chiang Mai

Tinggal di Chiang Mai itu menyenangkan, kecuali di musim polusi. Saat ini, dunia termasuk Thailand sedang ribut-ribut dengan adanya virus Corona dari Wuhan. Keributannya tentunya karena penyebaran penyakit yang sangat mudah seperti influenza dan belum adanya vaksin untuk penyakit ini.

Walaupun sudah banyak pasien yang sembuh, adanya korban jiwa membuat penyakit ini sudah seperti zombie attack.

situasi polusi di Chiang Mai sejak awal 2020

Banyak penerbangan dibatalkan. Banyak kegiatan berskala internasional mulai terancam batal. Bahkan rencana liburan saya saja sepertinya akan batal.

Sampai kemarin, kami masih merencanakan untuk liburan Songkran di bulan April nanti ke Depok dan Bandung. Tingkat polusi di Chiang Mai yang tak kunjung berkurang sejak awal tahun 2020, membuat kami mempertimbangkan mencari udara lebih segara di tanah air.

Gak khawatir Corona? saya lebih khawatir, gak boleh masuk ke Indonesia, atau harus di karantina karena kami datang dari Thailand, negara yang sudah masuk daftar yang memiliki pasien positif corona sejak akhir Januari 2020.

peta penyebaran Corona termasuk Thailand

Lalu kemarin, ada pengumuman, di Indonesia sudah ada 2 pasien positif Corona, dan pasien itu rumahnya di Depok!.

Continue reading “Antara Polusi dan Corona di Chiang Mai”

Bisakah Semua di Rumah Saja?

Kadar polusi dengan pm 2.5 yang sudah sejak Januari 2020 di atas normal dan virus Corona yang sudah ada beberapa kasus positif di Chiang Mai, membuat saya jadi berpikir, mungkinkah kita melakukan semuanya dari rumah dan meminimasi keluar rumah. Hidup dengan teknologi internet yang sudah semakin maju, bisakah kita bekerja, belajar, bermain ataupun berbelanja dari rumah saja.

Bayangkan, kalau kita tidak bisa keluar rumah. Anak-anak sekolah pakai kelas online. Bisa berupa kelas online terjadwal di jam tertentu, ataupun diberi rentang waktu tertentu di mana murid harus melihat rekaman penjelasan dari guru dan menyelesaikan soal untuk penugasannya. Semua interaksi dilakukan melalui internet. Buku-buku yang dibaca juga dalam bentuk digital, hasil pekerjaan murid juga dikumpulkan dalam bentuk digital. Pertemuan orang tua dan guru juga dilakukan melalui internet dari rumah masing-masing menggunakan video conference.

Bagaimana kalau butuh berbelanja? ya kita bisa pesan online, baik menggunakan aplikasi ataupun dengan menelpon langsung ke toko yang kita tahu menjual barang yang kita butuhkan. Barangnya dikirim ke rumah. Siapa yang mengirim? harus ada yang antar? Anggap saja mobil/kendaraan yang disetir sendiri sudah umum. Mobil yang berjalan sendiri ini sudah mulai diujicoba saat ini. Mudah-mudahan, tidak lama lagi harganya sudah terjangkau dan bisa dibeli oleh banyak orang. Barang-barang bisa dimasukkan ke dalam mobil tersebut dan diantar ke rumah kita. Setiba di rumah, ya kita bisa ambil dari mobil tersebut.

Kalau malas masak gimana? ya, kalau memang sudah ada kendaraan otomatis, bukan cuma barang yang bisa dikirim, kita bisa pesan makanan dari restoran untuk dikirim ke rumah. Kita tidak perlu keluar rumah, dan tidak perlu ada orang yang mengantarkan makanan tersebut. Pembayarannya bisa online juga toh.

Kalau orang kerja kantoran, tetap harus pergi ke kantor dong? Ya tergantung, pekerjaannya apa. Kalau dokter, mungkin harus ketemu dengan pasien. Kalau programmer, jelas bisa bekerja di rumah asal koneksi internetnya mendukung. Pekerjaan dilakukan masing-masing di rumah, kalau butuh rapat bisa menggunakan video conference. Jadi walaupun tidak pergi ke kantor, bukan berarti di rumah bisa leyeh-leyeh doang sepanjang hari.

Continue reading “Bisakah Semua di Rumah Saja?”

Gara-gara Virus Corona

Tulisan ini sekedar catatan yang saya amati disekitar saya sehubungan dengan wabah baru virus Corona.

Sebelum mengetahui adanya virus ini, di Chiang Mai sudah banyak sekolah yang meliburkan kelasnya karena adanya beberapa murid yang sakit Influenza. Influenza ini bukan batuk pilek biasa dan gejalanya mirip juga dengan virus Corona.

Influenza ini sudah ada vaksinnya, tapi supaya ampuh, kita harus divaksin setiap tahun (yang mana akhirnya kebanyakan orang tidak selalu melakukannya termasuk kami). Apakah dengan banyaknya kasus Influenza di sekolah, semua orang memperhatikan untuk cuci tangan dengan sabun? yang saya lihat, semua seperti biasa, yang rajin cuci tangan ya cuci tangan, yang cuek ya cuek.

