Applikasi untuk Mengenal Huruf Thai

Tulisan ini masih ada sambungannya dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Nah kalau misalnya mantap nih mau jalan-jalan atau tinggal di Chiang mai, hal berikut yang perlu diketahui adalah bahasa Thai itu berbeda dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Tulisannya bukan dengan alphabet a-z seperti yang kita kenal dan satu hal lagi yang sangat perlu diperhatikan, bahasa Thai itu bahasa yang tonal. Jadi kalau kita mengucapkan sesuatu, nada naik turun suara kita bisa membuat kata yang transliterasinya sama berbeda makna.

Nah supaya familiar dengan huruf-huruf Thai, kalau ada yang mau mengenal 44 konsonan, 32 vokal, tone marks dan angka dalam tulisan Thai, bisa coba donlot aplikasi KengThai. Aplikasi ini ada versi lite yang bisa dipakai secara gratis dan cukuplah kalau mau pengenalan tahap awal. Kalau misalnya punya anak kecil, nah aplikasi ini juga cocok buat anak kecil belajar tracing huruf Thai hehehe. Aplikasi ini tersedia di AppStore untuk iOS maupun GooglePlay untuk Android.

Ada banyak aplikasi untuk belajar bahasa Thai, tapi saya suka dengan aplikasi ini untuk mengenalkan hurufnya dulu. Aplikasi ini juga mengenalkan cara menulis huruf Thai. Berbeda dengan menuliskan alphabet latin, menuliskan huruf Thai ada aturannya, bukan sekedar asal terlihat sama bentuknya. Setiap huruf Thai juga ada namanya dan bunyinya. Kalau sudah bisa mengingat sebagian besar informasi dari game ini, tahap berikutnya baru deh mencoba aplikasi untuk belajar bahasa Thai.

Dulu, waktu saya di awal belajar bahasa Thai, aplikasi ini belum ada. Saya kursus bahasa Thai untuk percakapan saja dan tidak langsung belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Kalau saya mengulang dari awal, rasanya saya akan memilih untuk belajar membaca dan menulis langsung sambil belajar percakapannya. Sekarang ini setelah nyaman bisa berbahasa Thai, ada kemalasan tersendiri untuk memaksakan diri membaca dan menulis bahasa Thai, apalagi karena tidak ada kebutuhan.

Joshua dan Jonathan belajar menulis huruf Thai menggunakan applikasi ini, selain juga dengan bantuan poster di rumah dan buku-buku yang bisa di trace yang bisa di beli dengan murah. Dibandingkan aplikasi lain, aplikasi ini antar mukanya lebih besar dan lebih gampang untuk tracingnya. Gambarnya juga cukup menarik dan suaranya cukup jelas untuk ditirukan. Sekarang ini, Joshua sudah bisa mengingat keseluruhan 44 konsonan Thai, tapi karena dia masih belum mengerti konsep menggabungkan konsonan dan vokal, dia belum bisa diajarkan untuk membaca bahasa Thai yang menggabungkan konsonan dan vokalnya.

Setelah belajar mengenal huruf, tahap berikutnya adalah mengenal kata-kata dalam bahasa Thai. Nah untuk ini akan saya tuliskan di posting terpisah. Belajar bahasa itu tidak cukup dengan 1 app atau 1 buku saja. Kunci dari belajar bahasa adalah kita harus menggunakan bahasa itu. Contohnya, walaupun bertahun-tahun sudah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, tapi untuk menulis dalam bahasa Inggris, grammar saya masih sering kacau. Untuk bahasa Thai juga vocabulary yang tidak dipakai banyak yang saya lupa walaupun pernah belajar.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi app atau buku untuk belajar bahasa Thai, silakan tulis di komen ya.

Fishing Game

Mainan ini umurnya udah 6 tahun (dari april 2013), dulunya dibelikan sama temennya Joe buat Jonathan. Waktu itu Jonathan masih berumur 2 tahunan dan mainan ini untuk anak 3 tahun ke atas. Nah kebetulan, sebelum ke Bandung kami sudah beli mainan serupa yang lebih kecil di Depok, tapi karena mainan ini lebih besar, tentunya kami bawa ke Chiang Mai dan masih awet sampai sekarang dan bisa dimainkan sama Joshua juga.

bisa main bareng

Dulunya, mainan ini banyak saya simpan, sesekali dikeluarkan dan setiap dikeluarkan dimainkan sampai baterenya habis. Setelah batere habis, karena gak ada suaranya Jonathan bosan. Sebelum ikan-ikannya hilang, saya rapihkan dan simpan kembali ke dalam kotaknya dan masukkan lemari hahaha.

