Kenapa Masih Main Pokemon Go

Sejak ada Pokemon Go (pertengahan tahun 2016), Joe semangat sekali main dan semangatnya ketularan ke Jonathan. Awalnya saya malas main, karena saya ga ngerti apa sih pokemon itu, lagipula saya pikir pokemon itu kan singkatan dari pocket monster, ngapain saya ngajarin anak soal monster. Bisa dibilang saya membuat kesimpulan tanpa tahu apa itu game pokemon. Salah satu alasan saya ga mau main pokemon juga karena saya takut ketagihan. Dulu saya pernah main The Sims dan kalau sudah mulai, saya ga bisa berhenti dan bisa bergadang berhari-hari. Sejak itu saya memilih tidak memulai main game baik itu game minesweeper apalagi candy crush.

Bulbasaur, Charmander dan Squirtle merupakan pilihan starter Pokemon

Lama-lama, dengan setengah hati, karena saya sering ga mengerti obrolan Jonathan dan Joe, akhirnya saya join juga main Pokemon Go. Di awal-awal saya main seingatnya saja, dan merasa ga gitu seru juga karena mainnya ga bisa di rumah doang, tapi harus jalan-jalan keluar mencari pokestop, battle di gym, nangkepin pokemon dan itu semua ga mungkin jadi addiction kalau cuma di rumah saja (di dekat rumah nggak ada pokestop/poke gym). Continue reading “Kenapa Masih Main Pokemon Go”

Kalau pembantu harus punya 2, sebagai Ibu Rumahtangga harus bisa semua sendiri

Ini tulisan selingan, minggu kemarin ini Eyang datang dan jadi banyak ngobrol dengan Eyang selain sambil masak dan cucipiring, makanya jadi ga sempet nulis ataupun baca buku. Pekerjaan ibu rumahtangga itu kayaknya aja gak ngapa-ngapain, kayaknya aja ga stress ga mikirin klien atau deadline, tapi sebenernya kalau diliat lagi sejak pagi ada deadline buat bangun siapin makan 3 kali sehari, mikirin menu makan apa, mikirin hal-hal kecil yang sepertinya saking rutinnya jadi beban karena bosan.

Biasanya habis lebaran begini topik paling populer adalah mbak yang ga balik lagi, dan kebanyakan orang bakal sibuk nyari pengganti. Saya jadi teringat beberapa waktu lalu di grup ibu-ibu ada yang mencari seorang mbak untuk urus anak, bersihin rumah dan masak. Komentar yang masuk dari ibu-ibu lainnya adalah: kalau kayak gitu harus cari 2, kasian mbaknya kalau harus lakukan semua. Alasannya masuk akal, katanya supaya anaknya lebih terperhatikan sewaktu mbaknya kerjain bebersih dan urusan domestik lainnya.

Ngajakin Joshua baca buku supaya mamanya bisa cuci piring

Faktanya nyari pembantu 1 aja susah, lah ini disuruh cari 2. Terus komentar lainnya sih bilang ya bisa aja cari 1 doang tapi ibunya harus ikut bantuin juga. Saya tercenung dengan komentar yang ada, karena sebagai ibu yang ga pergi ngantor yang kenal banyak ibu tidak bekerja lainnya di kota ini, saya bisa liat sebagai Ibu kami harus bisa lakukan semuamya, sambil urus rumah, urus cucian, urus anak dan urus diri sendiri tentunya. Makanan ga terhidang dengan sendirinya, walaupun di sini bisa praktis bisa beli dengan harga yang ga terlalu mahal, tapi mikirin menu makan apa berikutnya kadang bikin pusing, apalagi kalau tiap orang punya selera berbeda. Untuk makan di luar lebih ga praktis lagi, karena anak-anak biasanya lebih terdistract buat liat sekeliling daripada makan di rumah jadi makan di rumah lebih jadi pilihan. Continue reading “Kalau pembantu harus punya 2, sebagai Ibu Rumahtangga harus bisa semua sendiri”

Wisata di Chiang Mai

Kadang-kadang, ada teman bertanya kalau mau ke Chiang Mai ada apa yang menarik untuk dikunjungi? Seperti biasa, begitu kita tinggal agak lama di suatu kota, kita udah nggak memikirkan lagi tempat wisata, karena semuanya itu ya bukan tempat wisata buat kita. Tapi kalau diganti pertanyaanya, misalnya suatu hari kami ga tingal di Chiang Mai lagi, kira-kira apa yang akan kami kunjungi kalau ke Chiang Mai? Tulisan ini juga buat jadi referensi kalau ada lagi yang nanya ke kami hehehe.

