Manfaat Ikut Komunitas Spesifik

Dahulu kala (duh kayak mau nulis dongeng) saya mengikuti banyak sekali miling list alumni. Mulai alumni SMA, alumni Kuliah, alumni angkatan dan grup-grup besar lainnya. Bergabung di komunitas online dengan terlalu banyak orang ternyata tidak cocok untuk saya. Bukan saya gak suka bergabung dalam sebuah komunitas, tapi sekarang ini saya menyadari kalau saya lebih suka gabung dengan komunitas yang spesifik.

Sekarang ini, komunitas online yang saya ikutin di Facebook grup ataupuan WhatsApp Grup lebih sedikit dan lebih terarah topiknya, antara lain: komunitas merajut, komunitas menulis, komunitas homeschooling dengan kurikulum yang sama dan juga ga ketinggalan komunitas penggemar kdrama hahaha. Oh ya saya bergabung juga di komunitas orang Indonesia di Chiang Mai karena jumlah kami hanya sedikit di sini dan tentunya supaya gampang kalau ada yang butuh info seputar Chiang Mai.

Lebih Fokus

Kalau jumlah anggotanya terlalu banyak dan tidak ada topik khusus, saya tidak bisa mengikuti setiap percakapan yang ada dan topiknya terlalu kemana-mana, sedangkan kalau komunitas dengan topik tertentu, biasanya pembahasannya gak akan terlalu jauh meluas dan melebar, walaupun kadang-kadang dalam grup menulis bisa jadi pembahasannya resep soto atau topik kdrama hahaha. Tapi sebenarnya topik tersebut masih berhubungan dengan dunia menulis, karena biasanya pencetusnya ada yang menulis soal resep, dan jadilah membahas gimana menulis resep yang menarik dan mudah dibaca. Bisa juga kalau ada yang menulis review soal film, jadilah yang lain merespon misalnya gimana menulis review yang menarik tanpa spoiler.

Lebih Produktif

Manfaat yang paling terasa bergabung dengan komunitas menulis sekarang ini saya bisa menulis setiap hari. Kadang-kadang ada rasa kehabisan topik karena tidak menemukan hal menarik untuk ditulis, tapi dengan obrolan yang ada di grup, biasanya jadi tetap bersemangat menggali ide-ide yang ada dan mengusahakan untuk tetap berlatih menulis setiap harinya.

Komunitas homeschooling juga memberikan perasaan senasib kalau membaca ada orangtua yang berkeluh kesah misalnya anaknya hari itu agak banyak melamun. Ada kalanya juga komunitas homeschooling memberikan ide bagaimana mengajarkan suatu topik tertentu yang sepertinya sulit untuk dimengerti. Ketika melihat anak-anak homeschool sukses menyelesaikan sampai jenjang sekolah menengah dan melanjutkan ke perguruan tinggi dengan beasiswa, disitu perasaan lelah menghomeschool tergantikan menjadi perasaan optimis.

Komunitas merajut lain lagi ceritanya, saya bergabung dengan komunitas lokal yang bertemu sekali seminggu. Nah minggu lalu akhirnya saya bisa datang ke pertemuannya, setelah sekian lama menunda memulai saya jadi lebih bersemangat dan memulai untuk merajut lagi. Rencananya saya akan tetap datang setiap minggu supaya semangatnya gak hilang lagi hehehe.

Belajar hal-hal baru

Dalam komunitas menulis yang saya ikuti, ada banyak alasan kenapa teman-teman saya itu menulis. Dari berbagai alasan, tentunya ada yang sudah lebih lama berkutat di dunia menulis dan ada yang angin-anginan seperti saya. Dari komunitas menulis ini saya mendapatkan banyak hal baru seputar dunia menulis. Mulai dari terminologi, tips praktis dan juga informasi kalau mau ikutan lomba menulis (walau yang ini belum kepikiran untuk ikutan).

Di komunitas homeschool, saya juga banyak belajar dari orang yang sudah lebih dulu menghomeschool anak-anaknya. Belajar mulai cara memilih kurikulum, merencanakan jadwal belajar, bagaimana nantinya mempersiapkan laporan nilai. Di komunitas homeschool yang saya ikuti, tidak ada yang merasa lebih dari yang lain. Kalau misalnya ada orangtua yang bingung kenapa pertanyaan jawabannya A dan tidak mengerti membaca penjelasan di kunci jawaban, anggota yang lain siap memberikan masukan dan bahkan link ke youtube kalau ada.

Di komunitas merajut, saya yang sudah lama gak baca-baca soal merajut juga jadi kembali diingatkan dengan berbagai terminologi merajut. Kadang-kadang bahkan jadi tau ada teknik spesifik yang saya belum pernah ketahui sebelumnya.

Bertukar Informasi Spesifik

Untuk hal ini sih setiap komunitas pastinya ada pertukaran informasi. Tapi dengan komunitas spesifik, tentunya informasinya lebih menarik untuk kita dibanding dengan informasi umum yang bisa di baca di situs berita. Kita bergabung ke komunitas spesifik karena kita menaruh minat terhadap topik spesifik tersebut otomatis informasi yang ada akan lebih menarik untuk kita.

