Masa Liburan Sekolah di Chiang Mai

Tahun ajaran akademik di Chiang Mai dimulai sekitar pertengahan bulan Mei sampai Oktober, lalu anak-anak sekolah akan libur sekitar sebulan dan term ke-2 mulai November sampai Maret. Lalu anak sekolah di sini akan libur sekitar 2 bulan, jadi pas Liburan Songkran alias Tahun Baru Thailand di pertengahan April, sekolah itu sudah pasti libur.

Biasanya liburan Songkran orang Thailand berkumpul bersama keluarga atau jalan-jalan sekeluarga untuk liburan musim panas. Di saat libur sekolah, arus lalu lintas juga lebih kosong dari biasanya, karena tentunya tidak ada kesibukan antar jemput anak ke sekolah. Tapi kan Songkran itu cuma beberapa hari, sedangkan liburan sekolah itu 2 bulan. Anak-anak liburan sekolah ngapain aja dong?

Satu hal yang saya perhatikan berbeda dengan di Indonesia jaman saya sekolah dulu, masa liburan di sini itu banyak kegiatan di sekolah yang disebut summer camp atau holiday camp. Jangan bayangkan camp itu kegiatan menginap, camp ini sebenarnya gak beda dengan kegiatan sekolah, tapi ya tentunya lebih banyak mainnya, gak harus pakai seragam dan gak ada pekerjaan rumah.

Kegiatan camp yang ditawarkan sekolah-sekolah ini biasanya merupakan alternatif buat orangtua yang ga bisa cuti untuk pergi liburan ke luar kota. Saya perhatikan, untuk orangtua yang anaknya masih kecil, camp ini walau harganya lebih mahal dari uang sekolah biasanya, tapi jadi solusi untuk menitipkan anak daripada anaknya main gadget aja seharian.

Untuk homeschoolers seperti kami, kegiatan camp ini merupakan waktunya untuk sosialisasi dan sekalian sebagai hari “liburan mama dari mengajar” hehehe. Minggu lalu Jonathan dan Joshua saya ikutkan salah satu camp selama 5 hari. Setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Mereka cukup senang karena mendapatkan banyak teman baru dan kegiatan yang berbeda dari biasanya. Buat Jonathan, dia senang karena libur dari mengerjakan tugas sekolah, buat Joshua ya pengalaman kalau sekolah seperti apa.

Kegiatan camp nya ngapain aja sih? ya biasanya mereka sosialisasi dengan anak-anak lain, masak-masak, eksperimen science, bikin craft bareng, dan tentunya melatih anak-anak punya keteraturan. Untuk anak seumuran Joshua, mereka bahkan dikasih kesempatan tidur siang setelah jam makan siang.

Kegiatan camp yang diadakan sekolah-sekolah sifatnya tidak wajib diikuti dan mereka menerima umum yang bukan murid di sekolah tersebut. Biasanya setiap minggu akan dibuat tema yang berbeda-beda. Anak-anak bisa daftar hanya 1 minggu atau ikut full. Kalau liburnya sebulan, misal mau ikut full harganya akan lebih murah dibanding ambil perminggu. Kegiatan camp ini win-win sih, anak-anak happy, orangtua yang bekerja bisa tetap bekerja, orangtua yang biasanya ngadepin anak 24 jam jadi bisa istirahat sejenak hehehe.

Dulu waktu Jonathan ikut kelas aerial silk dan piano, ada juga kegiatan camp seperti ini. Pilihannya bisa setengah hari ataupun dari jam 9 sampai jam 3 sore. Di tempat les gambar Jonathan juga sekarang ini ada minggu kraft khusus. Biasanya les nya sekali datang itu 2 jam, untuk kegiatan membuat craft ini, 1 sesi nya 3 jam dan setiap hari.

Karena sudah ada yang mengumpulkan informasi summer camp ini, saya gak akan tuliskan detail apa saja camp yang ada. Silakan kunjungi blog family guide in Chiang Mai untuk melihat ada apa saja kegiatan camp di tahun 2019 ini.