Jawabannya tergantung berapa lama rencana mengunjungi Chiang Mai, terus apakah kami datang tanpa anak atau dengan anak-anak. Kalau datang dengan anak-anak, tentunya yang dikunjungi tempat yang menarik untuk anak-anak juga. Tempat yang biasa mereka kunjungi sejak kecil. Beberapa yang bisa di list adalah:

  • Dalam kota Chiang Mai
  • kota sekitar Chiang Mai
Dalam kota Chiang Mai

Untuk dalam kota Chiang Mai, yang paling mudah tentunya Suan Buak Haad Park (nama di Google: Nong Buak Hard Public Park) di old city. Di park bisa kasih makan ikan dan pigeon, main-main di playground atau sekedar berlari-lari mengelilingi taman sambil mencoba beberapa alat olahraga yang ada. Kalau sudah capai bermain, nongkrong di coffee shop yang ada di park minum kopi dan nyemil hehe. Kalau lapar, bisa beli ayam bakar plus nasi ketan di pintu keluar park, atau kalau mau paket hemat ya bawa makanan dari luar dan tinggal sewa tikar aja piknik dan buat dessert bisa beli eskrim/es puter versi sini. Jonathan senang makan es krim pake ketan terus ditaburin kacang. Di sini sepertinya apa saja bisa dicampur dengan ketan hehehe.

Memberi makan burung di park

Jalan-jalan di park

Tujuan berikutnya ya tentunya mall. Dari beberapa mall yang ada di sini, Airport Plaza (CentralPlaza Chiang Mai Airport) merupakan mall yang paling sering kami kunjungi. Selain karena sekarang ini Jonathan ikut kelas Taekwondo di sana, mall ini adalah mall terdekat dari rumah (sekitar 5 menit kalau ga kena lampu merah). Di mall biasanya kami akan makan berbagai pilihan makanan Thai di food court atau restoran makanan Jepang OISHI (ini restoran milik orang Thailand), naik kereta api gratis, Joshua bisa main di soft area gratis dan mungkin kalau anak-anak sudah cukup besar bisa diajak nonton di bioskop :-).

Mainan gratis di mall
Food court

Selain park di old city, kami juga sekarang ini sering mengunjungi Royal Flora Ratchapreuk dan Night Safari. Mudah-mudahan kalaupun nanti datang jadi turis, saya masih bisa dapetin harga lokal (asal ga lupa aja bahasanya).

Untuk harga turis, harga Night Safari tergolong mahal, dan rugi rasanya kalau datang cuma sebentar. Saat ini rate yang dikenakan untuk turis itu sekitar 800 baht dewasa (harus cek lagi buat tau harga anak-anak). Sementara itu kalau kami dapat harga lokal seperti orang Thai, dewasa itu harganya ga lebih dari 250 baht. Saat ini kami masih bisa mendaftar jadi member, harga member 500 baht untuk selama 6 bulan dan bebas masuk setiap hari juga boleh kalau mau.

Di night safari ada banyak kegiatan yang kalau diikuti semua butuh waktu 5 jam di sana. Kita bisa jalan keliling di walking zone sekitar 1 jam, makan, kalau ada waktu ekstra naik tram keliling 1 jam, menonton beberapa tarian dan animal shows (tiger show 30 menit dan night predator show 30 menit). Diantara waktu tunggu show dan jadwal tram anak-anak bisa main di Playground. Karena cukup sering ke sana, kadang kami datang cuma untuk jalan keliling walking zone, main di playground dan makan saja.

