SosMed, Dulu dan Sekarang

Ini masih nyambung dengan nostalgia dulu dan sekarang e-mail, tapi sekarang mau bahas jejaring pertemanan alias sosmed. Masa awal internet mulai bisa dipakai umum, dengan segala pembahasan positif dan negatif, kebanyakan orang masih menjaga anonimitas. Sekarang ini dunia online sudah jadi ekstensi keberadaan kita di dunia nyata.

Pertama kali join jaringan pertemanan Friendster. Friendster awalnya jauh berbeda dengan Facebook sekarang. Jari kita menambahkan teman, dan diharapkan kita memberi testimony mengenai teman kita tersebut. Friendster berusaha menggabungkan platform blog juga ke jaringan pertemanannya, saya juga sempat ngeblog di Friendster, tapi pada akhirnya saya memilih kembali ke blog ini.

Continue reading “SosMed, Dulu dan Sekarang”

Thanksgiving Day, Loy Kratong dan Yi Peng Festival di Chiang Mai

Hari ini, hari Kamis ke-4 dalam bulan November, orang Amerika merayakan Thanksgiving Day. Hari ini, malam bulan purnama di bulan ke-12 kalendar Lunar Thai, orang Thailand merayakan Loy Kratong. Loy kratong juga diikuti dengan Yee Ping Festival yang jatuh pada malam bulan purnama bulan ke-2 kalendar Lanna. Hari ini 22 November 2018, bukan hari libur di Thailand, walaupun banyak kegiatan berlangsung terutama di sepanjang sungai.

Di Chiang Mai, banyak expat dari berbagai negara dan tentunya juga banyak yang dari Amerika. Sangkin banyaknya, di Chiang Mai sampai ada konsulat Amerika segala. Hari ini beberapa restoran yang biasa menyajikan makanan Amerika dan hotel memanfaatkan momen yang ada untuk menjual paket dinner Thanskgiving Day, dan buat yang lokasinya dekat dengan sungai Ping, mereka memanfaatkan untuk menjual tiket makan malam perayaan Loy Kratong dan Yi Peng Festival.

Dampak dari beberapa perayaan jatuh di hari yang sama yang paling terasa adalah: banyak jalanan macet. Kalau saja ga punya kegiatan wajib, rasanya lebih baik ga usah kemana-mana. Akses jalan ke rumah kami, yang terdekat itu melewati daerah sungai Ping, dan kalau sudah begini, harus siap-siap kena macet.

Kami, sebagai orang Indonesia yang tidak merayakan Thanksgiving dan tidak merayakan Loy Kratong maupun Yi Peng Festival, biasanya cuma jadi penonton saja. Lokasi rumah yang dekat dengan tempat orang-orang menghanyutkan Kratong, membuat kami bisa dengan mudah melihat kegiatan mereka ini. Tahun-tahun sebelumnya, Jonathan pernah juga bawa pulang kratong yang dijadikan kegiatan di sekolah, jadilah kami ikutan sesekali menghanyutkan kratong di sungai.

Pertama kali tahu mengenai Loy Kratong ini, saya bertanya-tanya, sebenarnya kegiatan ini kegiatan keagamaan atau budaya? Ternyata asal mulanya lebih merupakan kegiatan keagamaan, tapi entahlah bagaimana, orang Thailand pinter aja mengemas kegiatan mereka menjadi sesuatu yang menarik juga untuk turis asing. Sekarang ini, saya lihat perayaan Loy Kratong dan Yi Peng festival lebih komersil dibandingkan religius.

Beberapa waktu lalu, saya dengar percakapan seorang Thai non Budha berkata kalau mereka tidak lagi ikut-ikutan menghanyutkan kratong, karena itu bertentangan dengan agama yang mereka yakini. Tapi salah seorang teman non Thai lain berkata kalau tetangganya yang bukan Budha mengencourage untuk tetap ikutan mengenalkan budaya Loy Kratong ke anak-anaknya. Kami sendiri sebagai non Budha, melihat keramaian Loy Kratong ini sebagai budaya yang menarik untuk diamati di Thailand.

Yang saya tidak suka dari acara Loy Kratong ini adalah: kadangkala orang masih main petasan lewat jam 10 malam. Masa anak-anak kami masih bayi, keributan petasan bikin anak nangis dan susah tidur. Beberapa tahun ini, pemerintah Thailand mulai meregulasi jam untuk bermain petasan, dan sekarang ini festivalnya lebih terjadwal dan gak bikin kaget tengah malam lagi.