Setelah ada Joshua, mainan ini sudah beberapa kali dikeluarkan juga. Jonathan juga masih suka memainkannya. Waktu Joshua masih kecil banget, dia senang mendengarkan musiknya dan kebanyakan Jonathan dan papanya yang main pancing-pancing ikan. Mainan ini gak terlalu mudah dimainkan, karena harus nunggu ikannya terbuka mulutnya baru bisa dipancing. Tapi mainan ini cukup seru karena kadang-kadang sudah kepancing eh lepas lagi. Mainan ini bisa dimainkan sampai 30 menitan, sebelum akhirnya bosan dan beralih ke mainan lain.

jangan buang kotaknya, supaya mainannya tidak ada yang hilang

Setelah 6 tahun, karena kami kadang-kadang lupa mengeluarkan baterenya ketika menyimpan, tempat baterenya mulai berkarat. Setelah dibersihkan sama Joe, masih bisa dimainkan dan berjalan dengan baik. Ikan-ikannya juga masih utuh jumlahnya, walau kadang-kadang mulut ikannya ada yang gampang lepas, tapi ya masih bisa dipasang kembali. Pancingnya dari 4 sekarang tersisa 2, sepertinya ada yang patah dan ada juga yang dibuang-buang dan waktu membereskan gak ketemu jadi ya masih ada 2 masih bisa main berdua, jadi cukuplah.

Sekarang ini, Jonathan dan Joshua kadang berebutan juga mainnya. Tapi karena ini mainan untuk 3 tahun ke atas, saya kasih pengertian ke Jonathan kalau ini bukan mainan Jonathan lagi tapi udah jadi mainan Joshua. Untungnya Jonathan mau ngerti dan mungkin dia senang juga dianggap anak besar. Kalau mereka mulai rusuh dan gak mau akur, mainannya saya simpan.

Setelah bosan mancing, biasanya Joshua mulai memainkannya dengan menyusun ikan-ikannya menjadi huruf-huruf. Joshua memang sangat rajin menyusun semua benda jadi huruf dan angka. Tapi biasanya dia akan membiarkan mainannya berbunyi, dan dia sibuk menyusun dari A sampai Z, lalu angka sampai bosan.

apapun mainannya, pasti disusun jadi huruf sama Joshua

Kadang-kadang mereka ingat untuk mematikan mainannya, tapi ya untungnya bunyi mainan ini tidak terlalu kencang. Baterenya memakai batere kecil AAA 3 biji. Sekali ganti batere, mainan ini bisa dimainkan sekitar seminggu. Setelah seminggu saya simpan dan keluar lagi kalau dicariin hehehe.

Mainan ini cukup bagus untuk melatih kesabaran memancing. Tapi kalau gak sabar memancing, ya bisa juga kayak Joshua dipakai untuk menyusun huruf, angka dan bentuk-bentuk. Dulu saya pakai juga untuk mengenalkan warna dan menghitung jumlah ikan yang berhasil dipancing. Ada yang anaknya punya mainan ini? kira-kira anaknya suka mainkannya seperti apa?

Seri Game Professor Layton

Di posting ini saya ingin memperkenalkan seri game Professor Layton yang menurut saya sangat bagus untuk mengajarkan computational thinking. Seri game ini yang awalnya dirilis untuk Nintendo DS ini diinspirasi oleh seri buku puzzle karangan Professor Akira Tago (seri buku karangannya terjual jutaan copy di Jepang sejak 1966). Ada beberapa seri game ini, semuanya adalah puzzle petualangan. Kita bertualang sambil menyelesaikan berbagai puzzle yang ditemui sepanjang perjalanan.

Jenis Puzzle

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai gamenya, seperti apa sih isi puzzle di game ini? Ada lebih dari 100 puzzle di setiap game, dan semuanya sangat bervariasi. Sebagian puzzle dikaitkan dengan cerita yang berjalan, sebagian lagi muncul sebagai “hidden puzzle”, dan sebagian lagi muncul karena mereka teringat sesuatu “melihat benda itu mengingatkanku pada puzzle berikut ini”.