Sejak akhir tahun 2019, tingkat polusi di Chiang Mai sudah memburuk. Beberapa orang sudah mulai menggunakan masker ketika keluar rumah (termasuk Joe dan Jonathan). Tapi ya kebanyakan masih cuek. Anak-anak batuk pilek juga ketika dingin menyerang, tapi perasaan ya biasa saja.

Continue reading “Gara-gara Virus Corona”

Tentang Rasa Khawatir

Tulisan hari ini singkat saja. Sejak 1 Januari 2020, ada banyak kejadian yang tidak begitu baik terjadi di sekitar kita. Mulai dari banjir Jakarta sampai belakangan ini maraknya beredar virus dari Wuhan. Reaksi dan komentar banyak orang tidak akan saya bahas, karena pada dasarnya semua orang khawatir. Respon dan opini yang banyak beredar merupakan cerminan dari rasa khawatir masing-masing orang.

Di Chiang Mai sudah ada beberapa kasus positif virus Corona, dan beberapa masih terduga. Saya tidak akan menuliskan angka dan statistik, tapi intinya ya ada yang sembuh dan ada yang masih dalam perawatan. Bagaimana dengan angka yang diduga? ya biarkan saja ahlinya bekerja untuk menentukan angka-angka tersebut. Tapi yang saya lihat adalah: penyakit ini bisa disembuhkan.

Seminggu ini udara Chiang Mai menjadi dingin lagi. Anak-anak di rumah juga mulai bersin-bersin dan batuk-batuk. Saya sendiri juga mulai tidak enak tenggorokan. Terus apakah saya khawatir kena virus tersebut? Saya lebih khawatir dituduh orang yang papasan di jalan kalau saya menyebarkan virus. Namanya virus, senjata paling ampuh saat ini tentunya istirahat dan mengusahakan supaya kekebalan tubuh bisa menang dari virusnya.

Kekhawatiran dalam hidup ini bukan cuma masalah virus yang marak saja. Pasti ada banyak hal-hal lain yang akan datang silih berganti. Saya ingat, di suatu masa, saya merasakan kekhawatiran yang berlebihan – yang mana saya bahkan sudah lupa apa yang saya khawatirkan saat itu – terus Joe bilang gini ke saya: Yuk kita berdoa, kita serahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Kita lakukan apa yang kita bisa untuk menyelesaikan masalah kita.

Ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, percuma kalau kita khawatir dan akhirnya jadi larut dalam kekhawatiran dan tidak mengerjakan apa yang menjadi bagian kita. Kalau kita sudah berdoa, kita percaya Tuhan akan memberi jalan keluar untuk apa yang kita khawatirkan itu.

Sejak saat itu, setiap saya khawatir, saya akan berdoa dan melakukan apa yang saya bisa lakukan. Untuk kasus virus saat ini, saya percaya sudah banyak ahlinya sedang bekerja meneliti dan berusaha menemukan obat ataupun vaksinnya. Yang saya bisa lakukan saat ini tentunya mengikuti anjuran mengenai menjaga kesehatan dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Saya berdoa untuk orang-orang yang saat ini bekerja membantu pasien yang masih dalam masa observasi maupun yang sudah ketahuan sakitnya. Saya kagum dengan dedikasi para dokter dan suster yang tetap mau bertugas padahal pasti keluarganya khawatir juga. Saya juga berdoa semoga orang-orang yang berada di Wuhan dan sekitarnya bisa mendapatkan cukup supply makanan dan minuman yang dibutuhkan selama masa karantina dan semoga penyebaran virus ini bisa berhenti.

Saya tidak akan ikut-ikutan menyebarkan ketakutan mengenai virus ini. Ilmu pengetahuan sudah cukup maju, sudah ada banyak vaksin ditemukan untuk penyakit-penyakit yang pada masa itu mungkin lebih heboh dari virus yang sekarang heboh. Cari berita yang sumbernya jelas, dan tidak meneruskan berita yang gak tau valid atau nggak. Kalau memang nggak tau kebenarannya, lebih baik beritanya berhenti di kamu daripada bikin orang lain ikutan khawatir berlebihan.

Semoga sisa tahun 2020 ini lebih banyak berita baiknya daripada berita yang mengkhawatirkan.

Ulang tahun pernikahan ke 13

Hari ini sudah 13 tahun pernikahan kami. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami berusaha menuliskannya di blog, sebagai kenangan untuk kami sendiri. Pertama yang ingin saya ungkapkan adalah rasa syukur: kami berdua masih diberi umur panjang dan kami masih bisa menjalani rumah tangga bersama. Kami belum terlalu tua, tapi sudah ada teman yang bercerai dan ada yang pasangannya sudah meninggal dunia. Saya juga bersyukur untuk kedua anak kami. Sedangkan masih ada teman yang belum punya anak dan ada juga yang belum menikah.

Continue reading “Ulang tahun pernikahan ke 13”