Facebook VS Blog

Nggak terasa udah beberapa bulan jadi rajin nulis blog sejak ikutan tantangan OneDayOnePost tahun lalu. Blog yang tadinya sekian lama gak diisi, tiba-tiba jadi diupdate setiap hari. Misi ikutan ODOP yang sekarang menjadi Sehari Satu Tulisan bisa dibilang cukup berhasil. Ada hari-hari di mana tetap gak punya ide mau nulis apa, karena rata-rata isi tulisan saya umumnya cerita keseharian saja. Idealisme menuliskan sesuatu harus secara lengkap panjang lebar dilengkapi gambar juga udah hilang. Sayangnya, sejauh ini tetap belum bisa menemukan waktu rutin untuk menulis.

Hari ini hari terakhir bulan ke-2 tahun 2019, gak terasa sejak rajin ngeblog saya jadi jarang update status di FB. Teorinya, setiap ngeblog tulisannya saya post di FB, tapi kadang saya pikir, ah gak usah dishare, nanti orang-orang bosan baca tulisan saya hehehe. Padahal cerita di blog ini bisa lebih lengkap dibanding status FB saya yang jarang banget cerita panjang lebar.

Dulu, salah satu alasan kenapa jadi jarang ngeblog adalah karena adanya FB. Pasang status di FB itu bisa singkat, cukup 1 foto atau tanpa foto dan 1 paragraph, kalau di blog cuma 1 paragraph rasanya aneh, padahal ya gak ada juga larangan nulis blog cuma 1 paragraph.

Nulis status di FB itu biasanya rasanya lebih “aman” karena pembacanya bisa dibatasi, yang komen juga bisa dibatasi hanya teman kita. Nulis posting di blog begini, saya gak tau siapa saja yang mampir ke sini karena jarang ada yang ninggalin jejak, kadang yang berusaha ninggalin jejak malahan spam doang (untungnya blog kami udah ada mekanisme menyaring komen-komen spam).

Kadang-kadang tapi merasa bersalah juga, ada yang komen di blog tapi gak saya balas karena notifikasi komennya gak saya set dikirim ke e-mail hehehe. Mungkin ini juga yang bikin orang-orang malas ninggalin komen (selain mungkin gak tau mau komen apa karena cerita saya sering random).

Seperti tulisan random lainnya, sepertinya tulisan ini cukup sampai di sini sebelum tambah random lagi. Oh ya, kalau ada yang rajin ngunjungi blog ini dan bingung kenapa tulisannya selang seling antara tulisan random dan topik teknis, ya jangan heran karena blog ini yang ngisi 2 orang. Joe lebih sering nulis soal teknis walau kadang-kadang dia juga nulis hal-hal random, tapi tulisan saya lebih banyak randomnnya hahaha.

Niat belajar

Saya baru membaca sebuah tulisan di Medium tentang seorang pemuda dari Nigeria yang jadi programmer startup. Hal yang sangat menarik adalah niat pemuda tersebut untuk belajar memprogram, dia belajar memprogram dengan menggunakan HP J2ME. Bukan HP Android, tapi HP J2ME jaman dulu, yang bukan QWERTY. Ini artikelnya:

https://medium.freecodecamp.org/how-i-went-from-programming-with-a-feature-phone-to-working-for-an-mit-startup-40ca3be4fa0f

Dia tidak punya laptop, hanya sesekali pergi ke rental komputer. Dia belajar HTML, JS, dan bahkan PHP di HP tersebut. Bahkan dia belajar membuat situs “saingan facebook” (yang gagal seperti banyak pesaing facebook lain). Kalau dia hanya punya HP, terus bagaimana caranya untuk melihat hasil programnya di desktop? dia meminta temannya yang punya PC untuk melihat hasilnya di PC dan mengirimkan gambarnya ke dia.