Kalau di Indonesia ada gak ya kegiatan liburan begini yang diisi dengan berbagai hal yang menarik untuk anak-anak? Kalau dulu sih jaman saya sekolah, udah jelas gak ada, tapi sekarang kan udah beda jamannya dengan dulu. Kalau dulu libur sekolah gak butuh camp, tinggal main ama anak tetangga seharian, nah kalau sekarang gimana?

Buku Baru: Seri Secret Coders

Masih cerita soal buku yang di beli di Big Bad Wolf Desember lalu. Jonathan gak sengaja memilih 1 buku Secret Coders. Sebenarnya beli buku ini awalnya tertarik karena judulnya saja, dan saya malah gak tau isinya berupa komik. Ceritanya mengenai seorang anak usia 12 tahun yang pindah sekolah dan menemukan beberapa misteri yang ternyata bisa dipecahkan dengan pemrograman. Buku ini sejenis pengenalan pemrograman juga buat Jonathan.

Buku yang kami beli di BBW itu hanya buku nomor 2. Waktu kami kembali ke BBW lagi untuk mencari nomor lainnya, kami gak berhasil menemukannya. Akhirnya karena Jonathan sudah baca buku ke-2 itu berkali-kali, kami memutuskan untuk memnbeli buku lainnya dari Amazon.

Buku ini tersedia dalam format Kindle juga. Waktu kami mau beli akhir Februari lalu, Joe baru tahu kalau buku ke-6 baru akan terbit, dan versi kindlenya belum akan langsung ada. Setelah dibanding-bandingkan harganya, beli versi kindle 1 bukunya 7.6 USD, beli 5 buku kindle 39 USD, nah beli buku fisik 6 buku 40.84 USD, plus ongkos kirim ke Chiang Mai sekitar 10 USD totalnya 50.84 USD, jadi harga bukunya lebih mahal sedikit saja daripada versi kindlenya. Akhirnya rasanya masih tetap lebih murah beli buku fisik. Pertimbangan lainnya, baca komik itu lebih enak pakai buku fisik, jadilah kami beli complete box setnya.

Hari ini bukunya tiba, mengingat kami baru memesan sekitar 22 Februari, dan buku ke-6 nya baru terbit akhir Februari, buku ini tergolong cepat sampainya ke Chiang Mai. Sore ini Jonathan langsung menyelesaikan membaca 5 buku yang belum dia baca dalam waktu beberapa jam saja. Saya yakin, besok-besok dia masih akan mengulang-ulang baca buku ini, seperti halnya buku -buku seri lainnya yang dia punya.

Saya juga jadi ikut-ikutan membaca bukunya, dan ya ternyata ceritanya cukup menarik. Buku pertama menjelaskan konsep bilangan biner dengan mengenalkan istilan buka tutup. Kalau terbuka merepresentasikan 1 dan kalau tertutup merepresentasikan 0. Selain mengenalkan konsep biner, buku pertama ini juga mengenalkan pemrograman dengan mengenalkan instruksi Forward sekian langkah, Right or Left sekian derajat, dan sampai pada instruksi Repeat untuk mengulang-ulang instruksi sebanyak angka didepan instruksi Repeat.

Oh ya, cara menjelaskan suatu konsep di buku ini dibuat dalam bentuk percakapan antara 2 orang anak sekolah. Walau dalam cerita ini tokohnya berumur 12 tahun dan Jonathan masih 8 tahun, tapi Jonathan tidak kesulitan mengerti penjelasan dalam buku ini, mungkin karea dia udah mengenal apa itu bilangan biner dan juga udah sering mengganggu papanya minta diajari beberapa dasar pemrograman. Tapi saya merasa membaca buku ini tidak seperti membaca buku pelajaran pemrograman, semuanya dijelaskan dengan cukup sederhana. Ah andaikan saya baca buku ini sebelum kuliah dulu, mungkin saya akan lebih cepat ngerti pemrograman waktu tingkat 1 dulu hahaha.

