Ujian Taekwondo Jonathan

Yay Sabuk Merah

Hari ini Jonathan ujian ganti sabuk taekwondo. Tidak terasa sekarang sudah sabuk merah. Sistem sabuk Taekwondo yang diikuti Jonathan mulai dari putih-kuning-kuning hijau-hijau-hijau biru – biru – biru coklat – coklat – coklat merah dan sekarang merah. Gak terasa tak jauh lagi tau-tau bakal sabuk hitam. Sistem warna sabuk ini tergantung dari klubnya masing-masing, tapi garis besarnya ya sama.

Jonathan ikut taekwondo sejak kami homeschooling sekitar 2 tahun lalu. Kelas ini menjadi bagian dari pelajaran olahraga selain untuk sosialisasi. Walau ada beberapa teman yang silih berganti, tapi ada juga beberapa teman yang seumuran dengan Jonathan dan latihan di hari yang sama. Biasanya di hari menjelang ujian ganti sabuk, semua anak akan semakin rajin latihan dan jadi lebih sering main juga sebelum pelajaran dimulai. Ujian di adakan di hari yang sama untuk semua siswa dan biasanya diadakan setiap 3 bulan.

foto bersama selesai ujian ganti sabuk

Saya tidak pernah ikutan kelas bela diri, tapi kami sengaja ikutkan Jonathan kelas bela diri. tujuan kami mengikutkan Jonathan ke kelas ini selain untuk olahraga juga untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Setiap kali ujian biasanya mereka akan diminta untuk mematahkan lembaran papan, kadang dengan cara ditendang, bisa juga dengan pukulan tangan. Setiap habis ujian, anak-anak pada bangga bisa matahin lembaran kayu.

Di kelas taekwondo mereka juga diajarkan aturan seorang yang menguasai taekwondo setiap kelas berakhir. Mereka juga diingatkan kalau apa yang mereka pelajari itu bukan untuk berantem atau menyerang orang lain. Kalau ada yang melanggar aturan atau tidak sungguh-sungguh ketika kelas berlangsung, gurunya bisa memberi teguran dan kadang disuruh pulang belakangan dengan duduk diam memikirkan kesalahannya.

Sebagian gerakan ujian yang dikirimkan gurunya

Sambil menunggu Jonathan ujian taekwondo, hari ini kami bertemu dengan keluarga Indonesia yang dulu pernah lama di Chiang Mai. Kak Lina dan keluarga kangen pengen ketemu Jonathan dan Joshua, sekalian pengen liat Jonathan yang dulunya masih baru belajar jalan tau-tau sekarang udah sabuk merah. Joshua jadi ngemall lagi deh dan main di kolam bola lagi, tapi dia malah senang karena hari ini ngemallnya dengan papa juga.

Sabtu yang sibuk dan menyenangkan, jadilah hari ini gak bisa nulis panjang-panjang hehehe.

Joshua dan ABC

Belakangan ini, kami mulai jarang ajak Joshua ke mall karena terakhir ke mall suka ga susah diajak pindah tempat, sementara kalau ke mall itu kan gak bisa cuma diam di 1 tempat saja karena biasanya ya ke mall itu buat anter Jonathan taekwondo sambil beli ini dan itu.

Hari ini Joe gak bisa anter Jonathan, jadi saya yang harus anter Jonathan ke kelas taekwondonya. Kelas taekwondonya ini lokasinya di mall Central Airport Plaza, dan ya Joshua gak bisa ditinggal karena di sini kami gak punya orang lain yang bisa dititipin Joshua di rumah.

Tadinya saya sempat mikir, aduh ini Joshua diajak ngapain ya beberapa jam di mall. Ternyata, karena udah cukup lama gak ngemall, malah nemu ada beberapa mainan gratisan yang berubah dan malah jadi bisa bikin Joshua cukup lama bermainnya.

Dari semua mainan yang ada, tema permainan Joshua selalu membentuk ABC dan 123. Mainan di mall tadi juga akhirnya ga jauh-jauh dari membentuk huruf dan angka. Ini saya posting sekalian siapa tau bisa jadi ide ngajakin anak main. Oh ya, semua ini bukan saya yang ajarin tapi, Joshua aja selalu kreatif mainan apa aja dijadikan bentuk huruf dan angka.

bisa tebak Jonathan yang mana?

Setelah antar Jonathan ke kelas taekwondonya, perhentian pertama adalah kolam bola. Kolam bola ini baru sekali ini Joshua mainkan, karena terakhir kami ke mall belum ada mainan ini. Kolam bolanya dangkal, jadi Joshua bisa singkirkan bola-bolanya dan punya tempat kosong untuk mulai berkreasi dengan huruf-hurufnya. Saya gak berhasil foto semua huruf, lagipula sebelum selesai sampai Z ada anak-anak lain ikutan masuk ke kolam bola dan jadinya ga bisa main huruf-huruf lagi deh.