Saya sangat mengagumi ketekunannya belajar. Saya merasa dulu perjuangan saya belajar komputer tidak terlalu mudah, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan orang tersebut. Hal yang sangat memudahkan saya waktu itu adalah: saya diterima di Informatika ITB. Ketika saya masuk kuliah, sudah ada Internet yang bisa diakses kapan saja di kampus (sampai Jam lab tutup), lalu saya teruskan sampai malam dengan menyewa internet di perpustakaan ITB (sampai “nakal” mengakali sistem billingnya).

Sekarang ini untuk belajar IT tidak sesulit 10 atau 20 tahun yang lalu. Harga komputer sekarang sudah tidak terlalu mahal. Tapi jika desktop masih terasa berat, masih ada beberapa cara alternatif. Memang tidak ada cara yang amat sangat murah, tapi dibandingkan dengan beberapa puluh tahun yang lalu di mana harga komputer setara gaji minimum beberapa bulan, sekarang HP murah atau Single Board Computer bisa didapatkan kurang dari 1/2 upah minimum regional di berbagai tempat.

Jika hanya punya HP Android maka itu sudah cukup untuk banyak hal. Harga HP Android termurah hanya ratusan ribu rupiah. Bahkan di sini pernah saya dapat promosi HP Android RAM 512 MB ROM 4GB dengan harga 400 baht, atau sekitar 180 ribu. HP Android sudah bisa dipakai mengetik dengan keyboard virtual QWERTY. Jika tidak nyaman mengetik banyak, bisa membeli keyboard USB dan dicolok ke Android dengan menggunakan konverter USB OTG (harganya sekitar 0.4 USD di AliExpress atau sekitar 6500 rupiah)

Tentunya jika ada uang lebih, tablet Android akan lebih enak dilihat karena ukurannya lebih besar. Bahkan tablet Windows dengan memori 2GB bisa didapatkan di AliExpress dengan harga kurang dari 100 USD. Dengan adaptor USB OTG, benda semacam itu bisa memakai keyboard biasa.

Dengan konektor micro USB OTG ini, HP Android bisa mengakses USB disk. keyboard, dan mouse.

Jika ada TV di rumah yang memiliki konektor HDMI (kebanyakan TV sejak 10 tahun yang lalu punya konektor ini), maka itu bisa dipakai sebagai monitor untuk Single Board Computer seperti Raspberry Pi (~35 USD), atau yang lain, misalnya Orange Pi One (~15 USD sudah termasuk ongkos kirim).

Asalkan bisa menjalankan browser modern (dalam arti: memori dan prosessor cukup baik), laptop lama sekalipun bisa dipakai untuk development. Saat ini ada sangat banyak layanan gratis online untuk belajar dan bahkan kita bisa mengcompile dan menjalankan kode secara online. Contoh situs semacam ini adalah ideone.

Tentunya selain hardware Anda akan butuh materi belajar. Saat ini sudah ada banyak sekali situs gratis untuk belajar: Coursera, EDX, dsb. Banyak juga materi spesifik dari berbagai perusahaan, misalnya Google punya materi belajar Android, AI, dsb. Perusahaan lain pun serupa, Microsoft punya materi belajar berbagai teknologi Microsoft. Saat ini semua tinggal digoogle. Nggak terlalu bisa bahasa Inggris? ada banyak aplikasi, video (youtube dan situs lain) dan website gratis yang bisa dipakai untuk belajar.

Inti artikel ini adalah: jika memang ada niat untuk belajar, ada banyak cara untuk mencapainya. Sekarang ini belajar IT tidak sesulit yang dulu. Jadi bagaimanapun kondisi Anda saat ini, tetaplah semangat.

Curhat Potty Training

Tiap anak berbeda, tapi ada timeline yang bisa jadi garis besar untuk perkembangan tiap anak. Katanya gak baik membanding-bandingkan anak, tapi ya mau tak mau, punya anak 2 secara gak langsung jadilah membandingkan. Dulu potty training Jonathan juga ga mudah, tapi sebelum 3,5 tahun Jonathan sudah bisa dinyatakan lulus potty training. Setelah agak besar pernah sekali dua kali insiden terutama kalau dia kecapean dan gak ke toilet dulu sebelum tidur, tapi ya masih dalam batas wajar, karena dalam setahun gak lebih dari 3 kali insidennya terjadi.