Ratchapreuk
Ratchapreuk

Kami juga menjadi member untuk Royal Flora Ratchepreuk 400 baht per tahun. Kalau bukan member, sebagai orang Thai harus bayar 100 baht per datang, dan sebagai orang asing harus bayar 200 baht per orang (anak-anak biasanya harganya lebih murah). Di taman bunga ini selain bisa main pokemon (kami masih main pokemon), ada playground juga buat anak-anak main dan bisa untuk melemaskan kaki keliling park hehe.

Hidden Village

Salah satu tempat yang mungkin akan dikunjungi jika punya waktu ekstra di Chiang mai adalah Hidden Village. Tempat ini relatif baru, dan karena ga ada membership kami ga bisa terlalu sering ke sana. Di hidden village ini tiket masuk 100 baht/orang dan 50 baht untuk anak-anak. Di dalamnya ada restoran, playground, petting zoo dan animatronik Dinosaurus. Dengan bayar ekstra 20 – 40 baht ada lagi mainan seperti bouncy house dan softplay area di dalamnya.

Selain night safari, kami juga pergi ke zoo. Chiang Mai zoo cukup besar dan butuh seharian juga mengeksplornya termasuk bagian aquarium dan menonton animal show yang ada.

Kami juga sudah dua kali ke Poo Poo Paper park, tapi sudah dituliskan di posting yang ini. Sedikit tentang Chiang Mai Zoo pernah dituliskan di sini dan nanti mengenai Chiang Mai Night Safari dan royal flora Ratchepreuk akan ditulis di posting terpisah.

Luar kota (butuh drive lebih dari 30 menit)

Karena kami gak biasa nyetir jauh-jauh, maka perjalanan lebih dari 30 menit itu tergolong luar kota buat kami hehehe. Kami jarang pergi ke luar kota, jadi ya ga bisa kasih banyak saran juga untuk keluar kota. Tapi ada beberapa tempat yang sesekali kami kunjungi kalau lagi bosan dengan yang dalam kota.

Horizon Village

Dulu kami sering sekali ke Horizon Village. Tempat ini butuh drive sekitar 30 – 40 menit dari rumah. Biasanya butuh waktu seharian kalau ke sana. Di sana ada pilihan untuk makan buffet di hari Sabtu dan Minggu, bersepeda dan atau keliling taman. Taman di sini lebih rindang dibandingkan Ratchepreuk. Di taman horizon village ini juga ada mini zoo dan bisa kasih makan ikan atau burung unta. Dulu sebelum Jonathan 3 tahun, kami bisa ke tempat ini sebulan sekali, tapi belakangan karena Jonathan banyak kegiatan di hari weekend, kami jadi makin jarang ke sana (selain tempatnya juga makin mahal haha).

Hot spring

Tempat wisata yang menarik juga untuk dikunjungi dan ga jauh dari Chiang Mai itu Hotspring San Kampheng. Butuh nyetir sekitar 45 menit – 1 jam dari kota. Kami baru beberapa kali ke sana, sebenarnya seru juga rendaman air panas, atau bisa juga makan telur rebus yang di rendam di air belerang. Kalau misalnya datang pas musim panas, ya kayaknya ga disarankan.

Tempat ini menyenangkan dikunjungi di musim dingin tentunya. Tak jauh dari tempat ini ada cave yang katanya sih cukup menarik untuk dikunjungi, tapi kami belum kunjungi karena ga mau ambil resiko ngejar-ngejar Joshua dalam gelap hahaha. Kalau mau menginap, di sana juga ada pondokan yang bisa di sewa atau area untuk camping, tapi kami belum coba sampai sekarang.

Doi Suthep

Gimana dengan Doi Suthep? Hmm walaupun ada yang bilang belum sah sampai ke Chiang Mai kalau belum ke Doi Suthep, tapi rasanya ga ada yang istimewa dengan Doi Suthep, setidaknya buat kami begitu. Kami pertama kali ke sana setelah beberapa tahun di Chiang Mai. Total selama 11 tahun di kota ini , kami baru 2 kali ke sana (bahkan kami lebih sering ke Doi Inthanon daripada Doi Suthep). Kenapa Doi Inthanon? Ya di Doi Inthanon itu udaranya lebih adem, dan juga naturenya lebih indah.