Lumayan lama juga main di kolam bola sebelum diganggu anak-anak lain itu. Selanjutnya mau pindah untuk main lego, tapi eh chocho train gratisan lagi berhenti, jadilah kita naik train dulu. Di train pas foto-foto, Joshua juga sempat bikin beberapa huruf ABC waktu lagi diajakin selfi. Tapi karena hasil fotonya kurang bagus, lebih baik gak diupload di sini hehehe.

Naik train itu mutar keliling lumayan waktunya hampir 15 menit, ditambah dengan waktu menunggu kereta berangkat ya lumayan menghabiskan waktu 20 menit. Kalau lagi gak ada kerjaan di mall, ya beginilah bawa anak mainan gratisannya kereta api gratisan ini berasa menyenangkan karena gak harus ngejar-ngejar Joshua hehehe.

Abis naik kereta api, akhirnya lanjut ke tujuan semula. Mainan lego gratisan juga. Oh ya semua mainan gratisan ini untungnya letaknya di lantai yang sama, tapi lokasinya tidak bersebelahan. Bisa dibilang dari satu tempat ke tempat yang lain ya dari ujung ke tengah dan dari tengah ke ujung satunya hehehe.

Mainan lego juga dibentuk jadi ABC. Ketika sampai di huruf D, Joshua teringat dengan D for domino. Selanjutnya ya legonya dijadikan seperti domino, dibentuk angka dan dijatuhkan hehehe.

Tadi lumayan mainan lego dominonya, dari angka 1 sampai 10. Akhirnya sampai saya harus bujukin dia biar udahan karena Jonathan sudah mau selesai latihan taekwondonya dan saya juga sudah lapar.

Biasanya kalau diajakin makan, Joshua akan semangat sekali langsung mau makan, tapi entah kenapa tadi mungkin dia belum lapar dan cukup lama membujuk dia biar udahan. Pas setelah angka 10 dia udah mau pergi, eh balik lagi mulai dengan huruf A, untung berhasil dialihkan dan jadi juga makan sebelum pulang ke rumah.

Total hari ini di mall dari jam 5 sampai jam 8. Mungkin buat mall di Jakarta segitu mah sebentar ya, tapi buat mall di sini itu dah lama, apalagi kalau harus nungguin anak main tapi gak bisa ditinggal main sendiri hehehe. Bersyukur Joshua hari ini moodnya bagus dan mau diajak pindah-pindah tempat. Senang dengan mall di sini juga yang menyediakan banyak mainan gratisan, jadi ngemall itu gak harus banyak biaya ekstra untuk mainan anak-anak.

Homeschool tahun ke – 3 menggunakan CLE

Hari ini tanggal 1 Juli 2019 kami mulai lagi dengan kegiatan homeschool kami setelah libur selama bulan Juni. Tahun ini Jonathan memasuki tahun ke-3 sekolah di rumah, sebelumnya saya tanyakan juga apakah dia mau kembali ke sekolah saja, tapi jawabannya masih lebih senang dengan sekolah di rumah.

Untuk pelajaran tahun ini, Jonathan sudah masuk ke materi kelas 4 SD. Kami masih memakai kurikulum yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya dari CLE. Setelah pengalaman tahun ke-2 kemarin, kali ini mulai lebih gampang untuk mengatur jadwal. Jumlah pelajaran yang kami pakai dari CLE ada 6 pelajaran. Selain ini Jonathan masih belajar piano, Art, Thai dan Taekwondo. Masa liburan di bulan Juni, Jonathan juga belajar berenang lagi. Rencananya pelajaran berenang hanya akan diteruskan selama 6 minggu ke depan.

Untuk pelajaran Math dan Language Art jumlah pelajarannya masih sama, dalam 1 tahun ada 10 buku, dalam 1 buku ada 16 pelajaran, di mana pelajaran ke-5 dan ke-10 berupa kuis dan pelajaran ke-16 berupa test dari keseluruhan pelajaran di buku. Untuk 2 pelajaran ini alokasi waktunya belajar setiap hari sekitar 45 menit.

Spelling dan Penmanship, masih perlu banyak latihan

Untuk pelajaran Reading kelas 4 ini hanya ada 5 buku (sebelumnya ada 10 di kelas 2 dan 3), pelajaran Social Studies dan Bible juga hanya ada 5 buku. Jumlah pelajaran dalam setiap bukunya juga sama dengan Math dan Language Art. Rencananya Social Studies dan Bible cukup dipelajari 2 kali seminggu, sedangkan Reading tetap 3 kali seminggu. Untuk 3 pelajaran ini alokasi waktunya sekitar 30 menit 1 pelajaran. Oh ya selama bulan Juli dan Agustus, kami hanya akan belajar 3 hari seminggu untuk materi CLE, sisanya ya materi di luar rumah.

