Email Alias

Sejak tahun lalu saya mulai mendaftar ke berbagai layanan dengan menggunakan salah satu domain saya sendiri menggunakan fitur email Gandi (tidak saya sebut domain yang mana agar tidak menambah spam). Dengan fitur gandi, saya bisa memiliki alias yang tak terbatas, misalnya acc*@example.com (artinya semua yang diawali dengan acc), yohanes*@example.com (semua yang diawali yohanes), dsb.

Jadi kalau misalnya saya mendaftar ke layanan baru, saya bisa langsung memakai yohanes<namalayanan>@example.com. Ini memiliki banyak kelebihan:

  • Jika ada kebocoran user/password, saya tau persis situs mana yang kebocoran
  • Jika ada situs bandel (mengirim spam), saya bisa memblokir email dari situs itu saja
  • Jika ada yang berusaha mengambil alih account saya, mereka harus menebak juga email mana yang saya pakai

Dalam hal menebak account: jika saya memakai selalu prefix yang sama (misalnya prefix acc, jadi ‘yohanesgojek’, ‘yohanesgrab’ dsb), maka jika ada ornag yang menjebol lebih dari satu situs bisa melihat polanya. Supaya aman, saya memakai beberapa prefix tergantung seberapa penting situsnya. Untuk situs super penting (misalnya Amazon), saya memakai alias yang benar-benar berbeda dari yang lain.

Sejauh ini saya belum menemukan masalah dengan pendekatan ini. Sejauh ini Gandi juga masih lancar sehingga tidak pernah kesulitan mengakses email ketika dibutuhkan. Sekarang ini saya sudah menemukan beberapa layanan yang bandel dan mengirim spam kepada saya. Mungkin lain kali akan saya tulis pelakunya di posting lain agar mereka jera.

Manfaat NgeBlog

Saya masih ingat pertama kali teman saya mengenalkan blog ke saya, saya pikir: apaan itu blog, terus waktu dijelasin yang kepikiran malahan: lah ngapain nulis diary dibaca semua orang? Tapi ya, saya ikut-ikutan aja bikin blog gratisan di blogspot. Ternyata karena banyak temen yang juga ikut-ikutan ngeblog, rasanya ngeblog itu cukup fun, bisa punya bacaan kalau lagi bengong, atau nulis unek-unek tentang orang secara anonim tanpa peduli siapa yang baca. Ya waktu awal ngeblog, kadang-kadang post saya cuma beberapa kalimat, yang kalau saya baca ulang lagi, sangkin anonimnya saya ga ngerti dulu itu kenapa saya nulis begitu. Kenapa anonim? karena saya tau kita gak boleh sembarangan menulis di internet. Apa yang kita tulis akan selalu ada arsipnya, dan bisa jadi boomerang kalau gak hati-hati.

Awal ngeblog itu, ikut-ikutan teman blogger sibuk pilih-pilih template design blog. Berikutnya cari banyak teman blogger untuk dibaca-baca tulisannya dan saling mengunjungi dan berkomentar. Lalu ketika semua orang beralih ke sosial media, saya jadi mengabaikan menulis di blog karena semuanya akhirnya bisa dituliskan sebagai status beberapa kalimat saja di FB. Oh ya, sebelum aktif di FB, sebenarnya pernah juga daftar blog di friendster, untungnya hanya sedikit menulis di sana, karena sekarang tulisan itu hilang. Gak terlalu penting juga sih, makanya ga saya back up.

Banyak teman-teman saya juga beralih dari blogspot ke Friendster, Multiply lalu FB Notes. Lalu link blog mereka gak diurusin lagi. Kemarin saya lagi iseng, baca ulang beberapa post pertama di blog ini. Lihat beberapa komentar teman yang kenal dari hasil blogwalking. Blognya sekarang ada yang sudah ditutup akses publiknya dan ada juga yang dibiarkan begitu saja dan update terakhir udah 10 tahun lalu kali hehehe. Jadi dulu ngeblog itu bisa untuk menambah teman dan kurang lebih seperti sosial media sekarang ini. Tapi banyak juga teman-teman yang mengeluh tulisannya tidak sempat diarsipkan dan hilang begitu saja waktu layanan media sosial seperti friendster dan multiply tutup.