Dampak negatif dari menghanyutkan Kratong juga ada. Awalnya, Kratong itu dibuat menggunakan bahan yang 100 persen biodegradable, bahan utama pelepah pisang, daun pisang, bunga-bunga dan lilin. Belakangan untuk membuat lebih indah, banyak juga yang membuat dengan styrofoam dan kertas. Tahun ini saya sudah melihat ada himbauan untuk memilih Kratong yang ramah lingkungan. Walaupun Kratong ramah lingkungan, biasanya hari berikutnya sungai Ping jadi terlihat kotor. Pemerintah di sini untungnya cukup sigap, mereka mengerahkan petugas dan volunteer untuk membersihkan sungai.

Dampak dari Yi Peng festival juga ada, kabarnya tahun ini hanya diijinkan beberapa lokasi untuk melepaskan lantern secara masal dan ditentukan jamnya. Untuk kegiatan ini, beberapa penerbangan di Chiang Mai juga harus direschedule. Kadang-kadang ada juga kejadian rumah terbakar dan atau pemadaman listrik karena ada khomloi yang jatuh di kabel listrik.


Jutaan khomloi dilepaskan ke angkasa memang terlihat indah, tidak heran beberapa tempat yang mendapat ijin mengadakan acara ini menjual tiket cukup mahal mulai dari 2ribuan baht.


Lalu bagaimana cara menikmati Loy Kratong dan Yi Peng di Chiang Mai dengan aman? kalau kami sih pilih jalan ke sungai dekat rumah, perhatikan kratong yang dihanyutkan orang lain. Sesekali perhatikan langit dan lihatlah komloi seperti kunang-kunang diangkasa. Kalau ingin ikut menerbangkan komloi, pilihlah lokasi yang memang diijinkan dan tiketnya tidak mahal. Kami belum pernah ikutan menerbangkan komloi massal, rencananya nanti saja kalau anak-anak sudah besar, jadi tidak risiko kehilangan anak di keramaian hahaa.


Tahun 2008, sebelum punya anak, kami pernah ikutan keramaian sekitar Nawarat Bridge. Pernah di posting di blog ini juga. Kemungkinannya tahun ini acaranya semakin ramai dibanding 10 tahun lalu. Kami memilih menghindar dari kemacetan dan keramaian tahun ini. Kalau ada yang pingin lihat foto-foto 10 tahun lalu, bisa cek linknya di posting 10 tahun lalu hehehe.

Perjalanan sebuah Stroller

Stroller ini kami beli second hand dari orang yang anaknya sudah tidak mau duduk di stroller lagi. Menurut ceritanya mereka memiliki stroller ini selama 6 tahun dan dipakai oleh ke-2 anaknya. Kami membelinya ketika Joshua mulai bisa duduk, sebelum dia setahun sampai akhirnya beberapa bulan ini dia tidak mau lagi duduk si stroller karena sudah kesempitan. Stroller jaman Jonathan terlalu ringkih untuk membawa Joshua yang sejak kecil beratnya selalu diatas grafik anak seumurnya. Stroller bekas Jonathan kami berikan ke tukang pijet yang cucunya waktu itu sudah bisa duduk.

Kalau dipikir-pikir, stroller ini sudah di bawa ke banyak tempat. Keluarga yang menjual stroller ini ke kami bukan asli Chiang Mai, dan sepertinya dalam 6 tahun pastilah sudah banyak beberapa perjalanan dengan stroller ini. Kami saja yang memakainya sekitar 3 tahun, sudah membawa ke Indonesia beberapa kali. Yang jelas sudah dibawa ke Depok maupun ke Medan.

Untuk stroller berumur 9 tahun, benda ini masih sangat bagus dan kuat. Apalagi waktu awal kami membelinya, Jonathan kadang-kadang masih minta duduk di stroller juga (Joshua saya gendong). Beban yang dibawa stroller ini juga lumayan berat, Joshua saja kami bawa sampai dia beratnya 20-an kg.

Selain stroller, banyak barang-barang kebutuhan bayi yang kami beli second hand. Crib, car seat, baby gate juga contoh barang bayi yang bisa beli secondhand dan dijual lagi kalau sudah tidak butuh. Dipikir-pikir umur barang-barang bayi itu bervariasi, harganya juga kalau beli baru bisa jauh lebih mahal daripada membeli second hand. Kadang saya kepikiran kira-kira crib yang kami beli second dan sudah kami jual lagi, sekarang ini sudah berapa kali berpindah tangan.