Pelajaran Science strukturnya agak berbeda dari yang lain. Ada 10 buku untuk tahun ajaran ini, tapi di dalamnya hanya ada 28 topik. Rencananya pelajarannya 1 minggu 1 topik. Setiap buku ada 2 atau 3 topik dan setiap akhir buku juga selalu ada testnya. Untuk pelajaran science ini biasanya Jonathan akan mengerjakan pertanyaan di buku sekitar 30 menit, lalu jika ada eksperimen dia akan kerjakan bareng papanya di akhir pekan. Kalau ada yang tertarik untuk mencari tahu apa saja yang dipelajari di kurikulum CLE, bisa liat garis besar pelajarannya di link ini.

Sejak semester 2 tahun lalu, kami tidak mengikuti co-op homeschool lagi, tapi saya menemukan grup homeschool yang lokasinya dekat rumah dan saya tidak harus ikut mengajar. Jadi sekali seminggu, Jonathan dan Joshua akan bermain dan belajar di sana sekaligus bersosialisasi. Joshua masih belum terlalu mau ikut kegiatan belajarnya, tapi ya bermainnya sudah mulai senang karena sudah kenal juga dengan pengajar dan teman-temannya di sana. Jadi sekali seminggu saya bisa me-time hehehe.

Setelah menghomeschool selama 2 tahun, persiapan untuk tahun ke-3 terasa lebih mudah, seperti tahun sebelumnya saya menyiapkan jadwal per-minggu. Kegiatan belajar di rumah masih sama, dari pagi sampai jam makan siang. Kegiatan belajar di luar rumah biasanya setelah makan siang dan bisa berubah sesuai kebutuhan. Jadwal libur juga masih bisa diatur sesuai dengan kebutuhan hehehe.

Untuk Joshua, saya masih tetap belum memberikan jadwal khusus, tapi ya pada dasarnya dia akan suka ikut-ikutan membaca flashcard, menyusun pattern block, menyusun domino, ataupun main piano dan bernyanyi. Kadang-kadang dia akan menulis di whiteboard atau membaca buku yang ada di rak buku. Joshua masih 4 tahun, kalau ikut kurikulum Thai, harusnya dia sudah di TK-2, tapi ya saya merasa TK itu gak perlu belajar akademis, lebih penting ikutin aja dia tertariknya apa. Lagipula Joshua sudah bisa baca, tulis dan mengerti konsep penjumlahan. Joshua sekarang ini lebih penting diajakin main aja yang banyak biar jangan mikirin ABC dan 123 mulu.

Materi homeschool CLE untuk level Preschool dan TK juga sudah ada di rumah, sesekali saya berikan ke Joshua kalau dia kelihatan ingin ikutan mengerjakan sesuatu di buku. Tapi karena cuma ada 8 buku tipis untuk preschool dan 10 buku untuk 1 tahun TK, sedangkan Joshua bisa mengerjakan beberapa halaman sekaligus kalau dikasih bukunya, jadi ya saya tidak berikan tiap hari hehehe. Kadang-kadang karena Joshua sudah bisa membaca, saya terpikir memberikan saja materi yang agak advance, tapi saya urungkan niat itu karena tidak ingin dia jadi bosan sekolah nantinya.

Rencananya tahun ini mulai mengajari Jonathan membaca bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Indonesia. Tapi saya belum kepikiran cara terbaik mengajarkan bahasa Indonesia. Yang terpikir sekarang ini dengan membuat dia membaca nyaring buku bahasa Indonesia 1 cerita setiap hari.

Untuk tata bahasa Indonesia, penggunaan tanda baca sebenarnya mirip dengan apa yang dia pelajari di pelajaran bahasa Inggris, terutama untuk aturan penulisan dengan huruf kapital ataupun penulisan singkatan. Tapi ya sepertinya ada beberapa hal yang berbeda, terutama untuk penulisan nomor dengan titik dan bukan koma. Kalau ada yang punya saran cara atau buku untuk mengajarkan bahasa Indonesia ke anak SD, silakan tuliskan di komen ya.

Bulan Juni kemarin, saya juga mendapatkan komunitas baru sesama homechoolers tapi yang banyak berdomisili di Indonesia. Jadi saya bisa tanya-tanya banyak dan mulai memikirkan dan mempersiapkan untuk Jonathan ikut ujian persamaan nantinya. Senang rasanya mengetahui semakin banyak komunitas homeschooler di Indonesia, jadi bisa banyak tempat bertanya dan bertukar informasi.