Manfaat yang paling dirasakan dari ngeblog adalah: waktu kenalan sama Joe, hal yang pertama bikin kami nyambung itu karena sama-sama nulis blog. Dan tentunya, walau gak bilang-bilang, Joe baca semua tulisan saya dan saya juga baca semua tulisan dia hehehe. Untungnya, tulisan di blog Joe dulu gak melulu teknis hehehe, jadi bisa mengenal sedikit banyak pandangan dia soal kehidupan. Itulah kenapa dulu setelah pacaran, kami bikin blog ini untuk diisi berdua. Tulisannya ya tetap aja kayak nulis di blog masing-masing, tapi saya jadi lebih mudah gak ngurusin design template, hosting, domain dan sebagainya. Terima beres aja dan tinggal berbagi cerita dan info.

Seperti ditulis oleh Joe di posting sebelumnya, blog lama kami sudah kami tutup, tapi arsipnya masih ada dan cuma kami yang bisa baca. Selain blog ini, kami juga masih membuat beberapa blog yang diisi masing-masing. Tadinya sih niatnya supaya blog ini isinya gak terlalu gado-gado. Tapi sekarang kami memutuskan mengisi blog ini saja dan kasih kategori tulisan sesuai dengan topik yang ditulis. Jadi di sini ada cerita tentang kami, homeschooling anak-anak, seputar Chiang Mai, seputar sosmed, unek-unek kami dan juga tulisan teknis Joe seputar dunia pemrograman dan security. Mungkin nanti kalau saya kembali menekuni hobi main benang yang sudah lama ditinggalkan, topiknya akan nambah di sini hehehe.

Manfaat lain dari ngeblog dengan host sendiri ini, semua tulisan kami tidak hilang dan tetap ada arsipnya. Membaca tulisan lama kadang-kadang bisa membantu mengingat timeline berbagai peristiwa. Memang gak semua hal kami tuliskan di sini, tapi kalau mau mengecek kapan saja kami pulang ke Indonesia dalam 10 tahun terakhir dan siapa saja yang kami temui waktu mudik, kemungkinan besar semuanya ada dalam blog ini. Kalau kami tetap bisa konsisten mengisi blog ini, suatu hari nanti Jonathan dan Joshua bisa membaca apa saja yang pernah kami tuliskan di sini.

Jadi, jangan heran kalau saya makin jarang update FB. Sekarang ini fokusnya mau nulis di blog saja dan sesekali membagikan tulisan di sini ke FB. Dan buat kamu yang lagi mikir-mikir mau blog gratisan atau berbayar, kalau selama ini memang sudah konsisten ngeblog yang gratisan, ya jangan ragu bayar, jaman sekarang domain dan hosting gak mahal kok setahunnya dibandingkan isi pulsa buat paket internet hehehe. Yuk mulai menulis di blog dengan hosting sendiri, supaya tulisan-tulisan kita gak hilang begitu saja.

Usia blog ini vs media sosial

Blog berdua ini dimulai April 2004 setelah masing-masing kami dulu punya blog sendiri. Blog ini sudah lebih panjang umurnya dibandingkan beberapa media sosial yang pernah ada:

  • Blog ini dimulai setelah Friendster (2002) ada, dan sekarang sudah Friendster sudah tutup total.
  • Blog ini dimulai setelah Myspace yang sampai saat ini masih buka tapi sudah ditinggalkan orang
  • Blog ini dimulai berbarengan dengan hi5 yang masih ada dan juga sudah ditinggalkan orang
  • Multiply dimulai sebulan sebelum blog ini, sempat jadi besar dan terkenal di Indonesia dan sudah tutup total sejak 2015
  • Google+ dimulai tahun 2011 dan akan tutup tahun ini (2019) untuk umum
  • Facebook didirikan 2002, tapi baru dibuka umum tahun 2006 dan masih cukup berjaya sekarang ini
  • Orkut, didirikan oleh Google pada Januari 2004 dan tutup pada 2014
  • Twitter dimulai sejak 2006 (setelah blog ini), dan masih berjaya karena sejak 2018 akhirnya tidak lagi merugi tapi memiliki laba.

Dulu kami sempat iseng juga posting beberapa tulisan blog di Friendster dan Multiply, dan sekarang postingnya sudah hilang semuanya. Saya bersyukur memiliki blog ini karena semua posting lama masih bisa diakses.

