San Kamphaeng Hot Springs

Pemandangannya menyejukkan walaupun matahari bersinar terik

Hari ini ajakin oppung jalan-jalan ke Hot Springs lagi, sekalian Jonathan main dengan teman barunya. Tempat ini gak jauh dari Chiang Mai, cuma sekitar 45 menit nyetir, jalannya juga bagus dan mulus sampai-sampai jalannya dibatasi maksimum 80 km/jam biar orang-orang gak ngebut. Lokasinya di kaki bukit, jadi tidak ada jalanan menanjak.

Walaupun tempat ini tidak terlalu jauh, kami terakhir ke sini ya beberapa tahun lalu pas oppung ke Chiang Mai juga. Entah kenapa pas eyang datang, kami lupa dengan tempat ini, padahal tempat ini sangat cocok untuk bersantai-santai dan tidak banyak berjalan naik turun seperti Doi Pui. Walaupun sudah pernah ke sana sebelumnya, baru hari ini mengetahui ada banyak hal yang bisa dilakukan selain rendam kaki dan rebus telur.

Beberapa tahun lalu, kami datang agak kesorean. Tukang berjualan makanan sudah mau pada tutup (tukang jualan tutup jam 4.30), waktu itu kami cuma sempat rebus telur (bisa beli di sana, telur puyuh 10 biji 40 baht dan telur ayam 3 biji 20 baht). Tiket masuknya masih sama dengan beberapa tahun lalu. Kami masih dapat harga Thai, walaupun di sana ada tulisan kalau harga Thai itu untuk pemegang ID Thai saja. Harga Thai Dewasa 40 baht, anak-anak 20 baht, mobil kalau mau masuk ke dalam juga bayar 40 baht. Harga orang asing dewasa 100 Baht, anak-anak 50 Baht.

Selain telur rebus, biasanya di sana kita bisa membeli makanan khas Thai seperti Somtam dengan nasi ketan, ayam goreng, mie instan, nasi ketan dalam bambu dan tentu saja ada kopi selain minuman bersoda lainnya. Kalau mau piknik di sana juga bisa saja kita bawa makanan sendiri. Saya perhatikan ada banyak yang bawa tikar dan keluarin makanan sendiri. Seperti umumnya di tempat wisata di Chiang Mai, harga makanan di dalam tempat wisata gak berbeda dengan di luar lokasi. Tapi memang makanannya buat makanan kualitas istimewa, tapi lebih ke makanan selera lokal.

Untuk merebus telur, kita bisa merebusnya langsung di dalam air panas belerang yang panasnya sekitar 105 derajat Celcius. Waktu yang dibutuhkan untuk merebusnya tergantung selera kita apakah mau setengah matang atau matang banget. Semakin lama direbus di air panas, ya tentunya semakin matang. Paling lama sekitar 10 menit, kita sudah mendapatkan telur yang cukup matang. Selama menunggu, kita tidak perlu kuatir keranjang telur kita akan diambil orang, karena di sana orang-orangnya cukup tertib mengambil yang memang punyanya saja. Jadi selama menunggu, kita bisa saja rendam kaki. Air untuk merendam kakinya suhunya berkisar 45 – 55 derajat celcius, harus hati-hati sebelum memutuskan merendam kaki, karena sepertinya ketika suhu di atas 50 derajat, airnya lumayan panas banget.

playground

Selain makan, untuk anak-anak tersedia juga playground. Beberapa mainan kadang-kadang mulai rusak, tapi secara keseluruhan masih cukup fun buat bermain apalagi kalau ada temannya, pasti bisa bermain lebih lama. Kalau bosan main di playground, anak-anak bisa eksplorasi sekitar tempat itu. Lokasinya sangat luas, di sana tersedia juga tempat untuk camping, pijat, kolam renang, privat room untuk rendam badan, ataupun kalau mau menginap tersedia juga kamar penginapan untuk di sewa. Kami belum pernah menginap di sana, tapi sepertinya kalau mau outing bareng teman-teman beberapa keluarga, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi bersama-sama dan menginap 1 malam.

Kami berangkat dari rumah sekitar jam 12.15 dan kembali lagi ke rumah sekitar jam 6.30 malam. Awalnya, kami sudah rencana pulang sektiar jam 4.30 sore, tapi karena saya baru tahu ada kolam renang dan Jonathan tadi pagi gak jadi berenang dengan oppung, jadilah kami memutuskan Jonathan dan oppung berenang dulu. Kolam renangnya air belerang juga, tapi suhunya dijaga sekitar 40 – 41 derajat celcius.

Jona berenang dengan oppung

Untuk berenang dikenakan biaya tambahan, harganya seperti harga masuk juga, orang lokal Dewasa 50 Baht, anak-anak 20 Baht, orang asing Dewasa 100 Baht dan anak-anak 50 Baht. Kolam renangnya tidak ramai, kamar mandi untuk membersihkan badan sehabis berenang juga cukup bersih, malahan di kamar mandi perempuan tersedia hair dryer segala.

Secara keseluruhan, tempat ini cukup bersih. Banyak tempat duduk untuk bersantai dan menikmati makanan. Banyak pohon dan tempat rindang sehingga tidak terganggu dengan terik matahari. Banyak tempat sampah yang bahkan dikategorikan untuk sampah bekas makanan, plastik dan keranjang bekas telur. Banyak tempat penampungan botol atau kaleng yang siap untuk didaurulang. Banyak tempat pijet dan tersedia banyak petunjuk arah dan peta lokasi di mana kita berada, sehingga tidak akan tersesat dan petunjuknya juga ada dalam bahasa Inggris.

Pemandangannya yang indah kombinasi pepohonan, bunga dan langit biru sungguh membuat kami merasa betah berlama-lama di sana. Lain kali semoga bisa mencari informasti mengenai biaya menginap atau camping di sana, supaya bisa bermain lebih puas lagi.

Doi Pui Hmong Tribal Village

Ini lanjutan cerita jalan-jalan hari Sabtu lalu. Karena lokasinya relatif dekat, pulang dari melihat bunga Sakura di Ban Khun Chang Khian, kami mampir ke Doi Pui untuk makan siang dan melihat taman bunga yang ada di Hmong Village di Doi Pui.