Memilih Printer

Sejak tinggal di Chiang Mai, kami sudah beberapa kali beli printer. Pernah beli yang laser, deskjet, inkjet, bahkan pernah beli yang agak hi-end pada masa itu bisa fax segala (padahal cuma butuh fitur scannernya). Kami juga sudah mencoba berbagai merk printer seperti Lexmark laser, HP deskjet print scan copy fax, Brother inkjet monochrome, Canon inkjet dengan tank yang dimodif maupun Canon inktank print scan copy. Karena kami tidak memakai printer setiap hari, masalah yang paling sering terjadi adalah: tintanya kering! Yang paling menyebalkan adalah: setiap kali butuh ngeprint, selalu butuh waktu untuk membujuk printernya biar bekerja. Setelah printernya bekerja, eh kertasnya kadang-kadang miring masuknya dan berbagai masalah cetak lainnya.

Sebagai homeschooler, printer itu termasuk kebutuhan utama. Walaupun kami membeli kurikulum yang sudah berupa buku kerja, kadang kala ada banyak hal lain yang perlu dicetak untuk bacaan tambahan atau latihan soal. Sebagai orang IT, kami juga sering merasa butuh untuk scan dokumen, foto atau berbagai hal lain. Kebutuhan untuk memfotokopi passport juga ada setiap kali ada urusan ke imigrasi untuk perpanjangan ijin tinggal. Jadi kesimpulannya printer itu kebutuhan untuk kami walaupun tidak digunakan tiap hari.

Awal bulan ini, printer terakhir kami Canon inktank print scan copy dan bermasalah lagi. Printer ini garansinya ada 2 tahun, tapi dalam 2 tahun sudah 2 kali masuk bengkel. Kejadiannya ya setiap butuh ngeprint dia ga bisa ngeprint dan akhirnya bawa ke service. Karena masih masa garansi, kami gak pernah bayar. Kerusakan pertama karena scannernya rusak yang akhirnya menyebabkan tidak bisa mencetak. Kerusakan kedua tinta berisi penuh tapi selalu dinyatakan tinta habis dan disuruh mengganti tintanya. Lalu diantara kerusakan pertama dan ke-2 , kami juga sudah pernah mengalami tintanya kering tapi bisa diakalin Joe biar bisa bekerja lagi. Kerusakan terakhir yang ketiga kali, printernya sudah diluar masa garansi. Kerusakan kali ini paling parah: printernya tidak mau nyala sama sekali! Ketika dibawa ke service, karena printer sudah diluar masa garansi, kami harus bayar 300 baht untuk pemeriksaan kerusakan, dan kemudian harusnya bayar 1700 baht kalau mau diganti sparepart yang rusak (head printernya). Waktu saya tanya apakah reparasi ini ada garansinya? katanya tidak ada, artinya ada kemungkinan setelah membayar untuk ganti head printer, bisa saja tau-tau printernya rusak lagi. Karena printer Canon itu sudah rusak 3 kali, kami memutuskan untuk beli baru saja (supaya dapat garansi lagi).

Proses memulai pencarian printer dimulai. Dari kebutuhan yang ada, kami butuh printer yang bisa print-scan-copy dan juga kepikiran butuh yang bisa print melalui wifi. Selama ini, setiap kali mau ngeprint, kabel yang terhubung ke komputer sering bermasalah, terus pernah juga komputer yang terhubung ke printer butuh update driver dan updatingnya lamaaaaa banget. Aduh kayaknya printer itu identik dengan masalah deh. Nah fitur printer via wifi ini sudah lama ada, tapi kami belum pernah coba karena dulu harganya masih mahal. Kali ini kami memutuskan untuk mencoba printer yang bisa print via wifi, siapa tahu kalau ngeprint bisa langsung dari handphone, kami bisa lebih sering menggunakan printernya.

Dari hasil survey, ada beberapa pilihan:

HP 415 (4250 baht – garansi 2 tahun)

pilihan pertama

EPSON 3150 (4890 baht – garansi 2 tahun)

Brother DCP-T310 (3750 baht – garansi 1 tahun)

pilihan ke-3

Sebenarnya, waktu mencari online, pilihan sudah jatuh ke HP 415. Terus waktu saya survei ke toko, penjaga tokonya rekomendasi EPSON 3150, katanya EPSON ini memberikan garansi tinta tidak akan kering walau tidak dipakai 2 bulan. Kalaupun kering dan head rusak, selama masa garansi penggantian head sudah termasuk dalam garansi. Printer lain tidak memberikan garansi untuk head nya walaupun masih dalam masa garansi. Nah karena EPSON ini harganya lebih mahal sedikit dibanding HP, saya masih cari-cari pilihan lain lagi, dan ketemu Brother DCP-T310 yang ada displaynya.