Butuh waktu 1 jam nyetir menanjak ke Doi Suthep. Di sana bisa melihat ke arah kota Chiang Mai dan foto-foto doang hehehe. Kalau ke doi Suthep, biasanya akan mampir juga ke Doi Pui, di sana bisa melihat kehidupan masyarakat tradisional dan ada taman bunga nya yang juga cukup indah. Di bulan Januari, di dekat Doi Suthep bisa melihat hutan yang penuh dengan bunga sakura. Tapi karena jalannya ke sana sempit dan bunga sakura cuma mekar dalam waktu 2 minggu saja, biasanya weekend jalanan ke sana akan macet, dan yaaa setelah pernah sekali ke sana, kami belum ke sana lagi hehehee.

Doi Inthanon

Doi Inthanon. Titik tertinggi di Thailand

Doi Inthanon, butuh sekitar 2 jam perjalanan (1 jam perjalanan menanjak). Kami suka ke sana karna udaranya adem. Pemandangannya juga jauh lebih indah dibanding Doi Suthep. Ada banyak pilihan di Doi Inthanon ini, untuk yang suka trekking juga ada beberapa pilihan jalur trekking di sana (tapi kami belum pernah). Selain ada temple, taman bunga, di sana juga ada air terjun. Kalau ke Doi Inthanon, butuh waktu seharian untuk bisa mengeksplore/menikmati alam di sana.

Queen Sirikit Botanic Garden

Buat pecinta tanaman dan nature, sekitar 1 jam naik mobil dari Chiang Mai juga ada taman bunga Queen Sirikit Botanic Garden. Kami baru sekali ke sana dan udah beberapa tahun lalu, jadi ga bisa kasih banyak update selain di tempat itu luas dan banyak jenis tanaman dan bunga yang indah. Sekarang ini di sana ada canopy sky walk yang cukup panjang. Waktu kami ke sana canopy sky walk ini belum ada, mungkin ini bisa jadi alasan untuk ke sana lagi.

Kalau punya waktu ekstra, bisa juga ke Golden triangle. Tempat ini merupakan perbatasan antara Thailand, Myanmar dan Laos. Butuh perjalanan sekitar 3 jam dari Chiang mai. Di perjalanan menuju lokasi bisa berhenti di hotspring. Kami baru sekali ke sana ikutan tour sebelum ada Joshua.

Sebenarnya pengen lagi ke sana ajak Joshua, tapi dipikir-pikir temple yang menjadi tempat wisata di sana kurang cocok untuk dilihat oleh anak-anak. Untuk yang tidak bawa anak dan suka melihat arsitektur temple yang unik, tempat ini bisa jadi pilihan dan sekalian siapa tau pengen dapat cap mengunjungi negara Laos dan Myanmar sekalian.

Ada beberapa tempat sekitar sini yang belum juga kami eksplore. Entah apakah kami akan eksplore suatu saat setelah kami ga di sini lagi atau entahlah. Kami belum pernah ke Doi Angkhan, padahal katanya tempat ini cukup dekat dari Chiang Mai dan indah, tapi sejauh ini belum tertarik untuk ke sana. Mungkin kalau sudah ga di Chiang Mai baru deh pengen ke sana dan ke mari jadi turis hehehe. Beberapa tempat yang jadi tujuan wisata juga waterfall. Tapi karena saya selau bayangkan air terjun sipiso-piso, saya ga pernah senang dengan waterfall di sini hehhe.

Jadi kembali ke pertanyaan: kalau ke Chiang Mai, sebaiknya ke mana dong? Kalau ga punya banyak waktu mending wisata memperhatikan kehidupan orang lokal. Pergi massage, wisata kuliner dengan harga lokal, pergi ke pasar tradisional biar ditanya: where are you come from, dan ketika kita jawab Indonesia mereka akan bilang ooh Filipin atau Malay sambil bilang same nunjuk ke wajah mereka yang artinya: wajah kita sama mirip orang Thai. Kalau punya waktu banyak, ya bisa deh mengunjungi semua tempat yang disebutkan di atas.

