Super Full Moon 2019

Dari beberapa hari lalu, sudah dapat link mengenai super full moon yang akan terjadi hari ini 19 Februari 2019. Tapi karena banyak kesibukan hari ini jadi terlewat informasi kalau badan astronomi Thailand yang ada di Chiang Mai ternyata mengadakan acara mengintip super moon pakai teleskop mereka. Untungnya sekarang ini semua ada di facebook ya, jadi walau ga bisa datang ke sana, bisa juga melihat hasil jepretan yang datang ke sana.

Foto super full moon dari FB page: อุทยานดาราศาสตร์สิรินธร Princess Sirindhorn Astropark

Tadi akhirnya cuma liat keluar dengan mata biasa, sekaligus memberi tahu Jonathan beberapa informasi mengenai super full moon ini. Seperti biasa, cara termudah mengajarkannya setelah melihat langsung adalah memberikan video mengenai apa itu super full moon. Fakta-fakta mengenai super full moon bisa di baca lengkap di sini.

Apa sih super full moon itu? bedanya apa dengan full moon yang bisa dilihat setiap bulannya? Jadi istilah super full moon ini sebenarnya karena bulannya lebih terang dan lebih besar dari biasanya. Super full moon ini belum tentu terjadi setiap tahun, super full moon ini kelihatan di bumi ketika jarak antara bulan dan bumi di titik terdekatnya. Tapi tahun ini cukup spesial, setelah bulan januari ada super blood full moon, bulan ini ada super full moon, dan kedua peristiwa ini bisa dilihat dari kota tempat kami berada.

Waduh apalagi itu blood moon. Ya bulannya kelihatan merah karena ada gerhana bulan total dan refleksi cahaya mataharinya kelihatan merah. Sayangnya, event ini juga saya terlewat tanggal 20 Januari 2019 lalu. Penjelasan yang lengkap mengenai super full blood moon ada di sini. Super blood moon juga tidak selalu terjadi setiap tahun.

Entah kenapa setiap lihat full moon, saya ingat dengan sailor moon. Saya bukan penggemar sailor moon, saya tidak ingat nama tokohnya dan kenapa dia pakai pakaian sekolah. Yang saya ingat hanya bagian: dengan kekuatan bulan, akan menghukummu. Setiap kali dengar bagian itu, saya bertanya-tanya emang kekuatan bulan apaan? bahkan bulan tidak punya sumber cahayanya sendiri. Aduh jadi kemana-mana deh ceritanya.

Lukisan sailor moon buatan Joe dulu

Coba lihat keluar, kira-kira hari ini bulannya lebih terang dari biasanya gak di tempat Anda. Kalau iya, ajak anak melihatnya sekalian kesempatan mengenalkan astronomi ke anak.

Tips Menghadapi Musim Polusi di Chiang Mai

Seperti pernah saya tuliskan sebelumnya, setiap tahun di Chiang Mai ada namanya musim polusi. Jadi bukan cuma musim panas, musim hujan, dan musim dingin yang ada di sini. Setiap musim polusi tiba, timeline FB lokal saya pasti ada beberapa post mengenai kualitas udara. Banyak group lokal juga akan membahas dan membuat banyak pendatang baru menjadi resah. Baru sekali saya ketemu dengan seorang yang pernah tinggal di Beijing berkata dengan bahagia: polusi di sini mah gak ada apa-apanya dibandingkan di Beijing hehehe.

Karena udah beberapa tahun mengalami musim polusi, kami sudah tidak terlalu cemas dan cenderung biasa saja hahaha. Tapi ya tentunya, biasa karena udah punya persiapan menghadapi musim ini. Kebanyakan expat di sini memilih mengungsi dari Chiang Mai ke Thailand Selatan atau mudik ke negerinya masing-masing. Tapi kami ga seleluasa itu juga untuk pergi dari Chiang Mai berbulan-bulan. Sebenarnya bisa juga saya dan anak-anak saja yang ngungsi, tapi ah, enakan juga bareng-bareng di sini. Secara keseluruhan, polusinya gak konstan selama 2 bulan kok.