Jalan ke daerah perkampungan ini sedikit lebih baik daripada jalan ke lokasi Sakura, tapi ya, lumayan curam juga dan beberapa bagian jalan ada yang rusak tergerus air di musim hujan. Setelah jalan berbelok-belok ditengah hutan, tiba juga di perkampungan yang kalau di lihat dari atas, hanya sedikit sekali perumahan yang ada di sana.

Hmong VIllage di lihat dari view point Doi Pui

Penduduk sekitar sini sepertinya hidup dari menerima turis di desanya sambil menjual berbagai produksi hasil tenunan atau kerajinan tangan dari kain tenun dan juga dari perak, kopi dan buah-buahan yang dikeringkan. Di sana banyak sekali yang berjualan berbagai hal yang sebenarnya bisa ditemukan juga di pasar warorot Chiang Mai, dengan harga yang lebih murah. Awalnya saya juga kaget, loh kok bisa lebih murah? kan tempat wisata? biasanya kan tempat wisata lebih mahal daripada pasar? Ya jelas saja lebih murah, karena merekalah produsen dari benda-benda yang dijual di Chiang Mai.

Berbagai kain tenun sudah jadi baju, rok dan jaket

Buat beberapa orang, tujuan ke tempat ini selain untuk makan siang setelah melihat sakura atau mungkin melihat Doi Suthep, tentunya untuk membeli oleh-oleh. Berbagai kain tenun di jual dengan cukup murah dibandingkan harga di Warorot. Motifnya juga banyak yang lebih cantik. Selain berbagai produk dari kain, mereka juga menjual kacang almond, kacang macadamia, buah-buahan yang sudah dikeringkan, bermacam perhiasan dari silver, obat-obatan tradisional dan permainan tradisional dari kayu.

Eh hampir kelupaan, mereka juga menjual berbagai biji kopi. Salah satu hasil pertanian di Doi Pui ya kopi. Saya gak beli kopinya, karena stok kopi yang di bawa dari Indonesia masih banyak banget, sedangkan kalau kopi dibiarkan berlama-lama, rasanya jadi tidak enak. Jadi ya, toh gampanglah kalau mau nyari kopi Thailand kapan saja.

Silakan pilih, mau tas, kacang almond atau buah lengkeng dikeringkan
berbagai herbal/obat tradisional juga ada

Setelah melewati banyak sekali tukang jualan dengan jalanan yang naik turun, akhirnya sampai juga di pintu masuk untuk melihat taman bunga Doi Pui. Taman bunganya ini sekalian disebut sebagai Hill Tribe Village Museum. Selain bunga, mereka juga berusaha mengenalkan pakaian adat dan rumah tradisional suku Hill Tribe. Tiket masuknya cukup murah, per orang hanya 10 baht saja.

Tiket masuk ke taman, cuma 10 baht

Tepat dipintu masuk ke taman, ada yang menawaran jasa menyewa baju Hill Tribe untuk foto-foto. Tapi karena mama saya tidak mau (dan saya juga gak pernah kepengen), kami gak bikin foto dengan baju tradisional Hill Tribe. Untuk lokasi yang sangat luas, walaupun relatif banyak pengunjung, tempat ini terasa sepi. Walau demikian saya perhatikan ada beberapa yang datang ke sana emang sengaja untuk foto dengan pakaian tradisional Hill Tribe.

Kami pernah ke Doi Pui ini sekitar 11 tahun yang lalu. Tapi selain bunga-bunganya, banyak hal terasa berbeda dari ingatan. Entah kenapa rasanya sekarang ini tukang jualannya tambah banyak, dan sepertinya kita sengaja diputerin melewati tukang jualan sebelum masuk ke taman bunganya. Jadi teringat dulu di borobodur juga untuk keluar dari sana, harus melewati banyaaaak sekali tukang jualan.

Setelah jalan cukup banyak naik turun tangga, sampai di taman bunganya, tadaaaa masih banyak lagi dong tangganya, untungnya anak-anak semangat tinggi karena tempatnya luas dan bisa puas naik turun tangga dan lihat bunga-bunga. Joshua yang di jalan sudah istirahat tidur, langsung semangat 45 mengeksplorasi kebun bunganya.

Siapkan tenaga, naik turun tangga sambil lihat bunga
lupa menghitung berapa banyak anak tangga

Setelah sampai agak atas, sampailah di sebuah rumah sample yang isinya kurang lebih sama saja dengan rumah tradisional jaman dulu di Indonesia. Saya ingat, pernah ke rumah tradisional Batak, dalamnya kira-kira sama peralatan masaknya, bedanya kalau di Indonesia rumahnya berupa rumah panggung. Di sini, mungkin karena pada dasarnya mereka suku yang hidup di pegunungan, mereka ga takut banjir, jadi rumahnya ya gak bentuk rumah panggung.

contoh dalamnya rumah tradisional suku Hmong, mirip juga dengan kampung kita di Indonesia
contoh dapur dari rumah suku Hmong

Walaupun lelah naik turun tangga, tapi rasanya hati puas melihat keindahan alam ciptaan Tuhan. Mata ini rasanya refreshing banget lihat langit biru, gunung yang hijau dan bunga berwarna-warni. Aih jadi puitis deh karena seharian mata di manja dengan bunga-bunga.

Pemandangan dari atas taman bunga
seger ya lihat bunga warna warni bermekaran

Jonathan yang biasanya diajak jalan sering mengeluh capai, hari itu tidak mengeluh sama sekali. Dia cukup menikmati perjalanan dan juga ikutan mengamati bunga-bunga yang ada. Melihat orang-orang antri foto di papan nama Doi Pui, Jonathan juga gak mau kalah dan minta di fotoin. Jarang-jarang dia minta di foto dan duduk bagus. Biasanya juga diajak foto gak mau diem gerak mulu.

banyak yang ngantri buat foto di sini, jadi Jonathan ikutan minta di foto

Setelah puas melihat Doi Pui, kami pulang langsung ke Chiang Mai. Perjalanan cukup lancar walaupun masih banyak mobil dari arah Chiang Mai yang baru akan naik ke gunung dan mungkin saja mau melihat Sakura juga.