Nah akhirnya setelah ada 3 pilihan begini malah makin bingung. Joe tertarik dengan Brother yang ada displaynya, harganya pun paling murah, tapi garansinya hanya 1 tahun. Saya awalnya sudah mau langsung pilih HP saja, tapi baca-baca kecepatan print nya masih lebih cepat si EPSON. Akhirnya, dengan pertimbangan rekomendasi mas-mas toko yang memang tokonya cukup terpercaya, kami pun pilih si EPSON. Lebih mahal memang, tapi harapannya sih bisa terpakai dengan baik selama 2 tahun gak bikin kesel tiap kali butuh ngeprint.

printernya ringan dan mengisi tintanya lebih sederhana daripada canon

Tadi, waktu instalasi, hampir saja kami merasa menyesal pilih EPSON. Jadi di awal instalasi, printer ini butuh pemanasan 10 menit, katanya ini inisialisasi pertama saja. Nah setelah 10 menit itu, printernya bisa mencetak test print untuk mendapatkan password wifi directnya. Tapi loh kok malah blur hasil cetaknya. Terus baca petunjuk butuh nozzle clean dulu. Akhirnya Joe harus keluarkan laptop untuk bisa setup printernya. Masalah berikutnya: laptop Joe gak ada Windowsnya! Untungnya di linux ketemu driver printer EPSON walau bukan seri yang persis, dan untungnya akhirnya setelah 30 menit dan berlembar-lembar mendapatkan hasil blurry dan isinya bintik-bintik doang akhirnya berhasil mensetup printernya setelah berhasil clean nozzle dan mendapatkan password wifi printernya.

Setelah itu sih udah ga ada masalah lagi, bahkan Joe berhasil mengupdate firmware printernya dengan firmware terbaru. Saya juga tinggal menginstal aplikasi Epson iprint dari Google Play di handphone, lalu aplikasinya akan otomatis mencari printernya.

Printernya sekarang sudah ready, dan sudah dicoba mengeprint beberapa dokumen. Joe juga sudah mencoba scan dokumen via wifi, jadi dokumennya diletakkan di printer dan hasil scannya langsung dapat di handphone. Untuk perintah fotokopi juga sudah dicoba dengan menggunakan aplikasi dari handphone.

Besok akan dicoba lebih banyak lagi. Masalah baru: kertas untuk mencetak habis hahahaha, jadi besok harus beli kertas dulu. Nah klaimnya printer ini untuk tinta yang disertakan dalam paketnya bisa mengeprint ribuan lembar untuk kualitas hitam putih ataupun warna. Niatnya saya akan mencari buku-buku belajar bahasa Indonesia dan mencetaknya supaya Jonathan bisa belajar membaca bahasa Indonesia dari buku cetak dan bukan baca di layar komputer.

Semoga printer kali ini lebih awet daripada printer-printer sebelumnya. Dan semoga dalam 2 tahun ini tidak ada kerusakan berarti untuk si printer.

Matematika SD: Kurikulum Cambridge VS Kurikulum Nasional

Hari ini istirahat dulu dari belajar bahasa Thai. Saya mau cerita pengalaman ikutan KulWAP (Kuliah WhatsApp) dengan topik Matematika SD Kurikulum Cambridge VS Kurikulum Nasional yang diadakan oleh komunitas #emak berbagi.

Beberapa waktu lalu, saya dapat informasi mengenai kulwap ini dari salah satu teman yang saya tahu menghomeschool anaknya sejak dulu. Kami sendiri tidak memakai kurikulum Cambridge ataupun kurikulum Nasional, tapi saya merasa perlu tahu untuk membandingkan dengan kurikulum yang kami pakai.

Sebelum kulwap dimulai, materi sudah diberikan beberapa hari sebelumnya untuk dipelajari. Narasumbernya merupakan guru-guru yang memang berpengalaman mengajar dengan menggunakan kurikulum Cambridge dan juga mempersiapkan murid-murid menghadapi ujian Cambridge, Ujian Nasional maupun untuk homeschooler yang akan mengikuti ujian kejar Paket A.

Mengikuti kulwap begini, saya jadi belajar banyak hal-hal baru juga dan menyadari kalau di Indonesia ada sekolah yang memakai kurikulum lain selain kurikulum nasional. Sebagai ibu homeschooler, saya memilih membeli kurikulum yang sudah jadi karena rasanya tidak sanggup untuk menyusun kurikulum sendiri dan sering ada kekuatiran ada bagian yang terlewat. Setelah membaca garis besar kurikulum Cambridge maupun kurikulum nasional untuk pelajaran Matematika, saya bisa lihat kalau kami masih di jalur yang benar karena pada akhirnya bukan kurikulumnya yang penting, tapi meletakkan fondasi belajar Matematika yang benar supaya anak bisa mengerti dan tidak masalah dengan soal-soal yang lebih kompleks nantinya.

