Matematika SD: Kurikulum Cambridge VS Kurikulum Nasional

Hari ini istirahat dulu dari belajar bahasa Thai. Saya mau cerita pengalaman ikutan KulWAP (Kuliah WhatsApp) dengan topik Matematika SD Kurikulum Cambridge VS Kurikulum Nasional yang diadakan oleh komunitas #emak berbagi.

Beberapa waktu lalu, saya dapat informasi mengenai kulwap ini dari salah satu teman yang saya tahu menghomeschool anaknya sejak dulu. Kami sendiri tidak memakai kurikulum Cambridge ataupun kurikulum Nasional, tapi saya merasa perlu tahu untuk membandingkan dengan kurikulum yang kami pakai.

Sebelum kulwap dimulai, materi sudah diberikan beberapa hari sebelumnya untuk dipelajari. Narasumbernya merupakan guru-guru yang memang berpengalaman mengajar dengan menggunakan kurikulum Cambridge dan juga mempersiapkan murid-murid menghadapi ujian Cambridge, Ujian Nasional maupun untuk homeschooler yang akan mengikuti ujian kejar Paket A.

Mengikuti kulwap begini, saya jadi belajar banyak hal-hal baru juga dan menyadari kalau di Indonesia ada sekolah yang memakai kurikulum lain selain kurikulum nasional. Sebagai ibu homeschooler, saya memilih membeli kurikulum yang sudah jadi karena rasanya tidak sanggup untuk menyusun kurikulum sendiri dan sering ada kekuatiran ada bagian yang terlewat. Setelah membaca garis besar kurikulum Cambridge maupun kurikulum nasional untuk pelajaran Matematika, saya bisa lihat kalau kami masih di jalur yang benar karena pada akhirnya bukan kurikulumnya yang penting, tapi meletakkan fondasi belajar Matematika yang benar supaya anak bisa mengerti dan tidak masalah dengan soal-soal yang lebih kompleks nantinya.

Dalam materi yang diberikan di awal, ada contoh soal untuk ujian akhir Cambridge maupun Kurikulum Nasional. Ada 1 soal yang bikin saya sempat berpikir lama dan bingung hahaha, karena saya tidak bisa langsung melihat relasi dari 2 buah angka dengan pasangan 2 angka lainnya. Tapi sebelum panik karena merasa “loh masa saya ga bisa ujian anak SD!”, saya udah bisa menemukan jawabannya dan jadi teringat inilah pentingnya untuk memberikan variasi contoh soal dari kurikulum lain ke anak, karena bisa saja notasi yang diberikan berbeda dengan yang dia sudah biasa pelajari.

Jonathan sekarang ini masih akan naik kelas 4 SD, masih ada 2 tahun lagi sebelum ujian akhir untuk ke tingkat SMP. Kemarin saya sudah memberikan sedikit contoh soal ujian matematika dalam bahasa Indonesia yang saya dapatkan dari pinjeman di ipusnas. Masalah paling besar bukan dia tidak bisa mengerjakan karena tidak mengerti konsepnya, tapi lebih karena dia tidak mengerti kosakata yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Di dalam kulwap ada juga dibahas, kalau anak perlu dibiasakan dengan kosakata yang digunakan di kumpulan soal matematika baik itu berbahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Peserta kulwap Matematika ini bukan hanya kalangan homeschooler saja, tapi kebanyakan ya homeschooler. Dari pengalaman hari ini saya jadi kepikiran, kira-kira kalau kami tidak homeschool, saya akan mikirin gak ya kurikulum yang dipakai itu garis besarnya seperti apa? atau saya akan terima beres saja apapun metode yang diajarkan sekolah? Hebatnya, ada beberapa peserta itu anaknya bahkan belum mulai homeschool karena anaknya masih kecil tapi sudah merencanakan akan homeschool.

Dari tanya jawab yang ada selama 3 jam, walaupun saya gak bisa menyimak 100 persen di saat kulwap berlangsung, saya mendapatkan beberapa masukan baru juga untuk cara mengenalkan konsep matematika ke Jonathan dan Joshua. Ada 1 link yang dibagikan yang bisa dicoba dikerjakan bareng anak, tentang melipat dan gunting kertas untuk belajar tentang luas bidang. Nah biar tidak lupa, linknya akan saya sertakan di sini.

Setelah kulwap utama bubar, seperti biasa grupnya belum langsung dibubarkan. Nah kesempatan ini saya pakai untuk mencari teman sesama homeschooler yang anaknya seumuran. Hasilnya? saya dapat banyak teman baru dan komunitas baru. Ternyata memang di Indonesia sudah semakin banyak orang yang memilih Homeschool daripada jalur sekolah formal. Senang rasanya karena punya banyak teman untuk bertanya terutama seputar kurikulum Nasional dan ujian persamaan.