Tips 1. Modal utama adalah alat ukur kadar polusi dan filter udara.

Tulisan ini lengkapnya udah pernah di posting Joe di sini. Kedua alat itu penting, supaya lebih tenang. Kalau dulu cuma melihat angka polusi di website, berarti itu kadar polusi di daerah sensor itu berada. Daerah rumah kami ini banyak tanamannya dan angin cukup banyak, jadi ya walaupun di website dinyatakan kadar polusinya tinggi, daerah sekitar rumah kami seringnya masih baik-baik saja.

Kalau angka sensor di rumah mulai di atas 60, kami akan mulai menutup semua pintu dan jendela dan menyalakan filter udara. Kami punya 2 filter besar dan 4 filter DIY, cukup untuk seluruh ruangan yang ada. Sekitar 2 hari kemarin sampai kemarin pagi, sensor udara mulai menunjukkan angka di atas 100. Sepanjang pagi sampai sore, filter udara bekerja penuh. Sore hari, ternyata angin berhembus cukup banyak dan udara mulai bersih. Jadi sore dan malam harinya filter bisa di matikan saja. Hari ini angka polusinya juga tidak setinggi 2 hari lalu, jadi kami santai aja gak nyalain filter, tapi malam ini kami nyalakan filter karena angkanya merambat naik lagi. Kalau liat angka tingkat polusi hanya dari website, dari kemarin masih cukup tinggi dikisaran di atas 100, masih kadar berbahaya, tapi karena punya sensor sendiri, kami cukup tenang terutama untuk kegiatan sekitar rumah.

Tips 2. Kurangi merencanakan aktivitas di luar rumah

Di musim polusi, kami mengurangi pergi ke taman. Di tengah musim polusi, biasanya akan ada hari cerah karena sehabis hujan. Nah kalau memang yakin sudah cerah (biasanya cukup berasa dari jarak pandang mata pas nyetir), boleh deh jalan-jalan dadakan ke taman.

Kalau misalnya kita ga punya pilihan dan harus beraktivitas di luar, kita bisa memakai masker untuk memfilter udara yang kita hirup. Masker yang digunakan bukan masker buat kulit wajah ya, tapi masker udara. Masker udara yang dianjurkan kategori masker N95, untuk menyaring partikel yang sangat kecil. Kalau pakai masker biasa, ya sama saja boong. Nah saya sejauh ini gak pernah pakai masker, anak-anak juga ga suka pake masker, tapi saya sedia masker siapa tau butuh suatu saat.

Tips 3. Jaga Kesehatan

Ini sebenarnya udara buruk atau baik harusnya tetap dilakukan ya. Tapi di udara buruk ini, kalau kita ga hati-hati bisa drop banget kena batuk dan teman-temannya. Jaga kesehatan tentunya dengan minum vitamin, makan yang sehat dan minum air putih yang cukup. Beberapa orang yang mengerti juga memakai essential oil.

Berolahraga di udara buruk tidak dianjurkan, kalau mau olahraga lebih baik olahraga di rumah atau di tempat olahraga indoor yang punya filter udaranya. Kalau melakukan aktivitas fisik dan menghirup partikel berbahaya, katanya malah bisa bikin berbagai masalah dengan sistem pernapasan kita.

Dengan tips di atas, mudah-mudahan waktu 2 bulan berlalu tanpa terasa. Pada dasarnya pemerintah Thailand bekerja dengan baik berusaha menanggulangi polusi ini dengan mengeluarkan larangan membakar sisa ladang sejak 1 Maret sampai 30 April, apa daya kadang-kadang polusi terjadi karena kebakaran hutan ataupun kiriman dari negeri tetangga. Bagusnya, kalaupun hal-hal ini tak terelakkan, di tengah musim polusi ini biasanya ada 1 atau 2 badai lewat membawa angin kencang dan hujan selama beberapa hari, jadilah udaranya segar lagi. Selain itu kalau kadar polusinya mengkhawatirkan, pemerintah Thailand juga mengusahakan membuat hujan buatan.