So, dari tulisan ini, kira-kira kalian bakal tertarik ga datang ke Chiang Mai jadi turis? Kalau kata saya, jangan jadi turis deh, rugi. Mending tinggal aja di sini, hidup nyaman pasti betah deh (kecuali buat yang sangat strict dengan makanan harus label halal, ini bisa jadi hidupnya berasa repot). Tapi walaupun demikian, banyak juga kok restoran halal di Chiang Mai. Buktinya beberapa teman orang Indonesia di Chiang Mai yang muslim juga bisa betah berlama-lama tinggal menetap di Chiang Mai.

Di posting lain akan dibahas mengenai event-event khusus di Chiang Mai (festival bunga, Songkran dsb), supaya tahu kalau mau datang sebaiknya bulan apa.

Mengajak Jonathan Membaca

Sejak bisa membaca, Jonathan senang membaca berbagai buku. Buku yang dia paling senang model buku Usborne yang ada lift the flapnya. Berikutnya dia mulai suka membaca komik. Kami berusaha mengenalkan dia untuk membaca buku tanpa gambar (chapter book), awalnya dia bilang kurang suka dan ceritanya ga menarik.

Bulan Januari 2018, saya berusaha melatih Jonathan untuk membaca buku setiap hari 1 selama 10 menit, saya ikuti kegiatan challenge Read Aloud yang ada di internet tentunya dengan memberi reward buku yang dia pilih sendiri. 

Walaupun  dia sudah bisa baca, waktu membacakan bersuara, kadang-kadang dia belum bisa berhenti ketika ada titik ataupun tanda baca lainnya. Dia cenderung membaca seperti kereta api yang tidak ada jeda walau ada titik koma. Semua diterobos aja gak berhenti sampai ganti halaman. Tentunya jadi tidak enak mendengarkannya dan saya harus mendampingi membacanya.

Buku yang saya berikan untuk dia baca selama sebulan Januari beraneka ragam. Kadang saya suruh dia membaca dongeng sebelum tidur yang cuma beberapa halaman, buku lift the flap, komik dan saya mulai kasih chapter book yang isinya berupa kumpulan cerita lepas dan membacanya tidak lebih dari 10 menit.

Continue reading “Mengajak Jonathan Membaca”

Tips dan Trik dnsmasq

dnsmasq adalah satu software yang memiliki beberapa fungsi: sebagai DNS server, DHCP server, router advertisement (untuk IPv6), dan juga TFTP dan PXE (untuk network booting). Software ini sangat kecil dan terinstall di banyak router terutama yang berbasis OpenWRT.  Biasanya yang dipakai oleh kebanyakan orang hanya fitur DHCP dan DNS basicnya saja. Di posting ini saya ingin sharing beberapa fitur lain yang saya pakai.

Saat ini saya memakai dnsmasq di router saya, yang merupakan Mini PC merk Qotom (Intel Celeron J1900 Quad Core dengan RAM 2GB). Router ini cukup powerful, tapi dnsmasq bisa berjalan dengan memori sangat kecil (minimum yang pernah saya pakai adalah 16 MB) dan CPU yang lambat (minimum yang pernah saya pakai MIPS 200 Mhz). Apa yang bisa dilakukan oleh dnsmasq ini bisa dilakukan dengan kombinasi beberapa software (misalnya memakai bind untuk DNS server, tftpd untuk FTP server, dsb) tapi tentunya resource yang dipakai lebih banyak. Continue reading “Tips dan Trik dnsmasq”

Gadget non Screen untuk Belajar : LeapFrog Scribble and Write, Talking pen, Smart Pad

Ada beberapa gadget/mainan yang kami beli untuk belajar Jonathan dan Joshua yang  tidak ada screennya. Joshua bisa bermain cukup lama dan belajar cukup banyak dari mainan-mainan ini. Supaya tidak lupa, saya akan menuliskannya di sini.

LeapFrog Scribble and Write

Benda ini kami beli sejak Jonathan belajar menulis. Awalnya saya kurang setuju untuk membelinya, karena saya pikir ga ada bedanya dengan menulis di tablet Ipad/Android. Ternyata, setelah diperhatikan, untuk menulisnya anak akan belajar memegang pen nya seperti memegang alat tulis dan harus ditekan seperti menulis di atas kertas. Anak belajar tracing dengan mengikuti led yang menyala per pixel. Mainan ini mengajarkan menulis huruf besar dan huruf kecil, selain menggambar beberapa bentuk dasar seperti lingkaran, segitiga, garis, segiempat dan juga beberapa gambar bebas. Versi yang kami beli belum ada untuk menuliskan angka, terakhir kami lihat versi yang sama dengan ini sudah ada menuliskan angka juga.