Membeli benda bayi baru tentunya harganya lumayan mahal. Contohnya stroller ini saja kalau di cek di lazada, karena barang bukan asli Thailand, harganya masih diatas 10ribu baht. Waktu kami beli, harganya tinggal 2500 baht, dan sekarang ini masih bisa dipasarkan dengan harga 1000 baht. Mungkin pemilik berikutnya akan menjadi pemilik terakhir sebelum akhirnya rusak, kecuali baru sebentar pakai anaknya udah ga mau duduk di stroller lagi, mungkin masih bisa dijual kisaran 800 – 500 baht atau didonasikan ke orang lain.

Di kota ini, banyak orang asing yang kadang sekedar travel untuk beberapa bulan, ada juga yang tinggal bertahun-tahun tapi setiap tahunnya pulang ke negerinya, barang bayi seperti stroller, car seat, gendongan, mainan dan buku biasanya mereka bawa dari negeri asal. Bisa jadi mereka dihadiahi atau ya beberapa benda lebih murah di Amerika atau Eropa, dan mereka ga perlu kena biaya kirim ataupun biaya impor. Kalau beruntung, kadang bisa dapat barang bayi secondhand yang masih sangat bagus dengan harga kurang dari harga beli.

Anyway, tadinya mau cerita soal stroller tapi jadi cerita barang bayi pada umumnya hehehe. Tapi karena stroller yang biasanya dibawa jalan-jalan, kemungkinannya ya si stroller merupakan barang bayi yang paling banyak dibawa-bawa selain tas popok atau gendongan untuk yang prefer gendongan.

Kami lebih suka membawa stroller, biasanya bisa untuk membawa barang-barang ekstra digantung di stroller nya. Kalau tempat tujuannya tidak stroller friendly misalnya banyak tangga naik turun, bawa anak di stroller bisa bikin ribet juga. Stroller ini paling sering kami bawa ke mall, dulu Joshua mau duduk tenang dan di lepas sesekali waktu kami menunggu Jonathan latihan taekwondo. Sekarang ini stroller nya sudah terasa sempit untuk Joshua, dia lebih suka jalan atau lari menentukan tujuan sendiri. Waktunya menjual stroller untuk digunakan keluarga yang membutuhkannya.

Chiang Dao

Hari ini, kami jalan-jalan ke Chiang Dao bareng temen-temen Indonesia di Chiang Mai. Cuma 4 keluarga Indonesia, ga sebanyak rencana semula. Tapi ada 1 teman dari teman, keluarga Thai Singapura, jadi total ada 9 orang dewasa dan 7 anak-anak berusia antara 3.5 tahun – 8 tahun.

Doi Chiang Dao

Chiang Dao lokasinya gak jauh dari Chiang Mai sekitar 80 km atau 1.5 jam driving, tapi ini kali pertama buat kami ke sini. Kami berangkat santai, sekitar jam 10 dari rumah, dan karena berhenti dulu di jalan, kami sampai di penginapan sekitar jam 12 siang. Kami menginap di Chiang Dao Story Camp,  tidak jauh dari tujuan wisata Chiang Dao Cave.

Sebagian dari rombongan memilih tenda dan sebagian tinggal di bungalow sederhana. Setelah menurunkan bawaan, kami memutuskan untuk makan siang di dekat tempat wisata tujuan utama di Chiang Dao, Selesai makan dan istirahat, sekitar jam 2.30 kami pun memutuskan masuk ke Goa di Chaing Dao.

Bungalow di Chiang Dao Story Camp

Sebenarnya, saya dan Joe bukan orang yang terlalu suka adventure, tapi kami pikir, ya sesekali melihat goa supaya Jonathan melihat stalaktit dan stalagmit dan juga kami pikir kebanyakan tempat wisata di Thailand sudah cukup dirapihkan, jadi tidak akan terlalu sulit. Tapi ternyata….cukup sulit hahaha.

Biaya masuk ke dalam Goa, harga Thai 20 baht, harga asing 40 baht, anak-anak gratis. Di dalam goa, kami bisa menyewa guide yang juga akan membawakan lampu petromax. Biaya guide 200 baht untuk 5 orang, dan lampunya 200 baht. Karena kami ada 9 orang dewasa, kami menyewa 2 orang guide (2 lampu). Oh ya, bagian goa ini ada 2, bagian yang masih sangat asli tanpa lampu dan bagian yang sudah dipasang lampu di sepanjang goanya.