Sebenarnya, ada sedikit terpikir mampir lagi ke tempat lain (Doi Suthep atau Bu Bhing Palace, tapi melihat anak-anak udah pada teler di mobil, ya sudah kami pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Entah kapan lagi akan melihat Doi Pui Village, kalau ga ada yang minta dianter ke sana, kemungkinan sih gak akan ke sana. Apa sekalian jadi guide Chiang Mai untuk orang Indonesia ya, biar bisa sering-sering jalan-jalan ke sini hehehehe.

Sakura Thailand 2019

selalu senang melihat warna pink bunga Sakura dipadukan dengan biru langit yang cerah

Hari ini kami melihat bunga Sakura di Ban Khun Chang Khian lagi setelah 10 tahun tidak melihat bunga Sakura Thai sedang mekar. Kami pertama kali ke sana tahun 2009. Waktu berbunga yang hanya 2 minggu dan jalan ke sana yang cukup sulit membuat kami merasa enggan buat mengunjungi Sakura setiap tahun. Tahun ini kami ke sana lagi sekalian ajak mama saya untuk melihatnya. Walau sudah berkali-kali mama saya ke Chiang Mai, baru kali ini pas waktunya dengan sakura yang sedang mekar. Jadilah kami ke sana dengan alasan ajakin oppung jalan-jalan (padahal ya saya juga pengen lihat lagi hehehe).

Kalau dulu pergi ke sana masih belum punya anak, masih gampang buat bikin banyak foto. Kali ini dengan 2 anak yang sangat aktif dan sulit di foto, rencana bikin foto keluarga juga jadi buyar. Beginilah jadinya fotonya, kayak semi memaksa anak buat foto hihihi. Tapi ya tetep, yang penting biar anaknya ingat kalau dia pernah diajak liat bunga Sakura Thai.

Usaha bikin foto keluarga dengan latar belakang bunga Sakura

Lebih gampang buat selfi sama oppung daripada foto dengan anak-anak hehehe. Mama saya tadinya gak ngerti kenapa sih heboh banget mau liat bunga doang sampe pergi naik gunung dan jalannya jelek banget. Tapi setelah liat hamparan bunga Sakura di sekeliling hutan, akhirnya mama saya juga ikutan tak henti-henti berfoto ria hehehe. Ya sederhananya, jalan-jalan liat bunga Sakura ini emang jalan-jalan buat foto-foto. Sayang rasanya kalau cuma dilihat tanpa di foto. Foto melihat sakura 10 tahun lalu masih terasa indah sampai sekarang dan dibanding-bandingkan dengan yang dlihat tadi.

Karena lokasi bunga ini di pegunungan, suhu udaranya lebih dingin dari Chiang Mai. Oh ya, bunga ini memang bisa mekar kalau sedang dingin, makanya setiap tahun bunga ini mekarnya tidak selalu sama tanggalnya. Saya ingat, 10 tahun lalu saya melihat bunga Sakura tanggal 2 Januari, sedangkan tahun ini sudah hampir akhir Januari. Beberapa tahun lalu malah berbunganya sudah masuk bulan Februari.

Beberapa pohon rantingnya cukup rendah dah bisa dijangkau dengan tangan. Walaupun saya bisa saja memetiknya, tapi tentu saja tidak saya petik. Kasian yang datang berikutnya nanti ga kebagian bunga buat berfoto hehehe. Lagian setelah berkembang, tak lama kemudian bunga ini akan rontok kok.

Seperti 10 tahun yang lalu, kami tidak nyetir sendiri untuk melihat Sakura. Kali ini kami menyewa mobil dan supir untuk naik ke sana, cara ini lebih mudah buat kami karena dari dulu sampai sekarang jalanannya tetap sempit, terjal, berliku-liku dan sekarang juga berdebu sepertinya karena pernah longsor sebagian di musim hujan. Jalan yang kecil tapi dua arah, tiap kali papasan dengan mobil lain rasanya saya pengen tutup mata karena ngeri heheheh.

Ada juga pilihan naik ke atas dengan angkutan umum, tapi ya kalau bawa anak kecil seperti kami tentunya lebih nyaman dengan menyewa mobil. Kalau ada beberapa teman perjalanan juga tentunya lebih nyaman patungan nyewa mobil lalu bagi biayanya dibandingkan naik angkutan umum. Kalau 10 tahun lalu saya ingat mobil yang dipakai mobil kami dan supirnya cuma bantu menyetir, biayanya sekitar 1000 baht. Nah tahun ini biaya sewa mobil termasuk supir dan bensin sekitar 1800 baht. Menurut saya, kalau misalnya pergi bareng teman-teman berenam (mobil avanza), biaya 1800 baht itu tidak mahal, karena per orangnya cukup membayar 300 baht dan selain melihat Sakura bisa sekalian mengunjungi tempat wisata lain.

Tips kalau mau pergi melihat Sakura:

  • pastikan bunganya sudah mekar 100 persen (cari info dari FB lokal),
  • berangkat pagi-pagi dari Chiang Mai (tidak lebih dari jam 8 pagi, tapi ya ga perlu subuh juga)
  • Kalau mau camping, di sana juga ada camp site nya
  • kalau menyewa mobil, siapkan tujuan berikut, karena melihat Sakura ga butuh waktu seharian
Bunga Sakura Thai

Beberapa tujuan yang bisa dipilih setelah melihat Sakura di Khun Chang Khian:

  • Doi Pui Village: melihat kehidupan suku Hmong dan juga berbelanja beberapa kerajinan lokal (kain tenun, perak, batu perhiasan, kopi organik)
  • Bhubing Palace: Melihat kebun bunga dari tempat peristiraharatan kerajaan kalau sedang liburan ke Chiang Mai.
  • Doi Suthep: Melihat temple besar yang Chedinya bisa di lihat dari kota Chiang Mai. Dari atas temple ini bisa melihat pemandangan keseluruhan kota Chiang Mai. Orang sini bilang kalau belum sampai ke Doi Suthep, belum sah sampai ke Chiang Mai.
  • Huay Thung Tao : Danau buatan untuk rekreasi dan makan siang sambil santai-santai. Sekarang ini ada beberapa figur gorilla dari jerami di sana, tapi saya belum lihat sejak ada gorilla jerami nya.