Joshua dari sejak umur setahun sudah senang dengan mainan ini, awalnya dia suruh kami yang tracing dan dia mengamati saja, atau dia senang mendengar instruksi-instruksi yang diberikan untuk tracing ataupun menebak huruf. Kemampuan Joshua mengingat huruf A-Z dan a-z sebagian besar karena mainan ini.

My First SmartPad: Baby Einstein

Mainan Smartpad ini dibelikan sebagai hadiah ulang tahun Joshua ke-2. Seperti biasa, saya kurang setuju membelikannya karena menurut saya, Joshua sudah bisa ABC dan ga perlu lagi untuk dibelikan mainan ABC lainnya. Tapi alasan Joe: Joshua belum pernah dibelikan mainan bagus yang baru, semua mainan dia warisan dari kakaknya.

Dan dalam waktu singkat Joshua sudah bisa memainkan mainan ini dengan baik dan mengingat ejaan banyak kata-kata yang ada dalam bukunya. Dalam bundle yang dibeli, selain smart pad, disertakan juga buku yang mengajarkan kata-kata berawalan a sampai z, mengeja warna dan benda-benda yang memiliki warna tertentu, musik, dan lain-lain. Mainan ini juga menanyakan huruf awal dari sebuah kata.

Mainan ini membantu menambah banyak kosa kata Joshua, dan juga mengenali huruf awal dari sebuah kata. Setelah main dengan smartpad ini, Joshua sangat cepat mencari huruf untuk mengeja kata-kata yang ada dalam bukunya. Dia juga belajar untuk mengetik di keyboard komputer papanya dan bisa mengetik A-Z dan angka-angka dengan cukup cepat.

Talking Pen

Kami tertarik dengan talking pen  karena Joe pengen bisa ngoprek mainan ini (walaupun sampai sekarang dia belum sempat membuat sesuatu dari benda ini).  Talking pen yang kami beli ini bisa untuk belajar 3 bahasa (Inggris, Thai dan Mandarin), tapi kami beli untuk bahasa Inggris dan terutama bahasa Thailand.  Pulpen ini bisa membaca buku khusus yang sudah ada mark nya di dalamnya, buku yang diterbitkan sudah sangat banyak. Ketika membeli paket pulpennya, kami mendapat banyak buku dan flashcard yang sampai sekarang belum habis dimainkan anak-anak. Kami akhirnya beli 2 pulpen karena awalnya Joshua dan Jonathan selalu berebutan untuk memainkannya. Joe bilang, ya beli 2 nanti yang 1 buat dia program kalau anak-anak udah bosan mainannya.

Mainan ini agak lama tidak dimainkan karena repot membereskan tiap kali selesai main. Tapi belakangan ini, sejak kami stop tontonan, mainan ini kami keluarkan lagi. Sejak mulai main dengan talking pen, Joshua tertarik untuk mengenali huruf Thai. Awalnya dia suka untuk mendengarkan saja, sekarang dia sudah hampir mengingat 44 huruf konsonan Thai dalam waktu seminggu.

Mainan-mainan ini memang agak mahal harganya, tapi kalau dilihat dari kegunaan dan memang cukup lama dimainkan, rasanya mainan ini sudah sangat terpakai dan dipakai oleh 2 anak. Untuk talking pen, nantinya saya juga ingin pakai untuk belajar mandarin.

Selain mainan yang menggunakan baterai, ada banyak juga mainan lain yang membantu anak-anak untuk belajar menulis dan membaca. Mainan favorit Joshua yang sering dia pakai adalah: white board + spidol, huruf2 magnetik, eva mat yang bermotif huruf dan magnetik drawing board.