Awalnya jalannya cuma naik tangga biasa, saya pikir, oke ini cuma bakal capek naik turun saja,. Lalu di bagian dalam, mulailah jalannya pun tidak rata dan kadang agak licin. Lalu ada bagian di mana kami harus menunduk untuk bisa masuk ke bagian goa berikutnya. Ada 3 pintunya dan bagian pertamanya merupakan pintu paling gampang.

Explorasi Goa sambil gendong anak 22 kg.

Pintu ke-2 berupa lorong sekitar 1 meter. Untuk melewati bagian ini, bener-bener perlu keterampilan merangkak. Kalau ga malu sama yang lain, saya sudah pengen balik kanan pulang hahaha. Ternyata pintu masuk goa ke-3 lebih sulit lagi karena walau lorongnya agak lebih besar dari yang sebelumnya, tapi ternyata lorongnya lebih panjang. Di bagian ini, saya salut dengan Joe yang bisa sambil bawa Joshua melewati lorong goa nya.

Selanjutnya rutenya cukup mudah. Dalam hati saya cukup yakin jalan keluar goa nya pasti bukan dari jalan yang sama dengan masuk dan akan lebih mudah rutenya. Asumsi saya ada benarnya, tapi ternyata tidak lebih mudah karena kami harus turun melewati tangga yang cukup terjal, yang untungnya sebagian besar ada pegangannya (sebagian hanya cukup 1 orang lewat dan sebagian anak tangga sangat tinggi bahkan untuk saya. Di bagian ini saya pikir, mungkin lebih mudah kalau keluar dari jalan masuknya tadi, saya salut melihat guidenya bisa melewati rute dalam goa dengan memakai sendal jepit!.

Singkat cerita, sampai di luar goa kami ditawarkan untuk melihat bagian goa yang sudah terpasang lampu-lampunya. Tapi ya semua sudah letih, terutama Joe yang sebagian besar harus menggendong Joshua yang sudah 22 kg. Salut dengan Joe bisa turun tangga sambil gendong anak. Salut juga dengan Jonathan bisa turun tangga yang sangat curam (kayaknya saya lebih deg2an dibanding Jonathan).

Sampai penginapan, sorenya kami makan bersama barbeque-an. Teman-teman rombongan sangat berpengalaman mempersiapkan acara begini. Mereka sudah mempersiapkan daging dan sayur-sayuran untuk dipanggang dan saya bisa tinggal makan hehehe. Bersyukur kalau hari ini cuacanya cerah dan tidak hujan seperti prakiraan cuaca pada saat kami memutuskan untuk jadi jalan-jalan hari ini.

Oh ya, sedikit catatan, walaupun ada iklan 4G di pintu masuk goa, tapi Joe mengecek begitu masuk ke dalam bagian goa yang gelap, gak ada tuh koneksi internet sama sekali hehehe. Kirain iklannya itu menunjuukan mereka sudah memasang hotspot di banyak tempat di dalam goa.

Secara keseluruhan, pengalaman hari ini anak-anak cukup enjoy berlari-larian dan bermain bersama. Tapi kayaknya saya ga akan masuk goa di Thailand lagi sampai anak-anak cukup mandiri dan bisa membantu saya nantinya hahahaha.

No Smoking Please

Beberapa hari lalu saya baca artikel mengenai akan adanya pelarangan merokok di tempat umum di Thailand. Tempat umum yang dimaksud termasuk diluar kafe ataupun restoran. Sejak beberapa tahun yang lalu sudah ada pelarangan merokok di dalam tempat makan dan hanya boleh di luar gedung, tapi nantinya di luar gedungpun ada batasan harus lebih dari 5 meter dari pintu masuk.

sumber: https://www.thairath.co.th/content/1412801

Selain restoran, peraturan ini juga akan berlaku untuk gedung condo, apartemen, hotel, tempat laundry, rumah ibadah, salon, bioskop, gedung parkir ataupun tempat pijet. Basically semua tempat umum akan ada batasan area dilarang merokoknya. Kalau dulu saya perhatikan denda untuk yang merokok dikenakan 2000 baht, sekarang dendanya sebesar 5000 baht.

Sumber: https://www.thairath.co.th/content/1412801

Saya punya alergi terhadap bau rokok. Sejak sampai di Chiang Mai rasanya senang sekali karena di sini sangat sedikit orang merokok dibanding di Indonesia dulu. Seingat saya, setiap pulang ke Indonesia, baru sampai di gedung airport yang tertutup dan ber – AC, sudah terasa bau asap rokok. Saya bicara dulu, karena saya berharap sekarang ini di Indonesia sudah lebih baik mengenai peraturan daerah bebas rokok. 

