Dear Diary

Dari duluuuu gue ga pernah punya diary. Tepatnya ga bisa cukup konsisten untuk mengisi diary tiap hari. Pernah sekali beli buku yang mirip diary, niatnya ingin mencoba untuk menulis diary tapi ga berhasil. Terus mencoba untuk mempunyai diary digital, tapi tetep ga berhasil. Mencoba membuat sebuah diary blog…wah itu lagi paling tidak akan pernah bisa berhasil. Mana mungkin gue mau punya diary yang dibaca sama orang lain? jangankan dibaca semua orang, dibaca satu atau dua orang aja ogah. Bahkan kalau gue tau tulisan diary gue suatu saat akan dibaca orang gue pasti akan semakin tidak bisa menulis diary. Loh tapi kok bisa nulis blog yah?

Waktu nulis blog gue juga ga bisa diliatin (bahkan si Joe sering gue marahin kalau ngeliatin pas gue nulis), kalau diliatin serasa apa yang mau ditulis jadi hilang. Menulis blog juga butuh waktu buat gue, butuh inspirasi dan kejadian tertentu. Kalau dulu sih seringnya dari nonton tv atau dari cerita-cerita yang terjadi disekitar. Tanpa disadari style ngeblog gue agak semakin berubah. Kalau dulu gue sering menuliskan sesuatu yang serba mengambang, anonim dan sedikit berfilosofi. Sekarang….hehe…anonimity menghilang, no wonder kemaren seorang teman pernah protes karena ceritanya ditulis dengan identitas yang agak jelas (setidaknya dia tau itu adalah dirinya hahaha, mungkin kalau dia baca tulisan ini pasti ngeh sapa yang gue maksud, eitss tapi jangan pada ge er yah). Kalau mengenai berfilosofi…wah..gimana yah, gue males kalau blog gue diprotes orang-orang yang ga gue kenal atau gak memperkenalkan diri dulu. Dulu posting gue ga pernah mengundang kontroversi, tapi belakangan entah kenapa ada aja orang-orang yang suka membuat kontroversi.

Gue orangnya cinta damai tapi suka ribut (ini kan bertentangan yah). Ya…maksudnya, gue ga suka ada perang dimana-mana tapi gue juga ga suka kalau ada orang yang diam aja saat ditindas. Biasanya gue suka protes kalau ada hal-hal yang gue rasa tidak wajar. Tindakan protes ini kadang-kadang dianggap kritis, kadang-kadang bisa jadi cerewet. Tapi mungkin lebih sering cerewetnya daripada kritisnya, entahlah…

Dulu…waktu sering memberikan pelatihan gue selalu dikenal sebagai pengajar yang galak dan mungkin kejam. Temen-temen gue yang kenal gue juga mengenal gue sebagai gue yang galak tapi ada tapinya, katanya sih galak tapi baik (hehehe muji diri :P). Tapi ada temen gue yang bilang gue ramah, kalau ada urusan dengan customer service katanya gue bisa beramah tamah dan bertanya dengan sabar sampai urusan kelar. Padahal….gue pernah nelpon cs satelindo selama 15 menit tengah malam buta dan cs xl selama setengah jam gara-gara urusan yang gue anggap harusnya bisa diberesin dengan cepat :P. Ah itu kan tergantung gimana si cs nya aja 😛 . Dengan cs xl terakhir gue berakhir bahagia (alias komplain gue ditanggepi dengan cepat dan si mbak nya ga merasa sakit hati gue omelin hehe malah bisa ketawa-tawa).

Ini mau nulis apa sih sebenernya? ga tau juga deh, kenapa juga isinya jadi kayak tulisan kelompok PPD jaman gue kuliah dulu yah? ada yang ga tau PPD? bukann… bukan bus PPD, tapi ah…gue juga lupa kepanjanganya apa, tapi anggap aja ppd = para pemuja diri. Ya sudahlah…tetep aja gue gagal punya diary walaupun awal tahun ini gue sudah berniat untuk konsisten menulis diary tetep ga bisa. Kenapa yaaa…. (loh kok balik lagi ke sini? ga nyambung yah)

Bahasa Inggris

Saya sebenarnya nggak terlalu pinter berbahasa Inggris, tapi kok kayaknya banyak banget orang yang tidak mau memperhatikan tata bahasa dan ejaan bahasa Inggrisnya ya? Sering saya nggak jadi beli kertas surat yang bagus, atau produk yang menarik karena bahasa Inggrisnya kacau (dan bisa diinterpretasikan menjadi berbeda oleh orang yang tahu bahasa Inggris). Cukup sulitkah memakai spelling dan grammar checker yang ada di Microsoft Word? atau membayar orang dengan nilai TOEFL yang sedikit lebih tinggi? (sayang kan kalo produknya banyak yang gak mau beli cuma gara-gara kata-katanya gak bagus).