Joshua dan Alfabet

Beberapa waktu lalu, saya menuliskan mengenai kegiatan Joshua bermain tangram yang membentuk huruf dan angka. Sebelumnya dia sudah pernah bermain juga dengan pattern block, tapi saya pikir dia tidak tertarik dengan mainan itu dan beberapa kali saya sudah berniat untuk menjual saja pattern blocknya. Tapi hari ini saya baru menyadari, ternyata saya salah!

Kesalahan saya adalah, salah dalam memberikan pola yang harus ditiru. Joshua tidak tertarik untuk mengikuti pola gambar-gambar, tapi ketika tadi saya berikan 1 huruf A dan a, dia langsung kerjakan dengan cepat. Memang sejak kenal huruf, Joshua menunjukkan ketertarikan terhadap semua jenis huruf (bahkan huruf Thai dan Rusia!). Jadi, bukan Joshua tidak tertarik dengan pattern block, tapi dia tidak tertarik dengan pattern non alfabet.

awalnya meniru dari kertas yang saya print untuk Jonathan dulu

Tadi sore, bangun dari tidur siang, Joshua bongkar-bongkar lemari mainan dan memilih main pattern block. Awalnya dia menyusun sendiri huruf-huruf. Bahkan dia berusaha mendirikan pattern blocknya menjadi seperti domino yang dijatuhkan. Lalu saya ingat kalau saya punya pola untuk pattern block yang dulu saya persiapkan untuk Jonathan. Salah satu pola yang ada adalah pola membentuk hurf A dan a.

Alkisah, waktu dulu mengajak Jonathan bermain pattern block, saya pernah mencetak beberapa pola termasuk huruf A dan beberapa gambar lain. Tapi karena Jonathan waktu itu kurang tertarik dengan permainan ini, saya tidak mencetak semua huruf. Untungnya, saya masih bisa mencari lagi sumber pola huruf tersebut. Karena printer masih belum beli yang baru, saya download file pdf nya dan saya pikir coba deh kasih ke Joshua di ipad saja. Hasilnya? Joshua dengan sabar mengerjakan semua huruf dari A sampai Z. Saya yang tidak sabar malah nungguin dia main hahaha.

Saya mencoba memfoto setiap huruf yang dia kerjakan, tapi karena saya masih harus menyiapkan makan malam, tau-tau Joshua sudah membereskannya dengan cepat begitu selesai huruf tersebut. Sambil menyusun huruf, kadang-kadang dia bernyanyi atau bersenandung, kadang juga mendeskripsikan apa yang dia lakukan. Sesekali dia menirukan juga seperti suara yang ada di app yang dia mainkan hehe.

Selesai huruf Z, dia kembali ke huruf A, dan meniru huruf A dari ipad. Sepertinya ada perbedaan menyelesaikan dengan meniru dari ipad dan meniru dari kertas, jadi biar lengkap dia ulangi ke A. Saya pikir dia akan terusin lagi ke B sampai Z, ternyata cukup mengerjakan A nya saja.

Selesai dengan pattern block, Joshua melanjutkan membuat huruf dengan lego duplo. Lego duplo ini pernah dia liat di YouTube, sudah beberapa kali dia berlatih bikin sendiri tanpa melihat contoh. Sepertinya apa saja bisa dia bangun asalkan polanya alfabet atau angka hehehe.

Lanjut dengan Lego Duplo block

Dari sejak awal pulang sampai selesai mainan membentuk semua huruf, sepertinya lebih 1,5 jam. Papanya sampai heran, kok bisa ya Joshua lihat ipad buat niruin alfabet doang, gak tertarik buat mainan lain yang dia tau ada banyak di ipad. Dia tidak tertarik main di ipad, beberapa kali malah tertarik buat mainan lego duplonya.

Pelajaran hari ini buat saya adalah kalau ngasih mainan ke Joshua dan dia tidak tertarik, bukan berarti dia benar-benar tidak tertarik, coba dalam bentuk Alfabet dan perhatikan apakah dia tertarik atau tidak.

Joshua juga sudah mulai bisa diajak membereskan mainannya. Waktu dia teralih perhatian ingin main duplo, saya tanyakan: pattern blocknya mau diberesin? karena dia merasa belum sampai huruf Z, ya dia akhirnya ninggalin duplonya dan melanjutkan pattern blocknya. Waktu sampai di huruf Z, dia bertepuk tangan dan berseru kesenangan: you did it!

Joshua berhenti bermain dengan duplo dan pattern block karena papanya pulang dan waktunya makan malam. Selesai makan, dia bantu saya beresin mainannya supaya pattern blocknya bisa di bawa ke kamar atas. Tapi sampai atas, dia melihat domino toy nya, dan memilih menyusun domino Alfabet.