Saat ini yang masih sangat berjaya adalah Facebook, tapi untuk pertama kalinya sejak Facebook ada, penggunaannya menurun di 2018. Menurut sebagian analis, para user ini hanya berpindah saja ke instagram (yang dimiliki Facebook, Inc.). Di masa depan tidak dijamin Facebook, Inc. (perusahaan) akan tetap mempertahankan Facebook (produk/website). Mungkin mereka akan berinvestasi lebih banyak ke Instagram atau produk mereka yang lain, dan orang-orang akan meninggalkan Facebook (walau akhirnya beralih ke produk lain milik Facebook, Inc. juga)

Sebagian orang menggunakan media sosial sekedar untuk menjaga kontak dengan teman-teman, ada yang berjualan, sebagian untuk berbagai ilmu, sebagian untuk politik, untuk catatan kehidupan dan berbagai kombinasi hal-hal tersebut.

Blog ini dihosting sendiri, dimulai dari shared hosting sampai sekarang memakai docker di dedicated server. Sebagian isi blog ini dulu bergantung pada situs lain, sebagian foto dihost di flickr dan tempat lain dan ternyata itu menimbulkan masalah. Sekarang ini saya sedang melakukan cleanup agar tidak lagi bergantung pada layanan eksternal yang mungkin akan mati di masa depan.

Harapan kami, kami akan tetap bisa ngeblog di blog ini sampai kami tua. Dan semoga juga nanti ada anak cucu kami yang masih mau memelihara blog ini sampai jauh ke masa depan nanti.

Facebook VS Blog

Nggak terasa udah beberapa bulan jadi rajin nulis blog sejak ikutan tantangan OneDayOnePost tahun lalu. Blog yang tadinya sekian lama gak diisi, tiba-tiba jadi diupdate setiap hari. Misi ikutan ODOP yang sekarang menjadi Sehari Satu Tulisan bisa dibilang cukup berhasil. Ada hari-hari di mana tetap gak punya ide mau nulis apa, karena rata-rata isi tulisan saya umumnya cerita keseharian saja. Idealisme menuliskan sesuatu harus secara lengkap panjang lebar dilengkapi gambar juga udah hilang. Sayangnya, sejauh ini tetap belum bisa menemukan waktu rutin untuk menulis.

Hari ini hari terakhir bulan ke-2 tahun 2019, gak terasa sejak rajin ngeblog saya jadi jarang update status di FB. Teorinya, setiap ngeblog tulisannya saya post di FB, tapi kadang saya pikir, ah gak usah dishare, nanti orang-orang bosan baca tulisan saya hehehe. Padahal cerita di blog ini bisa lebih lengkap dibanding status FB saya yang jarang banget cerita panjang lebar.

Dulu, salah satu alasan kenapa jadi jarang ngeblog adalah karena adanya FB. Pasang status di FB itu bisa singkat, cukup 1 foto atau tanpa foto dan 1 paragraph, kalau di blog cuma 1 paragraph rasanya aneh, padahal ya gak ada juga larangan nulis blog cuma 1 paragraph.

Nulis status di FB itu biasanya rasanya lebih “aman” karena pembacanya bisa dibatasi, yang komen juga bisa dibatasi hanya teman kita. Nulis posting di blog begini, saya gak tau siapa saja yang mampir ke sini karena jarang ada yang ninggalin jejak, kadang yang berusaha ninggalin jejak malahan spam doang (untungnya blog kami udah ada mekanisme menyaring komen-komen spam).

Kadang-kadang tapi merasa bersalah juga, ada yang komen di blog tapi gak saya balas karena notifikasi komennya gak saya set dikirim ke e-mail hehehe. Mungkin ini juga yang bikin orang-orang malas ninggalin komen (selain mungkin gak tau mau komen apa karena cerita saya sering random).

Seperti tulisan random lainnya, sepertinya tulisan ini cukup sampai di sini sebelum tambah random lagi. Oh ya, kalau ada yang rajin ngunjungi blog ini dan bingung kenapa tulisannya selang seling antara tulisan random dan topik teknis, ya jangan heran karena blog ini yang ngisi 2 orang. Joe lebih sering nulis soal teknis walau kadang-kadang dia juga nulis hal-hal random, tapi tulisan saya lebih banyak randomnnya hahaha.