Saya baca berita, di berbagai daerah di Thailand utara sudah mulai diadakan pelarangan bakar-bakaran sejak Februari ini sampai akhir Maret. Sekarang ini ya tetap berharap polusinya gak memburuk, ada hujan dan tetap sehat. Gak mau panik tapi ya tetap harus liat situasi dan kondisi. Sekali lagi saya ingatkan kalau ada yang berniat jalan-jalan ke Chiang Mai, sekarang ini bukan waktu yang tepat. Lebih baik ganti tiket sampai polusi berakhir atau rencanakan akhir tahun atau awal tahun depan saja.

Food Cover Pengganti Cling Wrap

Mungkin sudah banyak yang tahu dengan benda ini, karena benda ini juga bukan barang baru. Saya sudah memakai tutup wadah dari bahan silicone ini sejak tahun lalu. Lupa persisnya kapan pertama kali beli. Jadi ceritanya awalnya kehabisan plastic cling wrap, lalu untuk menyimpan makanan saya pakai kotak makanan yang ada tutupnya, tapi setelah itu jadi nambah kerjaan karena harus cuci kotaknya dan kotak simpan makanan saya tidak semuanya microwave safe. Terus saya bilang, andai ya ada tutup yang bisa dipakai langsung ke atas mangkoknya, jadi besoknya tinggal manasin aja di mangkok itu pake microwave. Eh terus Joe ingat pernah lihat ada iklan tutupan mangkok dari bahan silicone yang katanya bisa dipakai berkali-kali.

silicone lid berbagai ukuran

Joe cari di aliexpress dan ternyata ada banyak ukuran. Ya memang ga mungkin kan kalau mangkok besar pake tutupan kecil. Walaupun tutupan ini cukup bisa ditarik, tapi ada batasannya juga. Karena tidak tahu ukuran mana yang sesuai dengan mangkok di rumah, akhirnya kami pesan dengan 6 ukuran berbeda. Setelah tahu ukuran mana yang paling sering dipakai, kami beli lagi 4 yang ukurannya kira-kira sesuai dengan kebanyakan mangkok yang kami pakai.

Sekarang ini, rasanya gak pernah lagi beli cling wrap. Kalau ada makanan sisa, tutup pake silicone lid ini, terus masuk kulkas deh. Besoknya, buka tutupnya dan makanannya tinggal panasin di microwave tanpa harus pindahin mangkoknya. Untuk mencuci tutupnya ya seperti cuci piring biasa aja.

makanan di tutup masuk ke kulkas

Saya tulis ini buat info aja, siapa tahu ada yang mau mengurangi pemakaian cling wrap dan males nyuci wadah seperti saya hehehe. Saya udah lupa harganya dan gak jualan, tapi seingat saya gak mahal dan pasti lebih murah daripada beli cling wrap berkali-kali. Kalau mau cari bisa coba di google aja food cover silicone atau lid bowl silicone. Ada berbagai warna dan ada yang bentuk kotak juga.

Kalau dari liat berbagai video reviewnya, katanya sih kalau ada makanan berkuah dan kita balik mangkoknya, isinya gak akan tumpah. Sejauh ini saya gak pernah iseng membalik mangkok yang berkuah, jadi gak bisa kasih komentar tambahan untuk hal itu. Ini saya pakai juga sebagai usaha mengurangi pemakaian plastik (walau saya belum bisa ingat untuk bawa kantong belanja supaya gak nambah jumlah plastik di rumah).

Mulai dari sedikit mengurangi pemakaian plastik, mudah-mudahan ke depan bisa lebih banyak mengurangi pemakaian plastiknya.