Dalam materi yang diberikan di awal, ada contoh soal untuk ujian akhir Cambridge maupun Kurikulum Nasional. Ada 1 soal yang bikin saya sempat berpikir lama dan bingung hahaha, karena saya tidak bisa langsung melihat relasi dari 2 buah angka dengan pasangan 2 angka lainnya. Tapi sebelum panik karena merasa “loh masa saya ga bisa ujian anak SD!”, saya udah bisa menemukan jawabannya dan jadi teringat inilah pentingnya untuk memberikan variasi contoh soal dari kurikulum lain ke anak, karena bisa saja notasi yang diberikan berbeda dengan yang dia sudah biasa pelajari.

Jonathan sekarang ini masih akan naik kelas 4 SD, masih ada 2 tahun lagi sebelum ujian akhir untuk ke tingkat SMP. Kemarin saya sudah memberikan sedikit contoh soal ujian matematika dalam bahasa Indonesia yang saya dapatkan dari pinjeman di ipusnas. Masalah paling besar bukan dia tidak bisa mengerjakan karena tidak mengerti konsepnya, tapi lebih karena dia tidak mengerti kosakata yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Di dalam kulwap ada juga dibahas, kalau anak perlu dibiasakan dengan kosakata yang digunakan di kumpulan soal matematika baik itu berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Peserta kulwap Matematika ini bukan hanya kalangan homeschooler saja, tapi kebanyakan ya homeschooler. Dari pengalaman hari ini saya jadi kepikiran, kira-kira kalau kami tidak homeschool, saya akan mikirin gak ya kurikulum yang dipakai itu garis besarnya seperti apa? atau saya akan terima beres saja apapun metode yang diajarkan sekolah? Hebatnya, ada beberapa peserta itu anaknya bahkan belum mulai homeschool karena anaknya masih kecil tapi sudah merencanakan akan homeschool.

Dari tanya jawab yang ada selama 3 jam, walaupun saya gak bisa menyimak 100 persen di saat kulwap berlangsung, saya mendapatkan beberapa masukan baru juga untuk cara mengenalkan konsep matematika ke Jonathan dan Joshua. Ada 1 link yang dibagikan yang bisa dicoba dikerjakan bareng anak, tentang melipat dan gunting kertas untuk belajar tentang luas bidang. Nah biar tidak lupa, linknya akan saya sertakan di sini.

Setelah kulwap utama bubar, seperti biasa grupnya belum langsung dibubarkan. Nah kesempatan ini saya pakai untuk mencari teman sesama homeschooler yang anaknya seumuran. Hasilnya? saya dapat banyak teman baru dan komunitas baru. Ternyata memang di Indonesia sudah semakin banyak orang yang memilih Homeschool daripada jalur sekolah formal. Senang rasanya karena punya banyak teman untuk bertanya terutama seputar kurikulum Nasional dan ujian persamaan.

Joshua dan Alfabet

Beberapa waktu lalu, saya menuliskan mengenai kegiatan Joshua bermain tangram yang membentuk huruf dan angka. Sebelumnya dia sudah pernah bermain juga dengan pattern block, tapi saya pikir dia tidak tertarik dengan mainan itu dan beberapa kali saya sudah berniat untuk menjual saja pattern blocknya. Tapi hari ini saya baru menyadari, ternyata saya salah!

Kesalahan saya adalah, salah dalam memberikan pola yang harus ditiru. Joshua tidak tertarik untuk mengikuti pola gambar-gambar, tapi ketika tadi saya berikan 1 huruf A dan a, dia langsung kerjakan dengan cepat. Memang sejak kenal huruf, Joshua menunjukkan ketertarikan terhadap semua jenis huruf (bahkan huruf Thai dan Rusia!). Jadi, bukan Joshua tidak tertarik dengan pattern block, tapi dia tidak tertarik dengan pattern non alfabet.

awalnya meniru dari kertas yang saya print untuk Jonathan dulu

Tadi sore, bangun dari tidur siang, Joshua bongkar-bongkar lemari mainan dan memilih main pattern block. Awalnya dia menyusun sendiri huruf-huruf. Bahkan dia berusaha mendirikan pattern blocknya menjadi seperti domino yang dijatuhkan. Lalu saya ingat kalau saya punya pola untuk pattern block yang dulu saya persiapkan untuk Jonathan. Salah satu pola yang ada adalah pola membentuk hurf A dan a.

