Bug Mandiri e-Money Isi Ulang (November 2015)

Jika Anda belum membaca, sebaiknya baca dulu pengantar seri ini: Mencari dan melaporkan bug security. Perlu dicatat: bug ini sudah dilaporkan (akhir November 2015), sudah (sebagian besar) diperbaiki. Posting ini hanya untuk pelajaran bersama.

Kartu mandiri e-money adalah stored value card dengan teknologi NFC. Tadinya proses isi ulang tidak bisa dilakukan dari ponsel, tapi sejak sekitar Februari 2015, aplikasi isi ulang diluncurkan untuk ponsel Android dengan NFC.

NFC

Saya sudah agak lama memiliki beberapa kartu mandiri e-money dengan saldo sedikit sekali dari adik saya, tapi belum sempat mengeksplore kartu ini (dulu saya pernah minta diberikan berbagai kartu prabayar Indonesia). Pada hari saya menemukan bug ini, ada dua hal yang terjadi: adik saya mengirimkan ADB log menanyakan bug aplikasi Android yang ditulisnya, dan kebetulan saya mendapat pekerjaan checking implementasi NFC bank lain dan menemukan blog ini.

Saya tidak tahu apakah ada yang sudah menemukan bug ini sebelumnya, dari blog yang saya sebutkan sebelumnya, sepertinya dia tidak menemukan bug (karena APDU tidak bisa diplayback).

Lanjutkan membaca “Bug Mandiri e-Money Isi Ulang (November 2015)”

Printer 3D

Beberapa waktu yang lalu saya memesan kit printer 3 dimensi alias 3D Printer dari AliExpress. Harganya 255 USD dengan pajak 24 USD sampai ke Chiang Mai Thailand. Sejak beberapa tahun yang lalu harga printer ini terus menurun, 2 tahun yang lalu masih sekitar 1000 USD, lalu tahun lalu sudah sekitar 500 usd, dan tahun ini sudah setengahnya. Tadinya saya akan menunggu sebulan sebelum posting mengenai ini, tapi karena tiap hari sudah banyak yang bertanya, maka saya akan membuat posting awal sekarang, dan akan posting nanti beberapa minggu lagi.

Printer sudah dirakit

Sebagai informasi: berdasarkan cara kerjanya ada banyak jenis 3D printer di dunia ini, tapi yang masuk level harga untuk hobi (kurang dari 1000 USD) adalah jenis FFM (Fused Filament Manufacturing) atau nama lainnya adalah FDM (Fused Deposition Modeling) atau FFF (Fused Filament Fabrication). Printer dengan teknologi SLA (Stereolitography) harganya mulai turun, tapi printer murah jenis ini masih jarang sekali. Saya hanya akan membahas printer dengan teknologi FDM/FFM di posting ini.

Sebelum membeli printer 3D, sebaiknya minimal Anda membaca artikel yang saya temukan dua tahun yang lalu, supaya punya ekspektasi yang masuk akal (meski sudah dua tahun, isinya masih valid):

Lanjutkan membaca “Printer 3D”

Raspberry Pi

Saat ini saya punya banyak sekali benda yang bisa saya oprek. Sekarang saya cuma mau cerita salah satu di antaranya: Raspberry Pi (RPI). Raspberry Pi adalah komputer kecil dengan harga relatif murah (35 USD). Saat ini saya punya 6 Raspberry Pi, 3 di antaranya versi 1 (RPI1) dan 3 yang lain versi 2 (RPI2), keduanya model B. Ada juga model A, tapi saya jelaskan nanti.

RaspberryPi-1

Harga 35 USD tersebut hanya RPI-nya saja, untuk bisa memakainya kita butuh beberapa hal lain. Hal paling penting yang harus dibeli adalah SD Card (untuk RPI1) dan Micro SD Card (untuk RPI2). Ukuran card minimal 8 GB (sebenarnya kalo mau rajin mencari OS alternatif, 4 GB juga cukup). Kita bisa menginstall OS sendiri, atau juga bisa membeli SD Card yang sudah jadi (sudah terinstall OS di dalamnya).

Lanjutkan membaca “Raspberry Pi”

Jaringan di Rumah

Waktu sampai di Chiang Mai dulu, kami cuma diberi modem dengan 1 port ethernet, (kami memakai ISPĀ 3BB). Risna memakai Macbook, saya memakai laptop Linux. Koneksi internet saya share via Wifi.

2864360241_9c32dc9f4f_b

Tapi lama-lama setting ini kurang bagus, kalau butuh koneksi WIFI berarti komputer saya harus menyala. Jadi saya beli WRT54GL, dioprek, ditambahi SD Card.