Kalau melihat Jonathan selalu senang membaca buku-buku seperti ini, rasanya senang banget membelikan dia berbagai buku. Mudah-mudahan saja dia gak bosan dengan buku-buku seperti secret coders ini dan ya siapa tahu nanti besarnya bisa lebih jago mrogram dari papanya hehhehe.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi buku lainnya seri belajar pemrograman untuk anak-anak, tuliskan di komentar ya, supaya nambah bahan bacaan Jonathan hehehe.

Seri Buku Murderous Math

Murderous Math adalah seri buku edukasi matematika yang kami beli di Big Bad Wolf book sale. Isi bukunya adalah cerita ngalor ngidul kocak dengan banyak fakta matematika disisipkan di dalamnya. Buku ini juga memiliki banyak ilustrasi yang menarik.

Membahas Fibonacci

Pembahasan matematikanya dalam berbagai serinya cukup luas, dari mulai konsep bilangan (termasuk juga basis bilangan), geometri (konsep pengukuran, pythagoras, 2 dimensi dan 3 dimensi), uang, probabilitas dsb.

Saya tidak tahu apakah anak-anak yang tidak suka matematika akan suka buku ini atau tidak, tapi Jonathan (usia 8 tahun) sudah menyelesaikan membaca kesepuluh buku yang kami beli dan dia sangat menyukainya dan bahkan sering dibaca ulang. Saya yakin jonathan belum mengerti semuanya, tapi itu tidak membuat dia berhenti membaca bukunya karena lucu. Contohnya di dalam salah satu buku ada konsep mengenai persamaan kuadrat. Materi ini terlalu berat untuk anak umur 8 tahun.

Selain terhibur Jonathan jadi penasaran dengan berbagai konsep matematika. Jonathan sempat tertarik dengan Fibonacci, lalu beberapa hari terakhir ini Jonathan sangat penasaran dengan faktorial. Dia mengalikan sendiri sampai faktorial yang cukup besar di kertas. Dia juga penasaran berkali-kali: kenapa 0! = 1, kenapa bukan 0?. Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang saya harus ngecek dulu ke Google supaya yakin bisa memberi jawaban yang benar.

Dari buku ini saya bisa melihat bahwa meskipun Jonathan masih sering tidak teliti mengerjakan soal-soal penjumlahan dan perkalian di materi home schoolingnya, tapi dia memiliki minat dalam bidang matematika.
Saya juga berusaha memberikan trick question misalnya dalam kasus faktorial: berapa 2 digit terakhir 100! (jawabannya sangat mudah, ini hanya sekedar mengetes logika saja) . Meskipun belum diajarkan di materi homeschoolnya sekarang Jonathan sudah tahu apa itu bilangan pi.

Sebagian isi bukunya membuat Jonathan terlalu excited dan ingin mengajari semua orang trik tertentu. Contohnya mengenai perkalian 1089. Perkalian dengan bilangan ini memiliki properti yang menarik: digit pertama dan kedua menaik, sementara digit ketiga dan keempat menurun.

Waktu Big Bad Wolf book sale kami langsung membeli satu kotak (isi 10) bukunya. Dan kami tidak menyesal membeli langsung sekotak, tapi bagi yang anaknya mungkin tidak suka matematika bisa dicoba dulu membeli satu atau dua buku.

Jonathan dan Global Art

Jonathan dari kecil gak suka mewarnai. Dari dulu kalau menggambar juga ya suka asal-asal saja. Sejak homeschooling, karena saya tidak sabar ajarin teknik gambar warna ataupun yang mengarah ke art, saya daftarkan Jonathan ikutan kelas di Global Art dekat rumah.

Global Art ini franchise international, mereka punya program yang cukup jelas step by stepnya. Tiap level ada buku kerja untuk muridnya, di akhir level anak akan diberi semacam test kecil dan diberi laporan ke orangtua. Sejak ikutan kelas di sana, Jonathan sudah menyelesaikan 2 buku (1 buku kira-kira 10 gambar), dan sekarang sudah hampir menyelesaikan buku ke – 3.