Bebas Politik dan Flame War

Nah ini yang paling penting. Dulu sering kali dalam komunitas besar, ada saja yang suka mengirimkan berita politik ataupun memulai penghinaan (flame war) yang akhirnya bikin ribut. Hal ini gak pernah terjadi dalam komunitas spesifik. Setidaknya tidak terjadi dalam komunitas yang saya ikuti. Ada aturan tertulis ataupun tidak, biasanya anggota komunitas spesifik tidak suka memposting hanya untuk memancing keributan. Semua anggota fokus dengan topik yang diminati bersama.

Sekarang ini saya ikut komunitas kalau berasa manfaatnya saja. Kalau komunitas tidak ada manfaatnya dan hanya bikin rusuh, rasanya gak ada waktu buat membacanya. Kalau komunitas kdrama apa dong manfaatnya? ya itu sih buat tukar cerita aja kalau udah sama-sama nonton bahas bagus dan kurangnya apa, kalau belum nonton biar tau bagus tidaknya buat ditonton hehehe.

Review App: Code-a-pillar

Tulisan ini membahas aplikasi gratis Code-a-pillar yang tersedia gratis untuk Android dan iOS. Catatan: tulisan ini opini pribadi, dan saya tidak dibayar untuk menuliskannya.

Selain main Tangram, sekarang ini Joshua suka main game Code-a-pillar dari Fisher Price. Namanya seperti itu karena aplikasinya bertujuan mengajarkan pemrograman sederhana (coding) dengan memberikan instruksi lurus, belok kanan atau belok kiri ke seekor ulat bulu (caterpillar).

Instruksi cara bermainnya diucapkan oleh ulat bulunya, Joshua bisa dengan mudah mengikutinya. Dalam waktu singkat, Joshua boisa menyelesaikan 13 level yang diberikan di dalam aplikasinya, tapi ya dia tetap senang berlatih untuk mengulangi lagi dari awal.

Joshua sudah selesai 13 level

Sekarang ini Joshua mengerti benar mana itu right (kanan) dan left (kiri) walaupun orientasi ulatnya dari berbagai arah. Kalau lurus tentunya dari dulu juga sudah tau hehehe. Selain belajar problem solving/coding, aplikasi ini juga mengajarkan untuk berhitung dan mengenali warna.

video 13 level app Code a pillar

Waktu saya mencari tahu mengenai aplikasi ini, ternyata aplikasi ini merupakan pendamping dari mainan fisik ulat bulu untuk seri belajar: Think & Learn Code-a-pillar. Mainannya terlihat lucu, karena bisa dibongkar pasang untuk menyusun instruksinya. Lalu setelah disusun, tinggal dijalankan untuk melihat hasil dari urutan instruksi yang diberikan. Untuk melihat mainannya bisa dilihat di video berikut:

sumber: https://youtu.be/iYEKD1Befg8

Dan melihat lucunya mainan ini, kami memutuskan untuk memesan mainan ini (yang pengen bapaknya kayaknya, anaknya aja gak tau ada mainannya hahahah). Sebenarnya sekalian juga buat hadiah ulang tahun Joshua yang sebentar lagi 4 tahun, siapa tahu nanti besarnya bisa jadi programmer handal kayak bapaknya hahahha. Mudah-mudahan mainannya sampai pada waktunya dan gak mengecewakan.

App nya sebenarnya sangat sederhana, tapi dengan adanya mainan fisiknya nantinya diharapkan bisa lebih banyak lagi eksplorasi yang dilakukan untuk mengarahkan caterpillarnya, dan sebenarnya code a pillar ini seperti versi lebih awal dari bahasa pemrograman Logo seperti yang ada di buku Secret Coders.

Sosialisasi Keluarga Homeschooling

Sore ini, kami mencoba hal baru untuk sosialisasi Jonathan dan Joshua. Jonathan hampir 9 tahun, tentunya lebih pengen untuk bermain dengan anak seusianya daripada main dengan adiknya yang baru mau 4 tahun. Jonathan pengen nonton Detektif Pikachu, Joshua belum bisa gak berisik di dalam bioskop, jadilah Jonathan pergi sama papanya nonton bareng teman Jonathan dan papanya juga.

Sebelum nonton, Jonathan sempat makan dan main dulu di mall sama temannya. Mereka main pakai koin tapi bisa lama banget karena menang terus. Lumayan cuma 10 baht bisa main lama hehehe, tapi ternyata akhirnya kalau kelamaan dibatasi juga waktunya. Mungkin udah sering kali ya orang main kelamaan gak habis-habis kalau tidak dibatasi waktunya.

Tadinya saya akan berdua saja dengan Joshua di rumah, eh ternyata ada teman yang punya anak usia 4 tahun dan 1,5 tahun yang mau main ke rumah, jadilah kebetulan yang pas banget. Joshua main dengan anak seumurnya juga di rumah. Mainan semua yang ada di rumah dibiarin aja berantakan biar puas hahaha. Mamanya sibuk ngobrol dan mikirin mesan makanan.