Niat belajar

Saya baru membaca sebuah tulisan di Medium tentang seorang pemuda dari Nigeria yang jadi programmer startup. Hal yang sangat menarik adalah niat pemuda tersebut untuk belajar memprogram, dia belajar memprogram dengan menggunakan HP J2ME. Bukan HP Android, tapi HP J2ME jaman dulu, yang bukan QWERTY. Ini artikelnya:

https://medium.freecodecamp.org/how-i-went-from-programming-with-a-feature-phone-to-working-for-an-mit-startup-40ca3be4fa0f

Dia tidak punya laptop, hanya sesekali pergi ke rental komputer. Dia belajar HTML, JS, dan bahkan PHP di HP tersebut. Bahkan dia belajar membuat situs “saingan facebook” (yang gagal seperti banyak pesaing facebook lain). Kalau dia hanya punya HP, terus bagaimana caranya untuk melihat hasil programnya di desktop? dia meminta temannya yang punya PC untuk melihat hasilnya di PC dan mengirimkan gambarnya ke dia.

Saya sangat mengagumi ketekunannya belajar. Saya merasa dulu perjuangan saya belajar komputer tidak terlalu mudah, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan orang tersebut. Hal yang sangat memudahkan saya waktu itu adalah: saya diterima di Informatika ITB. Ketika saya masuk kuliah, sudah ada Internet yang bisa diakses kapan saja di kampus (sampai Jam lab tutup), lalu saya teruskan sampai malam dengan menyewa internet di perpustakaan ITB (sampai “nakal” mengakali sistem billingnya).

Sekarang ini untuk belajar IT tidak sesulit 10 atau 20 tahun yang lalu. Harga komputer sekarang sudah tidak terlalu mahal. Tapi jika desktop masih terasa berat, masih ada beberapa cara alternatif. Memang tidak ada cara yang amat sangat murah, tapi dibandingkan dengan beberapa puluh tahun yang lalu di mana harga komputer setara gaji minimum beberapa bulan, sekarang HP murah atau Single Board Computer bisa didapatkan kurang dari 1/2 upah minimum regional di berbagai tempat.

Jika hanya punya HP Android maka itu sudah cukup untuk banyak hal. Harga HP Android termurah hanya ratusan ribu rupiah. Bahkan di sini pernah saya dapat promosi HP Android RAM 512 MB ROM 4GB dengan harga 400 baht, atau sekitar 180 ribu. HP Android sudah bisa dipakai mengetik dengan keyboard virtual QWERTY. Jika tidak nyaman mengetik banyak, bisa membeli keyboard USB dan dicolok ke Android dengan menggunakan konverter USB OTG (harganya sekitar 0.4 USD di AliExpress atau sekitar 6500 rupiah)

Tentunya jika ada uang lebih, tablet Android akan lebih enak dilihat karena ukurannya lebih besar. Bahkan tablet Windows dengan memori 2GB bisa didapatkan di AliExpress dengan harga kurang dari 100 USD. Dengan adaptor USB OTG, benda semacam itu bisa memakai keyboard biasa.

Dengan konektor micro USB OTG ini, HP Android bisa mengakses USB disk. keyboard, dan mouse.

Jika ada TV di rumah yang memiliki konektor HDMI (kebanyakan TV sejak 10 tahun yang lalu punya konektor ini), maka itu bisa dipakai sebagai monitor untuk Single Board Computer seperti Raspberry Pi (~35 USD), atau yang lain, misalnya Orange Pi One (~15 USD sudah termasuk ongkos kirim).

Asalkan bisa menjalankan browser modern (dalam arti: memori dan prosessor cukup baik), laptop lama sekalipun bisa dipakai untuk development. Saat ini ada sangat banyak layanan gratis online untuk belajar dan bahkan kita bisa mengcompile dan menjalankan kode secara online. Contoh situs semacam ini adalah ideone.

Tentunya selain hardware Anda akan butuh materi belajar. Saat ini sudah ada banyak sekali situs gratis untuk belajar: Coursera, EDX, dsb. Banyak juga materi spesifik dari berbagai perusahaan, misalnya Google punya materi belajar Android, AI, dsb. Perusahaan lain pun serupa, Microsoft punya materi belajar berbagai teknologi Microsoft. Saat ini semua tinggal digoogle. Nggak terlalu bisa bahasa Inggris? ada banyak aplikasi, video (youtube dan situs lain) dan website gratis yang bisa dipakai untuk belajar.