Mainan domino alfabet ini juga sudah beberapa hari ini dia kerjakan dari A sampai Z, belakangan dia minta di foto susunanya sebelum dia jatuhkan. Intinya mainan apa saja akan disusun jadi alfabet dan angka hehehhe.

Hari Terakhir Kelas 3

Hari ini Jonathan menyelesaikan semua materi homeschool kelas 3 nya. Hip Hip Hurray. Selama bulan Juni rencananya akan meliburkan diri dari kegiatan homeschool, tapi ya tetap akan mengikuti kumon Thai dan kelas gambar dan piano. Artinya bulan Juni mamanya libur jadi guru tapi ya harus mulai merencanakan jadwal hari sekolah dan hari libur untuk tahun ajaran berikutya.

memory FB mengingatkan tulisan akhir tahun ajaran kelas 2

Waktu lihat memory di FB, ternyata tahun lalu kelas 2 nya selesai di awal Juni. Kelas 3 kami mulai sekitar awal Juli dan dengan jadwal 4 hari seminggu, jadilah butuh hampir 11 bulan untuk menyelesaikan materi kelas 3. Dengan selesainya pelajaran kelas 3 ini, artinya kami sudah 2 tahun menjalankan homeschooling dengan menggunakan kurikulum dari CLE.

Gimana dengan rencana pelajaran kelas 4? Kami memutuskan akan tetap memakai kurikulum yang sama. Beberapa waktu lalu buku-bukunya sudah tiba. Untuk jadwal belajarnya saya masih mempertimbangkan mau 4 hari seminggu atau 5 kali seminggu. Sekarang ini Jonathan kebanyakan waktu luang di sore hari, tapi dia lagi suka main Minecraft, jadi kami biarkan dia eksplorasi minecraft asal tugas utama sudah selesai.

Oh ya sebelum memutuskan melanjutkan homeschool kelas 4, saya tanyakan juga apakah dia mau sekolah di sekolah biasa supaya banyak teman? dia tetap jawab: nggak, maunya homeschool saja. Tapi kalau Joshua dikirim ke daycare/preschool, Jonathan jadi agak kepengen juga ke sekolah karena di rumah ga ada temannya selain saya hahaha. Tapi waktu saya tanyakan lagi yakin mau sekolah dan siap dengan segala konsekuensinya (bangun pagi, lama di sekolah, banyak pr), dia bilang lebih suka homeschool saja dan 1 kali seminggu ketemu teman-teman untuk main, plus 2 kali seminggu ketemu teman Tae Kwon do dan sekali seminggu ketemu teman Gereja.

Dari hasil evaluasi kuis dan test akhir, semua pelajaran Jonathan bisa rata-rata di atas 90 persen. Selama kelas 3 ini Jonathan sudah banyak belajar mandiri, saya hanya membantu kalau dia tidak mengerti dengan apa yang dia baca. Setiap minggu dia juga ada ketemu dengan teman-teman di grup homeschool dekat rumah. Tulisannya masih agak kurang rapi, terutama kalau lagi buru-buru. Kegiatan belajar juga masih harus sering diingatkan supaya gak banyak bengongnya, tapi sejauh ini hampir setiap hari pelajaran bisa selesai sebelum jam makan siang.

Rencananya, pelajaran kelas 4 selain memakai materi CLE, kami akan tambahkan juga materi bahasa Indonesia dan mencarikan buku bacaan untuk pelajaran sejarah Indonesia. Kelas 4 ini sudah harus mulai mencari tahu bagaimana dan apa yang harus dipelajari kalau Jonathan butuh ikut ujian persamaan Kejar Paket A di Indonesia. Kemarin iseng kami cobakan buat Jonathan mengerjakan buku kumpulan soal yang dipinjam dari ipusnas, untuk math nya dia bisa mengerti walau dalam bahasa Indonesia, tapi untuk pelajaran bahasa Indonesia masih butuh panduan untuk menyelesaikannya.

Setelah 2 tahun menjalani homeschooling, sekarang rasanya sudah lebih ada gambaran apa yang perlu dilakukan dan apa yang harus direncanakan dari awal. Pertanyaan-pertanyaan yang ada sudah berkurang dan lebih tenang juga kalau ada yang mempertanyakan masalah ijasah. Keputusan homeschooling ini juga sudah tepat kalau melihat dalam 2 tahun homeschooling, Jonathan sangat sehat dan bahkan membuat Joshua juga jadi ikut-ikutan belajar mandiri.

Kemarin ada teman bertanya gimana caranya supaya bisa konsisten dalam homeschooling anak, kadang-kadang ada rasa takut bosan ditengah jalan. Kalau saya lihat setiap keluarga punya alasan sendiri untuk homeschool, nah yang membantu kami untuk bisa tetap jalan terus adalah memilih kurikulum yang tepat. Kalau gak ada kurikulum yang udah jadi, rasanya saya akan terbeban duluan harus menyusun materi, menentukan apa yang harus dipelajari, mengajarkan, mengevaluasi, dan akan merasa bersalah kalau misalnya anak gak ngerti atau ketinggalan dengan pelajaran anak seumurnya.