Alkisah, waktu dulu mengajak Jonathan bermain pattern block, saya pernah mencetak beberapa pola termasuk huruf A dan beberapa gambar lain. Tapi karena Jonathan waktu itu kurang tertarik dengan permainan ini, saya tidak mencetak semua huruf. Untungnya, saya masih bisa mencari lagi sumber pola huruf tersebut. Karena printer masih belum beli yang baru, saya download file pdf nya dan saya pikir coba deh kasih ke Joshua di ipad saja. Hasilnya? Joshua dengan sabar mengerjakan semua huruf dari A sampai Z. Saya yang tidak sabar malah nungguin dia main hahaha.

Saya mencoba memfoto setiap huruf yang dia kerjakan, tapi karena saya masih harus menyiapkan makan malam, tau-tau Joshua sudah membereskannya dengan cepat begitu selesai huruf tersebut. Sambil menyusun huruf, kadang-kadang dia bernyanyi atau bersenandung, kadang juga mendeskripsikan apa yang dia lakukan. Sesekali dia menirukan juga seperti suara yang ada di app yang dia mainkan hehe.

Selesai huruf Z, dia kembali ke huruf A, dan meniru huruf A dari ipad. Sepertinya ada perbedaan menyelesaikan dengan meniru dari ipad dan meniru dari kertas, jadi biar lengkap dia ulangi ke A. Saya pikir dia akan terusin lagi ke B sampai Z, ternyata cukup mengerjakan A nya saja.

Selesai dengan pattern block, Joshua melanjutkan membuat huruf dengan lego duplo. Lego duplo ini pernah dia liat di YouTube, sudah beberapa kali dia berlatih bikin sendiri tanpa melihat contoh. Sepertinya apa saja bisa dia bangun asalkan polanya alfabet atau angka hehehe.

Lanjut dengan Lego Duplo block

Dari sejak awal pulang sampai selesai mainan membentuk semua huruf, sepertinya lebih 1,5 jam. Papanya sampai heran, kok bisa ya Joshua lihat ipad buat niruin alfabet doang, gak tertarik buat mainan lain yang dia tau ada banyak di ipad. Dia tidak tertarik main di ipad, beberapa kali malah tertarik buat mainan lego duplonya.

Pelajaran hari ini buat saya adalah kalau ngasih mainan ke Joshua dan dia tidak tertarik, bukan berarti dia benar-benar tidak tertarik, coba dalam bentuk Alfabet dan perhatikan apakah dia tertarik atau tidak.

Joshua juga sudah mulai bisa diajak membereskan mainannya. Waktu dia teralih perhatian ingin main duplo, saya tanyakan: pattern blocknya mau diberesin? karena dia merasa belum sampai huruf Z, ya dia akhirnya ninggalin duplonya dan melanjutkan pattern blocknya. Waktu sampai di huruf Z, dia bertepuk tangan dan berseru kesenangan: you did it!

Joshua berhenti bermain dengan duplo dan pattern block karena papanya pulang dan waktunya makan malam. Selesai makan, dia bantu saya beresin mainannya supaya pattern blocknya bisa di bawa ke kamar atas. Tapi sampai atas, dia melihat domino toy nya, dan memilih menyusun domino Alfabet.

Mainan domino alfabet ini juga sudah beberapa hari ini dia kerjakan dari A sampai Z, belakangan dia minta di foto susunanya sebelum dia jatuhkan. Intinya mainan apa saja akan disusun jadi alfabet dan angka hehehhe.

Hari Terakhir Kelas 3

Hari ini Jonathan menyelesaikan semua materi homeschool kelas 3 nya. Hip Hip Hurray. Selama bulan Juni rencananya akan meliburkan diri dari kegiatan homeschool, tapi ya tetap akan mengikuti kumon Thai dan kelas gambar dan piano. Artinya bulan Juni mamanya libur jadi guru tapi ya harus mulai merencanakan jadwal hari sekolah dan hari libur untuk tahun ajaran berikutya.

memory FB mengingatkan tulisan akhir tahun ajaran kelas 2

Waktu lihat memory di FB, ternyata tahun lalu kelas 2 nya selesai di awal Juni. Kelas 3 kami mulai sekitar awal Juli dan dengan jadwal 4 hari seminggu, jadilah butuh hampir 11 bulan untuk menyelesaikan materi kelas 3. Dengan selesainya pelajaran kelas 3 ini, artinya kami sudah 2 tahun menjalankan homeschooling dengan menggunakan kurikulum dari CLE.

Gimana dengan rencana pelajaran kelas 4? Kami memutuskan akan tetap memakai kurikulum yang sama. Beberapa waktu lalu buku-bukunya sudah tiba. Untuk jadwal belajarnya saya masih mempertimbangkan mau 4 hari seminggu atau 5 kali seminggu. Sekarang ini Jonathan kebanyakan waktu luang di sore hari, tapi dia lagi suka main Minecraft, jadi kami biarkan dia eksplorasi minecraft asal tugas utama sudah selesai.