Sekarang Joshua 3 tahun 8 bulan, tapi masih pakai popok :(. Awalnya sih mikirnya ya santai aja, ada teori baru, anak-anak itu gak perlu di potty train, ntar juga dia akan mengerti dan bisa ngerti untuk ke toilet. Tapi karena badan Joshua cukup besar untuk umurnya, semakin susah mencari popok untuk ukuran dia. Maka kamipun memutuskan waktunya untuk mengajari Joshua ke toilet.

Banyak teori terkait bagaimana cara membawa ke toilet dan kapan waktunya memulai potty train, tapi yang paling penting adalah membawa anak secara rutin dan mengerti apa itu pipis dan di mana tempatnya. Persoalan saat ini adalah: setiap kami bawa ke toilet, Joshua belum pernah mau pipis. Kadang-kadang bangun di pagi hari popoknya masih kering, di bawa langsung ke toilet, tetep aja gak pipis. Mungkin ini juga karena Joshua malas minum, jadi ya memang belum terasa pipis dan gak bisa memaksakan pipis.

Sekarang ini, akhirnya kami memakaikan celana biasa kalau di rumah, dengan resiko kalau dia kepipisan ya basah dan harus ngepel, dan hanya memakaikan popok kalau pergi. Belakangan dia mulai terlihat kayak orang kebelet pipis sambil pegang-pegang gitu, tapi sejauh ini di bawa ke toilet gak pernah mau jadi pipis, malah maunya main-main air. Terus tak lama setelah pasang celana lagi, baru deh dia pipis (dan harus ngepel huhuhu).

Masalah dia jarang minum juga masih harus dipikirkan gimana supaya dia suka minum. Dia suka minum, susu dan semua yang manis, tapi rasanya gak mungkin kan kalau dia dikasih minuman manis terus menerus. Jadi ya sekarang ini harus super sabar saja sampai dia mengerti dan bisa kasih tau dia butuh ke toilet.

Katanya orang-orang, emang lebih susah melatih anak laki-laki untuk potty train. Ya untungnya ini anak ke-2, jadi kami lebih sabar juga sih karena udah punya pengalaman sebelumnya. Tulisan ini juga sekedar jadi catatan buat ingat kapan kami memulai melatih Joshua ke toilet. Di masa depan kalau baca tulisan ini dan masa ini sudah berlalu, tentunya bisa berbagi tips lebih banyak.

Siapa yang lagi melatih anak ke toilet juga? semangat ya ibu-ibu dan bapak-bapak! Oh ya, para bapak, bantuin istri juga ya kalau latih anak ke toilet, apalagi kalau anaknya laki-laki.

Maaf, saya tidak bisa membantu masalah driver Go-jek/Grab

Sejak tulisan saya mengenai bug Go-jek tahun 2016, sudah ada banyak sekali driver yang meminta bantuan saya untuk: unsuspend status driver atau membantu hack aplikasi Go-jek. Saya masih bisa sedikit mengerti kalau ada yang bertanya soal Go-jek, tapi banyak juga driver Grab yang bertanya hal serupa. Semua jawaban saya sama: saya tidak bisa membantu masalah Anda. Silakan diselesaikan dengan pihak Go-jek/Grab.