Beberapa puzzle adalah puzzle klasik yang mungkin sudah diketahui banyak orang, tapi sedikit lebih menarik karena interaktif, misalnya bagaimana cara menyebrangkan berbagai binatang dengan konstrain tertentu

Puzzle lain memerlukan perhitungan matematika sederhana, seperti soal cerita di pelajaran matematika.

Bahkan ada Puzzle Knight’s Tour yang merupakan persoalan matematika yang menjadi latihan untuk implementasi algoritma. Tapi pembuatnya berbaik hati, tidak memakai ukuran board catur yang lengkap 8×8 (ada 3 puzzle sejenis ini, dimulai dari board 3×4, lalu 5×5, dan terakhir 6×6). 

Ada berbagai puzzle logika sejenis ini 

Ada juga yang sekedar menyusun potongan jigsaw puzzle

Dan masih banyak lagi, beberapa jenis yang lain misalnya:

Sebagian puzzle sifatnya pilihan ganda sehingga bisa ditebak (walau jumah rewardnya akan dikurangi jika tidak langsung menjawab benar). Sebagian lagi berupa input numerik yang lebih sulit ditebak, dan sebagian lain harus benar-benar dikerjakan.

Perhatikan bahwa ada tombol “Hints” di setiap puzzle jadi jika sudah frustrasi atau bingung, kita bisa meminta petunjuk. Kita akan menghabiskan 1 koin untuk tiap hint (koin ini bisa didapatkan secara gratis dalam game). Dan tentunya jika benar-benar stuck, kita bisa mencari jawabannya di Internet.

Tidak semua puzzle harus diselesaikan untuk bisa meneruskan cerita (jadi tidak perlu frustrasi karena tidak bisa menyelesaikan beberapa puzzle), tapi ada jumlah minimum yang perlu diselesaikan untuk melewati tempat tertentu. 

Puzzlenya juga bukan bersifat action, jadi tidak butuh ketangkasan menekan tombol atau berusaha menyelesaikan puzzle sebelum batas waktu tertentu.

Computational Thinking

Sebenarnya seri Professor Layton ini sudah agak lama (versi pertama bahasa Inggris tahun 2008), dan saya sempat berhenti bermain. Alasan kenapa baru posting sekarang, karena belum lama ini Jonathan melihat game yang saya mainkan terakhir di Nintendo DSi dan menyelesaikan Professor Layton and the Specter’s Call. Jonathan meminta saya meneruskan lagi main game ini, sementara Jonathan memainkan seri sebelumnya (Professor Layton and The Lost Future). Sekarang ini Risna juga sedang mulai memainkan game pertama, jadi game ini cocok untuk keluarga.

Ketika melihat puzzle-puzzlenya, ini mengingatkan saya pada berbagai soal latihan computational thinking yang saya lihat di website Bebras. Jadi mungkin game ini bisa berguna untuk memperkenalkan computation thinking. Meskipun game ini sangat terkenal (sampai 2018 terjual 17 juta unit), tapi tidak semua orang mengenal game ini.

Dibandingkan belajar aplikasi Coding, menurut saya puzzle-puzzle yang ada lebih fun. Dan jika ingin dihubungkan ke coding juga bisa. Saya sendiri menganggap beberapa puzzle sebagai tantangan coding dan saya menulis program kecil untuk menyelesaikan puzzle tertentu.

Seperti saya jelaskan di atas, kadang puzzle bisa ditebak tanpa berpikir (untuk kasus pilihan ganda) dan ini kurang bagus. Supaya optimal, anak perlu ditemani dan ditanya bagaimana dia menyelesaikan puzzle tersebut, bagaimana logikanya sampai ke kesimpulan jawaban tertentu.

Game ini tidak perlu waktu lama setiap kali main. Kita bisa menyelesaikan 1-2 puzzle, menyimpan game, dan diteruskan lagi di waktu lain. Jadi seorang anak bisa dicegah dari kecanduan karena bisa diminta berhenti kapanpun.  Gamenya terdiri dari beberapa chapter cerita, dan hanya ketika ada video maka kita tidak bisa menyimpan gamenya (setiap videonya kurang dari 5 menit, dan total seluruh videonya hanya beberapa puluh menit).