Di sekitar Chiang Mai, ada beberapa tempat untuk melihat bunga Sakura. Waktu untuk melihatnya juga tidak sama tergantung dengan suhu udara di sana. Umumnya lokasinya di pegunungan yang cukup tinggi. Lokasi bunga Sakura yang kami kunjungi ini Baan Khun Chang Khian merupakan lokasi terdekat dengan Chiang Mai, Kami berangkat dari rumah pukul 8 pagi, dan sekitar jam 9.30 kami sudah sampai di lokasi untuk melihat Sakura.

Selain foto-foto, di sana banyak yang jualan produk dan makanan lokal. Jadi kalau misalnya merasa lapar dan butuh istirahat, di sana bisa membeli ubi bakar, jagung bakar, menu makanan Thai yang sederhana, kopi, dan strawberry. Harga makanan di daerah sana walaupun merupakan tempat wisata masih cukup masuk akal dan gak jauh berbeda dengan harga di kota Chiang Mai.

Sepulang dari melihat Sakura, kami melanjutkan jalan-jalan ke Doi Pui Hmong Tribal Village. Karena sekarang saya sudah lelah dan ingin istirahat, mudah-mudahan besok saya tuliskan soal jalan-jalan ke Doi Pui nya.

Hidden Village Chiang Mai

Hari ini ajakin oppung jalan-jalan ke Hidden Village Chiang Mai. Terakhir kami ke sana sekitar akhir tahun 2017, dan ternyata kali ini ada banyak perubahan yang cukup menarik di tempat ini. Dulunya, waktu tempat ini baru dibuka, kesan pertama dari tempat ini adalah tempat untuk melihat animatronik berbagai jenis Dinosaurus. Hari ini, bisa dibilang tempatnya sudah lebih fun dan bukan sekedar melihat pajangan Dinosaurus yang itu-itu saja.

Tiket masuk ke tempat ini ternyata membedakan harga lokal dan harga turis asing. Untuk harga lokal diatas 100 cm dikenakan biaya 50 baht/orang. Anak di bawah 100 cm gratis. Untuk harga asing ada 3 level harga, di bawah 100cm gratis, anak sampai dengan 130 cm 100 baht, dewasa 200 baht. Seperti biasa, dengan jurus bertanya dalam bahasa Thai, kami dapat harga lokal (lumayan masuk kantong deh sisanya hehehe).

Ticket counter dengan berbagai penjelasan harga

Hal terbaru yang langsung menarik perhatian kami adalah, restorannya menyediakan menu buffet. Kami sudah beberapa kali makan di restoran di dalam hidden village, dan dulunya selalu merasa tempat itu terlalu sepi dan makanannya sering lama datangnya. Rasanya sih lumayan oke walau harganya sedikit agak mahal. Salah satu tujuan hari ini ke sana emang mau jalan-jalan sekalian makan malam.

Tulisan besar-besar yang kami lihat mengenai harga buffet semuanya pakai huruf Thai. Setelah melihat foto-foto di tempat pembelian tiket, saya baru menyadari kalau skema harga untuk makanan buffet nya juga membedakan harga lokal dan harga asing. Untuk buffetnya, anak-anak di bawah 100 cm sama-sama gratis. Untuk harga lokal anak di bawah 130 cm bayar 129 baht, sedangkan dewasa bayar 259 baht/orang. Nah harga asingnya menurut saya terlalu mahal:anak di bawah 130 cm harganya 250 baht, dewasa 400 baht.

Menu buffetnya lumayan sih, bukan cuma makanan yang sudah tersedia seperti spaghetti, sosis, salad dan buah-buahan saja, tapi juga kita bisa memesan steak, pizza dan bahkan menu nasi goreng ala makanan Thailand. Tadinya kami berencana membeli makanan biasa aja dan gak usah beli buffet nya, tapi karena mereka bilang Joshua boleh gratis, ya…akhirnya kami beli juga deh buffet untuk 3 dewasa. Hasilnya rusak diet hahaha, tapi ya senang juga sih karena penutupnya ada eskrim juga hehehe. Ini beberapa contoh makanan yang kami pesan. Katanya makanan ini bisa di pesan lebih dari 1 porsi per orang kalau emang kuat makannya hahaha.

Haduh, malah jadi cerita makan-makannya lebih banyak dari tempatnya. Oke kembali ke cerita lokasi hidden villagenya seperti apa sih. Tambahan yang baru yang menarik untuk anak-anak, sekarang ini ada yang namanya animal village. Di animal village ada ayam, kelinci dan kolam ikan Koi. Dengan membayar sekitar 20 baht, anak-anak mendapat kesempatan untuk memberi makan ayam, kelinci atau ikan. Yang di beli itu biasanya tempat makanannya. Tadi, karena anak-anak lebih pengen main di playground dan toh kemarin baru dari zoo feeding berbagai farm animal juga, jadilah kami putuskan tidak berhenti di bagian itu.

Selain animal village, ada tambahan permainan seperti komidi putar. Ada juga pet village. Di pet village ini anak-anak bisa memberi susu ke babi atau sapi. Bisa juga naik kuda pony dengan biaya tertentu. Di tempat ini juga kami gak berhenti, soalnya berasa agak bau kayak di peternakan hahaha.

Selain animal village dan pet village, area hidden village yang luas ini berisi banyak display yang unik seperti serangga raksasa, kupu-kupu raksasa ataupun bunga rafflesia. Tempat ini intinya sih kebanyakan buat foto-foto orang dewasa. Untuk anak-anak tempat ini cocok untuk lari-larian, bermain di playground, mengenal berbagai farm animal dan juga belajar mengenai nama-nama dan bentuk dinosaurus.

Tujuan berikutnya ke Dinosaurs Village. Nah di sinilah ada banyak animatronic dinosaurs. Oppung yang sebelumnya belum pernah melihat seperti ini awalnya kaget. Oppung jadi bertanya-tanya itu gimana mereka menggerakkannya. Jonathan yang sudah beberapa kali dibawa ke sana pun menjawab dan berusaha menjelaskan ke oppung dengan bahasa Indonesia.