Biasanya jawaban tersebut dianggap kurang memuaskan, jadi perlu dijawab panjang. Saya sudah capek menjelaskan, jadi akan saya tuliskan jawaban saya di sini agar gampang dilink untuk menjawab. Biasanya pertanyaan awal disambung dengan: Kan dulu Anda bisa ngehack Go-jek, pasti bisa lagi dong?. Begini ya: dulu keamanan mereka itu lemah sekali. Kira-kira keamanannya seperti ini:

Intinya saat itu siapa saja bisa masuk dan mengambil data driver, dan juga data penumpang. Artinya dari mulai KTP, foto wajah, sampai nama Ibu kandung driver bisa diambil, demikian juga informasi penumpang dan berbagai rute yang diambil juga bisa dilihat siapa saja.

Waktu itu penting bagi saya memberitahu bug itu ke dunia, karena penumpang dan driver perlu tahu bahwa data mereka bocor. Kalau tiba-tiba ada penagih hutang kartu kredit datang ke rumah karena ada yang mengambil alih identitas (berpura-pura jadi seseorang, istilahnya: identitiy theft) dari informasi yang bocor tersebut dan berhutang kartu kredit atas nama orang tersebut, maka driver atau penumpang bisa sangat rugi

Setiap kali menemukan bug, saya beritahu bug itu ke pihak terkait, lalu mereka akan menambal bugnya. Di contoh gambar di atas: gemboknya sudah diganti dan dikunci lebih baik. Tidak berarti sistemnya 100% aman, tapi sekarang tidak sembarang orang bisa mengambil data.

Go-jek sekarang sudah lebih aman dari ini

Ada juga yang bertanya: apakah tidak mau mencoba ngehack Go-jek lagi? Jawabannya: saya tidak tertarik. Saya sudah punya banyak kerjaan pentesting yang jelas pasti dibayar, daripada mencari bug Go-jek yang mungkin ada, mungkin tidak ketemu, dan tidak dibayar. Bahkan seumur hidup saya sampai saat ini, baru memakai Gojek di bulan lalu ketika liburan di Indonesia.

Bug Go-jek itu sudah 3 tahun yang lalu dan cuma satu episode yang pernah terjadi di hidup saya, dan saya sudah move on ke hal-hal lain baik yang berhubungan dengan security ataupun tidak. Ada banyak cerita security yang saya ceritakan di sini, dan banyak juga yang tidak diceritakan. Beberapa hal seputar security setelah go-jek yang ditulis di blog saya tapi mungkin tidak dibaca kebanyakan orang misalnya: saya menemukan bug di Mastercard (dapat 8500 USD), saya mendapatkan training security gratis di Belanda, saya menang CTF sehingga bisa jalan-jalan gratis sekeluarga ke Disneyland Hong Kong, membongkar algoritma keamanan Pokemon Go Plus, dsb. Dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak saya tuliskan.

Nasihat saya: jika ada masalah, selesaikanlah dengan pihak Go-jek/Grab. Liburan terakhir saya ke Indonesia, saya sempat “dikerjai” driver yang menyatakan statusnya sudah sampai tempat penjemputan, dan tiba-tiba jadi “dalam perjalanan”, dan sekian menit kemudian “tiba di tujuan”, padahal drivernya belum nongol. Apakah saya ngehack langsung sistemnya? atau menghubungi teman yang kerja di Grab? nggak, saya memakai jalur resmi untuk melaporkan kelakuan driver tersebut dan semua bisa beres dalam waktu singkat.

Melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan juga berisiko bagi orang yang membantu Anda. Misalnya Anda ketemu orang dalam yang bisa membantu unlock status driver, maka jika ketahuan, maka orang tersebut kemungkinan besar akan dipecat. Jika orang eksternal berhasil menemukan jalan masuk dan ketahuan maka bisa ditangkap polisi. Andaikan saya bisa masuk pun, saya tidak akan mengambil risiko hidup saya demi hidup Anda (apalagi saya tidak kenal Anda).

Saya tahu bahwa sebuah sistem kadang tidak sempurna, dan kadang mungkin Anda benar disuspend karena kesalahan sistem. Tapi sistem Go-jek/Grab bukanlah milik saya, jadi mohon selesaikanlah dengan pemilik sistem dengan cara yang legal.

