Kolaborasi Belajar Bikin Fiksi

“Kriiing…..kriiiing….”

Suara telepon di ruang tengah berbunyi. “Ah paling buat si dedek yang baru jadian, kayaknya skarang ini ga ada harapan nerima telpon dari si dia, telepon kost diakuisisi sama si dedek sejak sore sampai pagi. andai saja HP-ku kemaren tidak kecemplung ke kolam ikan lele depan kost *sigh*.

Baru saja aku menarik selimut, tiba2 namaku dipanggil sama kak Leni: “Dewiiii, ada yang nelpon tuh, katanya abang kamu!”. “Deg, ngapain si abang nelp jam segini, ini kan jam tidurnya dia di Amerika sana”. Dengan malas-malasan aku keluar kamar karena kupikir abang kandungku yang menelpon mau curhat lagi soal cewe yang dia lagi suka.

“halo….” kata ku dengan suara terbantal yang pernah ada
“hei…. udah tidur? masih juga jam sgini… “
ternyata dari dia- abang sayang – yang sebulan ini mengusik hatiku dengan kegalauan

“hei… blm tidur kok.. cuman males2an aja… ada apa?”

“widiihh… nelpon kamu itu musti ada apanya ya… hehehe.. tapi gak apapa.. aku emang ada apa nya kok ke kamu… “

Ttiba2 baru aja mood membaik karena telpon yang ada, Merry, teman kos yang baru pulang banting pintu kamarnya. Hmm, jarang-jarang Merry pulang dengan mood jelek gitu, apa dia berantem lagi sama Toni? Sambil melanjutkan obrolan sama si “abang” aku berusaha menepis pikiran buruk soal Merry.

Argggh, tapi kok ya sulit sekali membagi pikiran begini. Akhirnya dengan berat hati, aku akhiri percakapan dengan si Abang dengan alasan besok harus bangun pagi dan ada tugas yang belum selesai kukerjakan. Tugas ini sesungguhnya bukan alasan, memang harusya aku dari tadi mengerjakan tugas ini, tapi ya biasalah, seribu alasan untuk malas selalu ada.

Dengan masih menyimpan penasaran tentang si Merry, aku pun masuk ke kamar. Dengan malas mengaktifkan laptopku. Dosen yang satu ini kalo ngasih tugas selalu gak pake perasaan. Waktunya singkat, bahannya banyak. harus nyari jurnal internasional pula!

laptop sudah terhubung dengan dunia maya.

“hmm… mampir ke Facebook ah… masih download iniii…”

dan demi apa, begitu akun Fb ku terbuka, postingan si abang berada di timeline teratas.

Baru aja mau nulis komen dan mengalihkan prioritas dari tugas ke abang, pintu kamarku diketuk dan langsung dibuka oleh Merry sebelum aku sempat bilang apa-apa. Pintu ku memang jarang terkunci, dan Merry ini sudah jadi teman dekat dari jaman putih biru, dia tau semua rahasiaku walau dia masih saja tertutup dan selektif kalau curhat ke aku. Begitu buka pintu, Merry langsung memelukku dan nangis tanpa menjelaskan apa2. argggh, kayaknya tugas dan abang emang harus menunggu.

Seperti biasa, kubiarkan Merry nangis sepuasnya, selesai dia nangis kutawarkan dia mau Indomie telur? Biasanya cerita akan menyusul setelah tangis selesai dan perut tenang.

Ketika indomie telur sudah matang dan siap di santap, Merry pun sudah lebih tenang. Untungnya Merry mau menerima tawaranku.
Wajahnya masih mendung, namun berusaha menyuapkan sesendok demi sesendok. Sambil menyantap bagianku, kutunggu Merry menceritakan kisahnya.

“tadi aku ke BIP….”tiba-tiba Merry bersuara
“tau gak aku ketemu siapa?? aku lihat si David sama si Maya….” dan wajahnya mulai mewek lagi.
aku mengunyah dalam bingung… “emang kenapa ya klo si David lagi sama si Maya… kenapa ini anak musti meratap begini….”

kusimpan kebingunganku, karena aku rasa sungguh tidak tepat timingnya kalau kutanyakan sekarang pada Merry.

Aku tunggu saja ceritanya keluar dari Merry. Semakin aku bertanya-tanya biasanya ceritanya malah akan berhenti. Ya aku mengenal Merry dan bagaimana untuk membuatnya bercerita, tapi tetap saja, kalau aku salah merespon bisa jadi malam ini tak ada yang selesai, tidak tugasku, tidak perasaan galauku baca status Facebook si abang dan tidak juga bisa menghibur Merry.

===== bersambung =====

Ceritanya, paragraph demi paragraph di atas tulis bergantian bareng temen kost saya dulu. Gara-garanya dia juga mentok mau cerita apa dalam tantangan 30 hari bercerita, dan saya juga sering kurang ide mau nulis apa seperti hari ini. Walau tanpa sadar kami menuliskan situasinya di tempat kos kami dulu, tapi cerita ini fiksi belaka. Gimana kelanjutan kisahnya? sepertinya harus ada kesepakatan dulu mau berapa banyak tokoh lagi dimunculkan dalam cerita ini, kalau nggak bisa-bisa jadi cerita seperti kdrama yang open ending yang cuma bikin penasaran.

nemu dari internet buat menambah kesan dramatis hehehhe…

Kapan lanjutannya ditulis? hmm…blum bisa dijanjikan. Ini cuma mencoba iseng, kira-kira kalau bikin fiksi bergantian bisa seperti apa. Sejauh ini saya sudah punya beberapa alternatif bagaimana mengakhiri cerita ini, tapi biar diendapkan dulu sebelum dilanjutkan ya hehehe.