Di dalam Dinosaurs Village, selain melihat dinosaurus, anak-anak bisa bermain dengan inflatable playground dengan membayar 20 baht saja. Selain itu ada juga tempat yang lebih cocok untuk anak yang lebih muda soft play area dengan tambahan biaya 40 baht/20 menit. Soft play area membutuhkan kaus kaki sebelum anak masuk ke dalamnya. Selain 2 tempat bermain ini, ada lagi permainan seperti naik dinosaurus besar tapi saya lupa memfoto dan mengingat harganya.

Tadi kami sampai di sana sekitar jam 4.30, matahari masih cukup terang tapi sudah tidak panas lagi. Setelah berlari-larian dan bermain-main di playground sambil melihat-lihat display yang ada, anak-anak pun merasa lapar. Walau belum jam 6 kami putuskan untuk makan saja. Sekitar jam 7.20 kami pun pulang dengan perut kenyang hehehe.

Kalau mau makan buffetnya, mungkin ada baiknya datangnya agak pagi. Tempat ini buka jam 10 pagi sampai jam 9 malam. Jadi pagi bisa jalan-jalan dulu, setelah lelah ya makan sambil ngadem (restorannya ber ac). Abis makan, kalau anak-anak belum habis tenaganya masih bisa lanjut bermain lagi hehehe. Tadi akhirnya memutuskan makan buffet alasannya karena udah lama gak makan steak hahaha. Sepertinya bisa jadi tempat yang bisa dijadwalkan untuk dikunjungi di tahun 2019 ini.

Pilot Frixion Ballpoint dan Marker

Pilot Frixion ini merupakan jenis pulpen dan marker yang bisa dihapus. Awalnya tahu jenis pulpen ini waktu membeli Elfin Book (buku yang bisa dilap pakai lap basah berkali-kali). Setelah sekian lama, akhirnya menemukan kalau bisa beli ballpoint dan markernya di Lazada Thailand. Ada juga pilihan kalau mau membeli isinya saja.

ballpoint dan markers Pilot Frixion

Bedanya pulpen yang dibeli sekarang dengan yang sudah pernah dibeli sebelumnya hanya soal tutupnya saja. Kalau sebelumnya ketika memakai pulpen sering sekali mencari-cari tutupnya di mana, nah karena yang ini ballpoint yang sistem click, jadi tidak ada tutup yang hilang. Untuk menghapusnya juga bisa langsung gunakan bagian belakang pulpen, atau ya kalau ditulisnya di ElfinBook bisa langsung dilap basah seperti biasa.

Pilot Frixion Marker dan Ballpoint

Untuk markernya, tutupnya masih model di lepas seperti sebelumnya. Tujuan dibeli marker, supaya nulis di Elfin Book bisa lebih banyak pilihan warna. Selain itu tujuan utamanya tentu saja untuk dipakai Joshua. Selama ini, setiap kali Joshua dikasih buku baru, dia akan mengisi 1 halaman dengan 1 huruf besar dan 1 huruf kecil, dilengkapi dengan gambarnya dan dia mulai mewarnai juga. Dalam waktu singkat, seluruh halaman sudah diisi.

Rencananya dengan memberikan ElfinBook plus marker, kalaupun bukunya penuh, nantinya bisa dengan mudah dihapus saja. Sebelumnya dicobakan memakai pulpennya, tapi karena cara memegang pulpen belum benar, Joshua selalu susah untuk menulis dengan pulpen Pilot Frixion. Dengan dibelinya marker ini, Joshua jadi lebih mudah menulis di Elfin Book. Dengan menulis di buku yang bisa dihapus, tentunya gak buang-buang buku lagi kan. Ujung-ujungnya hemat di kantong juga ramah lingkungan karena ga buang-buang kertas.

Pegang pulpennya belum bisa dikoreksi, jadi lebih mudah menulis pakai marker

Sebenarnya ada banyak warna marker dan juga pulpennya. Tergoda mau beli segala warna, tapi dipikir-pikir lebih baik beli secukupnya. Awalnya mau beli dari aliexpress atau dari situs yang mengirim dari luar Thailand. Tanpa sengaja, ketemu iklan shopee di FB. Karena belum pernah belanja di Shopee, kami mencari dari Lazada Thailand saja. Cuma menunggu beberapa hari, pulpennya sudah sampai di rumah. Kadang-kadang iklan yang muncul di FB ada gunanya juga hehehe.

Mungkin bertanya-tanya berapa harganya? Kemarin ada banyak variasi harga. Tapi yang kami beli untuk marker 6 warna harganya 300 baht, untuk ballpoint 3 warna harganya 285 baht. Ada lagi selain pulpen dan marker, yaitu highlighter, tapi saya gak beli karena ga merasa butuh.

Saya kurang tahu, apakah pemakai pilot Frixion ini aware dengan kemampuan menghilangnya tulisan dengan produk ini apabila kepanasan selain basah. Kalau buat saya, utamanya ya untuk menulis di ElfinBook saja. Kalau misalnya untuk menulis diary, bisa-bisa kalau salah nyimpan bukunya, lalu bukunya kepanasan, daaan kita ga bisa baca lagi pas mau membaca ulang tulisan kita.

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya: jadi pilot Frixion ini cuma berguna kalau mau menulis di buku yang tahan basah? Jawabnya tidak, bisa saja kita pakai untuk dibuku mana saja, asal kita aware kalau bukunya kepanasan ada kemungkinan tulisannya suatu hari akan menghilang. Kalau tujuan kita memang ingin membuat catatan sementara dan justru berkeinginan supaya tulisan itu akan hilang setelah beberapa waktu, penggunaan pulpen ini akan sangat berguna. Setelah kita ingin menghapus isinya, kita bisa biarkan bukunya di mobil kepanasan. Biasanya panasnya mobil itu cukup panas untuk membuat tulisan menggunakan pilot Frixion dari buku biasa menghilang.

Oh ya, kenapa beli pulpen banyak kalau Joshua pakai marker? karena ballpoint merahnya buat saya koreksi kerjaan homeschool Jonathan. Yang biru dan yang hitam buat saya dan Jonathan pakai. Jonathan menulis jurnalnya juga menggunakan pulpen Pilot Frixion.