Mahalnya Sekolah

Beberapa waktu lalu, saya iseng cari tahu biaya sekolah kalau pulang ke Indonesia untuk dibandingkan dengan biaya sekolah di Chiang Mai sini. Saya masih ingat waktu saya SD uang SPP nya sekitar 300 rupiah, SMP dan SMA saya lupa tapi saya ingat ga pernah bayar lebih dari 1000 rupiah per bulan. Saya sekolah negeri sejak SD, SMP, SMA dan yang paling mahal ketika saya harus kuliah di Bandung tiap semesternya biaya 445 ribu rupiah. Masa SD saya bisa jalan kaki ke sekolah, SMP mulai naik bemo/becak/sepeda dan SMA naik angkutan kota yang jaraknya 7 km dari rumah. Ketika jadi mahasiswa saya semakin jauh deh dari orangtua saya karena saya merantau ke Bandung.

Biaya sekolah mengirim saya ke universitas terasa lebih mahal buat orangtua saya karena saya diterima di ITB (Bandung) dan orangtua saya di Medan. Mereka harus kirimin uang buat saya tiap bulan sekitar 150 ribu rupiah buat ongkos dan makan saya. Uang kontrakan kost sudah dibayarkan langsung setahun supaya saya pasti punya tempat tinggal selama setahun dan harganya ga naik selain dapat diskon 200ribu kalau bayar pertahun dibandingkan bayar perbulan. Saya merasa beruntung karena orangtua saya dengan kondisi ekonomi yang cukup sehingga saya masih bisa sekolah dan fokus belajar tanpa harus memikirkan biaya hidup saya. Saya bisa lihat, mereka berusaha mencukupkan kami anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan dengan harapan mendapat masa depan lebih baik dari mereka.

Waduh intro jadi kepanjangan karena bernostalgia. Dari hasil browsing saya mengenai uang sekolah, saya pikir di sini saja sekolah mahal, ternyata di Indonesia juga ga kalah mahal (bahkan mungkin lebih mahal). Jaman sekarang kalau mau cari sekolah buat anak lebih banyak pertimbangan dibanding jaman saya sekolah dan biayanya juga bikin saya menahan napas. Saya yakin dulu orangtua saya kirim kami ke sekolah terdekat dari rumah dan sekolah negeri karena masa itu orangtua saya ya mampunya sekolah negeri, dekat rumah lebih baik karena lebih gampang untuk antar jemput dan saya ingat kelas 1 SD kadang saya pulang sekolah jalan sendiri, kadang saya jalan dengan kakak saya dan masa itu semua terasa aman-aman saja.

Saya tidak tau biaya sekolah negeri sekarang ini berapa, tapi sepertinya jaman sekarang ini ada banyak kekhawatiran memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Entah kenapa dan sejak kapan, ada kesan sekolah negeri kurang bagus mutu pendidikannya dan kekhawatiran bertemu anak yang nakal dari lingkungan masyarakat kurang mampu. Banyak orang tua terutama yang di kota besar memilih memasukkan anaknya ke sekolah swasta yang punya nama dan menurut survey cukup berkualitas dari segi pengajaran dan keamanan. Beberapa orang memilih yang dekat kantor supaya bisa berangkat dan pulang bareng. Atau ya yang menyediakan layanan antar jemput. Umumnya anak SD akan diantar karena sekolahnya ga walking distance dari rumah (kecuali mungkin sekolah dalam komplek perumahan). Beberapa orangtua yang lebih dari cukup juga umumnya akan berusaha mencari sekolah terbaik walaupun agak jauh dari rumah dan biaya yang mungkin ga sedikit.

Angka yang saya dapati yang bikin shock itu uang pendaftaran. Dari hasil google sejak beberapa tahun terakhir yang paling murah harus habiskan di atas sepuluh juta di awal masuk sekolah. Dari level TK ke level SD walaupun di sekolah yang sama, orangtua harus bayar lagi uang pangkal/pembangunan/pendaftaran. Jadi kebayang untuk masuk Preschool (usia 3 tahun) orangtua harus nabung sejak anak lahir, lalu ketika anak masuk SD harus bayar sekian puluh juta lagi. Kalau anak lebih dari 1 dan beda usia berdekatan, orangtua harus kerja ekstra keras mendapatkan penghasilan tambahan.