Tujuan saya masukkan Jonathan ke Global Art untuk menjadi bagian dari homeschoolnya karena saya tidak bisa mengajar art. Awalnya saya pikir masa sih mewarnai saja harus dilesin? tapi ternyata setelah sekian lama saya bisa lihat kalau lesnya gak sekedar mewarnai. Ada teknik mewarnai mulai dari menggunakan crayon, pensil warna, cat air dan kadang-kadang ada selingan kelas handicraft juga.

Awalnya, fokusnya memang teknik mewarnai, tapi sekarang ini Jonathan mulai diajarkan untuk membuat ilustrasi. Pertama Jonathan harus menentukan apa cerita dari yang mau digambarkan. Lalu Jonathan diminta untuk membuat sket sendiri. Gurunya akan membantu memberikan sketsa yang lebih bagus, lalu Jonathan diminta untuk menggambar sendiri dan tentunya sambil dipandu. Setelah digambar baru diwarnai.

Jonathan belajar di sana 1 x seminggu, dan sekali datang sekitar 2 jam. Kadang-kadang dia butuh 2 kali datang untuk menyelesaikan 1 pekerjaan. Kelasnya sebenarnya bukan kelas privat, tapi karena kami bisa datang di saat tidak ada anak lain yang datang, jadinya seperti kelas privat. Bagusnya kalau tidak ada anak lain, Jonathan tidak jadi terdistract buat ngobrol atau main mulu.

Di masa-masa liburan sekolah, biasanya akan ada kegiatan khusus selama seminggu (opsional), nah kadang-kadang kalau handicraftnya menarik saya akan ijinkan Jonathan ikutan kelas khusus sekalian kesempatan dia untuk bertemu teman-teman baru.

Sekarang ini Joshua belum saya ikutkan ke Global Art, karena Joshua masih mau disuruh mewarnai walau tetap saja belum rapi. Nanti rencananya kalau dia sudah 4 tahun, mau ikut kelas trial dulu untuk melihat apakah dia bisa belajar di Global Art atau tidak.

Mengingat Jadwal di HP

Dengan memilih homeschooling, kami bisa menyusun jadwal lebih leluasa. Tapi karena banyak kelas tambahan, jadilah terasa lebih sulit mengingat semua jadwal kalau tidak dituliskan terutama kalau ada kegiatan tambahan yang di luar jadwal. Tahun lalu saya mencoba memakai diary/organizer fisik untuk mengingat jadwal termasuk merencanakan jadwal pelajaran, tapi hanya berhasil dipakai 1 bulan saja. Kadang-kadang waktu ada yang perlu ditulis, bukunya lagi gak di tas, sampai rumah jadi lupa deh.

Sejak gagal pakai buku fisik, saya mulai membiasakan diri mencatat jadwal di aplikasi Calendar yang ada di HP saja. Calendar di android ini bisa dishare juga ke Joe, jadi kalau ada appointment yang bukan hal rutin mingguan, saya tambahkan di Calendar dan bikin reminder berupa notifikasi maupun e-mail. Kalender yang kami pakai juga di sinkronisasi ke gmail. Jadwal yang sering terlupakan itu biasanya janji ke dokter gigi, karena cuma 6 bulan sekali, biasanya klinik gigi nya akan menelpon untuk mengingatkan janji untuk esok harinya, tapi kalau mengandalkan nunggu telepon repot juga kalau mau bikin rencana jalan-jalan di akhir pekan.

Tampilan kegiatan per hari

Calendar ini bisa diubah tampilannya untuk melihat schedule saja, jadwal sehari termasuk jamnya ataupun secara keseluruhan jadwal 1 bulan. Jadwal saya itu biasanya isinya ya jadwal antar jemput anak-anak. Terkadang ada juga kegiatan bersama atau khusus untuk saya. Sebenarnya hari ini, niatnya mau datang ke kumpulan perajut, tapi karena mata sangat mengantuk, saya putuskan buat tidur siang sama Joshua saja hehehe.