Karena Jonathan dan papanya makan di mall, saya gak masak lagi sorenya. Temen saya ngajakin pesen makanan dari restoran Indonesia yang baru buka di Chiang Mai. Sebenarnya harusnya kami bisa aja pergi makan ke restoran, tapi karena menu makanannya kayaknya belum tentu ada yang cocok untuk anak-anak dan juga lokasinya rasa susah parkir, kami memutuskan untuk mencoba pesan makanan delivery saja. Anak-anak dibikin nasi goreng dan telur dadar saja hahaha.

Ada 3 jasa layanan antar makanan di Chiang Mai. Meals on Wheels, Food Panda dan Grab Food. Periksa menu di Meals on Wheels, harga menunya lebih mahal 15 – 20 baht dari harga restoran. Ongkos kirim ke rumah 110 baht. Ini sih mahal banget. Tadinya udah mau berangkat aja ke sana belinya, atau gak jadi pesan di sana. Terus cek di Food Panda, ternyata karena mereka kerjasamanya baru banget, menunya belum ada. Grab Food belum ada kerjasama dengan restorannya. Akhirnya coba telpon langsung ke restorannya. Untungnya restorannya bersedia menerima pesanan lewat telepon dan dibayar via bank transfer. Tapi kami yang harus mikirin deliverynya.

Saya baru tau sekarang ada jasa Grab Express di Chiang Mai. Grab Express ini mengantarkan barang apa saja dengan motor, ongkosnya juga relatif murah, dari restoran itu ke rumah cuma sekitar 56 baht. Jadilah kami berhasil memesan makanan tanpa biaya ekstra per porsinya dan juga biaya delivery yang lebih murah. Jadi teringat dengan isi buku soal berhemat yang baru dibaca beberapa hari lalu, walaupun pesan makanan itu bukan langkah berhemat, tapi sesekali bolehlah ya memanjakan diri dengan pesan makanan dari restoran dan memikirkan mendatangkannya tanpa biaya yang terlalu mahal.

Senang rasanya bisa menikmati makanan Indonesia di rumah, gak kena macet, gak repot cari parkir, gak repot ngurusin anak di restoran, biayanya juga ga sampe berlipat ganda hehehe. Jadi juga deh malam ini makan nasi lemak, nasi kuning, rendang, kerupuk udang, sate ayam, daaaan yang gak kalah penting: sambelnya dooong!. Ada 2 jenis sambal yang dikirim, sambal terasi dan sambal bawang. Aduh itu sambalnya masih nyisa, besok tinggal goreng tempe atau masak bakwan deh buat dicocol ke sambalnya.

Kata siapa anak homeschool gak punya teman? Ini sih bukan cuma anaknya yang bersosialisasi, tapi emak dan bapaknya juga kok. Memang untuk anak homeschool, sosialiasi itu akhirnya lebih ke sosialiasi keluarga bukan cuma sosialisasi anak-anaknya doang. Oh ya, teman Joshua bukan anak homeschool sih, tapi ya mereka datang main ke rumah kan jadi temen buat Joshua hehehe.

Review App iPusnas

Saya baru tahu ada aplikasi perpustakaan digital punya perpustakaan nasional Indonesia yang bisa diakses melalui aplikasi iPusnas. Waktu ke Perpustakaan Nasional akhir tahun 2018, saya gak melihat ada informasi soal ini (dan mungkin saya aja gak perhatian), padahal kalau melihat dari website dan facebooknya, aplikasi ini sudah ada sejak Agustus 2016. Kalau kata Joe, dia pernah tau soal aplikasi iPusnas ini, tapi koleksi bukunya belum banyak dan tidak ada yang menarik, jadilah kami melupakan aplikasi ini.

Beberapa waktu lalu, dari obrolan di grup KLIP, saya jadi tertarik mencoba aplikasi ini. Saya langsung mendownload dan menginstal di HP Android saya. Ternyata sekarang buku-bukunya sudah ada banyak. Berikut ini opini saya setelah beberapa hari menggunakan aplikasi iPusnas.

Instalasi dan Pendaftaran

Aplikasi ini tersedia untuk handphone Android maupun iOs, ada versi desktop juga untuk Mac dan Windows. Jadi pilihan untuk mengakses perpustakaan cukup banyak. Instalasi di desktop Mac akan meminta kita mengatur security nya sedikit, tapi setelah itu tidak ada masalah.

Pendaftaran bisa menggunakan facebook atau alamat email. Saya sudah mencoba mendaftar dengan Facebook, dan Joe mencoba mendaftarkan dengan e-mail. Setelah pendaftaran, kita diminta lagi memasukkan kata sandi terpisah untuk aplikasi ini. Pendaftarannya sangat mudah, dalam waktu 5 menit saya sudah bisa melihat ada buku apa saja dalam koleksinya.

Peminjaman dan Pengembalian

Karena sedang kepikiran mencari buku-buku SD berbahasa Indonesia untuk Jonathan, saya mencoba untuk melakukan pencarian dengan kata kunci SD. Hasil pencariannya cukup banyak buku yang bisa bermanfaat untuk homeschool kami.