Memainkan game

Seri utama game ini dirancang dan diterbitkan kali pertama untuk Nintendo DS (4 game) dan 3DS (saat ini 2 game), tapi saat ini ada beberapa seri Professor Layton yang tersedia juga untuk Android dan iOS. Karena memang dari awal dirancang untuk Nintendo DS, menurut saya game ini lebih nyaman dimainkan di Nintendo DS/3DS. Selain seri utama, ada beberapa spin-off game Layton. Menurut saya sebaiknya mulai dari versi asli pertama jika ingin menikmati kontinuitas ceritanya.

Selain memainkan di hardware Nintendo DS, kita juga bisa memakai emulator di PC (DesMume/NO$GBA), atau di ponsel (Drastic, NDS Emulator, dsb) atau memainkan versi porting di iOS. Saat ini baru game pertama yang dirilis untuk iOS, dan komentarnya adalah: kurang enak dimainkan tanpa stylus di iPhone (sebaiknya dimainkan di iPad).

Saat ini Nintendo merilis beberapa handheld console yang bisa memainkan game Nintendo DS: Nintendo DS Lite, Nintendo DSi, Nintendo 3DS, dan Nintendo 2DS. Masing-masing ada ukuran XL untuk yang ingin memakai layar lebih besar. Secara umum ada 2 jenis game: untuk DS (bisa dimainkan di semua console) dan untuk 3DS (bisa dimainkan di Nintendo 3DS atau 2DS).

Agar legal saya menyarankan untuk membeli game bekas (misalnya dari eBay), jika Anda bisa bahasa Jepang, maka versi Jepang biasanya lebih murah. Jika belum punya Nintendo DS, harga sebuah Console Nintendo DS bekas saat ini sekitar 10-20 USD saja, dan game-gamenya bekasnya bisa dibeli sekitar 10 usd per game (game kurang populer lebih murah dan yang populer lebih mahal dari itu).

Saya tidak menyarankan pembajakan, tapi sekedar memberi informasi saja: semua game di Nintendo DS mudah dicari bajakannya dan bisa dimainkan langsung di hardware dengan flash cart yang harganya murah.  Bahkan untuk Nintendo DSi tidak butuh flash cart, cukup modifikasi firmware. Saya sendiri memakai flashcart untuk membuat aplikasi homebrew sendiri.

Game Nintendo DS sifatnya region free, semua catridge dari semua wilayah bisa dipakai di console manapun. Tapi perlu diperhatikan bahwa Game Nintendo 3DS tidak region free, jadi ketika ingin membeli game khusus 3DS, pastikan regionnya sama dengan region console yang Anda beli.

Jika masih bingung dengan semua penjelasan itu, silakan ditanyakan ke temannya yang gamer dan suka produk Nintendo.

Saat ini saya baru menyelesaikan 3 game dalam seri utama Professor Layton. Berikut ini serinya (angka dalam kurung adalah tahun rilis versi bahasa Inggris): Professor Layton and the Curious Village (2008), Professor Layton and Pandora’s Box (2009), dan Professor Layton and the Lost Future (2010). Game yang sedang saya selesaikan adalah Professor Layton and the Spectre’s Call (2011). Rencana berikutnya saya akan membeli dan memainkan Professor Layton versi 3DS (Professor Layton and the Miracle Mask).

Kenapa Masih Main Pokemon Go

Sejak ada Pokemon Go (pertengahan tahun 2016), Joe semangat sekali main dan semangatnya ketularan ke Jonathan. Awalnya saya malas main, karena saya ga ngerti apa sih pokemon itu, lagipula saya pikir pokemon itu kan singkatan dari pocket monster, ngapain saya ngajarin anak soal monster. Bisa dibilang saya membuat kesimpulan tanpa tahu apa itu game pokemon. Salah satu alasan saya ga mau main pokemon juga karena saya takut ketagihan. Dulu saya pernah main The Sims dan kalau sudah mulai, saya ga bisa berhenti dan bisa bergadang berhari-hari. Sejak itu saya memilih tidak memulai main game baik itu game minesweeper apalagi candy crush.

Bulbasaur, Charmander dan Squirtle merupakan pilihan starter Pokemon

Lama-lama, dengan setengah hati, karena saya sering ga mengerti obrolan Jonathan dan Joe, akhirnya saya join juga main Pokemon Go. Di awal-awal saya main seingatnya saja, dan merasa ga gitu seru juga karena mainnya ga bisa di rumah doang, tapi harus jalan-jalan keluar mencari pokestop, battle di gym, nangkepin pokemon dan itu semua ga mungkin jadi addiction kalau cuma di rumah saja (di dekat rumah nggak ada pokestop/poke gym). Lanjutkan membaca “Kenapa Masih Main Pokemon Go”

Retrogaming

Salah satu minat saya kalau lagi iseng adalah retrogaming. sederhananya main game console lama (baik itu di device asli maupun emulator). Ini cuma sekedar cerita, bukan posting teknis yang serius.