Awalnya waktu dia mau nulis, dia ga menemukan pinsilnya, jadi saya kasihlah pulpen yang ada di dekat saya yang kebetulan adanya pulpen Pilot Frixion. Nah ternyata karena ujung pulpennya cukup kecil, tulisan Jonathan bisa lumayan rapih, selain itu kalau dia salah menulisnya masih bisa dihapus dan ditulis ulang dengan cukup bersih. Tentunya saya ga boleh lupa untuk memfoto tulisan Jonathan di jurnalnya secara berkala, buat jaga-jaga kalau bukunya tiba-tiba kena panas matahari dan isinya hilang.

Penjelasan DNS Flag Day

Tanggal 1 Februari nanti akan ada perubahan bersangkutan dengan DNS (Domain Name System). Secara singkat: berbagai domain yang terdaftar di berbagai DNS server yang tidak compliant dengan standar EDNS akan bermasalah sejak tanggal itu. Sebagai user: kemungkinan beberapa domain menjadi tidak bisa diakses sejak tanggal tersebut (atau beberapa hari/minggu setelahnya).

Sayangnya penjelasan singkat tersebuttidak cukup dan bikin penasaran banyak orang: sebenarnya apa sih yang akan terjadi? Saya coba cari sekilas belum ada penjelasan dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti, jadi saya akan mencoba menjelaskannya di sini. Sebelum masuk ke penjelasan flag day ini, saya akan mulai dulu dengan penjelasan singkat tentang DNS dan sedikit sejarahnya karena ini ada hubungannya dengan masalah saat ini.

Apa itu DNS?

Pada Internet Protocol (IP) ketika sebuah program melakukan koneksi ke sebuah server berdasarkan nama, maka diperlukan proses translasi dari nama menjadi alamat IP. Proses translasi ini dulunya hanya memakai file teks (hosts.txt) ketika internet belum besar. Sampai sekarang pun ini masih didukung berbagai sistem operasi dengan file hosts.

Ketika jumlah domain makin banyak, maka diperlukan sistem baru. Mulai tahun 1983 sudah dibuat standar DNS (RFC 882 dan RFC 883), dan pada tahun 1984 software berdasarkan standar tersebut sudah mulai dibuat (namanya BIND). Kemudian pada tahun 1987 dibuat standar baru (RFC 1034 dan RFC 1035) menggantikan standar pertama.

Sebenarnya cara kerja DNS cukup sederhana: daripada semua nama dikelola satu pihak, biarlah dikelola masing-masing pihak dengan hierarki tertentu. Kenapa bentuknya hierarki seperti ini? Setiap level dari hierarki ini bisa diatur oleh sebuah otoritas untuk nama tersebut. Saya ambil contoh sebuah universitas ITB yang memiliki banyak jurusan.

  • Tiap jurusan bisa punya subdomain sendiri (misalnya if.itb.ac.id untuk informatika)
  • Tiap jurusan bisa memiliki DNS server sendiri, supaya bisa menambah/mengubah subdomainnya sendiri (tidak perlu repot lapor ke universitas)
  • Di level itb.ac.id perlu diset, bahwa NS record untuk if.itb.ac.id ditangani oleh server tertentu di jurusan informatika

Ini berlaku untuk semua domain, bukan hanya domain organisasi seperti itu. Ketika kita mencari apakah IP untuk sebuah domain blog.compactbyte.com, maka pertama yang dilakukan adalah:

  • Mencari tahu server mana yang menangani .com. Untuk pertanyaan paling atas ini bisa ditanyakan ke root name server (ada beberapa di dunia ini). Kita akan mendapatkan daftar server-server (bisa lebih dari satu) yang menangani domain .com
  • Kita bisa bertanya ke salah satu server tersebut: mana server yang menangani compactbyte.com?
  • Kita bisa bertanya ke server yang menangani compactbyte.com: apa alamat untuk blog.compactbyte.com

Proses di atas dinamakan resolving, dan proses selangkah demi selangkah dari titik atas itu disebut recursive resolving. Tentunya kalau saya membuat program, saya tidak akan menulis sendiri kode untuk melakukan resolving. Sudah ada library resolver yang akan melakukan semua proses di atas.

Server-server di atas memiliki daftar seluruh domain .com di dunia

Sebenarnya dalam dunia nyata, proses seperti itu tidak benar-benar dilakukan karena lambat, tiap kali ingin pergi ke facebook, harus mencari dulu di root server mana yang menangani .com, lalu mana yang menangani facebook.com dst. Dalam praktiknya: kalau sudah tahu nama domainnya, hasilnya akan dicache. Jadi setiap kali proses tidak perlu lagi bertanya ke root server untuk .com karena jawaban sudah dicache.

Supaya lebih efektif biasanya kita memakai sebuah server DNS publik. Ini biasanya dari ISP tapi bisa juga memakai milik Google (8.8.8.8), Cloudflare (1.1.1.1), dan masih banyak lagi. Ketika kita bertanya ke DNS milik ISP kita, maka biasanya jawaban bisa instan karena banyak orang mengakses situs yang sama dan jawabannya masih diingat (dicache). DNS server semacam ini disebut sebagai “caching server“.

Artikel di Wikipedia memberikan gambar yang lebih real mengenai proses ini. Ketika kita bertanya ke DNS milik ISP, maka server tersebut bisa bertanya ke server DNS lain, atau melakukan sendiri proses rekursif yang saya jelaskan di atas untuk mencari IP sebuah domain.


Di dalam server DNS, catatan pemetaan nama ke IP disimpan sebagai sebuah record. Tepatnya lagi ini disebut sebagai address record (singkatnya satu huruf: A). DNS juga memiliki berbagai record lain. Contoh record lain adalah mail exchanger (singkatnya MX) untuk mengetahui server mana yang digunakan untuk menangani email. Kenapa harus ada banyak record? karena kegunaannya berbeda-beda. Contohnya dengan adanya record MX yang terpisah dari record address (A) maka kita bisa punya email yang dihosting di server lain (misalnya Google) dan tidak harus di server kita sendiri.