Inti artikel ini adalah: jika memang ada niat untuk belajar, ada banyak cara untuk mencapainya. Sekarang ini belajar IT tidak sesulit yang dulu. Jadi bagaimanapun kondisi Anda saat ini, tetaplah semangat.

Curhat Potty Training

Tiap anak berbeda, tapi ada timeline yang bisa jadi garis besar untuk perkembangan tiap anak. Katanya gak baik membanding-bandingkan anak, tapi ya mau tak mau, punya anak 2 secara gak langsung jadilah membandingkan. Dulu potty training Jonathan juga ga mudah, tapi sebelum 3,5 tahun Jonathan sudah bisa dinyatakan lulus potty training. Setelah agak besar pernah sekali dua kali insiden terutama kalau dia kecapean dan gak ke toilet dulu sebelum tidur, tapi ya masih dalam batas wajar, karena dalam setahun gak lebih dari 3 kali insidennya terjadi.

Sekarang Joshua 3 tahun 8 bulan, tapi masih pakai popok :(. Awalnya sih mikirnya ya santai aja, ada teori baru, anak-anak itu gak perlu di potty train, ntar juga dia akan mengerti dan bisa ngerti untuk ke toilet. Tapi karena badan Joshua cukup besar untuk umurnya, semakin susah mencari popok untuk ukuran dia. Maka kamipun memutuskan waktunya untuk mengajari Joshua ke toilet.

Banyak teori terkait bagaimana cara membawa ke toilet dan kapan waktunya memulai potty train, tapi yang paling penting adalah membawa anak secara rutin dan mengerti apa itu pipis dan di mana tempatnya. Persoalan saat ini adalah: setiap kami bawa ke toilet, Joshua belum pernah mau pipis. Kadang-kadang bangun di pagi hari popoknya masih kering, di bawa langsung ke toilet, tetep aja gak pipis. Mungkin ini juga karena Joshua malas minum, jadi ya memang belum terasa pipis dan gak bisa memaksakan pipis.

Sekarang ini, akhirnya kami memakaikan celana biasa kalau di rumah, dengan resiko kalau dia kepipisan ya basah dan harus ngepel, dan hanya memakaikan popok kalau pergi. Belakangan dia mulai terlihat kayak orang kebelet pipis sambil pegang-pegang gitu, tapi sejauh ini di bawa ke toilet gak pernah mau jadi pipis, malah maunya main-main air. Terus tak lama setelah pasang celana lagi, baru deh dia pipis (dan harus ngepel huhuhu).

Masalah dia jarang minum juga masih harus dipikirkan gimana supaya dia suka minum. Dia suka minum, susu dan semua yang manis, tapi rasanya gak mungkin kan kalau dia dikasih minuman manis terus menerus. Jadi ya sekarang ini harus super sabar saja sampai dia mengerti dan bisa kasih tau dia butuh ke toilet.

Katanya orang-orang, emang lebih susah melatih anak laki-laki untuk potty train. Ya untungnya ini anak ke-2, jadi kami lebih sabar juga sih karena udah punya pengalaman sebelumnya. Tulisan ini juga sekedar jadi catatan buat ingat kapan kami memulai melatih Joshua ke toilet. Di masa depan kalau baca tulisan ini dan masa ini sudah berlalu, tentunya bisa berbagi tips lebih banyak.

Siapa yang lagi melatih anak ke toilet juga? semangat ya ibu-ibu dan bapak-bapak! Oh ya, para bapak, bantuin istri juga ya kalau latih anak ke toilet, apalagi kalau anaknya laki-laki.

Maaf, saya tidak bisa membantu masalah driver Go-jek/Grab

Sejak tulisan saya mengenai bug Go-jek tahun 2016, sudah ada banyak sekali driver yang meminta bantuan saya untuk: unsuspend status driver atau membantu hack aplikasi Go-jek. Saya masih bisa sedikit mengerti kalau ada yang bertanya soal Go-jek, tapi banyak juga driver Grab yang bertanya hal serupa. Semua jawaban saya sama: saya tidak bisa membantu masalah Anda. Silakan diselesaikan dengan pihak Go-jek/Grab.