Chiang Mai Crafts Week 2019

Hari ini 7 Februari sampai dengan hari Minggu, 10 Februari 2019, sedang berlangsung acara pameran kerajinan tangan di Chiang Mai (Chiang Mai Crafts Weeks). Tahun ini merupakan tahun ke -4 diadakannya acara ini. Saya yang walau sudah lama ga main benang dan jarum, sejak pameran tahun ke-2 menyempatkan melihat-lihat. Harapannya sih supaya mendapat motivasi memegang jarum dan benang lagi, dan mengingat harta karun yang sudah 8 tahun ini tidak disentuh.

Denah acara tahun ini, terlihat lebih banyak dari tahun sebelumnya

Pameran hari ini mengambil tempat yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Lokasinya cukup dekat dari rumah. Kebetulan hari ini Jonathan ada les 2 jam dan Joshua bisa tidur siang lebih awal, jadi Joshua saya tinggal di rumah sama mbak, dan saya bisa deh melihat-lihat pameran ini dengan tenang tanpa gangguan anak-anak seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Entah karena tahun ini saya bisa lihat santai, atau memang event ini tambah banyak peminat, rasanya orang yang berpartisipasi membuka booth lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Pengaturan lokasi pameran juga lebih teratur. Yang terasa kurang cuma tempat parkirnya saja. Mungkin karena saya datang di hari pertama, saya pikir yang datang masih akan sedikit, karena toh kami datang di saat jam kerja. Eh dugaan saya salah, malah tadi hampir ga kebagian parkir karena banyak juga loh yang datang siang-siang begini.

Apa saja yang dipamerkan? Kerajinan tangan dari benang dan jarum berupa sulaman, jahitan, quilt, knit dan crochet, recycle bag dan juga leather. Selain itu ada juga glass beads dan marble painting. Hampir setiap booth menawarkan paket workshop, sayangnya ga ada free workshop, jadi tadi saya ga ikutan workshop apapun karena waktunya gak sempat juga.

Melihat benang dan peralatan craft yang dijual di sana, saya jadi ingat dengan tumpukan harta karun yang sekarang ini buat mengaksesnya saja sulit. Tapi ya karena sudah punya, semua yang tadi saya lihat di sanapun masih membuat saya merasakan spark joy hahahaha. Mudah-mudahan tahun ini bisa kembali berkarya dengan benang dan jarum nih.

Polusi di Chiang Mai

Sejak beberapa tahun terakhir ini, setiap bulan Februari sampai dengan April, ada tingkat polusi yang cukup tinggi di Chiang Mai. Setiap tahunnya, polusi ini tidak bisa diprediksi walaupun pemerintah Thailand sudah berupaya untuk menguranginya. Asal polusi udara ini awalnya dari para petani yang membakar sisa panen dan mempersiapkan lahannya untuk ditanam kembali.

Biasanya setelah musim hujan berakhir dan memasuki musim dingin, semua sisa panen itu sudah kering. Cara cepat membersihkan sisa panen ya dibakar. Tapi ada juga yang malah membakar hutan untuk membuka lahan baru. Salah satu yang jadi penyebab lagi, ketika membakar untuk membuka lahan baru malah membuat kebakaran hutan yang tidak terkendali.

Status kadar polusi di Chiang Mai hari ini

Dalam kurun waktu 2 bulan, website yang paling sering dikunjungi itu ya website ini. Biasanya kalau tingkat polusinya sudah berwarna merah, orang-orang mulai memakai masker N95 keluar rumah, memilih tinggal di rumah saja, menutup semua pintu dan jendela dan memasang filter udara di rumah. Pemandangan ke arah pegunungan yang biasanya terlihat cerah juga mulai terhalang asap putih. Kalau lagi parah, jarak pandang lagi nyetir juga agak terganggu.