Selain meminjam buku untuk SD, saya iseng juga mencari tahu apakah ada buku belajar bahasa Thai dan bahasa Korea di koleksinya. Hasilnya ternyata ada beberapa buku Thai dan Korea. Ah andai saja buku belajar bahasa Thai ini ada 12 tahun yang lalu sebelum kami ke sini hehehe.

Aplikasi ini hanya mengijinkan kita meminjam maksimum 3 buku, dan lamanya peminjaman tiap buku itu sekitar 3 hari. Kalau kita tidak kembalikan secara manual, akan ada pemberitahuan kalau bukunya sudah habis masa peminjamanya. Kita harus menghapusnya atau ya pinjam lagi kalau masih ingin baca lagi dan masih tersedia koleksi yang bisa dipinjam. Nah kalau kita sudah selesai sebelum waktu 3 hari atau ingin meminjam buku yang lain gimana? ya kita bisa kembalikan dulu salah satu buku yang tidak ingin kita baca dan pinjam buku yang ingin kita baca.

Awalnya saya tidak menemukan bagaimana cara mengembalikan bukunya, ternyata caranya adalah: dari rak buku/bookshelf kita bisa melihat di dekat info ada titik tiga di sebelah kanan buku, nah klik di situ akan ada menu share, rekomendasi dan return. Untuk mengembalikan tentunya klik return/kembalikan. Oh ya menunya mengikuti setting handset kita, karena setting di HP saya bahasa Inggris, menunya menggunakan bahasa Inggris, kalau setting HP nya bahasa Indonesia, tentunya menunya semua dalam bahasa Indonesia.

Untuk di ipad, menu return ini tidak kelihatan. Kita bisa delete/hapus, dan tindakan menghapus buku ini sama dengan mengembalikan buku yang kita pinjam.

Tampilan Buku

Setelah sukses meminjam buku, tentunya berikutnya membaca bukunya. Awalnya saya semangat 45 untuk membacanya, tapi ternyata tampilan di HP sangat kecil dan mata saya gak kuat. Tampilannya seperti menampilkan bentuk pdf nya saja yang tidak bisa diubah ukuran besar kecil hurufnya.

Begini contoh yang terlihat di layar HP, kalau mau lebih jelas membacanya, maka saya harus memperbesar tampilan dan menggeser secara manual sambil membaca, dan tentunya sangat tidak nyaman. Idealnya membaca bukunya menggunakan tablet/ipad atau di layar komputer. Padahal harapannya bisa membaca sambil nungguin anak les pakai HP hehehe. Tapi sekarang ini untung ada tablet yang bisa dipinjam kalau lagi mau baca.

Opini setelah memakai aplikasi beberapa hari

Kelebihannya:

  • Saya senang menemukan sumber untuk membaca buku-buku bahasa Indonesia yang bisa diakses dari luar Indonesia secara gratis.
  • Koleksinya cukup lengkap, ada banyak novel berbahasa Indonesia dan buku anak-anak selain buku pelajaran dan juga buku terjemahan yang dijual di Indonesia.

Kekurangannya:

  • waktu peminjamannya kurang lama hehehehe, dan cuma boleh pinjam 3 itu terlalu sedikit (banyak maunya yah)
  • tidak ada cara memasukkan buku ke wishlist atau daftar favorit. Karena cuma boleh pinjam 3, kadang-kadang perlu tempat untuk menyimpan daftar buku yang ingin dipinjam setelah 3 buku yang dipinjam selesai dibaca.
  • Saat ini hanya bisa memasukkan ke wishlist kalau buku tidak tersedia dan kita masukkan dalam antrian ingin meminjam saja. Oh ya, setiap judul buku ada batasan jumlah yang bisa dipinjam, jadi misalnya buku itu ada 5 stok, kalau sudah ada 5 orang yang meminjam maka kita harus antri menunggu giliran untuk bisa meminjamnya ketika ada yang mengembalikan.
  • Kalau bentuk e-book readernya seperti aplikasi kindle yang bisa mengubah ukuran hurufnya, pasti lebih betah bacanya di HP.
  • Aplikasinya sering crash dan prosesnya sering terasa lambat terutama waktu meminjam dan mendownload buku ke rak buku (padahal internet di sini kencang loh, gimana lagi kalau yang akses internetnya lambat), mudah-mudahan aplikasinya masih terus menerus diperbaiki.

Walaupun masih ada rasa tidak puas memakainya, ya saya tetap bersyukur ada aplikasi ipusnas ini. Sekarang jadi harus lebih rajin lagi membaca buku, dan bisa mulai mengajarkan Jonathan juga membaca buku bahasa Indonesia.

Sedikit tambahan usulan buat iPusnas, mungkin bisa ada menu membeli buku digitalnya, jadi bisa baca bukunya lebih lama dari 3 hari. Sekalian juga membantu buat penulis promosi bukunya.