Lanjutkan membaca “Jaringan di Rumah”

Produk Apple

Komputer pertama saya adalah Apple II, jadi saya sudah lama memakai produk Apple. Saya juga sempat memakai notebook apple ketika masih memakai Power PC (waktu itu namanya adalah Apple iBook, beda dengan software Apple iBooks ya). Saya membeli Macbook generasi pertama tak lama setelah keluar. Saya yang menyarankan semua komputer di kantor memakai produk Apple (dan sampai sekarang di kantor masih memakai Apple). Saya punya iPod Nano generasi kedua, dan sekarang juga masih punya iPod Touch, iPad, iPhone 5s, MacBook Pro, dan Mac Mini.

2874448573_84f2871238_b

Meski saya cukup suka produk Apple,saat ini saya mulai menghindari banyak produk Apple.

Hal pertama yang saya tidak suka dari produk Apple adalah harga. Dari dulu harganya memang cukup mahal, tapi sekarang ini untuk kategori tertentu (misalnya kategori laptop) harganya sudah berlebihan. Contoh: MacBook Pro (non retina) sekitar 15 juta, memorinya masih 4 GB, Masih Core i5, HD 500 GB. Sedangkan laptop Windows saya harga sekitar 7 juta, sudah Core i7, HD 1 TB memorinya mudah diupgrade, harddisknya juga, bahkan saya bisa memakai mSata 256 GB SSD + 1 TB HDD.

Saya cukup senang ketika Apple masih membolehkan kita mengupgrade komponen sendiri, karena upgrade memori atau HDD bisa kita lakukan dengan lebih murah (karena dari vendor lain, atau karena kita mengupgrade 1 tahun setelahnya, sehingga harganya sudah turun).

Lanjutkan membaca “Produk Apple”

Tips Android: XPosed Framework dan XPrivacy

Kalau dulu saya nulis tips soal Blackberry, gantian sekarang mau menulis soal Android. Sekarang ini saya mau tulis soal aplikasi yang menarik, tapi sepertinya nggak banyak diketahui orang.

XPosed Framework adalah framework yang memungkinkan untuk membuat (dan menjalankan) aplikasi yang bisa mengintercept API Android apapun. Ada banyak modul yang memanfaatkan framework ini, salah satunya adalah XPrivacy. Dengan XPrivacy, kita bisa memblock atau menipu aplikasi Android yang meminta akses tertentu. Aplikasi ini butuh root access, jadi Android Anda perlu bisa diroot. Perhatikan bahwa aplikasi ini hanya untuk Anda yang cukup expert bermain Android.

Saya berikan beberapa contoh kemampuan modul Xprivacy ini. Ketika sebuah aplikasi atau game meminta koneksi Internet, kita bisa bilang: sedang tidak ada koneksi internet. Ketika aplikasi berusaha mengakses SD Card, aplikasi bisa ditipu dengan menyatakan bahwa SD Card tidak dimasukkan. Aplikasi ini gratis, tapi ada fitur ekstra di Versi pro, misalnya bisa merestriksi aplikasi yang membaca contact list agar bisa membaca dari account tertentu saja. Restriksi ini bisa dilakukan permanen, atau setiap 15 detik. Misalnya kita cuma perlu akses internet sekali untuk aktivasi, kita bisa ijinkan sekali saja, lalu sisanya tidak diijinkan.

Hal yang “menyeramkan” dari Android adalah: ada banyak aplikasi yang meminta banyak permission, contohnya ini ada satu aplikasi yang “recommended” karena teman saya ada yang menginstall. Ketika tombol install ditekan:

small

(ini aplikasi game atau apaan sih?)

Dengan XPrivacy, ketika aplikasi berjalan, kita bisa memblok berbagai permintaan aplikasi tersebut. Misalnya layarnya seperti ini:

phoneid

Pertama kali kita menjalankan sebuah aplikasi, pertanyaan semacam ini akan banyak muncul, dan seminggu pertama memakai XPrivacy akan terasa mengesalkan. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga, dan jadi tau banyak mengenai permission yang diminta oleh banyak aplikasi.

Selain untuk masalah privacy, XPrivacy ini berguna karena bisa memblok iklan. Untuk game yang jelas-jelas tidak butuh koneksi internet (misalnya game anak-anak), kita bisa blok akses internet untuk game tersebut, dan efek sampingnya adalah iklan jadi hilang (walau ada juga yang jadi menampilkan iklan default).

Banyak game yang berusaha menshare dirinya via facebook, bahkan game anak-anak. Dengan XPrivacy, kita bisa memblok aplikasi ini, sehingga jika anak tak sengaja memencet logo facebook, efeknya tidak ada.