Banyak juga keluarga yang memilih untuk unschooling alias tidak mau terikat dengan buku latihan ataupun kurikulum yang baku. Banyak juga yang tipe homeschoolingnya itu mengajarkan apa yang jadi pertanyaan anaknya saja. Tapi ya jaman sekarang ini ijasah itu cuma pelengkap, yang lebih dibutuhkan itu keahlian, dan untuk menjadi ahli si anak harus dipersiapkan untuk menjadi pembelajar mandiri dan punya passion untuk apa yang dia kerjakan. Jadi tipe unschooling atau world schooling yang tidak mematok dengan kelas berapa dan kurikum apapun bisa jadi pilihan kalau memang yakin dengan pilihan itu.

Saya memilih untuk tetap pada jalur memilih kurikulum yang menggunakan buku latihan dan dilengkapi dengan buku panduan untuk guru. Hal ini untuk meringankan beban pikiran apakah ada yang terlewat atau belum dipelajari, mengevaluasinya juga lebih gampang. Kalau suatu saat Jonathan ingin kembali ke sekolah, kami tetap bisa melakukannya karena dia sudah mendapatkan materi yang seharusnya dia pelajari untuk kelas sesuai umurnya. Tinggal tergantung apakah sekolahnya mau menerima anak homeschool dengan memberikan tes khusus atau cukup percaya dengan rapor versi ibunya hehehe.

Mainan Code-a-pillar

Beberapa minggu lalu saya menuliskan review app Code-a-pillar. Ketika browsing untuk mencari tahu lebih banyak sebelum menuliskan reviewnya kami baru tau kalau app ini ada mainan fisiknya. Setelah menimbang-nimbang dan melihat beberapa videonya, akhirnya kami memesan online dari ebay. Harga mainan ini dengan ongkos kirim ke Thailand sekitar 53.95 USD atau sekitar 1717 Thai Baht. Mainan ini harganya cukup reasonable, karena mainan playdough aja bisa hampir 1000 baht.

Hari ini mainannya sudah tiba di Chiang Mai. Termasuk cepat juga, padahal estimasi awalnya tibanya minggu ke-2 Juni. Niat awalnya sih mau dibuka pas Joshua ulang tahun, tapi kata papanya: ah udahlah mending dikasih sekarang, biar lebih puas mainnya. Alasan lain sih sekalian memeriksa apakah mainannya seperti yang diharapkan dan tidak ada masalah.

Hari ini saya banyak kegiatan antar jemput Jonathan dan Joshua tidur siang ditinggal di rumah karena ada si mbak. Waktu saya datang, Joshua sudah bangun, dia langsung bawa-bawa mainan ini minta dibukain. Saya pengennya dia main sama papanya saja, karena saya belum masak buat makan malam, tapi dia gak sabar dan berkali-kali minta dibukain hehehe.

code-a-pillar masih dalam kemasan

Akhirnya setelah saya selesai masak dan Joshua sudah mandi sore, saya buka deh itu mainan. Packagingnya bagus dan cukup aman dari kemungkinan mainnya rusak. Waktu dikirimkan mainan ini sudah dipasangkan batere di dalamnya, jadi memang bisa langsung dimainkan. Joshua sudah berkali-kali memencet tombol powernya, tapi sebelum dikeluarkan dari packaging ya cuma suaranya saja yang yang kedengaran. Musiknya sama dengan musik yang ada di app nya, jadi dia sudah mengenali dan semakin antusias ingin memainkan.

Mainan sudah dipasangi 4 batere AA

Begitu saya buka, langsung deh dijalankan sambil diperhatikan dengan seksama apakah jalannya sesuai instruksi. Wajahnya sangat ceria dan sangat bersemangat. Karena code-a-pillarnya sering nabrak atau masuk kolong kursi, Joshua ganti-ganti susunannya. Dia juga suka kalau mainannya muter-muter doang, jadi dia sengaja susun abis belok kanan belok kanan lagi.

Setelah papanya pulang, tentunya main dulu sama papanya baru mau makan malam. Ini sih tapi kayaknya papanya juga yang kesenengan dapat mainan lucu begini.