Pengenalan Geometri: Pattern Blocks dan Tangram

Ada banyak permainan anak-anak yang mengajarkan anak untuk mengenal bentuk dan menyusun gabungan bentuk yang ada menyerupai bentuk lain yang lebih besar. Permainan ini sebenarnya secara tidak langsung merupakan pengenalan geometri 2 dimensi kepada anak-anak. Ada 2 mainan yang belakangan ini sedang disukai Joshua, yaitu pattern block dan tangram.

Sebelum kenal tangram, Joshua sudah mengenal menyusun puzzle pattern block dan puzzle magnet kayu yang dibeli sejak jaman Jonathan kecil. Pattern block ini ada banyak kepingan dengan berbagai bentuk. Pattern block pertama yang dia mainkan ada 6 bentuk dengan 6 warna, bentuk segitiga hijau, bujursangkar oranye, jajaran genjang berwarna biru, belah ketupat berwarna coklat muda, trapesium merah dah heksagon kuning.

Cara bermain pattern block ini biasanya anak diminta untuk meletakkan kepingan yang sesuai dengan cetakannya. Dulu saya rajin mencari template dari internet, print dan laminating. Karena bentuk dan warna yang menarik, anak-anak senang menyusun kepingan block yang ada di atas cetakan. Permainan ini membutuhkan banyak kepingan bentuk, dan biasanya jadi pekerjaan ektra untuk membereskannya hehehehe.

sumber: https://www.prekinders.com/pattern-blocks/

Selain mainan pattern block ini, kami juga punya mainan varian pattern block bentuknya berbeda. Mainan ini juga dari bentuk lingkaran, setengah lingkaran, persegi panjang, busur dan segitiga. Bedanya, mainan ini dalam kotak kayu dan bermagnet. Biasanya diberikan kartu berupa gambar yang bisa diikuti anak-anak untuk membentuk gambar besarnya. Joshua sudah menyukai mainan ini sejak dia masih belum berumur 3 tahun. Kalau dulu mainnya belum terlalu bisa mengikuti kartu yang ada, sekarang dia mulai suka mengikuti contoh yang ada.

Belakangan ini, Joshua tertarik dengan Tangram. Awalnya dia kenal tangram dari permainan OSMO Tangram. Tanpa diajarin, dia bisa mengikuti apa yang harus dilakukan dengan aplikasi OSMO Tangram. Dia bisa bermain cukup lama mengikuti berbagai bentuk mulai dari yang sederhana yang tidak menggunakan semua kepingan, sampai ke bentuk yang menggunakan 7 kepingan tangram.

OSMO Tangram ini memberi petunjuk di awal mulai dengan warna apa, dan diletakkan di sebelah mana kepingan warna lain. Kalau misalnya Joshua salah meletakkan dan harus membalik kepingan, aplikasi OSMO nya juga memberi tahu. Bisa dilihat sekilas OSMO Tangram di video YouTube berikut:

Tangram (Hanzi: 七巧板; Pinyinqīqiǎobǎn; harfiah: ‘tujuh papan ketrampilan’) adalah sebuah permainan teka-teki transformasi yang terdiri dari tujuh keping potongan, disebut tans, yang disatukan untuk membentuk pola. Tujuan dari permainan ini adalah untuk membentuk pola tertentu (hanya diberi garis bentuk atau siluet) menggunakan ketujuh potongan, yang mungkin tidak tumpang tindih. Permainan ini dianggap telah diciptakan di Tiongkok semasa Dinasti Song, dan kemudian di bawa ke Eropa oleh kapal dagang pada awal abad ke-19. Ia menjadi sangat populer di Eropa saat itu untuk sementara waktu, dan kemudian populer lagi semasa Perang Dunia I. Permainan ini merupakan salah satu permainan teka-teki transformasi yang paling populer di dunia. Seorang psikolog Tiogkok menyebut tangram sebagai “tes psikologi paling awal di dunia”, walaupun orang membuatnya untuk hiburan dan bukan untuk analisis.

Wikipedia: Tangram

Kemarin, dia menemukan mainan tangram baru yang bisa membentuk angka dan huruf selain bentuk-bentuk yang selama ini dia cobakan di OSMO. Dia mengikuti petunjuk menyusun tangram yang terdiri dari 7 kepingan bentuk menjadi bentuk huruf dan angka sesuai dengan contoh yang diberikan. Dan dia mulai berusaha mengingat menyusun kepingan tangram menjadi angka dan huruf tanpa melihat kartunya.

membentuk huruf E

Kelebihan dari puzzle tangram ini dibandingkan dengan puzzle bentuk yang dia mainkan sebelumnya adalah, kepingannya hanya ada 7. Membereskan 7 keping mainan tentunya jauh lebih gampang dibandingkan membereskan banyak kepingan mainan. Dari 7 keping ini bisa menjadi berbagai bentuk. Favorit Joshua tentunya membentuk huruf dan angka.