Jalan-jalan itu…

Pepatah berkata: jauh berjalan banyak dlihat, lama hidup banyak dirasai. Gak berasa sudah hampir sebulan mama saya liburan di Chiang Mai dan dengan alasan ada mama saya, kami juga jadi banyak berjalan-jalan melihat ini dan itu diseputar Chiang Mai. Beberapa tempat sebenarnya sudah pernah dikunjungi oppung sebelumnya, tapi kami juga mencari alasan untuk mengunjungi beberapa tempat yang jarang kami kunjungi dan belum pernah dikunjungi oppung sebelumnya.

Jalan-jalan bawa anak-anak itu gak selalu mudah, apalagi kalau anaknya masih belum ngerti diajak foto dan lebih suka bagian jalannya doang dan seperti gak kenal capek. Dipikir-pikir untuk anak-anak, pergi ke tempat baru dan pergi ke tempat yang mereka sudah biasa datangi tidak terlalu berbeda, tapi kalau saya perhatikan, di tempat yang baru mereka lebih aktif dan lebih tak kenal capek, rasa ingin tahu masih tinggi, jadi ya mungkin pengen tahu di mana ujung jalannya hehehe.

Untuk anak berumur 8 tahun, mungkin sudah lebih mudah. Misalnya waktu diberitahu fakta soal bunga Sakura hanya berkembang 2 minggu dalam setahun dan hanya ada ketika musim dingin, fakta itu jadi diingat dan menjadi seperti pengetahuan baru untuk dia. Pengalaman melihat bunganya mungkin biasa saja, tapi kalau ditanya bunganya warna apa, pasti dia ingat. Tapi kalau diajak foto dengan latar bunga-bunga, atau ketika jalan di canopy walk dengan latar belakang dinding kaca bening, ya tetap aja susah buat mendapatkan foto yang bagus.

Sejak teknologi HP makin canggih dan kamera di HP juga makin bagus, sepertinya jalan-jalan itu merupakan kegiatan foto-foto. Masalah apakah fotonya akan dipamerkan atau cuma untuk dilihat kembali sebagai bagian dari memory itu masalah berikutnya. Rasanya memang ingatan kita ini sudah terbatas dan tentunya lebih mudah kalau mengingat suatu peristiwa itu dilengkapi dengan foto-foto.

Jadi nanti mungkin pepatahnya bisa diganti dengan jauh berjalan banyak ambil foto untuk dilihat-lihat kemudian hari jadi kenangan dan bisa mengingat kembali apa yang pernah dirasakan hehehhe.

Me Time Ngapain Aja?

Kemarin di salah satu grup ibu-ibu, saya membaca salah seorang bertanya: apakah ada kelas yang diikuti oleh para ibu, baik itu kelas untuk olahraga ataupun kelas untuk belajar sesuatu. Ini pertanyaan yang jarang sekali muncul dalam grup ibu-ibu. Biasanya pertanyaan yang muncul itu di mana tempat anak umur sekian belajar musik, gambar, sepakbola, dll. Pertanyaan lain juga seputar sekolah yang bagus dengan sekian banyak kriteria yang diinginkan oleh si ibu.

Kalau diingat-ingat, setiap kali saya cerita kalau saya menghomeschool anak-anak, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: gimana ijazahnya nanti? dan pertanyaan yang juga lebih sering lagi muncul adalah: gimana sosialisasinya nanti? Tapi gak pernah ada yang bertanya gimana kehidupan sosial ibunya nanti?

Pernah juga baca artikel, kalau katanya jadi ibu homeschooler itu beratnya adalah gak punya lingkungan sosial. Kalau anak dikirim ke sekolah, paling tidak kita punya waktu buat berkegiatan dan di sana pasti punya komunitas sosial, paling tidak ada kumpulan orangtua murid. Nah kalau jadi ibu homeschooler, udah pasti waktunya dipakai buat ngajar anak di rumah, anter anak les yang cuma sebentar doang sehingga gak sempat berkegiatan untuk diri sendiri dan juga pastinya gak ada komunitas orangtua murid.