Tidak semua jadwal saya masukkan ke aplikasi Calendar. Biasanya kegiatan rutin mingguan sudah bisa saya ingat saja selain supaya calendarnya tidak kelihatan penuh. Saya tidak suka kalau jadwalnya kelihatan penuh hehehe. Selain jadwal, di aplikasi Calendar kita juga mengeset reminder untuk hal-hal seperti bayar rekening air dan listrik supaya tidak kelupaan.

Tampilan daftar kegiatan

Biasanya, saya mengeset tampilannya per bulan supaya ketahuan kira-kira bulan ini perlu ngapain saja. Kalau sudah diisi, supaya gak keliatan padat, baru saya ubah ke tampilan kegiatan saja. Tapi untuk mendapatkan feeling ada waktu kosong dalam sehari, saya ubah tampilannya per hari.

Kegiatan Jonathan terasa banyak karena berbeda dengan anak yang disekolahkan dan mendapat semua pelajaran di sekolah, Jonathan hampir setiap hari keluar rumah untuk pelajaran tambahan. Jadwal sekarang ini kelas art 1 kali seminggu, taekwondo 2 kali seminggu, kumon Thai 2 kali seminggu, piano 1 jam seminggu dan homeschool group 1 kali seminggu. Hari Sabtu dan Minggu biasanya sengaja dikosongkan untuk kegiatan bersama dengan papanya. Hari Senin sekarang ini kosong, karena kebanyakan tempat kursus tutup di hari Senin.

tampilan kegiatan bulanan

Dengan menyimpan jadwal di HP, sejauh ini saya jarang kelupaan sesuatu. Kemarin saya lupa menambahkan undangan dari rekan kerja Joe ke kalender, nah waktu guru piano Jona nelpon minta pindah jadwal, saya hampir saya lupa kalau Jumat sudah ada jadwal lain. Untungnya masih bisa di geser lagi ke hari lain hehe

Jadwal di HP ini bisa diintegrasi juga dengan kalender dari FB, tapi karena kebanyakan dapat notifikasi ulang tahun dari teman di FB, saya gak tampilkan di kalender saya. Toh kebanyakan kalau saya buka FB akan dapat notifikasi pengingat lagi di hari ulangtahun teman-teman di FB.

Dari dulu sampai sekarang, baru sekarang ini rasanya saya butuh banget mencatat jadwal kegiatan. Dulu mungkin kegiatannya gak banyak ya, dan rutin harian hampir sama, jadi gak butuh dicatat khusus. Sekarang ini yang usia sekolah baru 1 aja udah berasa banyak, gimana kalau nanti Joshua juga udah harus kursus ini itu ya hehehe. Mungkin kalau anak-anak di kirim ke sekolah, jadwalnya akan jauh lebih berkurang dan akhirnya Sabtu dan Minggu diisi dengan les seharian hehehe. Faktor lainnya kemungkinan karena faktor U, udah gak bisa ingat banyak hal hahahha.

Ada yang punya pengalaman sama soal memakai aplikasi Calendar untuk menyimpan jadwal? atau masih lebih suka nulis di buku fisik aja? Atau ada aplikasi yang direkomendasikan yang dirasa lebih oke dari Calendar? Sekarang ini sih buat saya aplikasi Calendar sudah terasa cukup, karena untuk kegiatan berulang, saya bisa tinggal copy dan ganti tanggal. Untuk kegiatan berulang setiap minggunya juga bisa di set sampai kapan berulangnya. Kalau masalah warna-warnanya sekarang ini saya pilih masih agak random, mungkin nantinya harus diasosiasikan untuk kategori kegiatan tertentu, supaya sekali lirik langsung tau kegiatannya apa dan untuk siapa (anak atau diri sendiri).

Homeschool atau Kirim Anak ke Sekolah?