Sambil bermain Joshua juga seperti presenter yang menyebutkan apa bentuk dan warna yang dia pegang. Lalu juga menyebutkan di sisi mana dia harus letakkan warna yang lain. Lalu setelah selesai dia akan memberi tahu ke saya atau papanya sambil berkata: look, this is A. Sayangnya, kalau divideokan dia malah jadi diam, jadi saya tidak bisa menunjukkan video dia sedang bermain tangram.

Mana yang lebih baik, main OSMO Tangram atau Tangram biasa? Untuk tahap awal, main OSMO Tangram (dimana displaynya ada di iPad) dengan petunjuk apa yang harus dilakukan jika kita salah meletakkan kepingan, cukup membantu dia belajar bermain Tangram. Gambar yang ada dalam aplikasi juga membuat lebih sedikit lagi hal yang harus di bereskan. Sisi negatifnya, ya OSMO Tangram tetap saja membutuhkan iPad, kadang-kadang anak bisa terdistract dan malah jadi main yang lain dan bukan OSMO Tangram lagi.

Template yang bisa ditiru dengan tangram ini juga ada banyak di internet. Banyak juga yang menjual kepingan tangramnya tanpa kartu-kartu, tapi anehnya gambaran yang diberikan untuk ditiru kadang-kadang warnanya tidak sama dengan warna kepingannya dan ini bisa membingungkan untuk anak yang baru belajar tangram. Joshua tapi sudah bisa mengikuti walaupun contoh yang diberikan warnanya tidak sama dengan kepingannya.

menyusun angka 1 tanpa kartu contoh

Bermain tangram dan pattern block ini salah satu bentuk bermain sambil belajar, pelajaran yang didapatkan antara lain:

  • kesempatan untuk mengenalkan bentuk (segitiga, bujursangkar, belah ketupat, heksagon, jajaran genjang, dan lain-lain)
  • belajar warna (setiap keping biasanya punya warna yang berbeda)
  • melatih kemampuan spasial, mereka bisa mengerti hubungan bentuk yang satu dengan yang lain dan membaliknya jika dibutuhkan
  • membantu anak melihat gambaran besar dari bentuk-bentuk yang disusun, terutama untuk anak yang belajar secara visual.
  • bisa digunakan untuk mengenalkan kongruensi, kesamaan dan juga simetri.
  • dan tentunya seperti kegunaan bermain puzzle lainnya, bermain ini bisa membantu melatih kemampuan problem solving pada anak.

Kalau lagi kehabisan ide mau ajak anak main, bisa dicoba dibikin mainan Tangram ini. Saya yakin ada banyak template untuk membentuk kepingan tangram selain template bentuk-bentuk yang ingin disusun dari tangram ini.

Memanfaatkan Waktu untuk Keluarga

Dua hari lalu kami mendapat pengumuman kalau hari ini akan ada pemadaman listrik dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore karena ada kabel yang akan diganti. Seluruh komplek rumah akan terkena pemadaman karena yang diganti itu letaknya persis di depan komplek. Kantor Joe yang juga berada dalam komplek yang sama, jadi diliburkan juga. Berhubung kalau di rumah tanpa listrik sama dengan kepanasan karena gak bisa nyalain AC, kami merencanakan untuk keluar rumah saja ngadem.

Pagi-pagi kami sudah bersiap bangun lebih awal, mandi dan sarapan. Setelah jam 8 kami sudah siap untuk keluar rumah. Ada beberapa pilihan untuk jalan-jalan hari ini. Ke taman, ke kebun binatang atau ke mall. Tapi mall baru buka jam 11 pagi, jadi ya gak bisa juga dong kepagian ke mall hehehe. Akhirnya setelah nanya ke anak-anak maunya ke mana, kami putuskan ke taman saja.

Karena listrik belum padam, kami santai dulu di rumah. Jam 9 lewat sedikit listriknya baru padam. Waktu kami keluar dari komplek, ternyata ada antrian mobil keluar dari komplek. Hampir semua penghuni baru memutuskan keluar komplek setelah listrik padam, padahal pengerjaanya membutuhkan mobil besar yang menghalangi jalan masuk dan keluar dari komplek. Untungnya kami menunggunya tidak terlalu lama. Sekitar 5 menit kami bisa keluar dari komplek.

Di taman, tidak terlalu banyak orang, matahari juga sudah terasa menyengat. Untungnya ada banyak bagian yang cukup teduh oleh pohon-pohon. Setelah bermain sekitar 30 menit di playground, anak-anak mulai kepanasan. Akhirnya kami ngadem di coffeeshop yang juga menjual eskrim di dalam taman.

Setelah es krim habis, kami putuskan masih ada waktu buat ke mall. Mall nya juga cukup dekat dari taman. Belum jam 11 kami sudah tiba di mall. Karena mall baru buka jam 11, kami harus menunggu mall buka dulu baru boleh masuk ke dalam. Untungnya mereka buka beberapa menit sebelum jam 11.

Karena belum lapar, kami memutuskan untuk duduk-duduk dulu menunggu Joshua main. Eh tau-tau dia kabur, dikirain dia kabur ke tempat main lego seperti biasa, ternyata dia kabur ke toko yang menjual mainan. Dia ambil 1 mainan dan kabur dari toko itu. Si penjaga toko sepertinya berusaha mencegah Joshua, tapi Joshua terlalu cepat. Sempat agak panik karena bapaknya yang mengejar Joshua gak melihat dia di tempat lego, baru kemudian kami melihat dia ternyata juga sedang mencari kami untuk minta dibeliin mainan tangram.