Sumber : http://www.the-alvianto.com/2017/10/binus-school-kinderfield-global.html

Ada beberapa sekolah yang membutuhkan orangtua siapin uang sekitar 100 juta rupiah untuk daptar TK. Saya bayangkan orangtuanya mungkin pengusaha yang omsetnya Miliar perbulan atau kalau pegawai pastinya punya gaji lebih dari 100juta perbulan. Biaya bulanan juga variasi, yang paling murah sekitar 450 rebu perbulan untuk TK. Untuk level daycare bahkan ada yang memasang harga sekitar 5 juta sebulan.

Waktu Jonathan menjelang usia 4 tahun, saya survey banyak sekolah di Chiang Mai. Ada 3 jenis sekolah di sini, Thai, bilingual (kurikulum Thai tapi menggunakan bahasa pengantar Inggris dan sebagian Thai) dan sekolah Internasional (menggunakan kurikulum Amerika atau British, full bahasa Inggris). Untuk biaya sekolah sudah pasti sekolah Thai paling murah, dibandingkan dengan sekolah Internasional bisa berpuluh kali lipat.

Contoh biaya salah satu sekolah bukan internasional, sumber http://www.varee.ac.th/en/admissions.php (diakses Mei 2018)

Saat ini kurs 1 THB sekitar 440 rupiah. Untuk uang pendaftaran, beberapa sekolah Thai meminta sekitar 10.000 baht dan uang sekolah persemesternya sekitar 18.000 – 22.000 baht. Sekolah internasional uang pendaftaran sekitar 50.000 baht dan uang semesternya bisa mencapai di atas 100.000 baht. Di Thailand sini, sekolah itu seperti tempat menitipkan anak. Mereka menyediakan kelas mulai dari umur 18 bulan (persiapan TK), lalu sejak umur 3 tahun kelas TK sebanyak 3 level, dan mulai SD sejak umur 6 tahun selama 6 tahun. Level SMP dan SMA ada 6 tahun.

Contoh biaya sekolah internasional. Sumber: https://www.vcis.ac.th/fee-schedule/ diakses Mei 2018

Ketika melihat angka yang fantastis untuk menyekolahkan anak, saya dan Joe sering berpikir dengan uang sekolah semahal itu, kalau anak sekolah sejak umur 3 tahun sampe kuliah, berapa dana pendidikan yang harus disiapkan? Setelah menyekolahkan anak semahal itu, kira-kira anak harus jadi apa supaya penghasilan nya bisa lebih dari biaya pendidikannya? Saya tahu kita harus berpikir optimis dan berharap anak akan lebih dari apa yang kita capai sekarang ini, dan saya tahu mengirimkan anak ke sekolah adalah bentuk investasi kita untuk masa depan anak yang mandiri dan bisa membiayai keluarganya kelak. Tapi kalau angkanya sekarang udah fantastis, berarti kami harus mempersiapkan anak yang bisa menyekolahkan anaknya lebih lagi dari yang dibayarkan sekarang ini.

Situasi kami sebagai orang asing tinggal di Thailand awalnya bikin pusing pilih sekolah buat Jonathan. Kami pingin anak-anak kami tetap bisa bahasa Indonesia, tapi juga fasih berbahasa Inggris dan Thai. Sekolah berbahasa Indonesia cuma ada di kedutaan di Bangkok. Awalnya kami sepakat bahasa Inggris lebih penting dari bahasa Thailand karena kami belum tahu berapa lama kami akan di sini dan supaya logatnya Inggris nya ga seperti Thaiglish ataupun Indoglish.

Harapannya anak-anak bisa menyerap bahasa Thai setelah fasih berbahasa Inggris dan tetep bisa bahasa Indonesia. Untuk saat ini target kami cukup berjalan sesuai harapan buat Jonathan. Kami cukup beruntung Jonathan bisa kami masukkan sekolah Internasional yang harga seperti sekolah Thai. Tapi setelah hampir 3 tahun di sana, Jonathan kami homeschooling.

Berdua belajar

Sejak homeschooling perhitungan uang sekolah digantikan dengan uang beli buku, berbagai peralatan dan mendaftarkan Jona berbagai kegiatan yang  ga bisa saya ajarkan sendiri. Ternyata sekolah ga harus mahal. Di tulisan berikut akan saya tulis lebih banyak soal homeschooling Jonathan.