Kami pernah mengirim Jonathan ke sekolah selama 3 tahun sebelum akhirnya memutuskan menghomeschool Jonathan selama 1,5 tahun terakhir ini. Saya ingat, hari pertama kami mulai mantap menghomeschool ketika kami mulai menggunakan kurikulum dari CLE. Akhir Agustus 2017, Jonathan sering sakit, susah tidur cepat dan berakibat masih ngantuk waktu bangun dan di sekolah sering ketiduran. Di sekolah, Jonathan akhirnya lebih sering tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Awal memutuskan homeschool, saya sangat khawatir kalau kami jadi terlena dan tidak mengajarkan apapun ke Jonathan, apalagi saya masih belum menemukan kurikulum yang akan kami pakai. Saya khawatir terlalu santai, dan tahu-tahu waktu berlalu tanpa Jona belajar apapun. Saya sempat sedikit khawatir masalah apakah saya akan kuat secara mental untuk tidak marah-marah kalau Jonathan tidak mengerjakan tugasnya. saya nggak kuatir masalah tidak bisa mengajarkannya atau Jonathan tidak mengerti, saya lebih khawatir Jonathan tidak mau mendengar saya atau menolak mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Setelah membaca dan bertanya banyak hal soal homeschool, saya bersyukur kami menemukan kurikulum yang sesuai buat kami. Karena kurikulum yang kami pakai kami pesan dari Amerika, butuh waktu untuk menunggu kurikulum tiba. Kurikulum yang kami gunakan mempunyai scope dan sequence yang jelas. Ada tes di awal yang dapat digunakan untuk mengetahui anak sebaiknya di kelas berapa. Tiap unit pelajaran dikenalkan sedikit demi sedikit dan diberi soal latihan dan review dari pelajaran sebelumnya. kurikulum ini dilengkapi dengan buku manual untuk guru yang cukup lengkap dan juga kuis dan tes secara berkala. Sejauh ini saya tidak perlu terlalu banyak menjelaskan kepada Jonathan. semua penjelasan yang ada di buku cukup dia mengerti untuk mengerjakan soal latihan yang diberikan. Hasil tesnya selalu rata-rata di atas 90%.

Dalam masa transisi dari sekolah tiap hari menjadi mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah tiap hari, Jonathan kami berikan bahan-bahan mulai dari Brain Quest ataupun buku kumon yang kami peroleh di toko buku lokal. di awal tidak lebih dari 30 menit Jonathan sudah selesai pekerjaan sekolahnya. Jonathan langsung suka dengan rutinnya yang baru, karena dia tidak harus bangun pagi, dan kalau tidur agak larut (jam 10 – an), mama ga stress karena tau dia bisa bangun agak siang.

Waktu buku pelajarannya dari CLE sampai, Jonathan langsung senang sekali dan ga sabar untuk memulai, padahal saya berencana untuk membuat jadwal dulu. Tapi akhirnya kami pun langsung mulai dan saya merevisi jadwal secara bertahap. Karena tahun pertama homeschool saya merasa agak terlambat memulai, ada beban harus menyelesaikan semua dengan cepat. Beberapa bulan pertama kadang-kadang dalam 1 hari, Jonathan mengerjakan 2 unit pelajaran, tentunya kalau Jonathan masih semangat mengerjakannya. Hasilnya dalam waktu 8 bulan, kami menyelesaikan semua pelajaran untuk kelas 2 (yang biasanya dilakukan dalam 10 bulan). Hal ini bisa dilakukan karena hari libur kami tidak sebanyak hari libur sekolah, dan setelah semua selesai, kami libur panjang selama sebulan.

Kegiatan sekolah kami setiap harinya saya alokasikan pagi hari sampai sebelum makan siang. Jadi selesai sarapan dan mandi, langsung deh kerjakan pekerjaan sekolah. Setiap harinya kami belajar 3 atau 4 subjek dan rata-rata setiap subjek 30 -45 menit. Ada hari-hari di mana Jonathan agak bengong dan akhirnya 1 pelajaran memakan waktu lebih dari yang dialokasikan, kadang saya suruh dia berhenti di subjek itu dan ganti subjek. Subjek yang tidak selesai dikerjakan sore hari setelah bangun tidur siang (ya, Jonathan masih tidur siang kadang-kadang). Selesai makan siang, hari-hari tertentu Jonathan ada kegiatan di luar. Biasanya keluar rumah untuk pelajaran seni dan taekwondo atau main ketemu teman. Sekarang ini bisa dibilang setiap hari Jonathan keluar rumah. Secara berkala kami tanyakan apakah Jonathan ingin kembali ke sekolah biasa saja daripada sekolah di rumah? sejauh ini jawabannya selalu dia lebih suka homeschool. Sejak join dengan co-op, dia semakin senang dengan kegiatan homeschool, karena 1 kali seminggu, dia bertemu dengan teman-teman seumurannya sesama anak homeschool dan belajar hal yang berbeda dari yang ada di woworkbookny