Ini contoh dari keset murah yang dibeli oleh mbak Risna waktu lagi ada obral:

Bahasa Inggris Kacau

BBM dan BALI BOM

Gue mempertanyakan apa sih untungnya ngebom suatu tempat? (dalam hal ini Bali), apa sih bagusnya bunuh diri pake bom? apa sih maunya orang2 yang ngebom itu? ga keren amat, beraninya lempar batu sembunyi tangan. Semoga orang-orang yang merencanakan pemboman di Bali itu mendapat pengampunan dari Yang Maha Kuasa, semoga mereka bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Semoga mereka sadar bahwa apa yang mereka yakini itu adalah kebodohan semata (sok tau ya gue).

Gue mempertanyakan apa sih untungnya orang-orang yang demo untuk menuntut pembatalan kenaikan BBM? sudahlah, the show must go on. Tidak mungkin itu ada penurunan lagi. Gue cuma berharap bahwa BBM tetap ada untuk kita gunakan. Bayangkan apa yang terjadi kalau BBM menjadi barang yang benar-benar langka. Bukan masalah harga yang mahal (uang sih bisa dicari), tapi…kalau sampai BBM habis bis bis… kita ga bisa berbuat apapun lagi. Daripada demo yang juga memboroskan energi, lebih baik bergiat gerakan hemat energi 🙂

iPod Nano dari Adik-adik yang baik

Hari Jumat yang lalu, adikku Yosi mau pulang ke Depok karena pacarnya kecelakaan motor. Tapi sebelum pulang dia mau ketemu dulu, penting katannya. Ternyata waktu ketemu, dia ngasih iPod Nano. Model terbaru iPod yang super mungil. Katanya sih hadiah dari dia dan Aris karena telah menjadi kakak yang baik, dan dah banyak ngasih aneka macam hal ke mereka sedangkan mereka nggak pernah ngasih apa-apa.

Benar-benar surprise dan mengharukan (soalnya emang gak ada event apa-apa, gak ulang tahun juga). Thanks ya, kalian memang adik-adik yang baik.

Another Hot Spot in Town

Hari ini iseng2 main ke BEC. Niatnya ngecengin Acer Aspire 5002 yang bisa menggantikan laptop+desktop di rumah karena ukurannya yang super duper besar. Tapi walaupun demikian besarnya, dia ga sekedar besar, dari speknya sih kayaknya powerful. Oh sungguh aku tergoda…slurp…:P

tapi…kenapa belum nemu reviewnya yah? 🙁

Pas ke lantai atas untuk menenangkan hati sebelum terburu2 beli, iseng nanya berapa bayarnya kalau mau online hotspot di BEC, ternyata….GRATIS bo! Dan katanya akan gratis sampai akhir bulan ini karena bulan ini sudah mo abis kontraknya dengan BEC. So…what’s next? semoga MELSA! supaya gue ga harus nongkrong di tempat yang menghabiskan extra cost ituh!, setidaknya di foodcourt BEC masih ada makanan Indonesia..Yummy…

BTW, duluuu katanya RADNET mau nyediain layanan hotspot di setiap Mc D, oh…daku sangat menanti-nantikan Mc D simpang dago punya hotspot, supaya tak perlu berjauh jauh ke BEC ataupun OhLaLa…

Stories of Life

Ini ada beberapa kisah menarik yang kutemui yang belum sempat ditulis

Cerita #1 (Souvenir pernikahan): Adikku punya temen yang menikah, dan seperti biasa, memberikan cindera mata kepada para tamu. Tapi temen adikku ini nggak ngasih souvenir kecil, tapi sebuah CD lagu-lagu cinta, yang bajakan. Semoga Tuhan masih merestui pernikahan mereka, meskipun CD yang diberikan adalah CD bajakan.

Cerita #2 (Admin yang rajin): Admin di tempat pelaksanaan OSN (Olimpiade Sains Nasional) sangat rajin, dia menginstall semua komputer (100 komputer) satu persatu, menggabung semua komputer ke domain (satu persatu), menginstall freepascal (satu persatu), pergi ke server, lalu membuat 100 account, satu persatu, dst.

Aku hampir gila melihat orang itu bekerja, tapi karena dia nggak meminta bantuan, dan sepertinya sangat bangga dengan pekerjaannya, ya aku biarkan aja. Sebagai informasi, menginstall dan mengkonfigurasi komputer sebanyak itu cuma butuh beberapa jam kalau mau belajar menggunakan tools yang tepat (seperti yang kulakukan di pekan baru).

Sayangnya admin itu nggak cukup rajin bangun pagi, jadi waktu di hari lomba, dia belum sampai ke lab tempat lomba, padahal dia yang bawa kunci, jadi pintunya terpaksa kami jebol.

Lanjutkan membaca “Stories of Life”