Kesimpulan sementara dari bermain code-a-pillar hari ini mengenai mainan ini adalah:

  • butuh ruangan luas biar mainannya gak nabrak mulu
  • harus dicoba beberapa kali untuk memperkirakan berapa jauh 1 instruksi dilakukan oleh “ulat bulu”-nya
  • anaknya jadi lebih banyak bergerak daripada main app tentunya
  • ukuran mainanya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil untuk anak 4 tahun, Jonathan aja yang 8 tahun masih ikut-ikutan seneng sama mainan ini hehehe, konektornya juga tidak terlalu sulit untuk dibongkar pasang
  • membuat anak semakin mengerti konsep arah maju, kanan dan kiri
  • mengajarkan berpikir secara sekuensial karena di ulat bulunya keliatan apa gerakan yang dilakukan
  • kemungkinan akan butuh banyak batere kalau tiap hari dimainkan berjam-jam. Sekarang sih masih hari pertama, jadi sejauh ini baterenya belum habis hehehe.

Sepertinya baru bisa segitu dulu ceritanya. Sebenarnya ada lagi bagian yang bisa dibeli terpisah untuk menambah panjang mainan code-a-pillar, tapi kami mau lihat dulu berapa lama Joshua senang dengan mainan ini. Kalau memang dia masih tetap senang, ya nanti bisa ditambahkan kalau ada rejeki ekstra hehehe.

Sekolah Ideal?

Tahun ajaran baru di Thailand untuk sekolah dengan kurikulum Thai baru saja dimulai minggu ini. Sedangkan untuk sekolah Internasional, tahun ajaran baru akan dimulai nanti sekitar akhir Juli atau awal Agustus. Di kalangan teman-teman saya di Indonesia juga sepertinya mulai sibuk dengan pendaftaran tahun ajaran baru. Ada yang anaknya lulus SD dan akan masuk SMP. Ponakan saya juga ada yang akan masuk SMP dan SMA. Melihat obrolan mengenai pencarian sekolah membuat saya berpikir sendiri dengan berbagai pendapat tentang sistem sekolah.

Sebenarnya apa sih yang dicari orangtua dari sebuah sekolah? kenapa sebuah sekolah bisa lebih populer daripada sekolah yang lain? Kenapa sekolah ada yang mahal dan ada yang mahal banget? Kenapa sekarang ini ada kecenderungan memasukkan anak sekolah swasta walau untuk cari biayanya orangtua harus banting tulang mencari duitnya? Di Chiang Mai sini misalnya, kenapa ada banyak sekali sekolah Internasional, bilingual dan sekolah swasta? Memang ada banyak expat tinggal di sini, tapi siswa sekolah Internasional bukan hanya anak-anak expat, anak Thai juga banyak, dan sekolah Internasionalnya menurut saya terlalu banyak hehehe.

Sebagai orangtua yang pernah galau mencari sekolah, ada beberapa hal yang dipertimbangkan sebelum mendaftarkan anak ke sebuah sekolah. Berikut ini merupakan opini saya dan sedikit komentar dengan keadaan sekolah yang saya amati di sini maupun seandainya kami tinggal di Indonesia.

Sekolah itu idealnya:

  • Tidak jauh dari rumah: dengan begini anak bisa dilatih untuk pergi dan pulang sendiri kalau sudah agak besar. Saya ingat dari kelas 1 SD saya jalan kaki sendiri ke sekolah. Jalannya tidak melewati jalan besar, jadi orangtua saya tidak perlu kuatir. Kelas 3 SD, kami pindah rumah, saya harus naik bemo atau becak. Saya sudah bisa antar adik saya naik bemo ke sekolah karena walaupun agak jauh tapi tidak terlalu jauh juga. Ketika SMP, sekolahnya agak lebih jauh dari SD saya, tapi saya bisa naik angkutan sendiri dan pernah juga naik sepeda ke sekolah. Saya ingat, kadang-kadang saya jalan kaki untuk menghemat ongkos, dan jatah ongkosnya jadi uang jajan hehehe.
  • Uang sekolah tidak mahal: saya dan kakak saya semua sekolah di sekolah negeri dari SD, SMP, SMA. Orangtua saya bukan orang kaya yang banyak pilihan untuk menyekolahkan kami di sekolah swasta. Uang sekolah negeri pastinya lebih murah daripada sekolah swasta. Sekarang ini kabarnya sekolah negeri infrastrukturnya tidak seragam, jadi banyak juga orang yang memilih sekolah negeri yang “populer”. Di Thailand sini, saya kurang tahu mengenai sekolah negeri, tapi sekolah swastanya juga ada banyak tingkatan, mulai dari yang biasa saja sampai yang mahal banget. Karena kami bukan orang lokal, kami mencari sekolah yang punya kurikulum dalam bahasa Inggris, pilihannya hanya ada di sekolah Internasional. Sekolah internasional pilihannya ya mahal atau mahal banget.
  • kualitas pendidikannya bagus, kurikulum dan guru-gurunya tidak sering berganti-ganti: untuk hal ini biasanya diketahui dari kualitas alumni sekolah tersebut. Kalau di sini misalnya, ada teman saya yang ingin sekali anaknya masuk sekolah dasar tertentu karena dia ingin anaknya jadi dokter, dan lulusan sekolah yang dia inginkan itu banyak yang sukses termasuk jadi dokter. Sekolah menjadi populer dan dianggap bagus karena lulusannya melanjutkan ke sekolah populer berikutnya.
  • pekerjaan rumah tidak banyak: ini sih beda-beda ya tiap orang tua, tapi kalau saya sih pengennya anak itu gak usah bawa pulang kerjaan sekolah, biar di rumah bisa main aja yang banyak, apalagi misalnya kayak di sini jam sekolahnya aja udah dari pagi sampe sore, kalau pulang ada PR untuk tiap pelajaran, kasian anaknya.
  • kegiatan ekstrakurikuler: ini juga tergantung orangtuanya, banyak orangtua yang mendaftarkan anaknya berbagai kegiatan sepulang dari sekolah ataupun di akhir pekan. Rasanya kalau kami tidak homeschool, saya harapkan Jonathan belajar art, bahasa Thai, music, pendidikan jasmani semuanya cukup di sekolah saja dan bisa memilih 1 kegiatan saja di akhir minggu. Dulu waktu saya SMP, saya ingat saya cuma ikut kursus bahasa Inggris 3 kali seminggu, itupun kursusnya dekat rumah. Waktu SD saya gak ikut kursus apapun, SMA saya ikut bimbingan belajar setelah kelas 3 SMA dan sebelumnya gak ikut kursus apapun.
  • beban akademis yang seimbang: untuk anak usia TK ya diberi beban anak TK, jangan terlalu banyak akademis. Anak TK itu sepatutnya ya banyakan bermainnya daripada duduk mengerjakan workbook. Untuk anak SD, diajari mulai dari membaca sampai ketika lulus SD mulai bisa berpikir menyelesaikan permasalahan. Untuk anak SMP ya mulai lebih meningkat beban akademisnya, tapi bukan berarti pekerjaan rumah seabrek-abrek. SMA saya ingat semakin banyak beban akademis, apalagi sudah menjelang ujian memasuki perguruan tinggi. Tapi itupun karena anak sudah semakin dewasa, mereka sudah makin mengerti prioritas antara belajar atau berorganisasi.
  • lingkungan teman-temannya yang baik-baik: anak-anak itu terbentuk bukan hanya di rumah, tapi juga dari lingkungan sekolah. Banyak cerita anak tidak mau sekolah karena dinakalin teman atau sering berantem di sekolah, tapi ya saya sendiri ingat waktu SD saya pernah dicakar oleh teman saya karena awalnya perang mulut saat dia menyebut nama bapak saya dengan tidak sopan. Saya tidak tahu kondisi saat ini, tapi dulu itu salah satu cara memancing kerusuhan adalah mencari tahu nama bapak orang lain, lalu diucapkan dengan tidak hormat (entah siapa yang memulai seperti ini).

Nah, kalau untuk kami, sekarang ini tahapannya anak kami 1 di usia sekolah dasar dan 1 bahkan belum perlu untuk mulai masuk TK. Setelah melakukan pencarian sekolah di sini, karena tidak menemukan yang ideal akhirnya pilihan kepada homeschooling. Apakah homeschooling paling ideal? untuk saat ini ya begitulah.

Lalu, setelah menemukan sekolah yang ideal, apakah ada jaminan anak akan jadi sukses? Kalau menurut saya, ini semua kembali ke anaknya juga. Sekolah yang ideal tidak menjamin apapun. Sekolah ideal ini hanyalah harapan semata. Dalam kenyataanya, tidak semua orang bisa mendapatkan kondisi ideal. Banyak juga yang akhirnya harus bersekolah di sekolah yang jauh dari rumah, atau pekerjaan rumah yang banyak ataupun ketemu teman yang kurang baik. Tapi ya orangtua selalu berharap menemukan yang ideal, dengan harapan kalau sekolahnya bagus, gak mahal, dekat dari rumah, nantinya anaknya bisa berhasil di kemudian hari. Semua orangtua pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya.

Belajar Piano dengan App

Note: tulisan ini merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman belajar piano menggunakan aplikasi Simply Piano dari JoyTunes, saya tidak dibayar untuk menuliskan ini.

Sejak Jonathan belajar piano di kursus, sebenarnya saya sudah ikut-ikutan belajar piano. Tapi saya gak punya kemampuan memainkan musik sama sekali. Dari dulu takut sama not toge (not balok), dan cuma kenal do re mi karena pernah ikut paduan suara di gereja. Saya gak bisa juga mencari tau lagu itu seperti apa kalau belum pernah dengar sebelumnya, jadi bisa dibilang saya menghapalkan nadanya setelah diajarkan.