Grade sebelumnya, kegiatan belajar di rumah saya jadwalkan 5 hari seminggu (Senin sampai Jumat), sabtu dan minggu libur karena papanya juga libur kerja. Semester lalu, karena ada kegiatan co-op di hari Senin, saya menjadwalkan 4 hari seminggu mengerjakan workbooknya di rumah. Grade 3 ini kami mulai di bulan Juli 2018, dan sekarang Februari 2019 kami sudah pertengahan buku ke-7. Desember lalu, kami kutin jadwal sekolah biasa, setelah buku ke-5, kami bisa ambil liburan semester, pulang ke Indonesia dan tidak mengerjakan buku sampai pertengahan Januari. Di pertengahan semester atau di saat papanya libur kantor, kami juga akan mengambil jatah libur.

Setelah ada pengalaman di tahun pertama, saya semakin bisa merasakan manfaat dan fleksibilitas dari homeschool. Saya juga udah ga terlalu banyak khawatir seperti di tahun pertama. Mungkin saya belum tau semua hal soal homeschool, tapi dari yang saya baca, tidak ada patokan yang kaku dalam menghomeschool. Homeschool itu upaya mendidik anak di rumah. Saya bisa bilang homeschool itu bukan cuma alternatif, tapi pilihan untuk setiap keluarga. Tidak semua orang harus memilih homeschool, tapi kalau memang bisa melakukannya, homeschool jauh lebih efektif dibandingkan kirim ke sekolah.

Untuk Jonathan homeschool itu sangat terasa manfaatnya dibandingkan belajar di sekolah. Dia tidak harus menghabiskan waktu terlalu lama di sekolah. Dia tidak harus bangun pagi-pagi, dan kalau ada hari di mana dia ga bisa tidur awal, dia selalu bisa bangun agak siang. Selama setahun ini Jonathan ga pernah sakit sampai menyebabkan dia ga bisa mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Setahun ini berat badan Jonathan bertambah cukup signifikan karena dulu di sekolah kalau dia gak suka, dia ga makan siang dan gurunya ga ada yang memperhatikan sebanyak apa dia makan, sedangkan kalau di rumah saya pasti tau asupan makanannya cukup. Sejak gak ikutan co-op, saya menggantikan mengirim Jonathan ke group homeschool partime, di mana dia bertemu dengan anak homeschool lainnya 1 kali seminggu dan dia mendapatkan teman bermain dan belajar.

Buat saya sendiri, terasa lebih ringan sejak ga harus bangun pagi-pagi untuk antar jemput. Karena Jonathan juga sudah bisa membaca dan cepat mengerti sebuah konsep, saya ga harus susah payah mengajarkan sesuatu ke dia. Ada hari-hari di mana saya hanya perlu mengecek pekerjaanya saja. Kalau ada konsep yang dia belum mengerti saya akan beri penjelasan lebih banyak, dan Joe juga bisa bantu untuk memenjelaskan. Kadang-kadang kami berikan video penjelasan dan memberi kesempatan buat dia bertanya, atau belikan buku yang menarik minatnya saat ini.

Jadi kembali ke judul, homeschool atau kirim ke sekolah? sekarang ini saya akan pilih homeschool. Andai kami pulang ke Indonesiapun, saya akan tetap memilh homeschool. Semoga nantinya Joshua juga bisa dihomeschool seperti Jonathan. Semakin dijalani, walau ada hari-hari di mana Jonathan kurang bisa fokus, homeschooling ini lebih menjamin dia belajar sesuatu. Saya bersyukur, Jonathan cukup pintar dan bisa mengerti penjelasan yang diberikan. Masih ada hari-hari di mana saya kurang sabar mengajarkan sesuatu atau Jonathan yang bengong aja atau banyak bicara, tapi secara keseluruhan dia lebih banyak belajar daripada di sekolah.