Saya juga akan menjelaskan sedikit apa yang terjadi waktu kita membeli domain. Domain kita akan didaftarkan di server TLD. Lalu biasanya tempat kita membeli domain akan mengeset otomatis name server ke server milik registar tempat kita membeli. Ini bisa kita ubah agar memakai server lain, misalnya server sendiri atau Cloudflare

Blog ini memakai cloudflare

Beberapa hal yang perlu diketahui adalah:

  • Di dalam mesin (PC/Mobile) ada software resolver
  • Dalam server DNS juga ada resolver untuk bertanya pada server DNS lain
  • Software di berbagai server ini bisa berbeda (tidak hanya ada satu software server DNS, ada banyak, dan masing-masing ada banyak versi)
  • Satu server DNS bisa menangani banyak domain

Extension Mechanism for DNS (EDNS)

Spesifikasi awal DNS kurang fleksibel sedangkan diperlukan banyak fitur baru untuk DNS baik itu untuk meningkatkan performance maupun security. Contoh masalah performance: pada sistem DNS lama ukuran paket yang bisa ditransfer maksimum hanya 512 byte via UDP. Dalam hal security: sebuah DNS server bisa dibajak dengan relatif mudah karena tidak ada signature atau tanda tangan digital yang menyatakan bahwa record yang terdaftar adalah benar adanya.

Pada tahun 1999 diperkenalkanlah Extension Mechanism for DNS. Kemudian standar ini diperbaiki lagi tahun 2013. Jadi EDNS ini sudah dicetuskan 20 tahun yang lalu. Mekanisme EDNS ini backward compatible dengan DNS. Di atas EDNS ini dibangunlah berbagai teknologi baru seperti DNSSEC (Domain Name System Security Extensions).

Untuk mengetahui apakah sebuah server DNS kompatibel dengan EDNS, maka ini yang dilakukan:

  • Resolver akan menanyakan record OPT yang tidak dikenali oleh DNS server lama
  • Server lama (tidak mendukung EDNS) akan mengabaikan OPT, dan menjawab record yang bisa dijawab
  • Server yang baru (mendukung EDNS) akan menjawab bahwa OPT didukung

Sejak diciptakannya, DNS sudah menjadi sistem yang sangat kompleks, dengan 185 RFC yang total halamannya lebih dari 2000 halaman jika dicetak. Ini membuat detail DNS sulit dipahami, dan banyak orang tidak mau pusing memakai software baru yang mendukung berbagai fitur DNS, selama semuanya masih berjalan normal. Ini salah satu alasan kenapa orang tidak mengupdate semua ke server versi terbaru.

Masalah EDNS

Sekarang masalahnya adalah: ada server yang tidak menjawab jika ditanya dengan record OPT, atau jawabannya tidak benar (silakan lihat presentasi ini untuk berbagai jawaban yang salah). Sebenarnya yang diharapkan cuma ini:

  • Kalo kamu mendukung EDNS, jawab yang tegas dengan benar
  • Kalo kamu tidak mendukung EDNS, jawablah bahwa tidak mendukung EDNS

Banyak server yang jawabannya tidak jelas, atau bahkan tidak menjawab. Untuk mengatasi ini, resolver DNS harus bekerja ekstra (istilahnya untuk akal-akalan ini adalah workaround): Jika server ditanya dengan protokol EDNS dan menjawab dengan sempurna, maka diasumsikan server tersebut memang mendukung EDNS. Tapi jika ternyata tidak mendukung, maka ditunggu dulu sampai timeout, terus dicoba lagi ditanya pakai protokol DNS lama (dan kadang tidak menjawab juga, tunggu lagi sampai timeout).

Proses ini tentunya membuat lambat proses resolving. Karena sudah lama sekali standar ini diperkenalkan, maka diputuskan begini:

  • Mari kita stop workaroundnya: kalau jawaban server nggak standar, ya sudah ignore aja servernya (anggap sudah mati)
  • Mari kita buat internet lebih aman dengan mengadopsi standar baru

Kapan ini harus dilakukan? setelah dilihat bahwa sebagian besar (>90% server) sudah mendukung EDNS, maka diputuskan bahwa tanggal 1 Februari 2019 merupakan saat yang tepat. Berbagai DNS publik dunia akan menghentikan workaround yang dilakukan dan berbagai software yang tadinya mendukung workaround juga akan diupdate.

Flag Day

Kenapa namanya flag day? nama ini sifatnya historis. Dulu ada perubahan definisi ASCII di sistem operasi Multics yang dilakukan di Flag Day (hari bendera amerika). Sejak itu istilah ini digunakan untuk perubahan besar pada sistem komputer.

Seperti dijelaskan di atas: software resolver ini ada di device (PC/mobile) kita, dan juga ada di DNS publik seperti ISP dan Google). Biasanya resolver di mesin (komputer/ponsel) kita hanya akan bertanya ke caching server lain di ISP atau DNS publik lain.

Pada flag day, resolver publik yang besar (seperti Google, Quad9, CloudFlare) akan mematikan support untuk workaround. Server DNS untuk domain tertentu yang tidak menjawab dengan benar akan dianggap mati. Sebenarnya yang diharapkan bukan semua server harus support EDNS, tapi harus menjawab dengan jujur dan benar support atau tidak support. Jika kita memakai salah satu server DNS publik tersebut (baik langsung maupun tidak langsung), maka kita akan gagal mengakses domain-domain tertentu.

Untuk sementara waktu, ketika ISP belum mengupdate softwarenya, mungkin situs tersebut masih bisa diakses, tapi setelah beberapa waktu, berbagai ISP di dunia akan mengupdate server/resolver mereka dengan versi terbaru dan akhirnya domain-domain tersebut akan tidak bisa diakses sama sekali jika software DNS pada server yang tercantum di nama domain tidak diupdate.

Sebagai catatan: bukan pemilik domain yang harus mengupdate software, tapi pemilik server DNS yang dipakai di domain tersebut. Jadi misalnya Anda membeli domain dari sebuah registrar dan memakai nameserver registrar, maka registrar tersebut yang harus mengupdate software DNS-nya. Alternatif lain adalah: pemilik domain bisa memakai server DNS lain yang sudah memakai software DNS terbaru.

Selain perubahan di DNS publik, ada juga perubahan kode pada berbagai library resolver dan server DNS, misalnya BIND supaya mendrop workaround. Contoh realnya perubahan kode yang dilakukan di BIND bisa dilihat di URL ini:

https://gitlab.isc.org/isc-projects/bind9/commit/615ebc39e39abd06e97131339cb508a8651ac65c

Apakah domain saya akan baik-baik saja?