Tahun lalu, setelah piano-pianoan yang dipakai Jonathan hancur karena dicongkelin Joshua, akhirnya kami membeli piano digital yang jumlah tuts nya sudah sama dengan piano mekanis. Karena udah ada piano beneran, saya pikir sekalian saja saya belajar piano, masa sih gak bisa.

Awalnya sih, saya belajar dari buku-buku latihan piano Jonathan, terus gak sengaja nemu aplikasi Simply Piano ini. Aplikasi ini memberikan beberapa pelajaran pertama gratis, selanjutnya kalau mau meneruskan latihan ya harus bayar berlangganan. Berlangganannya mulai dari 279 baht/bulan atau 3250 baht/tahun. Kami memilih langsung langganan setahun, karena untuk mengirim Jonathan kursus saja biayanya pastinya lebih mahal dari itu.

preview aplikasi simply piano

Beberapa bulan pertama, saya cukup rajin latihan sekitar 30 menit sehari. Saya belajar banyak chord dan juga beberapa lagu populer. Ada pengenalan piano klasik, jazz, dan blues juga. Tapi karena kesibukan saya jadi lupa meneruskan berlatih lagi.

Sejak beberapa waktu lalu Jonathan pindah tempat kursus piano yang lebih dekat rumah. Gurunya ibu-ibu tua baik hati. Waktu dia tahu saya kadang-kadang ikutan belajar dari buku Jonathan, dia bersedia mengajari saya tanpa bayaran tambahan. Wow, ini sih rejeki jangan ditolak. Jadi sekali seminggu, ketika saya antar Jonathan kursus, dia belajar sekitar 40 menit, saya diajari 15 – 20 menit. Sisanya ya saya diharapkan berlatih sendiri di rumah.

Kelemahan saya dalam bermain piano adalah: saya tidak benar-benar membaca not dalam sheet music nya. Jadi saya menghapal cuma kunci C, dan G untuk tangan kanan, dan kunci C dan F untuk tangan kiri. Selanjutnya saya cuma membaca naik turunnya not tanpa benar-benar membaca not tersebut. Kalau notnya tidak berurutan, saya sering jadi gelagapan sendiri ngitung dalam hati ini not apa dan jari mana hahaha.

Setelah sekian lama melupakan aplikasi ini, saya jadi kepikiran lagi untuk mulai berlatih lagi setiap harinya. Di aplikasi ini ada menu untuk latihan 5 menit sehari. Masa sih gak bisa nyediain waktu 5 menit sehari. Awalnya mulai 5 menit, kalau gak ada gangguan siapa tahu bisa diteruskan jadi 30 menit latihan sehari.

menu latihan 5 menit sehari dari aplikasi simply piano

Harusnya dengan latihan setiap hari, saya bisa sekalian menghapalkan not dari lembaran musik piano. Harapannya sih digabungkan dengan belajar dari guru piano Jonathan, saya jadi beneran bisa main piano, bukan cuma tahu do-re-mi saja hehehe.

Ada banyak aplikasi belajar piano sejenis simply piano ini, tapi saya gak bisa komentar untuk yang lain, karena kami berlangganannya cuma yang ini. Oh ya, langganan simply piano bisa diinstal di beberapa device Android maupun iOs, jadi selain saya, Jonathan juga bisa memakai aplikasi ini. Joshua juga sudah mulai niru-niru tapi belum benar-benar mau mencoba mengikuti instruksi meletakkan jarinya hehehe.

Namanya belajar, tidak ada yang instan, harus terus menerus melatih diri. Mungkin akan ada yang heran, ngapain belajar piano sekarang? belajar piano itu buat saya sih untuk relaksasi. Rasanya ketika bisa memainkan sebuah lagu, enak aja gitu dengarnya berulang-ulang. Kalau lihat di YouTube, banyak orang belajar setelah dewasa, dengan komitmen belajar setiap hari, dalam waktu setahun mainnya udah jagoan. Saya sih gak muluk-muluk, gak harus jagoan, asal bisa mainin piano untuk mengiringi Joshua nyanyi atau untuk nyanyi bersama keluarga saja udah cukuplah hehehehe.

Review: Kumon Thai

Catatan: Tulisan ini merupakan review mengenai belajar membaca dan menulis bahasa Thai di Kumon Thailand, saya tidak dibayar untuk tulisan ini.

Sejak Homeschool, Jonathan saya ikutkan kelas Kumon Thai sebagai bagian dari belajar membaca dan menulis bahasa Thai. Awalnya saya tahu Kumon itu untuk Matematika dan Bahasa Inggris saja, eh ternyata ada juga untuk pelajaran bahasa Thai.

Setelah ikutan tes, Jonathan mulai dari level paling awal Word Building Block (7A) dan sekarang sudah sampai level Sentence Building Block (B I) dalam waktu 2 tahun. Lama? ya nggak juga, karena setiap level itu diulang sampai anaknya bisa lulus testnya untuk naik level. Jadi dipastikan anaknya memang sudah mampu untuk naik level.