Oh ya sebelum memutuskan melanjutkan homeschool kelas 4, saya tanyakan juga apakah dia mau sekolah di sekolah biasa supaya banyak teman? dia tetap jawab: nggak, maunya homeschool saja. Tapi kalau Joshua dikirim ke daycare/preschool, Jonathan jadi agak kepengen juga ke sekolah karena di rumah ga ada temannya selain saya hahaha. Tapi waktu saya tanyakan lagi yakin mau sekolah dan siap dengan segala konsekuensinya (bangun pagi, lama di sekolah, banyak pr), dia bilang lebih suka homeschool saja dan 1 kali seminggu ketemu teman-teman untuk main, plus 2 kali seminggu ketemu teman Tae Kwon do dan sekali seminggu ketemu teman Gereja.

Dari hasil evaluasi kuis dan test akhir, semua pelajaran Jonathan bisa rata-rata di atas 90 persen. Selama kelas 3 ini Jonathan sudah banyak belajar mandiri, saya hanya membantu kalau dia tidak mengerti dengan apa yang dia baca. Setiap minggu dia juga ada ketemu dengan teman-teman di grup homeschool dekat rumah. Tulisannya masih agak kurang rapi, terutama kalau lagi buru-buru. Kegiatan belajar juga masih harus sering diingatkan supaya gak banyak bengongnya, tapi sejauh ini hampir setiap hari pelajaran bisa selesai sebelum jam makan siang.

Rencananya, pelajaran kelas 4 selain memakai materi CLE, kami akan tambahkan juga materi bahasa Indonesia dan mencarikan buku bacaan untuk pelajaran sejarah Indonesia. Kelas 4 ini sudah harus mulai mencari tahu bagaimana dan apa yang harus dipelajari kalau Jonathan butuh ikut ujian persamaan Kejar Paket A di Indonesia. Kemarin iseng kami cobakan buat Jonathan mengerjakan buku kumpulan soal yang dipinjam dari ipusnas, untuk math nya dia bisa mengerti walau dalam bahasa Indonesia, tapi untuk pelajaran bahasa Indonesia masih butuh panduan untuk menyelesaikannya.

Setelah 2 tahun menjalani homeschooling, sekarang rasanya sudah lebih ada gambaran apa yang perlu dilakukan dan apa yang harus direncanakan dari awal. Pertanyaan-pertanyaan yang ada sudah berkurang dan lebih tenang juga kalau ada yang mempertanyakan masalah ijasah. Keputusan homeschooling ini juga sudah tepat kalau melihat dalam 2 tahun homeschooling, Jonathan sangat sehat dan bahkan membuat Joshua juga jadi ikut-ikutan belajar mandiri.

Kemarin ada teman bertanya gimana caranya supaya bisa konsisten dalam homeschooling anak, kadang-kadang ada rasa takut bosan ditengah jalan. Kalau saya lihat setiap keluarga punya alasan sendiri untuk homeschool, nah yang membantu kami untuk bisa tetap jalan terus adalah memilih kurikulum yang tepat. Kalau gak ada kurikulum yang udah jadi, rasanya saya akan terbeban duluan harus menyusun materi, menentukan apa yang harus dipelajari, mengajarkan, mengevaluasi, dan akan merasa bersalah kalau misalnya anak gak ngerti atau ketinggalan dengan pelajaran anak seumurnya.

Banyak juga keluarga yang memilih untuk unschooling alias tidak mau terikat dengan buku latihan ataupun kurikulum yang baku. Banyak juga yang tipe homeschoolingnya itu mengajarkan apa yang jadi pertanyaan anaknya saja. Tapi ya jaman sekarang ini ijasah itu cuma pelengkap, yang lebih dibutuhkan itu keahlian, dan untuk menjadi ahli si anak harus dipersiapkan untuk menjadi pembelajar mandiri dan punya passion untuk apa yang dia kerjakan. Jadi tipe unschooling atau world schooling yang tidak mematok dengan kelas berapa dan kurikum apapun bisa jadi pilihan kalau memang yakin dengan pilihan itu.

Saya memilih untuk tetap pada jalur memilih kurikulum yang menggunakan buku latihan dan dilengkapi dengan buku panduan untuk guru. Hal ini untuk meringankan beban pikiran apakah ada yang terlewat atau belum dipelajari, mengevaluasinya juga lebih gampang. Kalau suatu saat Jonathan ingin kembali ke sekolah, kami tetap bisa melakukannya karena dia sudah mendapatkan materi yang seharusnya dia pelajari untuk kelas sesuai umurnya. Tinggal tergantung apakah sekolahnya mau menerima anak homeschool dengan memberikan tes khusus atau cukup percaya dengan rapor versi ibunya hehehe.