Biasanya, di musim polusi ini akan banyak yang mengalami gangguan pernapasan. Musim polusi di saat suhu udara sedang beralih dari musim dingin ke musim panas juga membuat tubuh rentan sakit. Biasanya dalam 2 bulan ini, kami mempersedikit kegiatan jalan-jalan di luar kecuali tingkat polusinya tidak dalam range merah.

Tahun ini polusinya datang lebih awal, masih akhir Januari angka polusinya sempat agak tinggi. Pendatang baru mulai resah, kalau kami yang sudah lama di sini sudah gak resah lagi karena sudah punya sensor buat ngecek kadar polusi di rumah berapa dan juga filter udara untuk setiap ruangan. Kami udah gak merasa perlu panik seperti masa awal kami mengetahui soal polusi ini. Kalau kadarnya tinggi, ya tinggal tutup semua pintu dan jendela dan nyalakan filter udara. Filter udara juga sudah punya beberapa versi, baik yang DIY maupun yang kami beli sejak Jonathan masih kecil.

Beberapa kali, dalam musim polusi saya batuk parah juga sih, tapi gak musim polusi, kalau saya mulai batuk ya biasanya emang parah hehehe. Paling sering batuk itu kalau harinya lagi ekstrim suhu udaranya. Misalnya pagi dingin 14 derajat, siangnya panas sampai 35 derajat, eh malah drop lagi ke 21 derajat celcius. Hari ini dan 10 hari ke depan harus jaga kesehatan baik-baik nih, soalnya suhunya kira-kira rangenya cukup ekstrim begini.

Prediksi temperatur 10 hari ke depan

Untungnya, waktu oppung datang, udara sejauh ini baik-baik saja dan kami semoga tetap sehat-sehat saja. Hari juga kadarnya masih tidak membahayakan walaupun sudah mulai masuk warna kuning. Biasanya saya cuma ingat warnanya saja, kalau udaranya bersih ya warna hijau, lalu mulai kuning, orange dan merah. Kalau sudah merah berarti kadarnya sudah masuk ke tingkat yang berbahaya.

Biasanya, bulan Februari sampai sebelum Songkran, banyak keluarga yang travelling ke luar dari Thailand atau sekedar ke Bangkok atau ke daerah lebih selatan lagi (Phuket atau sekitar pantai di sana). Keluarga homeschooling yang umumnya jadwalnya fleksible akan memilih tidak tinggal di Chiang Mai daripada harus menghirup udara polusi. Tahun ini tapi entah kenapa Bangkok juga tingkat polusinya malah lebih parah dari Chiang Mai, dan kabarnya ini juga karena sumbangan asap dari kenderaan bermotor dan polusi dari pabrik di sekitar Bangkok.

Kalau ada keluarga yang mau ke Chiang Mai mengunjungi kami di antara Feb – April ini, biasanya kami beri peringatan dulu sebelumnnya dan menyarankan kalau bisa ganti tanggal lain. Tapi sebenarnya, pemerintah Thailand selalu berusaha menanggulangi supaya tingkat polusinya tidak sampai membahayakan warganya. Misalnya mereka mengeluarkan larangan membakar sampah ataupun sisa hasil panen selama sekian puluh hari, dan kalau ada yang ketahuan membakar kita bisa laporkan dan mereka akan di denda cukup besar.

Pemerintah setempat juga mengupayakan membuat hujan buatan. Biasanya, udara akan lebih bersih setelah hujan deras. Beberapa tahun belakangan ini, karena musim hujannya tidak terlalu banyak hujan, kadang-kadang memasuki musim panas akan ada hari di mana tiba-tiba hujan deras. Setiap kali ada hujan deras di tengah musim polusi, rasanya bersyukur banget, karena setidaknya tingkat polusinya akan membaik dan bisa menghirup udara bersih.