Mbak-mbak penjaga tokonya sepertinya agak kesal, walaupun saya sudah minta maaf. Setelah saya bilang saya akan bayar mainan yang diambil Joshua, baru dia agak relaks. Mainannya masih utuh dalam kotak. Ya memang salah kami juga, karena tadinya kami pikir Joshua akan pergi langsung ke tempat main lego, waktu dia kabur duluan kami gak langsung kejar. Baru sekali ini Joshua main ambil mainan begitu. Saya kasih tau Joshua lain kali gak boleh ambil begitu saja, tapi harus bayar dulu baru boleh diambil. Pelajaran buat kami juga, gak boleh biarin Joshua jalan duluan. Untungnya mall nya masih sangat sepi, jadi bisa dilihat kalau dia belok ke tempat yang tidak biasanya.

Membelikan mainan buat Joshua itu tidak pernah mengecewakan. Dia langsung bermain dengan rajinnya. Waktu kami makan dia juga tetap meneruskan main tangram. Besok saya akan tulisan cerita tentang mainan tangram ini. Saya mengerti kenapa Joshua tertarik dengan tangram ini. Selain dia sudah kenal dengan tangram di OSMO, mainan ini memberikan kartu untuk membentuk angka dan huruf dan aneka bentuk lainnya dengan tangram. Ada total 50 hal yang bisa dibentuk dengan tangram. Joshua langsung memulai dengan huruf A, lalu setelah huruf K dia berubah pikiran untuk membentuk angka 1.

Sekitar jam 12, kami memutuskan untuk makan. Selesai makan, saya telpon tetangga saya dan ternyata pekerjaan ganti kabelnya sudah selesai dan listrik sudah menyala seperti semula. Kami memutuskan pulang supaya anak-anak bisa tidur siang. Hari ini Jonathan diliburkan dari mengerjakan buku homeschool, tapi mendapat kesempatan untuk bermain di taman dan mall.

Senangnya hari ini pemadaman listrik tidak berlangsung lama seperti pengumuman. Karena pemadaman listrik, kami jadi bisa punya waktu keluarga di hari Jumat selain Sabtu dan Minggu hehehe. Punya nomor telepon tetangga itu penting, supaya tahu kabar kalau ada pemadaman seperti ini, dan tentunya kalau ada pemadaman yang sudah didahului pengumuman begini, tidak usah merasa kesal atau sebal, kesempatan untuk meliburkan diri dari kegiatan rutin dan jalan-jalan di luar dengan anak. Gak harus yang jauh dari rumah, karena toh terkadang pemadamannya selesai lebih cepat dari jadwal semula. Senang bisa memanfaatkan waktu yang hanya beberapa jam menjadi waktu keluarga. Mati lampu, gak harus mati gaya di rumah hehehe.

Lagu-lagu Badanamu

Pertama kali saya tahu mengenai Badanamu ini, saya hanya tahu lagu-lagu dari YouTubenya saja. Karakter animasi Bada merupakan tokoh seperti bear yang berbulu putih tebal dan ekor yang sangat pendek. Konon setelah baca-baca tokoh Bada ini animasi dari seekor anjing pomeranian. Karakter Bada ini punya banyak teman-teman seperti Mimi, Abby, Punk, Curly, dan Jess.

Gambar dari pinterest: https://www.pinterest.com/badanamu/badanamu-friends/?lp=true

Niat menuliskan mengenai Badanamu ini sudah dari dulu, tapi sudah beberapa kali saya tunda, karena ternyata Badanamu ini bukan cuma lagu saya tapi merupakan sebuah program edukasi lengkap dan bahkan menjual buku juga selain lagu-lagu yang ada di YouTube. Saya kaget juga membaca kalau mereka kantor utamanya ada di Seoul, USA dan China. Saya pikir wah bisa buat belajar bahasa Korea juga, eh tapi ternyata fokus mereka mengajarkan dalam bahasa Inggris saja. Karena saya belum jadi juga mencoba aplikasi ataupun menjadi member dari Badanamu Club, saya tidak bisa bercerita banyak mengenai program lengkap mereka. Sekarang ini saya akan menuliskan kenapa kami menyukai lagu-lagu dari Badanamu (apalagi sekarang bisa dengar di Apple Music juga).

Kami ketemu lagu-lagu Badanamu ini secara gak sengaja. Sejak Joshua suka mendengar berbagai lagu ABC, phonics dan counting, kadang-kadang dia suka menunjuk ke lagu yang direkomendasikan oleh YouTube. Begitu mendengarkan lagu-lagunya, saya langsung suka. Ada beberapa alasan kenapa saya jadi suka dengan lagu Badanamu ini.