Belajar bahasa Thai dengan metode Kumon ini lebih cocok untuk Jonathan dibandingkan ikut kelas kursus grup ataupun privat. Kelas Kumon Thai ini menjadi bagian dari homeschool kami, nilainya juga bisa diperoleh setiap kali dia ada ujian kenaikan level.

Cara belajar di Kumon Thai mulai dari awal yang kami jalani ini sebagai berikut:

  • pertama anak akan di nilai level bahasa Thai nya sampai mana. Karena waktu itu Jonathan sempat sekolah di sekolah yang full berbahasa Inggris, kemampuan bahasa Thai Jonathan yang pernah ada waktu kecil menghilang. Jadi dia harus mulai dari awal lagi (level 7A)
  • anak akan diminta untuk mengerjakan lembar kerja setiap harinya (5 hari seminggu) dan 2 hari seminggu mengerjakannya di kumon center.
  • pekerjaan anak harus dikerjakan tidak lebih dari 30 menit dan anak bisa mengerjakan lembar kerja secara mandiri.
  • lembar kerja yang diberikan sekitar 10 lembar (2 sisi per lembar), jika waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dinilai lebih dari 30 menit, maka pemberian lembar kerja bisa dikurangi per hari nya.
  • lembar kerja yang sudah dikerjakan akan dikoreksi oleh instruktur kumon di kumon center, kalau ada yang salah, anak diminta untuk memperbaiki sampai tidak ada yang salah.
  • tidak ada hari libur dalam mengerjakan lembar kerja, hal ini untuk membangun kebiasaan rutin setiap harinya, lagipula mengerjakan kumonnya tidak memakan waktu lama.
  • instruktur kumon merupakan orang yang sudah mendapat pelatihan khusus, mereka membantu anak dengan memberikan petunjuk dan bukan memberikan jawabannya langsung.
  • dalam 1 level, akan ada pengulangan set lembar kerja beberapa kali sampai anak dinilai bisa lulus untuk test naik ke level berikutnya.
  • lamanya anak berada dalam 1 level tergantung dari masing-masing anak, dan bukan dari ukuran berapa bulan. Ketika anak lulus test naik level, akan ada laporan berapa kali lembar kerja level tersebut diulangi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk anak itu menjalani level tersebut.
Level kumon Thai mulai dari bawah ke atas

Metode Kumon ini cocok untuk Homeschool karena:

  • Mulai dari yang paling mudah dan tingkat kesulitannya meningkat sesuai dengan kemampuan anak, jadi anak bisa mengerjakan lembar kerja secara mandiri (self study)
  • Anak terbiasa dengan rutin harian mengerjakan kumon, kalaupun hari libur, anak tetap diberikan lembaran kerja untuk dikerjakan.
  • Umumnya dengan kebiasan berlatih sedikit setiap hari, anak akan lebih maju daripada level yang dipelajari di sekolah.
  • Ketika di kumon center, anak belajarnya bukan dalam setting kelas besar, tapi gurunya mengajar tiap anak 1 demi 1. Setiap anak diajar secara khusus sesuai dengan tingkatannya, dengan begini anak tidak perlu merasa ketinggalan dari teman-temannya. Kalau ada bagian yang tidak dimengerti bisa ditanyakan langsung.
  • Materi diberikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak, tidak ada anak yang harus stress karena tidak mengerti ketika mengerjakan.
  • Waktu pengerjaan lembar kerja yang dibatasi tidak lebih 30 menit, untuk menghindari anak merasa bosan mengerjakan lembar kerjanya.

Bagaimana dengan kumon matematika dan bahasa Inggris? nah ini saya ga bisa banyak kasih opini, karena Jonathan tidak kami daftarkan untuk 2 pelajaran tersebut. Kemampuan matematika dan bahasa Inggris Jonathan saat ini lebih dari cukup, jadi kami tidak merasa perlu untuk menambah pekerjaan sekolahnya.

Dari cerita salah seorang teman kami yang anaknya ikut kumon Math. Anaknya yang awalnya ketinggalan dalam pelajaran Matematika, sekarang ini sudah melebihi kemampuan pelajaran Math di sekolah. Efeknya ya tentunya anak jadi gak takut buat belajar matematika. Anaknya juga setiap hari mengerjakan kumon tanpa disuruh oleh orangtuanya di rumah.

Dulunya, saya juga agak meragukan metode Kumon, tapi ternyata keraguan saya karena saya gak kenal Kumon. Sayangnya di tempat Jonathan ikut Kumon, kelas Kumon ini khususnya untuk anak sekolah, bukan seperti tempat kursus bahasa Thai, jadi saya gak bisa merekomendasikan misalnya ada orang dewasa ingin belajar baca tulis Thai dengan metode Kumon ini hehehe.