Jadi, sekali lagi sebagia informasi, kalau merencanakan liburan ke Chiang Mai ataupun Bangkok, jangan lupa mempertimbangkan faktor polusi udara ini juga. Gak perlu kuatir berlebihan juga sih, tapi kalau memang sensitif terhadap polusi udara, lebih baik datangnya ketika udaranya bersih dan suhu udaranya tidak terlalu panas. Paling ideal emang datangnya bulan Desember atau Januari saja. Kalau mau lihat festival bunga, ya mau tak mau datangnya minggu pertama Februari dan biasanya saat itu polusi udaranya belum parah jadi masih bisa menikmati melihat bunga yang indah.

Dalam setahun, musim polusi ini salah satu musim yang kurang nyaman untuk tinggal di Chiang Mai. Mudah-mudahan, tahun ini polusi udaranya tidak terlalu parah dan di masa yang akan datang ditemukan cara supaya tidak ada polusi udara seperti ini lagi di Chiang Mai dan sekitarnya.

Festival Bunga Chiang Mai 2019

Festival Bunga di Chiang Mai di adakan setiap akhir pekan pertama di bulan Februari. Untuk tahun ini, festival bunga diadakan sejak hari Jumat tanggal 1 Feb sampai dengan hari Minggu 3 Feb 2019. Setelah beberapa tahun tidak mengunjungi festival bunga dengan berbagai alasan: terlalu ramai, banyak orang, males sampai gak tau parkir di mana supaya jalan tidak jauh, akhirnya tahun lalu kami menemukan tempat parkir yang ideal dan waktu yang tepat untuk mengikuti acara ini.

Mumpung mama saya juga masih di sini, ya sekalian mengajak mama saya jalan-jalan lagi. Mama saya sudah beberapa kali ke Chiang Mai, tapi baru kali ini waktunya pas dengan acara festival bunga ini.

Lanjutkan membaca “Festival Bunga Chiang Mai 2019”

San Kamphaeng Hot Springs

Pemandangannya menyejukkan walaupun matahari bersinar terik

Hari ini ajakin oppung jalan-jalan ke Hot Springs lagi, sekalian Jonathan main dengan teman barunya. Tempat ini gak jauh dari Chiang Mai, cuma sekitar 45 menit nyetir, jalannya juga bagus dan mulus sampai-sampai jalannya dibatasi maksimum 80 km/jam biar orang-orang gak ngebut. Lokasinya di kaki bukit, jadi tidak ada jalanan menanjak.

Walaupun tempat ini tidak terlalu jauh, kami terakhir ke sini ya beberapa tahun lalu pas oppung ke Chiang Mai juga. Entah kenapa pas eyang datang, kami lupa dengan tempat ini, padahal tempat ini sangat cocok untuk bersantai-santai dan tidak banyak berjalan naik turun seperti Doi Pui. Walaupun sudah pernah ke sana sebelumnya, baru hari ini mengetahui ada banyak hal yang bisa dilakukan selain rendam kaki dan rebus telur.

Beberapa tahun lalu, kami datang agak kesorean. Tukang berjualan makanan sudah mau pada tutup (tukang jualan tutup jam 4.30), waktu itu kami cuma sempat rebus telur (bisa beli di sana, telur puyuh 10 biji 40 baht dan telur ayam 3 biji 20 baht). Tiket masuknya masih sama dengan beberapa tahun lalu. Kami masih dapat harga Thai, walaupun di sana ada tulisan kalau harga Thai itu untuk pemegang ID Thai saja. Harga Thai Dewasa 40 baht, anak-anak 20 baht, mobil kalau mau masuk ke dalam juga bayar 40 baht. Harga orang asing dewasa 100 Baht, anak-anak 50 Baht.