Biasanya jawaban tersebut dianggap kurang memuaskan, jadi perlu dijawab panjang. Saya sudah capek menjelaskan, jadi akan saya tuliskan jawaban saya di sini agar gampang dilink untuk menjawab. Biasanya pertanyaan awal disambung dengan: Kan dulu Anda bisa ngehack Go-jek, pasti bisa lagi dong?. Begini ya: dulu keamanan mereka itu lemah sekali. Kira-kira keamanannya seperti ini:

Intinya saat itu siapa saja bisa masuk dan mengambil data driver, dan juga data penumpang. Artinya dari mulai KTP, foto wajah, sampai nama Ibu kandung driver bisa diambil, demikian juga informasi penumpang dan berbagai rute yang diambil juga bisa dilihat siapa saja.

Waktu itu penting bagi saya memberitahu bug itu ke dunia, karena penumpang dan driver perlu tahu bahwa data mereka bocor. Kalau tiba-tiba ada penagih hutang kartu kredit datang ke rumah karena ada yang mengambil alih identitas (berpura-pura jadi seseorang, istilahnya: identitiy theft) dari informasi yang bocor tersebut dan berhutang kartu kredit atas nama orang tersebut, maka driver atau penumpang bisa sangat rugi

Setiap kali menemukan bug, saya beritahu bug itu ke pihak terkait, lalu mereka akan menambal bugnya. Di contoh gambar di atas: gemboknya sudah diganti dan dikunci lebih baik. Tidak berarti sistemnya 100% aman, tapi sekarang tidak sembarang orang bisa mengambil data.

Go-jek sekarang sudah lebih aman dari ini

Ada juga yang bertanya: apakah tidak mau mencoba ngehack Go-jek lagi? Jawabannya: saya tidak tertarik. Saya sudah punya banyak kerjaan pentesting yang jelas pasti dibayar, daripada mencari bug Go-jek yang mungkin ada, mungkin tidak ketemu, dan tidak dibayar. Bahkan seumur hidup saya sampai saat ini, baru memakai Gojek di bulan lalu ketika liburan di Indonesia.

Bug Go-jek itu sudah 3 tahun yang lalu dan cuma satu episode yang pernah terjadi di hidup saya, dan saya sudah move on ke hal-hal lain baik yang berhubungan dengan security ataupun tidak. Ada banyak cerita security yang saya ceritakan di sini, dan banyak juga yang tidak diceritakan. Beberapa hal seputar security setelah go-jek yang ditulis di blog saya tapi mungkin tidak dibaca kebanyakan orang misalnya: saya menemukan bug di Mastercard (dapat 8500 USD), saya mendapatkan training security gratis di Belanda, saya menang CTF sehingga bisa jalan-jalan gratis sekeluarga ke Disneyland Hong Kong, membongkar algoritma keamanan Pokemon Go Plus, dsb. Dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak saya tuliskan.

Nasihat saya: jika ada masalah, selesaikanlah dengan pihak Go-jek/Grab. Liburan terakhir saya ke Indonesia, saya sempat “dikerjai” driver yang menyatakan statusnya sudah sampai tempat penjemputan, dan tiba-tiba jadi “dalam perjalanan”, dan sekian menit kemudian “tiba di tujuan”, padahal drivernya belum nongol. Apakah saya ngehack langsung sistemnya? atau menghubungi teman yang kerja di Grab? nggak, saya memakai jalur resmi untuk melaporkan kelakuan driver tersebut dan semua bisa beres dalam waktu singkat.

Melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan juga berisiko bagi orang yang membantu Anda. Misalnya Anda ketemu orang dalam yang bisa membantu unlock status driver, maka jika ketahuan, maka orang tersebut kemungkinan besar akan dipecat. Jika orang eksternal berhasil menemukan jalan masuk dan ketahuan maka bisa ditangkap polisi. Andaikan saya bisa masuk pun, saya tidak akan mengambil risiko hidup saya demi hidup Anda (apalagi saya tidak kenal Anda).

Saya tahu bahwa sebuah sistem kadang tidak sempurna, dan kadang mungkin Anda benar disuspend karena kesalahan sistem. Tapi sistem Go-jek/Grab bukanlah milik saya, jadi mohon selesaikanlah dengan pemilik sistem dengan cara yang legal.