Beberapa tahun terakhir ini, pernah juga di Chiang Mai keluar dari bandara ada bau rokok. Waktu tinggal di condo juga pernah beberapa kali merasakan bau rokok kalau lagi berada di balkon, mungkin ada tetangga yang dulu merokok di balkon mereka. Tapi secara keseluruhan, walaupun mungkin banyak yang merokok di sini, saya ga pernah terlalu terganggu dengan bau asap rokok seperti waktu di Indonesia. Saya pernah bilang ke Joe, mungkin sekarang ini yang merokok udah lebih banyak daripada waktu kami baru sampai Chiang Mai. Tapi kalau kata Joe, kemungkinan dari dulu juga ada, tapi karena semua ikut aturan jadi ga terlalu berasa mengganggu.

Saya masih ingat banget kalau ke BEC di Bandung, ruang ber AC tertutup dan jelas-jelas banyak tulisan dilarang merokok dan akan di denda (saya lupa berapa dendanya), dan hampir seluruh lantai terutama lantai basement bau rokoknya sangat berasa sekali. Di dalam mall di Indonesia juga banyak tempat di dalam restoran disediakan tempat merokok di bagian dalam, yang walaupun mungkin ada exhaust fan untuk mensirkulasikan udara keluar, tetap saja ada bau yang lolos ke bagian lain dari mall.

Untuk kalangan perokok, mungkin peraturan baru di Thailand ini akan merepotkan mereka, tapi untuk saya dan non smoker lainnya, tentunya peraturan ini sangat disambut gembira. Nantinya saya tidak perlu lagi merasakan bau asap rokok setiap keluar dari gedung tertentu terutama airport. Sejauh ini, yang saya lihat, perokok di Thailand cukup tertib dan taat aturan walaupun saya ga tahu seberapa banyak orang yang pernah kena denda karena melanggar peraturan. Semoga saja nantinya dengan adanya aturan baru, perokok di Thailand tetap mengikuti aturan dengan tertib.

Peraturan ini akan mulai diberlakukan 90 hari sejak dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Thailand. Mari kita lihat kelanjutan penerapan dari peraturan ini 90 hari sejak 9 November 2018. Siapa tahu, karena adanya peraturan ini, beberapa orang bikin resolusi tahun 2019 untuk berhenti merokok daripada kena dendan 5000 baht hehehe.

Google Trip – Travel planner

Kami bukan traveler, tapi ya senang juga jalan-jalan sesekali. Trus kalau ada rencana travel itu, kebanyakan waktu habis untuk browsing menyusun rencana perjalanan dan tempat-tempat untuk dikunjungi. Karena kami bukan traveler sejati dan bawa anak masih kecil-kecil, kami berusaha realistis kalau menyusun rencana perjalanan itu dalam 1 hari untuk tidak terlalu banyak menargetkan mengunjuni banyak tempat. 

Sebelum berangkat ke HongKong bulan September yang lalu, karena banyak kesibukan sebelum berangkat dan terlalu banyak informasi yang perlu dibaca, saya udah pusing duluan dan menyerah hahaha. Joe menyuruh saya menginstal aplikasi Google Trip di HP saya, dan aplikasi ini sangat bermanfaat untuk menyeleksi informasi yang terlalu banyak sebelumnya.

Tadinya saya sudah hampir lupa dengan aplikasi Google Trip ini, tapi karena ada rencana mau jalan-jalan dengan teman-teman di sini ke Chiang Dao (yang sebenarnya dekat dari Chiang Mai tapi kami belum pernah kunjungi), jadi teringat lagi dengan aplikasi ini. Bisa saja sebenarnya googling untuk mencari tempat menarik untuk dkunjungi, tapi ada terlalu banyak hasil pencariannya dan lagi-lagi saya jadi ga fokus.

Google Trip ini menambahkan data perjalanan kita secara otomatis dari  Gmail kita. Waktu menginstalnya pertama kali, semua pesanan tiket pesawat yang sebelumnya (dan memang gak pernah saya hapus) muncul dalam daftar trips saya. Jadi bisa ingat lagi, kapan aja kami pulang ke Indonesia, atau kapan kami travel ke kota lain.

Selain trip yang di ekstrak otomatis dari email pesanan pesawat dan hotel, sebenarnya kita bisa juga menambahkan sendiri tujuan wisata kita untuk membaca-baca atau merencanakan apa yang mau dilakukan dan dikunjugi. Kalau kita sudah membuat tujuan perjalanan kita, ada pilihan untuk mengunduh semua informasi yang kita butuhkan. Pilihan ini tentunya untuk memudahkan kalau misalnya di tempat tujuan kita tidak ada internet.