Domain yang Anda miliki bisa dicek di situs https://dnsflagday.net. Jika hasilnya OK, maka sudah aman. Jika hasilnya STOP, maka ini sangat berbahaya, dan jika hasilnya SLOW maka sebaiknya setting server diperbaiki atau versinya diupdate. Sebelum panik, cobalah testnya sekali lagi, karena jika server sedang sibuk, kadang hasilnya bisa salah. Jika mengerti penggunaan dig, maka sebaiknya cek juga secara manual dari jaringan yang dekat dengan server (misalnya jika server di Indonesia, cek dari ISP Indonesia).

Ketika hasilnya SLOW atau STOP akan muncul link yang menjelaskan masalah detail eksaknya untuk domain tersebut. Jika situs Anda cuma diakses puluhan atau ratusan orang, response “SLOW” mungkin tidak apa-apa, tapi jika situs Anda sangat ramai, ya sebaiknya diperbaiki.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, sebagai pemilik domain, yang bisa dilakukan adalah:

  • Pindah name server ke yang sudah mendukung software terbaru
  • Menghubungi pemilik server DNS untuk mengupdate softwarenya

Jika Anda sekedar pemakai sebuah situs, Anda bisa juga memeriksa situs tersebut dan memberi tahu adminnya, supaya dia bisa melakukan perubahan yang perlu. Ini terutama untuk situs yang kecil/kurang populer karena situs besar biasanya sudah menangani ini.

Penutup

Kadang masalah tertentu sulit dijelaskan tanpa mengetahui detail teknis, dan DNS Flag Day ini merupakan salah satu contohnya. Semoga artikel ini cukup bisa menjelaskan. Secara umum: tidak perlu panik. Para admin mungkin harus bekerja ekstra keras, tapi persiapan DNS Flag Day ini sudah cukup lama, jadi harapannya semua akan berjalan lancar pada tanggal yang ditentukan nanti.

Pengalaman Pemilu di Luar Negeri

Hari ini dapat surat dari panitia pemilu luar negeri perwakilan Bangkok berisi bukti pendaftaran pemilih untuk pemilu 2019. Tahun ini merupakan kali ke-3 kami mengikuti pemilu di Thailand. Kalau diperhatikan, dari masa ke masa sepertinya kegiatan sosialisasi untuk pemilu bagi kami yang merantau ini makin lama semakin baik.

Bukti sudah terdaftar ikut pemilu 2019

Karena kami jauh dari Bangkok, kami memilih lewat surat suara yang dikirimkan melalui kantor pos. Biasanya di dalamnya selain surat suara juga disediakan amplop yang sudah berisi perangko untuk mengembalikan surat suara kembali ke Bangkok. Gak ada alasan deh untuk tidak bisa ikut pemilu karena tidak berdomisili di Indonesia.

Sosialisasi pemilu yang paling banyak informasinya itu tahun ini. Sebelumnya juga sudah cukup banyak, tapi mungkin dengan semakin mudahnya akses informasi melalui HP, panitia pemilu juga berusaha untuk memanfaatkan internet untuk penyebaran informasi dan juga mengontak per orang. Buat kami yang jauh dari kedutaan, panitia pemilu juga mendatangi kami untuk memberikan informasi secara langsung (siapa tau pada malas baca website hehehe).

Awalnya biasanya dihimbau untuk mendaftarkan diri secara online. Lalu kemudian kalau ada yang tadinya ragu-ragu mau daftar atau kelewat daftar, masih ada lagi pendaftaran susulan. Panitia pemilu juga secara aktif berusaha menanyakan keberadaan warga yang punya hak pilih untuk memastikan semua orang bisa menggunakan hak pilihnya.

Pemilu tahun ini akan diadakan serentak 17 April 2019 di wilayah Indonesia, tapi untuk masyarakat Indonesia yang di luar negeri, biasanya pemilu di kedutaan di adakan lebih awal dari jadwal di Indonesia. Yang dikirimkan via pos, menerima surat suara lebih awal lagi dari jadwal pemilihan di kedutaan. Jadwal penghitungan surat suara biasanya akan disamakan dengan penghitungan surat suara di Indonesia.

Seingat saya, selain memilih presiden, kami yang di luar negeri ini juga mendapat surat suara untuk anggota DPR Pusat. Saya juga ingat, pemilu 5 tahun lalu, karena ada serombongan mahasiswa sedang mengunjungi Chiang Mai, KBRI mengatur supaya mereka tidak kehilangan hak suara dan mengirimkan panitia pemilu dari Bangkok untuk datang membawa kotak suara dan jadilah kegiatan pemilihan dengan bukti mereka menunjukkan kartu identitasnya. Buat warga Indonesia yang di Chiang Mai waktu itu juga bisa memasukkan surat suara yang sudah mereka pilih ke kotak suara yang di bawa khusus tersebut, jadi tidak perlu dikirimkan lewat pos lagi.

Warga Indonesia di Chiang Mai tidak terlalu banyak, tapi ketika beberapa waktu lalu diadakan pertemuan untuk sosialisasi menghindari terdaftar sebagai pemilih ganda, yang datang kira-kira lebih 20 orang. Belum cukup banyak untuk membuat panitia pemilu mengirimkan petugasnya datang ke Chiang Mai membawa kotak suara.

Memilih dengan mengirimkan kembali via Pos sebenarnya lebih enak. Kita bisa dengan santai melihat surat suara lalu menimbang-nimbang siapa yang mau dipilih. Untuk memilih presiden mungkin gak butuh waktu lama untuk menimbangnya. Kebanyakan orang sudah bisa langsung menentukan pilihannya di masa kampanye ketika mendengarkan visi misi dan juga argumen dalam acara debat. Memilih wakil rakyat di DPR lebih sulit karena ga semua orang bisa ditemukan informasinya di google. Tapi sepertinya untuk tahun ini banyak juga caleg yang menyediakan banyak informasi melalui website ataupun media sosialnya.

Semoga acara pemilihan umum bulan April nanti berjalan dengan lancar dan siapapun yang terpilih bisa menepati janjinya dan membawa Indonesia lebih baik lagi dari sekarang, jadi kalau mudik ke Indonesia rasanya bisa lebih nyaman lagi deh. Ayo yang udah terdaftar sebagai pemilih, jangan sampai hak pilihnya gak dipakai ya.