Selain telur rebus, biasanya di sana kita bisa membeli makanan khas Thai seperti Somtam dengan nasi ketan, ayam goreng, mie instan, nasi ketan dalam bambu dan tentu saja ada kopi selain minuman bersoda lainnya. Kalau mau piknik di sana juga bisa saja kita bawa makanan sendiri. Saya perhatikan ada banyak yang bawa tikar dan keluarin makanan sendiri. Seperti umumnya di tempat wisata di Chiang Mai, harga makanan di dalam tempat wisata gak berbeda dengan di luar lokasi. Tapi memang makanannya buat makanan kualitas istimewa, tapi lebih ke makanan selera lokal.

Untuk merebus telur, kita bisa merebusnya langsung di dalam air panas belerang yang panasnya sekitar 105 derajat Celcius. Waktu yang dibutuhkan untuk merebusnya tergantung selera kita apakah mau setengah matang atau matang banget. Semakin lama direbus di air panas, ya tentunya semakin matang. Paling lama sekitar 10 menit, kita sudah mendapatkan telur yang cukup matang. Selama menunggu, kita tidak perlu kuatir keranjang telur kita akan diambil orang, karena di sana orang-orangnya cukup tertib mengambil yang memang punyanya saja. Jadi selama menunggu, kita bisa saja rendam kaki. Air untuk merendam kakinya suhunya berkisar 45 – 55 derajat celcius, harus hati-hati sebelum memutuskan merendam kaki, karena sepertinya ketika suhu di atas 50 derajat, airnya lumayan panas banget.

playground

Selain makan, untuk anak-anak tersedia juga playground. Beberapa mainan kadang-kadang mulai rusak, tapi secara keseluruhan masih cukup fun buat bermain apalagi kalau ada temannya, pasti bisa bermain lebih lama. Kalau bosan main di playground, anak-anak bisa eksplorasi sekitar tempat itu. Lokasinya sangat luas, di sana tersedia juga tempat untuk camping, pijat, kolam renang, privat room untuk rendam badan, ataupun kalau mau menginap tersedia juga kamar penginapan untuk di sewa. Kami belum pernah menginap di sana, tapi sepertinya kalau mau outing bareng teman-teman beberapa keluarga, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi bersama-sama dan menginap 1 malam.

Kami berangkat dari rumah sekitar jam 12.15 dan kembali lagi ke rumah sekitar jam 6.30 malam. Awalnya, kami sudah rencana pulang sektiar jam 4.30 sore, tapi karena saya baru tahu ada kolam renang dan Jonathan tadi pagi gak jadi berenang dengan oppung, jadilah kami memutuskan Jonathan dan oppung berenang dulu. Kolam renangnya air belerang juga, tapi suhunya dijaga sekitar 40 – 41 derajat celcius.

Jona berenang dengan oppung

Untuk berenang dikenakan biaya tambahan, harganya seperti harga masuk juga, orang lokal Dewasa 50 Baht, anak-anak 20 Baht, orang asing Dewasa 100 Baht dan anak-anak 50 Baht. Kolam renangnya tidak ramai, kamar mandi untuk membersihkan badan sehabis berenang juga cukup bersih, malahan di kamar mandi perempuan tersedia hair dryer segala.

Secara keseluruhan, tempat ini cukup bersih. Banyak tempat duduk untuk bersantai dan menikmati makanan. Banyak pohon dan tempat rindang sehingga tidak terganggu dengan terik matahari. Banyak tempat sampah yang bahkan dikategorikan untuk sampah bekas makanan, plastik dan keranjang bekas telur. Banyak tempat penampungan botol atau kaleng yang siap untuk didaurulang. Banyak tempat pijet dan tersedia banyak petunjuk arah dan peta lokasi di mana kita berada, sehingga tidak akan tersesat dan petunjuknya juga ada dalam bahasa Inggris.

Pemandangannya yang indah kombinasi pepohonan, bunga dan langit biru sungguh membuat kami merasa betah berlama-lama di sana. Lain kali semoga bisa mencari informasti mengenai biaya menginap atau camping di sana, supaya bisa bermain lebih puas lagi.