Untuk setiap kota tujuan, selain bisa melihat nomor pemesanan tiket pesawat ataupun hotel, kita juga bisa membaca-baca apa saja hal-hal yang bisa dilakukan di kota tujuan, usulan rencana perjalanan, kupon diskon dan juga daftar restoran untuk makan dan minum. Semua informasi yang tersedia ini sebenarnya hampir mirip dengan membaca trip advisor, ataupun mencari di google. Bedanya semua sudah dikategorikan dan di filter, jadi bacanya juga enak. Informasi sebuah tempat juga dilengkapi dengan review dan peta lokasi yang kalau kita pilih langsung bisa dibuka di google maps.

Biasanya, kalau lagi mau traveling, email konfirmasi pesanan akan saya forward juga ke Joe (dan sebaliknya), dengan aplikasi Google Trip kita bisa juga membagikan informasi pemesanan. Kalau yang kita kirimkan menginstall aplikasi ini di HP nya, dia akan bisa membaca informasi yang sama dengan yang kita lihat. Nantinya kita bisa juga menyimpan lokasi yang kira-kira menarik untuk dikunjungi, atau bahkan membuat rencana perjalanan harian sendiri ditambahkan ke dalam aplikasi ini.

Akhir tahun ini kami juga ada rencana pulang ke Indonesia, belum tau juga apakah sempat banyak jalan-jalan selama di Indonesia. Tapi nanti kalau lagi santai, jadi bisa baca-baca siapa tahu ada informasi menarik mengenai tempat-tempat untuk dikunjungi atau makanan yang direkomendasikan. Karena aplikasi ini mengumpulkan data dari internet, kebanyakan yang akan muncul itu kalau memang ada yang menuliskannya di internet. Semoga ada banyak orang yang rajin menulis review soal tempat-tempat di Indonesia.

Sensory Play

Di group homeschooling term ini, saya kebagian ngajar kelas sensory play untuk anak umur 3 dan 4 tahun. Sebenarnya ada banyak sekali ide-ide yang bisa di lihat di internet, tapi umumnya ide yang ada itu banyak yang settingnya lebih cocok di rumah, karena habis main akan berantakan sekali. Akhirnya setiap minggunya cari ide yang ga terlalu berantakan dan kira-kira ga terlalu lama mempersiapkannya. 

Sesuai namanya, kelas sensory ini intinya bermain-main yang menstimulasi sensori/panca indra anak. Jadi bisa berupa mainan yang menstimulasi indra peraba (telapak tangan dan kaki), indra pengecap (lidah), indra penglihatan (mata) dan indra penciuman (hidung) dan indra pendengaran (kuping). Kalau mau tahu lebih banyak mengenai stimulasi sensory dan permainan untuk sensory ini bisa di google, hasilnya sebenarnya hal-hal yang sering kita mainkan sehari-hari.

Berikut ini beberapa kegiatan yang kami lakukan. Sejauh ini ada 10 kali pertemuan. Tiap pertemuan berlangsung selama 50 menit. Jumlah murid dalam kelas berkisar antara 5 sampai 8 anak. Untungnya saya dibantu oleh 2 orang tua lainnya, jadi kalau ada anak yang ga tertarik dengan kegiatan yang saya persiapkan, mereka tetap bisa diperhatikan dan gak mengganggu kelas.

Mainan dengan squishy bag. Persiapannya malam sebelumnya tepung dicampur air di kasih warna, terus dimasukkan ke dalam ziploc. Selain tepung berwarna ini di masukkan googly eyes atau beads warna warni. Anak-anak senang disuruh mencari-cari googly eyes atau beads dan juga cukup senang menggeser-geser isi dari ziplocnya yang tentunya sudah diamankan dengan lakban di pinggirannya supaya isinya ga keluar. Sayangnya kelas ini saya ga foto sama sekali. Idenya saya dapat dari wesbsite ini.

Salah satu kesempatan, saya minta anak-anak tracing telapak tangannya. Lalu kami bantu memberikan lem dan mereka bisa menempelkan pom pom untuk menghias tangan masing-masing. Saya instruksinya mereka tracing 1 tangan saja, tapi anak-anak itu ada yang minta untuk ditracing 2 tangan.

tracing tangan lalu dihias pom pom
Continue reading “Sensory Play”