Saya gak pernah merasa gak punya komunitas, sampai saya baca artikel itu hahaha. Lalu saya berpikir: astaga, ternyata komunitas saya memang sangat sedikit di dunia nyata. Sebagian besar komunitas saya itu adanya online (WA Group dan FB Group). Dan komunitas di online itupun buat saya kadang kurang personal karena sebagian besar belum pernah ketemu secara langsung.

Kembali ke judul, akhirnya dari 1 pertanyaan saya jadi bertanya-tanya ke diri sendiri. Gimana caranya supaya saya bisa punya komunitas dan punya me-time? Dan jawabannya adalah…mencari komunitas homeschooler yang anak-anaknya seumuran dengan anak saya. Mencari komunitas homeschooler di Chiang Mai tidak sulit, yang sulit itu mencari yang hobi dan jadwalnya sama dengan anak-anak saya.

Belakangan ini, saya ketemu satu tempat yang menerima anak-anak homeschooler berumur 3 – 10 tahun 4 kali seminggu. Anak-anak diberikan aktivitas dan juga tentunya bermain bersama dan ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang di bawa dari rumah dibantu oleh guru di sana. Tentu saja, saya sangat senang ketemu tempat seperti ini, karena artinya Jona dan Joshua bisa di bawa ke sana dan saya bisa punya waktu untuk diri saya sendiri yay. Eh tapi, saya tidak bawa mereka ke sana 4 kali seminggu, karena toh sabtu dan minggu itu waktu buat keluarga jalan-jalan bersama. Sekali dalam seminggu itu dah cukup buat saya hehehe.

Nah terus, kembali ke pertanyaan di paragraph pertama. Kegiatan apa yang bisa untuk ibu-ibu? Sebenarnya ada banyak yang ingin saya lakukan, saya bisa berenang sekali seminggu, dan saya juga dulu rajin merajut dan belajar menjahit walau akhirnya gak jago menjahit. Kalau berenang bisa sendiri, tapi main benang ini rasanya lebih seru kalau ada temannya. Rencananya saya mau gabung dengan komunitas crafter di Chiang Mai sini, tapi entahlah apakah masih bisa merajut nih, rasanya jari-jari udah kaku lama gak sentuh jarum rajutan hahaha.

Kalau ada waktu lebih, sebenarnya saya masih pingin melanjutkan kursus membaca bahasa Thai. Entah kenapa, kalau gak ikutan kelas, kemampuan baca bahasa Thai saya kayak gak maju-maju dan bahkan cenderung mengalami kemunduran karena gak pernah dipakai. Dari dulu juga sudah belajar baca bahasa Thai, dan setiap kali ikut kelas baru ada kemajuan yang berarti. Tiap ikut kelas, tiba-tiba seperti dapat pencerahan dan semakin mengerti hehehe. Mungkin harusnya cari buku untuk dikerjakan juga seperti kurikulum homeschoolnya Jonathan ya.

Nah sekarang saya mau tanya, kalau kamu punya waktu untuk diri sendiri dari jam 9 pagi sampai jam 3 siang, kira-kira kegiatan apa yang akan kamu lakukan? Jangan bilang me-timenya nonton KDrama atau ngabisin serial di Netflix ya hahahaha.

Target Baca Buku

Udah beberapa waktu belakangan ini, kegiatan membaca buku berkurang banyak dibanding sebelumnya. Jonathan tetap membaca banyak buku, walaupun sepertinya banyak juga yang dia bacanya sebagian-sebagian saja. Dibandingkan Jonathan, saya kalah banyak dalam hal membaca.

Setiap tahun, selalu punya target membaca 1 buku 1 bulan (teorinya 1 buku 1 minggu, tapi mari kita realistis dengan 1 buku 1 bulan), tapi kenyataannya seringkali 1 bulan berlalu tanpa menyelesaikan buku yang sudah dimulai di baca.