Waktu kami ikutan co-op dan ngobrol dengan sesama orangtua yang menghomeschool anaknya, saya bisa melihat kalau anak homescholer juga cara belajarnya beda-beda. Ada anak yang belajar itu harus visual, misalnya untuk belajar math harus ada alat bantu fisiknya. Ada anak yang bisa mengerti dengan membuat craft terlebih dahulu. Saya juga jadi mengerti kenapa ada banyak sekali metode dan kurikulum homeschooling yang terbentuk.

Yang terpenting adalah anak punya kemampuan untuk belajar mandiri dan menerapkan apa yang dia pelajari dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi bekal di kemudian hari. Untuk saat ini kami tetap tidak kuatir dengan maslaah ijasah, karena jaman sekarang bukan ijasah yang dibutuhkan untuk jaminan masa depan, tapi yang diutamakan skill dan keuletan. Mau gigih berusaha dan tidak gampang menyerah.

Super Full Moon 2019

Dari beberapa hari lalu, sudah dapat link mengenai super full moon yang akan terjadi hari ini 19 Februari 2019. Tapi karena banyak kesibukan hari ini jadi terlewat informasi kalau badan astronomi Thailand yang ada di Chiang Mai ternyata mengadakan acara mengintip super moon pakai teleskop mereka. Untungnya sekarang ini semua ada di facebook ya, jadi walau ga bisa datang ke sana, bisa juga melihat hasil jepretan yang datang ke sana.

Foto super full moon dari FB page: อุทยานดาราศาสตร์สิรินธร Princess Sirindhorn Astropark

Tadi akhirnya cuma liat keluar dengan mata biasa, sekaligus memberi tahu Jonathan beberapa informasi mengenai super full moon ini. Seperti biasa, cara termudah mengajarkannya setelah melihat langsung adalah memberikan video mengenai apa itu super full moon. Fakta-fakta mengenai super full moon bisa di baca lengkap di sini.

Apa sih super full moon itu? bedanya apa dengan full moon yang bisa dilihat setiap bulannya? Jadi istilah super full moon ini sebenarnya karena bulannya lebih terang dan lebih besar dari biasanya. Super full moon ini belum tentu terjadi setiap tahun, super full moon ini kelihatan di bumi ketika jarak antara bulan dan bumi di titik terdekatnya. Tapi tahun ini cukup spesial, setelah bulan januari ada super blood full moon, bulan ini ada super full moon, dan kedua peristiwa ini bisa dilihat dari kota tempat kami berada.

Waduh apalagi itu blood moon. Ya bulannya kelihatan merah karena ada gerhana bulan total dan refleksi cahaya mataharinya kelihatan merah. Sayangnya, event ini juga saya terlewat tanggal 20 Januari 2019 lalu. Penjelasan yang lengkap mengenai super full blood moon ada di sini. Super blood moon juga tidak selalu terjadi setiap tahun.

Entah kenapa setiap lihat full moon, saya ingat dengan sailor moon. Saya bukan penggemar sailor moon, saya tidak ingat nama tokohnya dan kenapa dia pakai pakaian sekolah. Yang saya ingat hanya bagian: dengan kekuatan bulan, akan menghukummu. Setiap kali dengar bagian itu, saya bertanya-tanya emang kekuatan bulan apaan? bahkan bulan tidak punya sumber cahayanya sendiri. Aduh jadi kemana-mana deh ceritanya.

Lukisan sailor moon buatan Joe dulu

Coba lihat keluar, kira-kira hari ini bulannya lebih terang dari biasanya gak di tempat Anda. Kalau iya, ajak anak melihatnya sekalian kesempatan mengenalkan astronomi ke anak.