Saat ini saya punya beberapa Game Boy: Game Boy biasa, Game Boy Color, Game Boy Advance, dan juga clone Game Boy Color yang layarnya memiliki backlight (namanya GB Color). Saya juga punya Link Cable, kamera dan juga printer Gameboy. Koleksi saya ini tidak seberapa dibandingkan dengan koleksi banyak orang lain. Adik saya di Indonesia juga punya hobi yang sama, dan bahkan punya lapak online di Instagram yang menjual retro console. Hobinya membeli berbagai console bekas, lalu menukar isinya, mengganti komponennya atau mengakali supaya jalan lagi (adik saya ini dosen elektro). Lanjutkan membaca “Retrogaming”

Hacking In App Purchase

Di artikel ini saya akan membas teknis hacking In App Purchase (IAP) Sebelum membahas teknis hacking IAP, saya perlu menegaskan dulu bahwa saya tidak setuju dengan berbagai bentuk pembajakan. Di artikel ini saya akan menyinggung Apple App Store, tapi pembahasan akan lebih banyak ke Android (karena sekarang ini saya lebih banyak memakai Android). Saya sengaja tidak melink ke berbagai tool hacking yang saya sebutkan di sini, silakan dicari sendiri.

Jangan Membajak

Sebagai developer saya tahu betapa tidak enaknya jika karya kita dibajak. Saya selalu berusaha membeli semua hal secara legal. Semua software yang saya pakai saya beli atau memakai versi gratis. Saya membeli OS Windows, membeli Office (sekarang subscribe Office 365), dan juga membeli tools-tools yang memang berguna saya, misalnya saya membeli/subscribe IntelliJ ultimate, VMWare Fusion, dsb. Saya juga berusaha membeli segala macam produk digital lain, seperti musik (dari iTunes), film (subscribe NetFlix, atau menonton dari Youtube), buku (membeli dari Amazon Kindle ataupun Google Play Books). Lanjutkan membaca “Hacking In App Purchase”

Humongous Entertainment

Pagi ini seperti biasa Jonathan memanggil-manggil papanya ketika bagun pagi. Biasanya dia akan memanggil dan bilang “papa, sini dong, temenin aku masih mau bobo”. Tapi pagi ini teriakannya beda: “papa sini dong, aku mau main game Zoo”.

Beberapa hari yang lalu ada Humble Flash Bundle, game-game Humongous Entertainment dijual seharga 20 USD (27 game, harga normalnya 99.99 USD). Sebenarnya agak ragu mau beli game ini, karena dulu waktu jaman game ini populer (tahun 1990an), saya nggak pernah main game ini. Tapi melihat berbagai comment di berbagai website yang bilang bahwa game ini bagus sekali untuk anak-anak, maka akhirnya saya beli juga.

Game pertama yang saya mainkan bersama Jonathan adalah “Putt-Putt Saves The Zoo”. Musiknya bagus, grafiknya lucu, puzzlenya agak rumit untuk anak kecil (mungkin usia 5 tahun ke atas baru akan bisa menyelesaikan game ini). Kalau dimainkan ulang, gamenya akan sedikit berbeda puzzlenya dan percakapannya. Saya mainkan ini di komputer, sementara Jonathan ikut melihat dan berkomentar.

Game-game ini di-redeem di Steam game store, dan bisa dimainkan di Mac, Linux, maupun Windows. Setelah dicermati, ternyata game-game ini semuanya menggunakan ScummVM, jadi file-filenya bisa dicopy dan dijalankan langsung dengan ScummVM open source. Baru saja saya coba, game-gamenya bisa dijalankan di Windows, Linux, dan bahkan Android dengan ScummVM.

Hebat juga pembuat game ini, 20 tahun kemudian masih bisa menghibur dan mendidik.

IMG_20140801_061859

Bagus juga bisa di Android, jadi bisa dibawa ke mana-mana.

 

Screenshot_2014-08-01-13-00-45

Sudah dimainkan sampai Tamat:

2014-08-01_00004