Waktu BBW kemarin, sudah membeli beberapa buku. Pulang ke Indonesia kemarin juga membeli beberapa buku lagi untuk di baca. Dari semua buku yang di beli, belum ada yang dibaca sampai tuntas. Lemari buku sudah hampir penuh dan perlu di reorganisasi, tapi yang lebih penting lagi buku-buku yang sudah dibeli jangan sampai gak dibaca sampai berdebu.

Di Depok, ada banyak buku yang kami tinggalkan juga waktu kami pindah ke Chiang Mai. Melihat buku-buku yang kami tinggalkan itu, saya jadi ingat masa-masa kami agak rajin beli buku dan baca buku. Entah kenapa, buat saya kegiatan membaca itu seperti kegiatan musiman, padahal katanya, kalau mau lancar menulis sebaiknya rajin membaca juga. Mungkin ini kenapa belakangan agak sulit menulis ya, karena udah lama ga membaca hehehe.

Bulan ini sudah 11 hari, ada 1 buku yang sudah dimulai baca. Bukunya gak tebal, tapi karena ga dilanjutkan ya ga selesai juga. Sepertinya saya perlu juga menargetkan waktu baca setiap harinya, bukan cuma membuat sehari satu tulisan saja.

Dipikir-pikir, membaca fiksi biasanya bisa lebih cepat daripada non-fiksi. Tapi, kemarin malahan banyakan beli buku non-fiksi. Pantesan saja saya kalah banyak membacanya dibandingkan Jonathan. Mungkin saya harus membuat perlombaan dengan Jonathan dalam hal membaca supaya saya juga jadi membaca buku.

Target baca buku bulan ini, saya ingin membaca 20 menit sehari. Kita lihat saja ada berapa banyak buku yang akan selesai sampai akhir bulan. Kira-kira membaca buku itu enaknya pagi, siang atau malam hari ya? Kalau menulis, sepertinya sekarang ini saya hanya bisa menulis malam, karena entah kenapa dari pagi sampai sore selalu saja gak bisa duduk dengan tenang untuk menulis.

Untuk kegiatan membaca sebenarnya ada beberapa kesempatan membaca tanpa gangguan, terutama kalau lagi nganterin Jonathan les, tapi ya kadang-kadang godaan baca sosmed lebih besar daripada baca buku. Mau ekstrim non-aktifkan paket data pas di luar rumah, tapi eh kebanyakan tempat ada WIFi nya, jadi ya godaan online tetap akan ada. Yang lebih dibutuhkan tentunya disiplin untuk melakukan apa yang direncanakan.

koleksi buku Jonathan dari Gramedia Depok

Mengenai membaca, Jonathan mulai bisa membaca bahasa Indonesia juga. Walaupun waktu membaca bersuara dia masih banyak belum bisa membaca dengan benar, tapi dia sudah bisa menikmati beberapa pilihan buku seri Why yang dia beli di Gramedia kemarin. Buku-buku ini dalamnya disajikan dalam bentuk komik. Dari beberapa buku yang dibeli, rasanya sudah hampir semua dia baca. Nantinya tinggal diulang lagi membaca bersuara sambil mengajari kosa kata bahasa Indonesia.

Mungkin level membaca bahasa Indonesia Jonathan saat ini sama dengan level membaca bahasa Thai buat saya. Jadi kemungkina saya juga perlu cari buku komik untuk melatih kemampuan membaca bahasa Thai saya. Ah sudahlah, daripada pusing baca tulisan cacing, sekarang ini latihan konsisten membaca bahasa Indonesia dan Inggris dulu saja. Kalau sudah bisa konsisten dalam waktu sebulan ini, nanti kita pikirkan untuk membaca tulisan bahasa Thai hehehe. Yuk mari ada yang mau ikutan nemenin saya membaca setiap hari minimal 20 menit?