Review beberapa ponsel

Dulu ganti handphone itu rasanya hal yang berat, ritualnya lama: nyari dulu model yang dimau setelah membandingkan spesifikasi dan harga (biasanya dulu pake tabloid pulsa), keliling-keliling BEC untuk membandingkan harga, dan setelah beli ditest dulu hardwarenya dan fitur-fiturnya. Dari sejak milih, bayar, mbaknya ngetes chargernya, lalu kami ngetes kamera, bluetooth dsb, bisa butuh beberapa jam. Setelah itu masih perlu install aneka software buat memindahkan isi phonebook dari komputer ke HP baru.

Sekarang ganti HP udah biasa banget. Biasanya beli HP dilakukan karena butuh fitur tertentu untuk development (yang menghasilkan duit lagi). Beli HP bisa dilakukan dalam waktu beberapa menit saja. Nggak perlu dicek semuanya, bahkan chargernya pun nggak (karena semua sudah microusb, dan punya banyak sekali charger MicroUSB).

Sekarang saatnya review beberapa HP yang dibeli akhir-akhir ini. Dimulai dari yang terbaru dulu: Asus FonePad 6. Ini bukan produk yang baru keluar, saya memilih ini karena (1) nggak sabar nunggu ZenFone 6 (2) harganya sama dengan Zen Fone 6 (3) Layarnya lebih bagus dari ZenFone 6 (Full HD) (4) Ada Stylusnya. Tadinya pengen ZenFone 6 karena CPU-nya Intel, belum pernah punya HP dengan CPU Intel.

Sejauh ini saya senang sekali dengan layarnya yang besar. Batere sejauh ini cukup untuk pemakaian sehari-hari. Stylusnya cukup praktis, dan enak untuk main game Nintendo DS (dengan emulator). Kameranya mengecewakan (tapi udah tau sih sebelum beli, bahkan nggak ada flashnya). Yang bikin kecewa sebagai developer: boot loadernya locked, kernel modulenya harus signed (dan swap tidak diaktifkan, untuk RAM udah 2GB), rootingnya susah (mesti downgrade dulu). Tapi meski demikian saya masih puas memakai benda ini, dengan SD Card 32 GB (10 GB saya alokasikan untuk partisi Debian).

HP Sebelumnya adalah Nokia X, ini cuma dipakai sebulan (lumayan lah sempat untuk develop sebuah proyek). Saya sudah berusaha mengoprek benda ini, mulai dari rooting, menginstall google apps, menginstall Debian, mengganti launcher, dsb. Satu kata yang merangkum semuanya: HP ini lambat. Satu-satunya aspek bagus dari HP ini adalah: signalnya bagus, baik WIFI maupun 3G-nya.

HP Sebelumnya lagi adalah Nokia Lumia 620. Hardwarenya lumayan bagus, tapi softwarenya mengecewakan. Banyak sekali hal-hal kecil yang bikin kesal. App Storenya masih sedikit, dan algoritma searchnya ngaco banget. Misalnya kita cari “Facebook”, aplikasi resminya nggak muncul di awal. Lalu kalau kita ketemu app tertentu (yang ternyata sudah kita install), maka akan muncul teks “installed”, tapi tidak ada shortcut untuk “open” aplikasi tersebut. Jadi kita perlu kembali lagi ke depan, search lagi nama aplikasi itu. Font judul aplikasi besar sekali, jadi layar tidak optimal.

Lalu berikutnya iMobile IQ9, yang merupakan HP Android lokal Thai (rebranding merk China). HP ini memuaskan, ini yang bikin saya sadar bahwa ternyata saya suka HP yang layarnya besar, sayangnya benda nggak ada slot SD Cardnya.

Bersamaan dengan itu saya memakai Dev Alpha C dengan OS BB10, tapi karena keyboardnya rusak, devicenya saya jual. Dev Alpha C ini cukup enak, cepat, kameranya bagus, keyboardnya sangat bagus. Mundur lagi, saya memakai Z10 hadiah dari BlackBerry. HP ini sangat nyaman dipakai, cepat, kameranya bagus, sayang appsnya kurang banyak, dan walaupun ngetiknya enak, lebih enak lagi pake dev alpha C.

Mundur ke 2 tahun lalu, saya memakai Blackberry Curve 8520. Handphone ini murah, keyboardnya enak, dan cukup cepat. Kameranya jelek banget. HP ini terutama saya gunakan untuk development aplikasi yang memakai BBOS 7.

Sementara Risna saat ini memakai iPhone 5S, sebelumnya sama-sama memakai Dev Alpha C dan Z10, dan sebelumnya lagi memakai Blackberry Storm.

Kayanya saya sering banget ganti-ganti HP, sampai ada yang comment kalau saya ganti HP kayak ganti tas aja.