  • karakternya lucu dan menggemaskan
  • musicnya enak didengar dan bikin bersemangat
  • liriknya (ini penting) juga cukup banyak mengajarkan hal positif untuk anak-anak
  • ada program phonics juga, mengenalkan bunyi setiap huruf dalam alphabet
  • ada program membaca juga, dan sepertinya ini salah satu yang bikin Joshua bisa cepat membaca
  • ada program mengenalkan emosi juga
  • ada nursery rhymes juga

Bukan cuma Joshua, saya dan Joe juga suka mendengarkan lagu-lagu dari Badanamu ini. Bahkan kalau pagi-pagi, saya pasang lagu ini buat memberi semangat menyiapkan sarapan pagi.

Coba dengarkan lagu ini:

Rise and Shine

Liriknya sebagai berikut:

Rise and Shine
CHORUS
Wake up now.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day! (x2)
VERSE 1
If you make your bed and brush your teeth.
Fold your clothes nice and neat.
Eat your breakfast, eat your greens.
Your momma won’t complain about a thing.
CHORUS
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.
Rise and shine.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day!
VERSE 2
If you comb your hair, rinse your face.
Scrub your toes and wash your feet.
Take a shower and soap with suds.
Your momma will give you so much love.
CHORUS
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.
Wake up now.
Come and play.
Rise and Shine.
It’s a brand new day! (x2)
Ths sun is up!
No time to waste.
Get up and go!
Today is our day.

Rise and Shine, Badanamu

Jonathan aja kalau bangun pagi malas-malasan di kasih lagu ini langsung jadi semangat hehehe. Joshua sih dikasih lagu apa aja bakal semangat. Dan kalau dilihat dari liriknya, ini seperti versi lain dari lagu bangun tidur ku terus mandi jaman saya masih kecil hehhee. Ada bagian merapihkan tempat tidur juga dan ya abis itu semua baru deh main.

Lagu berikutnya yang saya juga sekarang pakai untuk mengajarkan Joshua sikat gigi, cuci muka dan sisiran judulnya Brush brush brush.

Brush brush brush

Lirik lagunya:

VERSE 1
I wanna be clean,
So I brush my teeth.
Up and down,
And underneath.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I brush my teeth
Because it’s good for me.
Good for me!
Brush brush brush! X 4
VERSE 2
I wanna be clean,
So I wash my face.
Up and down,
And all over the place.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I wash my face
Because it’s good for me.
Good for me!
Wash wash wash! X 4
VERSE 3
I wanna be clean,
So I brush my hair.
Side to side,
And up in the air.
I wanna be clean,
Don’t you see?
So I brush my hair
Because it’s good for me.
Good for me!
Brush brush brush! X 4

Brush brush brush, Badanamu

Joshua sampai sekarang masih suka males kalau diajarin sikat gigi, tapi kalau saya kasih sikat gigi sambil nyanyiin lirik lagu ini, dia jadi mau disikat giginya. Setelah sikat gigi setelah itu cuci muka. Selesai mandi nyanyiin bagian sisir rambut. Semua dalam 1 lagu hehehe.

Nah ini lagu berikut (yang terakhir akan saya share di sini), lagu tentang semua adalah pemenang.

Everyone is a Winner

1, 2, 3, 4, whoa, here we go
It’s time to play
Time to play
1, 2, 3, 4, whoa, here we go
It’s time to play
Time to play the games
CHORUS
And everyone is a winner
Even if you lose sometimes
So let’s try our best to deliver
Let’s have the time of our lives
The first game up
To try to win the cup
Is a three-legged race
So try to stay up
But if you fall, I will pick you up
And carry you across the goal line
(CHORUS)

The second game up
To try to win the cup
Is a tug-of-war
So don’t give up
But if you fail, don’t get upset
I will help you on your feet again
(CHORUS) x2

Everyone is a Winner, Badanamu

Bagus-bagus kan liriknya, ini lagu bukan cuma buat anak kecil, tapi ya buat orang dewasa juga rasanya masih enak buat didengar. Bahkan kadang-kadang kata Joe, beat nya lagu Badanamu ada juga yang seperti lagu party (padahal gak pernah tuh pergi ke party yang pake lagu-lagu disko hahaha).

Lagu-lagu Badanamu di Apple Music

Sekarang ini, lagu-lagu Badanamu jadi lagu yang hampir setiap hari kami dengarkan dari Apple Music. Lagu-lagu Project Pop dan Korean minggir dulu deh ya hehehe. Kami senang menemukan ini dalam bentuk musicnya saja karena artinya bisa diperdengarkan tanpa menambah screentime ke anak-anak.

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Badanamu ini bukan hanya lagu saja, di YouTube channelnya juga bisa dilihat ada pelajaran menggambar karakter yang ada dalam Badanamu. Kalau dari websitenya saya lihat mereka juga ada app nya. Kalau gak ingat ongkos kirim, saya tertarik beli buku-bukunya juga hahaha. Tapi untuk sekarang sepertinya cukup lagu-lagu di Apple Music dan YouTube saja. Kalau suatu hari kami memutuskan untuk mencoba appsnya pasti akan saya tulis reviewnya.